Novel Pindah

Novel Pindah
Turnamen


__ADS_3

Biasakan like dulu sebelum baca😍


Keesokan harinya seisi kota paris di buat gempar dengan berita pengusaha sukses pemilik Dam Company mengaet seorang gadis cantik tapi wajahnya di samarkan, bahkan Damien terlihat mengungkung gadis itu di bawah selimutnya, berita ini begitu heboh karena gelar pria impoten yang di berikan pada Damien itu tidaklah benar.


Ya tidak sesuai kesepakatan Arrabel memilih untuk menyebar luaskan fotonya lewat media online, hanya beberapa menit saja berita itu di terbitkan sudah menjadi berita tranding hari ini, sementara itu di mansion Damien, pria itu sudah uring-uringan saat membaca media online yang baru di terbitkan pagi ini.


"Wanita Brengsek, ROBB.." teriak Damien memangil tangan kanannya dengan suara mengelegar.


Robby yang saat itu sedang ngopi, lari terbirit-birit menuju ruang keluarga, benar dugaannya kemarin pasti kejadian ini akan terjadi.


"Y-ya Tuan." ucapnya ngos-ngosan.


"Cari media cetak yang berani menerbitkan berita sampah ini." Damien membuang ponsel tepat ke wajah Robby, untung saja Robby berhasil menangkapnya.


"Kau tau kan apa yang harus di lakukan." ucap Damien kembali dengan penuh penekanan.


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi." Robby segera pergi untuk membersihkan seluruh kekacauan pagi ini.


Banyak rekan bisnis Damien yang meminta klarifikasi tentang berita pagi ini, hal itu membuat kepala Damien terasa ingin meledak, karena berita ini sangat berpengaruh untuk bisnisnya.


Tak lama Robby kembali memberikan kabar baik untuk Damien, ia berhasil menghapus dan menyetop berita yang terbit pagi ini, bahkan pemilik akun media online dan pemilik beberapa akun media lainnya sudah berhasil di blacklist.


"Tuan saya sudah membereskannya." Robby membungkuk sopan, ia melirik Bosnya yang terlihat berantakan.


Damien mencoba mengecek berita di ponselnya dan benar saja berita itu sudah hilang, hal itu membuat Damien bisa bernafas lega.


Disisi Lain kedua wanita berbeda usia ini sedang merayakan kehancuran Damien, bukan keduanya tapi salah satu dari mereka yaitu Calista, sementara Arrabel merayakan kehancuran hubungan Damien dengan kekasihnya, ya bukan hanya menyebarluaskan foto itu ke media tapi Arrabel juga mengirim beberapa foto miliknya dan foto Damien yang sedang bermesraan di taman bersama Stella pada Ansel.


"Hahahaha dasar sampah," ucap Calista saat membaca berita Damien di ponselnya yang terbit pagi ini.


"Kau memang putriku yang bisa di andalkan sayang." Calista menepuk bahu putrinya, membuat gadis yang berada di depannya tersenyum membangakan diri.


"Apa rencana Mama setelah ini?" Calista bersandar di sofa sembari menghisap benda berasap miliknya.


"Buat Damien dan Ansel bersiteruh." jawabnya tersenyum smirk.


"Tapi Ma, bagaimana dengan Kak Albert?"


Calista hampir saja melupakan anak tirinya itu, ya sejak kematian suaminya Albert pergi entah kemana, mungkin pria itu berada di markas Cartel, entahlah dirinya sama sekali tidak perduli.


"Kita biarkan dulu pria itu, jika Kakak tirimu berani mengagalkan rencana kita, aku tidak segan-segan untuk melenyapkannya." jawab Calista dengan percaya diri.


Arrabel mendengus, " Baiklah." Arrabel berdiri dari sana meninggalkan Calista yang sedang menghitung uang hasil penjualan properti milik almarhum suaminya.


"Hahahaha aku kaya..." Calista mencium kertas bernominal itu dan mengibaskan layaknya sebuah kipas.


*****


Di negara A


Pagi ini seluruh keluarga Ansel tengah bersiap menghadiri acara turnamen yang di ikuti twins, kedua twins sudah berangkat pagi-pagi sekali untuk menyiapkan diri mereka, sementara Ansel, Bella dan Stella baru akan berangkat.


"Ma sejak kapan Arra berpenampilan seperti itu?" Stella kini bergelanyut manja di lengan sang Mama.

__ADS_1


"Sejak adikmu menjadi murid baru." jawab Bella, keduanya kini berdiri di depan teras menunggu Ansel mengambil mobil, ya kali ini Ansel memilih menyetir sendiri.


Stella merasa terkejut saat adiknya yang cantik berpenampilan culun, bahkan kulitnya yang putih mulus menjadi berwarna hitam kecoklatan, terlihat begitu dekil di matanya.


"Ngak banget deh Ma penampilan Zurra, mana ada cowok yang mau sama dia kalau penampilannya begitu." seloroh Stella.


"Ish, adikmu masih kecil di larang pacaran." Bella menyentil gemas kening putrinya.


"Ah kalau be-"


"Kamu pun sama." potong Bella.


Stella memanyunkan bibirnya ketika mendengar jawaban sang Mama, tak lama mobil yang di tunggu sudah berhenti di hadapan mereka, Ansel turun dan membukakan mobil untuk istrinya.


"Silahkan sayang." goda Ansel membuat pipi Bella bersemu merah.


Setelah membukakan pintu mobil untuk istrinya Ansel membukakan pintu mobil untuk putrinya.


"Mari princes."


"Thanks Pa." Stella tersenyum lalu memasuki mobil denang senang hati.


Ansel sedikit berlari kearah kemudi lalu menjalankan mobilnya meninggalkan mansion.


Di area pertandingan beberapa turnamen sudah dimulai, sementara Azzura masih menunggu gilirannya untuk di panggil, tahun ini Azzura menjadi siswi terpilih mewakili sekolahnya untuk mengikuti turnamen ilmu bela diri.


Sedangkan Azzam dan kawan-kawannya berada di tempat lain hanya berbeda tenda karena ia mewakili sekolahnya dalam turnamen basket.


Azzura meminta agar Dewi menemaninya, Dewi pun menyanggupi, hingga kini keduanya tengah berada di tempat tunggu para peserta.


"Ngak lah." jawab Azurra dengan enteng, kedua gadis itu menjadi pusat perhatian karena penampilan mereka.


Dewi menatap sekitar, ia merasa tidak percaya diri berada disana karena para peserta yang mengikuti turnamen berpenampilan rapi, cantik dan tampan.


"Kalau aku jadi kamu, pasti aku lebih memilih pulang, coba lihat mereka cantik-cantik dan tampan-tampan sekali." pipi Dewi bersemu merah saat membayangkan salah satu siswa tampan yang berada di ujung tenda mengajaknya berkenalan.


Azzura tidak mengubris ucapan Dewi, ia melirik sahabatnya yang terlihat salah tingkah sendiri, lalu mengikuti arah pandang Dewi dan melihat pria tampan berkulit putih yang memiliki wajah seperti oppa-oppa korea.


"Kau menyukainya?" Azzura terkekeh melihat wajah Dewi yang sepertinya begitu mengagumi pria itu.


"Heemm, tampan ya." ucapnya memangku kedua tangannya sembari menatapnya dengan tatapan mupeng.


"Azzura Adonia Guinandra." terdengar suara seseorang memanggilnya untuk segera memasuki arena turnamen.


"Wajahmu lucu sekali, doakan aku ya." Azzura meraup wajah mupeng sahabatnya, membuat lamunan Dewi buyar.


"Ah kampret, ganggu saja." umpatnya.


Azzura terkekeh melihat wajah sahabatnya yang kini cemberut, ia pun berjalan menuju arena yang sudah di siapkan.


Waktu terasa cepat berlalu hingga sore hari tiba, kini keluarga Ansel tengah berada di mobil untuk pulang kecuali Azzura, Azzura dan Azzam berhasil meraih mendali emas, hal itu membuat Ansel dan Bella merasa banga dengan kedua buah hatinya.


Tak lama mobil yang di kendarai Ansel pun sampai, semua orang turun dari mobil dengan perasaan bahagia, tak lama Azzura juga sampai lalu ikut bergabung dengan lainnya.

__ADS_1


"Lebih baik kalian mandi dulu lalu istirahat." ucap Bella pada ketiga anaknya.


""Oke Ma." ucap Stella.


"Siap Bos." ucap twins serempak.


Semuanya pun tertawa saat mendengar Azzam dan Azzura mengucapkan kata yang sama.


Mereka masuk ke kamar masing-masing, begitu juga dengan Ansel dan Bella.


"Huh badan terasa lengket." keluh Bella merasa risih.


"Mau mandi bareng?" Ansel menaik turunkan alisnya sembari tersenyum mesum.


"Heemm boleh deh."


"Yeeesss.." Ansel bersorak kemudian berlari ke arah istrinya lalu mengendongnya ala bridal style dengan tidak sabar melangkah ke kamar mandi.


"Aaa hati-hati Pa, nanti encokmu kambuh lagi." ucap Bella mengejek.


Ansel langsung menekuk wajahnya membuat Bella tergelak keras.


Usai mandi Ansel memilih mengecek pekerjaannya melalui laptop miliknya, pria itu bersandar di ranjang king sizenya di temani sang istri, saat Ansel mengotak atik keyboard tiba-tiba ada notifikasi email asing yang masuk membuat Ansel mengernyit.


"Kenapa Pa?" tanya Bella saat menatap ekspresi wajah suaminya yang terlihat aneh.


"Ada email masuk Ma, entah dari siapa." jawab Ansel.


"Buka dong Pa siapa tau penting."


"Heemm."


Ansel langsung membukanya, dan betapa terkejutnya kedua orang itu saat melihat beberapa foto putrinya bermesraan dengan Damien, yang lebih mengejutkan lagi saat Ansel menslide foto itu dan melihat foto Damien bersama dengan seorang wanita sedang bergumul di bawah selimut.


"Brengsek Damien." umpat Ansel sekali lagi melihat foto itu dengan serius.


"Sabar Pa mungkin ini hanya jebakan." Bella berusaha menenangkan suaminya.


"Aku harus bicara dengan anak itu sekarang."


"Pa, nanti malam saja. biarkan Stella istirahat dulu." cegah Bella.


Ansel mendengus tapi kemudian mengangguk, ia kembali duduk dan menutup laptopnya lalu merebahkan dirinya agar emosinya meluap.


"Sini Ma."


Bella ikut berbaring dan mengeser tubuhnya, menaruh kepalanya di lengan Ansel memeluk tubuh kekar itu dengan erat, begitu juga Ansel ia merengkuh tubuh sang istri yang selalu membuatnya tenang.


Bersambung....


Mulai ada konflik ya, kasih Othor bungga apa kopi gitu biar konfliknya gak berat😝


"

__ADS_1


__ADS_2