Novel Pindah

Novel Pindah
Reno Putra Admaja


__ADS_3

Biasakan like sebelum membaca 😘


Perusahaan Wt Grup


"Bos siang ini ada pertemuan di resto bambu dengan perusahaan Raharja." Evan sedang berada di ruangan Ceo tengah menatap laptopnya sembari membacakan jadwal untuk hari ini.


"Sudah siap proposalnya?" tanya Samson tanpa memandang Evan.


"Semuanya siap." Evan mulai menutup laptopnya, sementara Samson berdiri dari kursi singahsana nya usai menatap jam yang saat ini pukul 11.30


"Oke kita berangkat sekarang." Samson beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar di ikuti Evan di belakangnya.


Seperti biasa kedua pria tampan itu selalu menjadi pusat perhatian para karyawan wanita, Evan yang memang seorang casanova sering berlaku genit pada karyawan yang menurutnya cantik dan sexy.


*


*


Keduanya kini sudah berada di depan resto bambu, tepatnya masih berada di parkiran.


"Wow so beautiful." gumam Evan saat matanya tak sengaja melihat gadis cantik tengah duduk di samping resto bersama seorang pria.


"Ah bibir merah muda itu." gumam Evan, tanpa di minta jiwa Casanovanya pun muncul.


Samson yang saat itu tengah membalas pesan dari kekasihnya reflek mendongak dan mengikuti arah pandang Evan, bibir pria itu tertarik ke samping dengan senyuman mengejek.


"Cck.. selera Lo kampungan." ledek Samson lalu keluar dari mobil tanpa menunggu Evan membukakan pintu.


"Lo ngak tau sih mana berlian mana batu krikil." ucap Evan dengan kesal lalu keluar dari dalam mobil menyusul bosnya.


"Stop, jangan di perpanjang." setelah sempat berhenti, Samson berjalan tegap kembali dengan wajah angkuhnya, sementara Evan hanya bisa mendengus sebal.


Dari jauh terlihat dua orang perwakilan dari perusahaan Raharja duduk di ujung Cafe.


"Selamat siang, maaf membuat kalian menunggu." Samson berjabat tangan dengan calon investornya.


"Tidak Tuan Sam kami baru saja sampai." ucap salah satu dari mereka sembari tersenyum.


Pertemuan siang ini berjalan dengan lancar, karena jam sudah menunjukkan waktu makan siang, akhirnya mereka sekalian makan siang juga disana.


"Bos saya pamit ke toilet sebentar." Pamit Evan pada Samson yang hanya di angguki oleh Bosnya.


Tanpa sepengetahuan Samson Evan berjalan keluar menemui gadis yang di lihatnya tadi.


"Permisi, boleh saya meminta tolong?" Evan berjalan mendekat ke arah target.


Gadis itu menatap pria di hadapannya dari ujung rambut hingga kaki.


"Ya boleh, ada yang bisa saya bantu Kak?" tanya gadis itu dengan sopan.


Evan tersenyum lebar karena gadis di hadapannya sangatlah ramah, ia memutar otaknya agar bisa mendapat nomor ponsel gadis di depannya kini.


"Boleh saya meminjam ponsel kamu sebentar?" tanya Evan tidak kalah ramah.


Geming.. tidak ada tanggapan saat gadis itu melihat ponsel di tangan pria yang ingin meminjam ponsel miliknya.


"Bukankah anda sudah memegang ponsel?" alis gadis itu mengernyit menatap pria di hadapannya dengan aneh.


"Ehm itu.. Saya kehabisan pulsa." Evan gelagapan saat menyadari kebodohannya, sementara pria yang berada di samping gadis itu menatap dirinya dengan penuh selidik.


"Oh silahkan." gadis itu memberikan ponselnya tanpa ada rasa curiga.


Secara diam-diam Evan menyimpan nomor miliknya di ponsel gadis itu, begitupun nomor gadis itu diam-diam Evan menyimpannya.


"Hallo.." Evan pura-pura menelpon seseorang dan sedikit menjauh, tak lama ia mengembalikan ponsel milik gadis itu.


"Terima kasih, maaf ya tadi saya pinjam ponselnya sebentar karena ponsel milik saya kehabisan paket data." Evan mulai menunjukkan aksinya, ia mengeluarkan senyuman gula jawa yang membuat para ciwi-ciwi terpesona. Sedangkan gadis itu menatap aneh pria tampan yang berdiri di depannya.


"Kok bisa ya orang kaya kehabisan paket data? mungkin baju sama mobil dapat minjem kali." batin gadis itu.


"Oh ya kita belum berkenalan kan, siapa namamu?" Evan mengulurkan tangannya.


"Nama saya Bunga Kak."


"Cantik sekali namamu, sesuai dengan orangnya cantik." Evan menatap Bunga dari ujung rambut hingga ujung kaki, tidak lupa ia juga mengeluarkan senyuman mautnya, membuat Bunga tersenyum hambar.


"Namaku Evan ." tanpa sadar Evan menahan tangan Bunga lama hingga membuat seseorang disana berdehem dengan sangat keras.


"EHEM.." Didin berdehem sembari memandang sinis Evan.


"Emm oh ya terima kasih bantuannya, kalau begitu saya permisi." Evan menarik tangannya merasa tidak enak, sebelum pergi ia mengedipkan satu matanya pada Bunga, lalu kembali berjalan memasuki resto.


"Dasar buaya." Bunga mengeleng melihat kegenitan Evan.


"Pasti pria itu cuma pengen ngegoda Lo." ucap Didin dengan geram.


"Udah biarin Din." Bunga kembali ke rutinitasnya di susul Didin.


Di dalam resto Samson terlihat sangat kesal, karena menunggu Evan yang tak kunjung kembali dari toilet. untung saja kedua rekan bisnisnya sudah pulang terlebih dulu.


"Loh mereka kemana Bos?" Evan duduk tepat di hadapan Samson tanpa merasa bersalah sedikit pun.


Sementara mata Samson melotot tajam pada tangan kanannya sembari mengatai Evan.

__ADS_1


"Dasar pria mesum, bajingan." umpat Samson. tentu hanya berani mengumpat di dalam hati karena takut mendapat bogeman dari Evan.


"Apa kaki Lo berubah jadi sirip, kenapa lama sekali?" rasanya Samson ingin menelan Evan hidup-hidup.


"Hehe perut Gue mules." jawab Evan cengegesan.


Tanpa banyak bicara, Samson bangun dari duduknya lalu meninggalkan Evan begitu saja.


"Eh Bos tunggu." Evan beranjak menyusul Samson, sebelum pergi tidak lupa ia membayar billnya.


"Bos tunggu."


"Apa lagi, Lo ngak lihat udah jam berapa ini?" Samson menghentikan langkahnya sembari menatap tangan kanannya dengan kesal.


"Iya sorry." Evan segera membukakan pintu mobil untuk Samson lalu sedikit berlari menuju pintu kemudi.


Di dalam mobil lagi-lagi Evan di buat terpesona dengan paras tomboy Bunga yang terlihat sangat cantik meskipun berwajah polos seperti sekarang.


"EVAN.." teriak Samson melihat Evan belum juga menghidupkan mobilnya.


"Eh iya Bos."


"Dasar Casanova." gumam Samson melihat arah pandang Evan yang tidak berhenti memandang gadis tukang parkir tersebut.


*


Sementara itu Papa Adi dan Mama Rika masih berada di perjalanan, mereka baru pulang dari rumah temannya.


"Ma kita makan siang di resto biasa ya?" tanya Papa Adi menatap istrinya sekilas lalu kembali fokus kedepan.


"Terserah Papa." jawab Mama Rika.


Papa Adi menambah kecepatan mobilnya hingga mobil itu tiba tepat di depan resto langganan mereka.


"Ya kiri Pak, oke." Bunga mengarahkan mobil milik Papa Adi untuk parkir.


"Pa lihat gadis tukang parkir itu, kenapa kita baru melihatnya ya?" ucap Mama Rika yang masih berada di dalam mobil, wanita parubaya itu menatap gadis cantik yang tengah berdiri di depan mobilnya sembari mengigit peluit.


"Entah Ma mungkin tukang parkir baru." jawab Papa Adi sembari membuka seal beltnya.


Keduanya tidak pernah bertemu dengan Bunga karena Bunga setiap harinya berangkat pukul 14.00 siang.


Papa Adi dan Mama Rika langsung memasuki resto, mereka memesan makanan seperti biasa, tak lama pesanan mereka datang dan keduanya pun mulai menyantap makanannya.


Sementara itu di luar resto terjadi keributan, semua pelangan resto yang sedang makan saling berbondong melihat seorang wanita tengah berkelahi melawan dua orang preman.


'Buhg.. bugh..'


"Bunga berhenti mereka udah pingsan, gue udah nelpon pihak polisi." ucap Didin.


Ya wanita yang menjadi pusat perhatian itu adalah Bunga, tadi ada dua orang preman bertubuh kekar memasuki kawasan resto dengan tiba-tiba, kedua preman itu mencoba memalak Didin yang saat itu sedang memarkirkan motor milik pelangan.


Usai memberi pelajaran pada kedua preman itu, Bunga di panggil oleh manager resto untuk memberikan keterangan.


"Pa gadis itu hebat ya bisa mengalahkan kedua preman bertubuh besar tadi." ucap Mama Rika menatap Bunga yang saat itu akan memasuki ruangan manager.


Papa Adi melihat Bunga sekilas lalu kembali menatap istrinya.


"Cocok Dia Ma sama Sam yang tidak bisa berkelahi." kekeh Papa Adi merasa lucu dengan ucapannya sendiri.


"Ish Papa selalu saja mengejek putra tampanku." decih Mama Rika.


"Hehe cepat habiskan makanannya, Papa cuma bercanda."


Mama Rika mendengus kesal tapi juga melakukan apa yang di minta sang suami.


*


*


Sore ini setelah pulang dari kantor, Samson terpaksa menyetir mobilnya sendiri karena sang kekasih meminta ia untuk menjemputnya.


'Tuuuuut..tuuuut' Panggilan terhubung.


"Hallo.."


"(......)"


"Iya Baby ini mau berangkat."


"(.......)"


"Iya ini juga baru keluar."


'Panggilan terputus.'


Samson mendengus saat panggilan telponnya di putus dengan sepihak oleh kekasihnya.


Setelah menutup telponnya Samson langsung menginjak gas menuju apartemen sang kekasih dengan kecepatan penuh, tak lama sampailah Samson di tempat tujuan, saat kaca mobil di turunkan ia menatap wanita cantik bertubuh sexy tengah menatapnya dengan kesal, Samson yang tidak ingin kekasihnya marah langsung turun dari mobil.


"Baby maaf aku telat." Samson mengecup bibir Viola sekilas lalu mengandengnya untuk masuk ke dalam mobil.


Viola Putri Kusuma, wanita cantik dengan tubuh sexy. seorang model yang saat ini tengah naik daun ialah kekasih dari pengusaha muda Samson Keanu Winata.

__ADS_1


"Baby jangan cemberut seperti itu." Samson melirik Viola yang tengah menekuk wajahnya.


Bagaimana Viola tidak marah jika seorang Samson tidak pernah bisa lepas dari Evan tangan kanannya, dimana ada Samson pasti di situ juga ada Evan, hal itulah yang membuat Viola kesal pada kekasihnya, jika saja dirinya tidak merajuk pasti saat ini ia berkencan bertiga seperti yang sudah-sudah.


"Ayolah sayang aku kan sudah menuruti keinginan mu." Samson berusaha merayu kekasihnya agar tidak marah lagi.


"Bagaimana kalau kita ke mall." Samson melirik sang kekasih, benar saja gadis di sampingnya langsung tersenyum dan mengangguk dengan cepat.


Samson yang gemas mengacak rambut Viola yang tergerai indah.


"Ih Baby berantakan nih." Viola mengambil cermin di dalam tasnya lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, Samson hanya terkekeh saat melihat wajah kekasihnya kembali di tekuk.


Akhirnya kedua pasangan yang tengah di mabuk cinta ini sudah sampai di parkiran mall, Samson dengan sigap turun dari mobil membukakan pintu mobil untuk kekasihnya, keduanya pun memasuki mall dengan berjalan bergandengan, tidak sedikit orang melihat mereka kagum, menurut para pengunjung mall yang lain Samson dan Viola pasangan yang sangat serasi.


"Baby ada tas bermerk keluaran terbaru, aku ingin membelinya." pinta Viola dengan manja.


"Tentu, apa yang tidak untuk calon istri ku ini." ucap Samson membuat Viola tersenyum smirk.


Setelah membeli tas seharga mobil, Viola mengajak kekasihnya keluar masuk butik hingga barang bawahannya terlihat begitu banyak di tangan Samson.


"Sayang belanjaan mu sudah banyak, aku lelah dan lapar sebaiknya kita cari makan dulu." pinta Samson dengan wajah memelas.


Melihat kekasihnya kelelahan akhirnya Viola mengiyakan dan saat ini keduanya sudah berada di resto jepang yang letaknya masih berada di sekitar mall.


Samson terlihat makan dengan sangat lahap karena pria itu benar-benar kelaparan, waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 malam akhirnya Samson mengajak Viola untuk pulang.


Selama di jalan keadaan nampak baik-baik saja, tapi tidak lama datang mobil berwarna hitam yang berhasil menghadang mobil milik Samson.


"Brengsek, siapa yang berani menganggu jalanku." Samson keluar dari mobilnya, sebelum itu dia menyuruh sang kekasih agar tetap berada di dalam mobil.


"Siapa kalian?" teriak Samson dengan lantang.


"Wow Kau berani dengan kami?" tanya satu pria memincingkan bibirnya sembari tersenyum mengejek.


"Sial bagaimana ini?" batin Samson ketakutan. Meskipun begitu dia mencoba bersikap tenang, ia menutupi rasa takutnya dengan mengigit bibir bawahnya.


Tanpa sepengetahuan Samson dua orang pria menyerangnya dari belakang hingga dirinya jatuh tersungkur.


"Brengsek.." umpat Samson.


'Bugh..Bugh..' Samson menerima beberapa pukulan, bahkan bertubi-tubi hingga wajahnya babak belur penuh dengan luka.


Sementara itu di dalam mobil, Viola mengerutu kesal saat menyaksikan sang kekasih tak berdaya.


"Dasar pria gak guna, kalau bukan karena uangmu aku gak akan mau jadi kekasih pria lemah sepertimu." gerutu Viola, tangannya terulur mengambil sebuah ponsel di tas bermerknya.


'Tuut tuuut..' sambungan terhubung.


"Sayang jemput Aku di jalan X, bawah beberapa anak buahmu." setelah mendapatkan jawaban dari sebrang sana Viola langsung mematikan ponselnya.


Tak lama dua mobil mewah datang, lima orang bertubuh tinggi dan kekar terlihat keluar dari salah satu mobil itu, lalu menyerang rival Samson yang saat itu akan membawah pewaris Winata ke dalam mobil, posisi Samson saat ini dalam keadaan pingsan.


"Cck pria letoy." Viola berdecak kesal lalu keluar dari mobil Samson dan berganti memasuki mobil lain.


"Sayang Kamu tidak apa-apa?" tanya pria itu.


"Aku baik-baik saja Ren." jawab Viola mengulas senyum.


Reno Putra Admaja pemilik perusahaan Admaja Corp, pembisnis sukses no 2 di kota ini, Reno kekasih kedua Viola dan juga rival dari Samson Keanu Winata. tanpa Viola tau anak buahnya lah yang mengeroyok Samson.


CUP


Reno mengecup bibir merah itu lalu ********** dengan penuh nafsu.


"Aku sedang ingin." bisik Reno terdengar sangat sensual di telinga Viola.


Viola mengangguk sembari tersenyum mengoda, karena dirinya juga sudah terbakar gairah. mobil pun melaju meninggalkan kericuhan yang masih terjadi, Reno akan membawah wanitanya ke hotel terdekat untuk menuntaskan hasratnya yang kian membara karena tangan jahil Viola sedang memainkan miliknya yang sudah sangat mengeras.


Sementara itu di kediaman Samson, Evan mendapat amukan dari Mama Rika karena membiarkan Samson pergi sendiri.


"Dasar anak nakal, kenapa Kamu membiarkan Kakakmu pergi sendiri." Mama Rika menjewer telinga Evan dengan keras.


"Aduh sakit Ma lepas." rengek Evan kesakitan.


"Sudahlah Ma jangan menyalahkan Evan, memang putramu itu yang bandel." ucap Papa Adi mencoba membantu Evan, karena merasa kasihan saat melihat telinga Evan sudah sangat memerah.


Mama Rika menghembuskan nafas dalam lalu menarik tangannya dari telinga Evan, sementara Evan hanya bisa meringis merasakan panas di telinganya.


"Van sebaiknya kita cari Sam sekarang, gps di ponsel dan mobilnya masih aktif kan?"


"Iya Pa." Evan berjalan sembari mengusap telinganya yang masih terasa sakit.


"Ma Papa berangkat, doakan Sam agar baik-baik saja." Papa Adi mencium kening istrinya sekilas, sementara Mama Rika hanya bisa mengangguk dengan perasaan cemas.


Papa Adi masuk ke dalam mobil mendudukkan dirinya di samping kemudi, sementara Evan bertugas untuk menyetir.


*


*


*Bersambung...


Jangan lupa sedekah vote buat neng ya😚*

__ADS_1


__ADS_2