
*Biasakan Like Sebelum Membaca😘
Happy Reading🥰
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹*
"Bunga maafkan Aku." Samson tidak tega melihat darah yang mengucur di tangan Bunga.
Saat Samson dan Bunga berjalan menuju mobil, nampak di belakang mobil Samson terparkir mobil fortuner berwarna silver. tak lama 2 pria terlihat keluar dari mobil sembari berlari ke arah mereka.
"Bunga kenapa?" tanya Evan begitu kawatir.
"Ini semua salahku, Aku tidak bisa menjaganya."
"Sudahlah Tuan Saya tidak apa-apa, Saya akan kenapa-kenapa kalau kalian tidak segera membawahku ke rumah sakit." kesal Bunga pada keduanya.
Dengan cepat Samson menuntun Bunga ke mobil. sementara Evan melihat beberapa orang bertubuh besar tergeletak pingsan langsung berlari ke arah Mang Udin.
"Mang urus semuanya, bawah mereka ke tempat biasa."
"Baik Tuan." Mang Udin mengambil ponselnya lalu menghubungi anak buahnya untuk membersihkan kekacauan ini.
Setelah memasrahkan semuanya pada mang Udin, Evan langsung masuk ke mobil milik Samson. mobil itu pun melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.
Di mobil wajah Bunga nampak pucat, ia terlalu banyak mengeluarkan darah.
"Lo bisa nyetir ngak Sam, liat wajah Bunga udah pucet gini." teriak Evan panik.
"Ini udah full dodol."
Samson mengendarai mobil seperti orang kesetanan, ia menerobos lampu merah dan beberapa kali mengklakson membuat keributan di jalan. bahkan terdengar banyak orang yang mengumpatinya namun dirinya tidak peduli, yang terpenting ia bisa cepat sampai ke rumah sakit terdekat.
Sementara Bunga hanya bisa bersandar di jok sembari memejamkan mata, kepalanya terasa pusing saat ini.
Akhirnya penantian yang menegangkan selama di perjalanan ada di depan mata, Samson langsung mengendong Bunga berlari ke ruang IGD di susul Evan di belakangnya.
"DOKTER tolong calon istri Saya." teriak Samson mengejutkan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Para petugas medis langsung berlari membawah brangkar dan segera membawah Bunga masuk ke ruang IGD.
"Maaf Tuan Anda tidak boleh masuk, mohon menunggu di luar." ucap salah satu tenaga medis pada Samson yang saat itu akan ikut masuk.
__ADS_1
"Shiiitt.." umpat Samson menjambak rambutnya dengan kasar.
"Ini semua salah gue Van, gue kira Bunga bakal menang tadi, gue lelaki yang ngak berguna." gumam Samson menyalahkan dirinya sendiri.
"Baru nyadar Lo hah.." Evan melirik Samson yang saat itu terlihat terpuruk, ia ingin melihat seberapa besar pria itu menyesal dan ingin berubah, Evan bertekat melepaskan Bunga jika memang Samson benar- benar mencintai gadis yang di sukainya.
Samson mendudukkan dirinya di kursi tunggu di susul Evan juga ikut duduk di sampingnya.
"Kalau terjadi sesuatu dengan Bunga, gue bakal gebukin lo dan meminta Mama untuk nikahin gue sama dia." ucap Evan kemudian melirik Samson yang tengah menatap tajam padanya.
"Mana bisa begitu, Mama yang jodohin gue sama Bunga." Samson terlihat menahan kesal membuat Evan menahan senyumnya.
Perdebatan keduanya berhenti saat Dokter keluar dari ruang IGD.
"Dok bagaimana keadaannya?" Samson berdiri menghampiri Dokter.
"Pasien baik-baik saja, luka sayatannya cukup dalam dan mengeluarkan banyak darah tapi masih bisa di atasi karena Tuan Samson dengan sigap membawah wanita itu kesini."
"Pasien perlu di rawat satu sampai dua hari Tuan karena kondisinya masih sangat lemah." ucap Dokter kemudian.
Samson dan Evan menghela nafas lega.
"Baiklah terima kasih Dok." ucap Evan selanjutnya.
"Udah malam lo pulang aja biar gue yang jagain Bunga." ucap Samson pada Evan.
Evan pun mengangguk, mungkin besok dirinya di hadapkan banyak pekerjaan di kantor, tidak mungkin jika ia ikut bermalam di rumah sakit.
"Bilang Mama sama Papa kalau jenguk besok aja." ucapnya lagi, menginggat ini rumah sakit umum bukan rumah sakit milik keluarga.
"Oke." Evan menepuk bahu Samson pelan lalu pergi meninggalkan nya dengan hati berlapang dada.
"Aku lebih rela kamu bersama Bunga dari pada dengan Viola wanita ular itu, jaga dia kalau sekali saja Kamu membuatnya menangis Aku akan merebutnya darimu." batin Evan merenung di setiap langkahnya.
Evan memilih menaiki taxi dan pulang ke apartemen miliknya, untuk sementara waktu ia ingin sendiri tanpa mau di ganggu.
Sementara di kediaman Samson, Mama Rika dan Papa Adi terkejut mendengar kabar jika calon menantunya terluka dan masuk rumah sakit, Mama Rika mendapat kabar dari supir pribadinya mang Udin yang saat itu pulang sendirian.
"Pa calon menantu Kita." Mama Rika menangis di pelukan suaminya.
"Sudah Ma jangan menangis lagi, semoga Bunga baik-baik saja. besok pagi Kita jenguk dia ya." Papa Adi menghapus airmata sang istri.
__ADS_1
Mama Rika mengangguk, keduanya pun berjalan ke arah kamar untuk istirahat karena hari sudah sangat larut.
*
*
Kembali ke rumah sakit
Kini Bunga sudah berada di ruang perawatan, ia masih belum sadarkan diri. sementara Samson dengan setia menunggu Bunga, ia mendudukkan dirinya di kursi tepat di samping ranjang pasien.
"Bunga maafkan Aku." hanya kalimat itu yang di ucapkan Samson untuk Bunga.
Samson mengenggam tangan Bunga dan menyandarkan kepalanya di atas ranjang, karena kelelahan ia pun tertidur.
Tak terasa sudah tengah malam, Bunga yang sudah lama memejamkan matanya kini mulai mengerjap. jari-jari tangannya bergerak membuat Samson yang masih mengenggam tangan Bunga pun ikut terbangun.
"Bunga Kamu sudah sadar?"
"Air." gumam Bunga dengan suara lemah namun masih bisa terdengar oleh telingga Samson.
"Sebentar." Samson mengambil gelas yang berisi air putih lalu membantu Bunga untuk minum.
"Aku tinggal sebentar ya?" ucap Samson dengan suara lembut.
"Heem." Bunga kembali memejamkan mata, sementara Samson keluar mencari seorang perawat, karena sudah sangat larut hanya ada perawat yang berjaga malam ini.
"Sus pasien atas nama Bunga sudah sadar."
"Baik Tuan." dengan langkah cepat wanita itu melangkah ke ruangan Bunga di susul Samson di belakangnya.
"Pasien dalam keadaan baik Tuan, denyut nadinya juga normal. untuk detailnya bisa menunggu Dokter besok pagi." ucap Suster.
"Terima kasih." ucap Samson kemudian setelah suster itu keluar.
"Cck tau gitu pindah ke rumah sakit pribadi aja tadi." kesal Samson.
Samson menatap Bunga, gadis itu kembali menutup matanya. karena merasa lapar akhirnya Samson memakan makanan yang sempat di kirim Mama Rika untuk dirinya. ia mendudukkan dirinya di sofa lalu mengambil bekal yang di dalamnya berisi makanan kesukaannya.
"Dingin, tapi masih enak." gumam Samson sembari mengunyah.
Untuk pertama kalinya Samson mau memakan makanan yang sudah dingin, karena dari kecil pria itu menganggap makanan dingin seperti makanan sisa yang hanya pantas dimakan oleh seekor kucing, tapi untuk saat ini dia tidak perduli lagi dengan kebiasanya. yang terpenting sekarang perutnya bisa kenyang dan tidak lapar lagi.
__ADS_1
Bersambung ...