
Sore hari sudah berganti petang kini Stella sudah berdiri di depan gerbang menunggu sang Dosen, gadis itu terlihat sangat cantik dengan dress mini sederhana yang ia pakai, membuat siapa saja yang melihatnya terpesona , tak lama datang sebuah mobil sport berhenti tepat di depannya, Albert turun dari mobilnya ia sedikit berlari dan membukakan pintu untuk gadis cantik itu, Albert terpesona akan kecantikan alami yang di miliki Stella, pria itu pun terus tersenyum hingga mobil melesat meninggalkan mansion milik Damien.
Setelah kepergian Stella, tidak lama Robby datang membawah mobil yang biasa ia gunakan untuk mengantar Bosnya ke kantor, mobil itu memasuki mansion dengan kecepatan sedang, hingga sampailah Robby di garasi, saat pria itu turun dari mobil ia di kagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba menabraknya.
'Braak.'
"Aduh kening ku." rintih Vero sembari mengusap keningnya yang terbentur dada bidang Robby.
"Sedang apa kamu?" Robby menautkan kedua alisnya merasa heran, biasanya setelah menjemput Stella gadis itu pulang ke apartmentnya dan kembali besoknya lagi untuk mengantarkan Stella ke kampus.
Sedangkan Vero merasa terkejut, ia pikir dirinya tadi menabrak tembok.
"Tu tuan Robby (Vero membungkuk) maaf Tuan saya terburu-buru." gadis itu tidak menjawab ia malah berlari menuju mobil yang biasa ia pakai dan apesnya kaki jenjang itu terpleset, hampir saja ia terjatuh jika Robby tidak sigap menangkap tubuhnya.
"Astaga tampan sekali." batin Vero gadis itu terpesona dengan wajah dingin Robby.
Keduanya saling bertatapan sepersekian detik, hingga keduanya tersadar dan sama-sama melepaskan diri.
"Ah sekali lagi maaf Tuan."
Robby hanya mengangguk." Mau kemana kamu? kenapa terburu-buru?" tanya Robby kemudian.
"Ah ia, Tuan Damien menyuruh saya untuk membuntuti Nona Stella, mungkin saat ini saya sudah kehilangan jejak." ucap Vero dengan gusar.
Robby berjalan menuju mobil yang baru di parkirkan tadi, "Kalau begitu masuklah, aku akan membantumu mencari Nona Stella." ucapnya membukakan pintu mobil untuk Vero.
"Baiklah Tuan, terima kasih." Vero pun akhirnya masuk di ikuti Robby, mobil pun melaju kembali menembus gelapnya kota paris.
Di dalam mobil keduanya saling diam, Robby fokus mengemudi menatap lurus ke depan, ia sempat melirik Vero yang terlihat tidak tenang, sementara Vero celinggukan mencari mobil milik Dosen yang menjemput majikannya tadi, melihat Robby yang tenang saat mengemudi membuat Vero bertanya-tanya, apa pria itu tahu Nona Stella berada dimana pikirnya, karena penasaran akhirnya Vero memberanikan diri bertanya pada Robby.
__ADS_1
"Tuan sepertinya anda tahu keberadaan Nona Stella." ucapnya gugup.
Keduanya yang jarang bertemu membuat mereka canggung saat di hadapkan dengan situasi seperti ini.
"Heem.."
Mendengar jawaban Robby membuat nyali Vero menciut untuk bertanya lagi, dia hanya bisa berperang dengan fikirannya sendiri.
"Ternyata Tuan Robby sama dinginnya dengan Tuan Damien." batin Vero.
Tak lama terdengar bunyi handpone berdering, ternyata Vero mendapat pangilan telpon dari Damien, gadis itu masih ragu untuk mengangkatnya, sebab ia belum tahu kemana tujuan mobil yang di tumpanginya saat ini.
Robby melirik Vero kemudian membuka mulutnya. "Siapa yang menelpon mu, kenapa tidak di angkat?" tanya Robby.
"Tuan Damien yang menelpon, saya tidak berani mengangkatnya karena tidak tahu tujuan kita kemana." Vero menatap hp nya dengan gelisah.
'Tuuut' panggilan tersambung.
"Lama sekali kau mengangkat telpon dari ku Hah." teriak Damien dari sebrang sana membuat telingga Vero berdenggung hingga gadis itu menjauhkan handpone dari telingga.
"Ma maaf Tuan." jawab Vero dengan tangan gemetar, hal itu sempat terlihat oleh mata Robby.
"Dimana Stella sekarang, kenapa kamu tidak segera mengirim lokasinya padaku, katakan cepat jangan membuat ku menunggu atau kau akan aku pecat hari ini juga." teriak Damien yang sudah di liputi emosi.
"Sial baru kali ini kena semprot Bos." batin Vero.
"Nona Stella berada di resto Larpage Tuan." ucapnya dengan cepat.
'Tuuuutttt.' Damien langsung menutup panggilannya membuat Vero berkali-kali mengumpat.
__ADS_1
"Dasar burung beo, bisanya cuma marah-marah." gerutu Vero, ia lupa jika di sampingnya masih ada Robby tangan kanan Damien, mendengar umpatan Vero membuat bibir Robby melengkung sempurna.
Sementara Damien
"****.. dasar tidak berguna." umpatnya setelah menutup telpon.
Damien yang sudah mendapat info langsung menuju ke lokasi dimana Stella berada.
Di Resto Larpage
Albert dan Stella baru saja sampai, pria yang memakai jaz berwarna putih itu nampak sangat tampan, ia segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Stella.
"Silahkan tuan putri." Albert tersenyum manis sembari membungkuk hormat bersikap layaknya seorang pelayan, membuat Stella tersenyum sungkan.
"Astaga kenapa dia membawa ku ketempat seromantis ini." batin Stella berkecamuk. ia fikir mereka akan makan malam biasa saja, bahkan baju yang Stella pakai sangat tidak cocok jika di sandarkan dengan Albert, karena dress yang di gunakannya terlalu santai.
Albert memberikan tangannya untuk di gandeng, sementara Stella masih mematung di tempatnya.
"Hanya kali ini saja." pinta Albert dengan wajah memelas.
Dengan terpaksa Stella mengandeng tangan kekar itu, tapi sebelum tangan lentik itu mengandengnya suara bariton dari belakang mengejutkan keduanya.
"Jauhi kekasih ku pria brengsek." ucap Damien dengan lantang, tangan kekar itu sudah mengepal erat, apalagi saat melihat siapa dosen yang di maksud Stella membuat rahang tegas itu mengetat.
Albert menghembuskan nafas kasar dan menatap Damien dengan tajam, dia sangat geram makan malam yang harusnya romantis kini gagal karena kedatangannya, bahkan pria itu merasa terkejut saat Damien mengatakan jika Stella ialah kekasihnya.
Lanjut ngak nih😁
"
__ADS_1