Novel Pindah

Novel Pindah
Markas Rick Devil


__ADS_3

Setelah merasa puas menghancurkan seluruh barang yang berada di ruang tamu, Derward menghampiri putranya yang sedang bersiap.


"Daddy akan ikut son." Derward mengambil satu buah pistol.


"Jqngan Dad lebih baik Dad di mansion saja, kesehatanmu jauh lebih penting." Albert tau Daddynya sedang tidak enak badan, ia akan sangat kawatir jika nanti terjadi sesuatu pada Daddynya.


"Daddy akan baik-baik saja son, Dad tidak akan tenang kalau hanya berdiam diri di dalam mansion." kekeh Derward, membuat Albert menghela nafas panjang.


"Baiklah, tapi Daddy harus lebih berhati-hati."


Derward tersenyum memandang sang putra, anak angkat yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri.


"Son sebelum kita berangkat Daddy ingin berbicara denganmu." Damien hanya menjawabnya dengan anggukkan.


Albert dan Derward kini bersiap menghampiri rekan-rekannya yang sudah menunggu terlalu lama.


"Kita akan ke markas Rick Devil terlebih dulu." ucap Derward.


"Siap Gent." ucap rekannya dengan serempak.

__ADS_1


Dua mobil fortuner terisi penuh para mafia, sementara satu mobil lagi untuk mengangkut senjata mereka, Dru yang mendapat job dari bandar narkoba terbesar di kota ini tidak bisa ikut serta.


"Apa benar Daddy baik-baik saja." Albert merasa kawatir melihat wajah sang Daddy nampak sedikit pucat.


"Daddy baik-baik saja son, sudahlah jangan berlebihan." Derward menatap lurus ke depan, tergambar gurat kecemasan di wajahnya.


Kini dua mobil fortuner dan satu mobil box sudah sampai di sekitar markas, mereka memilih berjalan kaki sambil menyiapkan beberapa senjata yang akan mereka gunakan, dengan mantap Derward berjalan paling depan, pria itu begitu menghawatirkan istri yang di cintainya.


Tidak jauh dari mereka nampak beberapa anggota Rick Devil terlihat sedang berjaga di depan markas, penjagaan kali begitu ketat karena sebelumnya Damien sudah memperkirakan jika kejadian ini akan terjadi, tanpa mengendap-endap Derward yang sudah tidak sabar langsung menghampiri dan menantang lawannya.


"Kalian sekap dimana istriku, cepat katakan." suara lantang Derward mengema di udara membuat para anggota Rick Devil terkejut, dengan sigap mereka menodongkan senjata pada tamu yang tak di undang itu, anggota Cartel juga tidak mau kalah, mereka dengan serempak juga mengangkat senjata masing-masing.


"Kalian tau ini apa?( Albert memyeringgai di tangannya terdapat bom atom yang siap untuk di lemparkan ke arah lawan) buka gerbangnya sekarang kalau tidak kalian akan meledak bersama bom ini." ancamnya.


Satu serangan bom meluncur ke arah Cartel membuat orang-orang yang menjadi sasaran kocar kacir, dua orang tewas di tempat sementara yang lainnya hanya terluka ringan.


"Brengsek." umpat Albert.


Albert tidak mau kalah, ia yang sedang bersembunyi bersama Derward di antara semak-semak melempar bom ke titik dimana anggota Rick Devil berkumpul.

__ADS_1


'BUUUUUMMM...' asap dan debu berterbangan.


Bom milik Albert memakan korban tiga orang, sedangkan yang lain berhasil menghindar dengan cara melompat.


'Dor..Dor..Door.' bunyi letusan pistol terdengar mengema, Albert dan Derward berhasil mengecoh lawannya, keduanya sudah berada di dalam markas. mereka berjalan mengendap-endap dan saling berpencar, ada beberapa anggota Rick Devil yang tak sengaja berpapasan dengan mereka, tapi dengan cekatan Derward dan Albert berhasil menumbangkannya.


Semua ruangan satu persatu sudah mereka periksa tapu tidak membuahkan hasil, hingga akhirnya Albert mengirimkan sinyal pada rekannya yang masih tersisa untuk segera meninggalkan markas lawan.


"Sepertinya istri Daddy tidak berada disini."


"Ya son kau benar." terlihat jelas raut kekecewaan dari wajah sang Daddy, hal itu bisa di lihat oleh Albert.


"Sebaiknya kita keluar dari sini Dad, aku sudah mengirim sinyal pada rekan lainnya agar mereka mundur." Derward hanya menjawabnya dengan anggukkan, keduanya kini berusaha keluar dari markas Rick Devil.


Setelah kekacauan itu terjadi, salah satu rekan Rick Devil mengabari kelima orang yang sangat berpengaruh di geng mereka, siapa lagi jika bukan Damien, Lano, Lard, Bray dan Dimitri.


Saat ini posisi mereka masih berada di teras mansion Damien. "Lihat Om jangan sekali-kali mengusir kami, kau masih membutuhkan ku untuk menghancurkan musuhmu itu." Lard kembali memasuki ruang tamu dan mendudukan bokongnya kembali ke sofa di ikuti rekan-rekannya.


Damien mendengus." Oke kalian boleh beristirahat disini, pilih salah satu kamar tamu yang berada di bawah untuk kalian tempati." ucap Damien akhirnya, dan meninggalkan keempat bocah itu begitu saja.

__ADS_1


"Padahal aku ingin tidur di kamar atas agar bisa bertemu gadis cantik itu." gerutu Lard.


"Sudah jangan bawel cepat istirahat karena tugas nanti malam akan sangat melelahkan untuk kita." Dimitri beranjak dari sofa, berjalan masuk disusul yang lainnya.


__ADS_2