Novel Pindah

Novel Pindah
Meminta Izin


__ADS_3

Dari kejauhan Brayen menatap tajam semua siswa siswi yang berada disana, hingga satu persatu dari mereka menyingkir memberikan jalan untuk Brayen, ia berjalan semakin mendekat sedangkan gadis yang membuli Azzura masih terus menarik dan memaki tanpa menyadari kehadiran Brayen yang sudah berada di belakangnya.


"Lepaskan tanganmu darinya."


Siswi yang membuli Azzura terperanjat kaget hingga tangannya terlepas, ia berbalik melihat Brayen yang menatapnya sangat tajam membuat gadis itu ketakutan dan berlari menjauh.


"Akh.. rintih Azzura, kepalanya terasa berdenyut saat itu.


"Loe baik-baik saja kan?" Brayen mendekati Azzura.


Azzura mendonggak menatap siapa yang berbicara padanya. "Ya.." setelah menjawab gadis itu pergi begitu saja, membuat semua siswi yang berada disana saling berbisik.


"Ish udah jelek belagu pula."


"Dasar udik ngak tahu terima kasih."


"Berani sekali dia mengacuhkan pria tampan seperti Brayen."


Terdengar para siswi mengunjing dan menatap Azzura dengan tatapan jijik, sementara Brayen hanya bisa menatapnya dengan perasaan entahlah hanya Brayen dan Author yang tau😂


"Brayen, nama loe udah di panggil." teriak temannya, sementara Brayen langsung berbalik kembali ke tempat sebelumnya dengan tatapan dingin.


Waktu cepat berlalu tak terasa jam tambahan pun berakhir kini para siswa saling berhambur keluar, ada yang menuju kantin, ada yang masih nongkrong di depan kelas, ada pula yang langsung pulang.


Azzura keluar dari kelas dengan kepala menunduk, ia melewati para siswa yang masih nongkrong di depan kelasnya, dari 5 orang siswa itu salah satunya ialah Farel.


Farel siswa tertampan di kelas itu, dia juga menjabat sebagai ketua kelas, meskipun begitu pria itu tidak secerdas Azzura bahkan jauh di bawah Azzam, ia memilih kelas C karena di kelas ini tidak banyak aturan, Farel terkenal sebagai pelajar badung, karena orang tuanya salah satu penyumbang rutin di sekolah, maka wali kelas maupun guru yang lain tidak berani menolak keinginan Farel.


Pria itu tidak perduli saat melihat Azzura di buli bahkan untuk melihat wajah Azzura saja ia tidak mau, sebab hal itu tidak lah penting baginya, tapi setelah mendengar gosip jika seorang Brayen sempat menolongnya membuat Farel penasaran dengan rupa gadis itu.

__ADS_1


"Eh lihat itu cewek udik, udah udik songgong lagi." ucap cowok berambut kribo.


"Buta mungkin ya mata Brayen, ngapain belain cewek jelek kayak dia." cowok berambut jabrik menyauti.


Azzura memutar bola matanya malas, ia sama sekali tidak terpengaruh dengan omongan teman laki-lakinya, bahkan gadis itu tetap melanjutkan langkahnya melewati mereka.


Farel yang dari tadi memainkan ponselnya tiba-tiba mendonggak, ia menatap Azzura dari atas sampai bawah, pandangannya begitu merendahkan dan ia merasa geram saat gadis itu melewatinya begitu saja.


Di mansion Damien


Saat ini Stella sedang mondar mandir di kamarnya, gadis itu sedang binggung, mau menolak ajakan Albert atau menerimanya.


"Aduh bagaimana ini, Kak Al ngechat terus lagi." ucap Stella, ia ragu-ragu untuk meminta izin pada Om sekaligus kekasihnya.


"Ah sudahlah di coba saja dulu." Stella mencari nomor kontak dengan nama Om sayang lalu mendealnya.


'Tuuut tuuutt..' ( ini suara operator ya bukan kentut🤭)


"Om emm Stella mau minta izin." ucapnya takut.


Alis Damien menyatu, tumben gadis nakal itu meminta izin, mau pergi kemana dia? dengan siapa?


"Om, apa Om mendengar Stella." ucapnya saat Damien hanya diam.


"Ehm..mau kemana kamu?" Damien berdehem untuk menutupi kecurigaannya.


"Dosenku mengajak ku makan malam, bolehkah Stella pergi?"


Damien terdiam, sebenarnya siapa dosen itu? berani-beraninya ia mengajak Stella untuk makan malam, sepertinya bayangan dosen bertubuh pendek dengan perut buncit itu tidak lah benar.

__ADS_1


"Pergilah." ucapnya kemudian.


"Serius? terima kasih ya Hubby, muuach." Stella pun menutup telpon tanpa mendengar jawaban dari Damien.


"Menyebalkan, aku saja belum membalas ciumannya." gerutu Damien, ia pun kembali menemui rekan-rekannya di markas.


"Bagaimana Lan, apa kamu mendapat informasi mengenai identitas dari pemimpin baru Cartel?" Damien kembali duduk di sofa, disana ada Dimitri, Lard dan juga Bray.


Lano mengklik enter tak lama muncul identitas lengkap beserta foto Albert disana.


"Namanya Albert, dia dari Amerika anak angkat dari Gent, dia memiliki kemampuan dalam ilmu bela diri, menembak dan merakit bom." ucap Lano dengan gamblang.


Damien lebih mendekat, dia menginggat-ingat foto pria itu yang tidak asing baginya, tiba-tiba matanya membola dia baru menginggatnya, pria yang bernama Albert pemimpin Cartel ialah Kakak dari Arrabel.


"Brengsek, mereka membodohiku." umpat Damien dengan mengepalkan tangannya.


Semua yang berada disana mengernyit, apa yang di maksud Om Dam pikir mereka.


"Apa Om mengenalnya?" tanya Dimitri.


"Bukan mengenal lagi bahkan dia pernah ke mansion ku." ucapnya.


"Hah..." ucap keempatnya serempak.


Saat Damien ingin menceritakan semuanya, tiba-tiba ia menginggat kekasihnya lalu menatap jam di tangannya.


"Ah sial, aku lupa.." Damien berdiri, ia berlari meninggalkan ke empat juniornya yang masih ternganggah.


"Vero ikuti kemana Stella pergi, setelah itu kirim lokasinya padaku." Damien menyempatkan untuk menelvon Vero dan langsung menutup telpon itu dengan sepihak membuat orang di sebrang sana menggerutu.

__ADS_1


"Sialan, bos tidak membiarkan ku bicara." umpat Vero di sebrang sana.


Siapa yang deg-deg an di part ini😁


__ADS_2