
"Hubby kenapa kamu semarah itu, bukankah kamu sendiri yang memberikan ku izin." Stella merasa kesal dengan sikap Om sekaligus kekasihnya itu, kenapa harus memakai kekerasan, padahal ini hanya kesalah pahaman saja.
Sementara Damien menutup rapat mulutnya, ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk membalas ucapan Stella, pria itu sangat kesal dengan kekasihnya, kenapa dia tidak bilang jika orang yang pernah menolongnya kemarin ialah Dosennya.
Melihat Damien masih mendiamkannya, akhirnya Stella lebih memilih untuk tidur, situasi di mobil terasa hening, Damien yang tidak mendengar suara lagi mencoba melirik gadis yang berada di sampingnya.
"Astaga bukannya membujuk ku dan bertanya malah tertidur." batin Damien semakin kesal.
Mobil Damien kini sudah sampai di mansion miliknya, ia menyingkirkan rasa gengsinya akhirnya Damien memilih membangunkan Stella, Damien menatap wajah lelah kekasihnya membuatnya tidak tega mendiamkannya.
"Sayang bangun kita sudah sampai." Damien mengelus pipi halus itu kemudian turun ke bibir ranum milik Stella, bibir manis ini sudah lama tidak ia rasakan, Stella yang tak kunjung bangun membuat Damien iseng, ia mendekatkan wajahnya dan mencuri ciuman dari Stella membuat gadis itu mengerjap.
"Om mencuri ciuman dariku?" Stella menatap Damien tajam rasa kantuknya hilang seketika.
Melihat reaksi sang kekasih membuat Damien berfikiran buruk tentang Stella, sepertinya gadis itu keberatan jika ia menciumnya.
"Apa kamu tidak mau ku cium?" Damien balik bertanya sembari menatap nya dengan tajam, tatapan itu lebih tajam dari silet membuat Stella bergidik.
"Ya aku tidak suka kalau Om mencuri ciuman dariku, tapi aku lebih suka jika Hubby mencium ku langsung seperti ini." Stella menarik kerah baju Damien dengan kasar membuat Damien terkejut dan bibir keduanya kini menempel sempurna, saat itu kaca mobil depan terbuka, membuat dua orang yang baru saja sampai menelan ludah dengan kasar saat tidak sengaja melihat adegan kiss secara live di depan matanya.
"Ekhem.." deheman Robby membuat dua orang yang saling bertukar saliva itu terkejut dan langsung melepas ciuman mereka.
"Sialan kau Robb, a**kan ku potong 50% gajimu karena berani menganggu kesenangan ku." batin Damien.
Sementara Vero begitu syok melihat kedua orang itu, bahkan mulutnya saat ini masih menganggah.
"Apa aku tidak salah lihat, Paman dan Ponakan main sosor-sosoran." batin Vero.
"Tutup mulutmu." ucap Damien menatap Vero tajam, Vero reflek langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Damien dan Stella akhirnya keluar dari mobil, pria itu menatap tajam keduanya.
"Kalian berdua ikut aku ke ruang kerja."
"Dan kamu sayang, cepat masuk ke kamar mu." lanjutnya kemudian.
__ADS_1
"Tapi Om, lukamu bagaimana?" ucapnya kawatir.
"Aku bisa mengobatinya sendiri, kamu beristirahatlah." jawab Damien dengan lembut.
"Baiklah." Stella tersenyum lalu mencium pipi kiri Damien yang lebam, ia tidak perduli jika disana ada Vero, sudah kepalang tanggung menurutnya, usai mencium Damien gadis itu langsung berlari memasuki mansion.
Mendapat ciuman pipi dari Stella membuat bibir pria itu tersenyum dengan wajah memerah.
"Ck Lihatlah Tuan Dam, sama sekali tidak ingat umur." batin Vero saat melihat bosnya tersipu.
Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Damien pada Vero dengan tatapan tajam.
"Ah tidak Tuan." Vero langsung menunduk karena takut kena semprot bosnya lagi.
Damien mendengus, ia pun memasuki mansion menuju ruang kerjanya di susul Robby dan Vero, disini di ruang kerja Damien, kedua orang ini menjadi terdakwa, mereka harus mempersiapkan telinga yang tebal jika tidak ingin mendengar omelan dari Bos mereka.
"Vero.." panggil Damien, ia duduk di kursi kerjanya dan kedua terdakwah itu berdiri tegap di depan Damien sambil menundukkan kepala.
"Ya Tuan." tangan Vero sudah gemetaran, keringat dingin mulai bercucuran di wajah cantiknya.
"Maaf Tuan saya kira itu hal yang wajar karena setahu saya Nona Stella masih jomblo, dan saya melihat jika Dosen tampan itu memperlakukan Nona Stella dengan sangat baik." suara Vero semakin mengecil saat ia melihat tatapan Bosnya.
Mendengar jawaban Vero membuat hati Damien terbakar karena di liputi rasa cemburu, hingga berkas yang berada tepat di depannya menjadi korban, berkas itu di genggam erat hingga membuatnya tak berbentuk lagi.
"Dan kamu Robb, kenapa kamu menganggu kesenangan ku tadi, tidak bisakah kalian berpura-pura tidak melihat dan pergi dari sana." Damien berdiri tepat di depan Robby, menatap pria itu tajam.
"Maaf Tuan." hanya itu yang bisa di ucapkannya.
"Karena kalian berdua sudah lalai dan membuatku kesal, maka gajian kalian bulan ini aku potong 50%."
Keduanya mendonggak dengan serempak. "Tapi Tuan." ucap mereka kompak.
"Tidak ada tapi-tapian, sekarang kalian boleh keluar." Damien mengibaskan tangannya, kedua orang itupun keluar dari ruang kerja Bosnya dengan wajah lesu.
"Sebaiknya besok saja aku bicarakan ini dengan Stella, dia harus tau siapa pria brengsek itu." gumam Damien, tak lama ia pun ikut keluar berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Apartment Albert
"Brengsek, kenapa pria itu menyerangku, apa benar Stella itu kekasihnya atau jangan-jangan dia sudah tau siapa aku." gumam Albert yang membuatnya semakin pusing.
"Argh.. entahlah sebaiknya aku kompres dulu luka ku ini." Albert menuju dapur mengambil air hangat, lalu mengambil handuk kecil untuk mengompres lukanya.
Saat Albert memasuki kamarnya, ia di kejutkan oleh seorang wanita yang sedang tidur di atas ranjang king sizenya.
"Ck kenapa dia tidur disini, hei bangun." Albert mengoyang bahu wanita itu, siapa lagi yang bisa keluar masuk apartmentnya jika bukan Arrabel.
Arrabel mengeliat lalu mengerjapkan mata. "Kakak sudah pulang?" Arrabel mencoba duduk dengan mata yang masih mengantuk.
"Kenapa kamu tidur disini?" bukannya menjawab Albert malah bertanya balik.
"Aku menunggu kepulangan mu Kak, aku penasaran bagaimana kencan kalian tadi? sukses kan?" tanya Arrabel dengan suara lemah karena tidak bisa menahan kantuknya.
Mendengar ucapan Arrabel membuat Albert mendengus kesal. "Apanya yang sukses, semuanya gagal total, gara-gara Damien sialan itu." ucap Albert kembali emosi.
"APA..?" mata Arrabel seketika melebar, rasa kantuk yang tadi menghinggapinya kini lenyap sudah.
"Kok bisa Om Dam berada disana?" ucapnya lagi dengan raut wajah kesal.
"Entahlah, ini semua salahmu. aku sudah menyuruhmu mengajak pria tua itu untuk keluar, tapi kamu menghiraukan ucapanku." geram Albert.
Ucapan Albert membuat gadis itu meradang. "Kenapa jadi aku yang salah, Kakak kan tau apa alasan ku menolak rencana Kakak, dasar pria menyebalkan." Arrabel bangkit berjalan menuju pintu, lalu membanting pintu itu dengan keras.
'Braaak'
"**** .." umpat Albert meninju udara kosong.
Arrabel menolaknya bukan tanpa sebab, tadi sore gadis itu tiba-tiba mengalami kram perut dan ternyata ini sudah waktunya ia datang bulan, Arrabel tidak kuat merasakan nyeri di perutnya membuat gadis itu hanya bisa berdiam diri di atas tempat tidur.
Maaf baru bisa up, Author halu lagi sibuk di kehidupan nyata yang penuh dengan drama ini.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian 😙
__ADS_1