Novel Pindah

Novel Pindah
Cambuk


__ADS_3

Mata Azzura membulat menatap pemandangan yang begitu menyayat hati, ia melihat teman barunya Dewi mendapat perlakuan buruk dari teman sekelasnya, bahkan yang lebih mengejutkan lagi seorang siswa yang menjabat sebagai ketua kelas berada disana sedang menjambak rambut Dewi dengan kasar , tanpa basa-basi Azzura berlari menghampiri mereka, kaki jenjangnya mendarat sempurna di tangan Farel, membuat tangan lelaki itu terpelanting ke samping dengan sangat keras.


"Argh sialan siapa yang-." ucapannya terhenti, Farel mematung menatap orang yang berani menyerangnya.


"Tandingan Loe bukan dia tapi Gue." Azzura memasang kuda-kuda.


Farel tersadar akan keterkejutannya saat mendengar suara Azzura, ia kembali mengibaskan tangannya yang terasa nyeri.


"Oh brani Loe sama kita." tantang si kribo, maju melawan Azzura, sementara Mevi berlari entah kemana karena ketakutan.


Baru saja si Kribo ingin melawan, dengan cepat Azzura menendang tepat di tulang kakinya hingga membuat pria itu menjerit kesakitan.


"Argh Mama sakiiiiittt." ia berlari setengah pincang dan pergi meninggalkan dua sahabatnya, begitu juga si jabrik belum apa-apa pria itu sudah gemetaran dan bersembunyi di balik pohon besar, hal itu membuat Azzura tersenyum menyeringgai, senyuman yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di sekolahnya, sementara Farel mata lelaki itu tak pernah lepas menatap Azzura.


"Ayo sekarang giliran Loe." Azzura memasang kuda-kuda kembali, ia menantang Farel yang kini berjalan mendekatinya.


"Gue ngak mau adu jotos sama Loe, kecuali kita adu bibir." bisik Farel di akhir kalimat, lalu melewati Azzura begitu saja.


"Brengsek, beraninya dia." gerutu Azzura, matanya kini menatap tajam si Jabrik.


"Rel tunggu gue." Si jabrik berlari tanpa melihat ke depan membuat lelaki itu terjatuh di kubangan lumpur yang bercampur kotoran sapi.


Di belakang halaman sekolah memang tempat menganggon sapi milik tukang kebun yang bertugas menjaga sekolah. Pak Sukri namanya, ia mendapat izin karena halaman belakang sekolah termasuk lahan kosong dan tentu saja di batasi pagar yang menjulang tinggi, disana hanya ada satu pintu yang menembus sekolah yang biasa di lewati para siswa saat pulang.


"Aaaaaa tai sapi, huek.. huek." tubuh si Jabrik sudah tidak berbentuk lagi, ia berdiri sendiri dan berlari menyusul Farel.


"Hahaha...." Dewi yang tadinya menangis tertawa terpingkal-pingkal melihat kekonyolan si Jabrik.


"Astaga Dewi." Azzura menepuk jidatnya, lalu berjalan ke arah Dewi dan membantu gadis itu berdiri.


"Terima kasih Zura." ucap Dewi dengan tulus.


"Sama-sama."


*Di Ruang Bawah Tanah (Mansion Damien)

__ADS_1


"Cetaaarr...mengakulah kau kan yang menyuruh suamimu untuk membunuh Papaku." kilatan amarah tergambar di wajah pria tampan yang sedang memegang sebuah cambuk.


"Aaarrrgghh sa-sakit ku mohon jangan, aku tidak tau apa-apa." ucap Calista berkilah.


"Sudah Om jangan mencambuknya terus, wanita itu bisa mati." ucap Dimitri.


"Aku tidak akan membiarkannya mati semudah itu mit." Damien membuang tali dengan kasar dan pergi meninggalkan Calista yang sudah tidak berdaya.


"Pengawal jangan biarkan wanita itu mati, beri dia makan." perintah Dimitri.


"Baik Tuan."


Dimitri dan Damien kembali ke mansion menemui ketiga rekannya yang mereka tinggalkan.


Di ruang tamu Lard sempat bercerita pada Lano dan Bray, di mall tadi ia hampir saja mengaet dua wanita seksi, tapi di gagalkan oleh Dimitri.


"Brengsek si Mit berani dia mengagalkan usahaku, untung saja kita teman kalau tidak-."


"Kalau tidak apa?" Damitri yang baru datang bersama Damien menatap tajam Lard.


"Oh ya Om, kemana ponakan Om yang cantik itu?" tanya Bray mengalihkan pembicaraan, baru saja Damien akan membuka mulut, Stella keluar dari dalam bersama Vero, sepertinya ia ingin pergi.


"Eh ada tamu ya." Stella terkejut, ia nampak sexy mengunakan span mini berwarna merah maron, di padupadankan dengan atasan crop berwarna putih, membuat gadis itu terlihat mengoda.


Bola mata ke empat pria yang duduk di ruang tamu seolah ingin lepas menatap kagum keponakan pemimpin Rick Devil itu, Damien melirik ke empat juniornya yang membuatnya merasa geram.


"Apa yang kalian lihat?" Damien menatap tajam keempatnya, mereka pun tersadar dan mengalihkan pandangan mereka ke Vero sebelum pria di hadapan mereka mengamuk.


Stella dengan cuek sibuk merapikan make upnya, sementara Vero hanya diam berdiri seperti manekin hidup


Damien segera berdiri dan menghampiri kekasihnya. " Mau kemana sayang?"


"Aku mau pergi sebentar Om, temen-temanku mengajak ku hang out sore ini."


"Bolehkah kami ikut Nona cantik?" Lard begitu percaya diri mengoda Stella, ia tanpa sadar membuat tanduk sang pawang keluar.

__ADS_1


"Eheeemm." Damien berdehem keras, tak lupa tatapan tajam ia berikan pada Lard, membuat pria itu bersembunyi di balik punggung Lano, sementara yang lain hanya bisa terkekeh melihat kekonyolan dua orang itu.


"Sayang kau tidak boleh pergi dan kau Vero boleh pergi sekarang, tiga hari ke depan aku meliburkanmu."


Tapi-."


"Tenang saja gajimu tidak akan aku potong." cela Damien.


" Baik Tuan." Sebelum pergi Vero melirik Stella yang nampak kesal.


Stella berlari ke dalam, gadis itu menangis karena terlalu kesal dengan Om sekaligus kekasihnya.


"Apa sih maunya, dasar pria tua tampan." gerutu Stella di sepanjang langkahnya.


Ruang tamu


"Harusnya Om jangan terlalu mengekang Stella." suata Dimitri memecah keheningan.


"Ya benar katamu Mit, kan kasihan calon istriku." tambah Lard yang membuat Damien kembali geram.


"Kenapa dia menyeramkan sekali, aku hanya ingin mengoda keponakannya yang cantik itu." batin Lard.


"Itu bukan urusan kalian, lebih baik kalian istirahat."


"Iya Om kami lelah." Lard berdiri, bersiap melangkah ke dalam.


"Siapa yang menyuruhmu istirahat disini, sana pulang." usir Damien yang lelah meladeni Lard.


"Dasar jomblo akut, mencari kesempatan saja." batin Damien. (Sepertinya perjaka lapuk ini lupa jika pernah menjomblo selama 18 tahun)


Seperti biasa ke empat pria tampan itu mendapat perlakuan tidak enak dari Damien saat berkunjung ke mansion.


"Lagi- lagi di usir." gerutu Lard, mulai berdiri dan keluar terlebih dahulu di ikuti yang lain.


"Sudah nasip kita, jangan di sesali." ucap Damitri di ikuti tawa ketiga rekannya.

__ADS_1


__ADS_2