Novel Pindah

Novel Pindah
Rumah Kosong


__ADS_3

"Mau apa dia kemari?"


"Saya tidak paham Bos soal itu." Jawab Gandi.


Reno meraup wajahnya kasar. sejujurnya ia masih memiliki rasa pada Viola, bayangkan saja selama 2 tahun mereka menjalin kasih. apa lagi keduanya sudah berbagi ranjang tentu saja tidak mudah untuk Reno melupakan Viola. tapi rasa sukanya pada Bunga menghilangkan keraguan di hatinya. Entah hanya obsesi atau Reno memang benar-benar mencintai gadis itu.


"Bawah dia kesini." Perintah Reno dengan terpaksa.


Gandi menunduk hormat lalu pergi menjalankan apa yang di perintahkan bosnya. Dari jauh dirinya bisa melihat jika Viola masih beradu mulut dengan dua resepsionis.


"Nona anda boleh keruangan bos Reno sekarang."


Viola menatap sinis kedua resepsionis yang tadi mengajaknya beradu mulut.


"Awas kalian." ancam Viola kemudian melangkah mengikuti Gandi.


Kedua manusia ini saling diam saat lift bergerak ke atas, hingga lift terbuka pun Gandi dan Viola tidak saling bertegur sapa.


"Silahkan Nona." Usai mengantar Viola Gandi berbalik menuju ruangannya.


Sebelum masuk Viola memastikan penampilannya perfect, ia ingin memastikan tidak ada satu pun yang kurang dari dirinya. kemudian dengan anggunnya ia mengetuk pintu.


"Masuk.." terdengar suara Reno dari dalam.


Viola pun membuka pintu, hal pertama yang ia lihat ialah sikap Reno yang dingin padanya. terlihat saat ini jika pria itu sama sekali tidak ingin menatapnya membuat Viola sedih sekaligus kesal.


"Maaf Aku menganggu waktumu." Viola mulai membuka suara.


"Cepat katakan, Aku tidak ada waktu." Ucap Reno dengan dingin.


"Kamu tidak mengundangku di hari ulang tahunmu?" Viola menatap kesal pada Reno yang masih mengacuhkannya.


"Besok Samson akan datang bersama Bunga, wanita yang Kamu sukai." lanjut Viola memancing Reno.


"Lalu?" Reno mendongak menatap Viola sekilas.


"Biarkan Aku datang ke acaramu, Aku akan mencoba merayu Samson di depan umum. Ia tidak mungkin menolak, karena setau publik kami berdua masih berhubungan. mari saling mendukung, Aku dengan Samson dan Kamu bersama Bunga." Viola tersenyum miring memandang wajah sang mantan yang nampak terkejut.


"Datanglah sesukamu, tapi ingat jangan membuat keributan." ucap Reno akhirnya dengan wajah dingin.


Viola tau jika Reno masih memiliki perasaan padanya, sangat terlihat perubahaan dari raut wajah Reno ketika ia meminta untuk bekerjasama mendapatkan hati pujaan masing-masing.


"Oke .." Viola tersenyum miring berjalan mendekat ke arah Reno.


Tanpa Reno sadari Viola saat ini sudah berada di belakangnya, mengalungkan kedua tangan di lehernya sembari berbisik.

__ADS_1


"Jangan merindukan servis ku lagi." bisik Viola tepat di telinga Reno, membuat bulu kuduk Reno meremang seketika.


Tidak hanya itu Viola mengesekkan kedua bukit kembarnya di punggung Reno membuat pria itu memejamkan mata menahan sesuatu yang sudah bangun di bawah sana.


Viola berusaha menahan tawanya saat mendapati tubuh Reno yang terlihat menegang, dengan seringai di bibirnya Viola mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


"Shiiiittt.." Reno berdiri dan mengepalkan tangannya ke udara setelah pintu itu di tutup oleh mantan kekasihnya.


Dengan langkah cepat pria itu memasuki kamar mandi, entah apa yang akan dia lakukan untuk membuat tubuhnya kembali mendingin.


*


*


Sore pun menjelang, kini Evan tengah berada di rumah kosong tempat dimana anak buah Reno di sekap. ruangan itu sangat luas namun gelap, membuat Evan sedikit merinding lantaran rumah itu bekas terjadinya tragedi kebakaran yang menewaskan satu keluarga di dalamnya.


"Cck..kenapa mengunakan tempat ini sebagai markas kalian?" Evan berdecak sembari mengikuti langkah anak buahnya. sesekali ia memegang tengkuknya yang mulai meremang, mereka berjalan menelusuri setiap ruangan hanya di bantu dengan cahaya lilin.


"Kami tidak memiliki pilihan lain Bos." jawab salah satu dari mereka.


'Brak..' tiba-tiba terdengar suara aneh yang mengejutkan Evan dan beberapa anak buahnya.


"Bos jangan begini berat." keluh pria bertato naga saat Evan reflek menaiki punggungnya.


Sadar dengan tingkah bodohnya Evan langsung turun dari punggung pria bertato itu, berdiri tegap dan kembali memasang wajah dinginnya.


"Ayo jalan lagi." perintah Evan sembari memegang tangan salah satu anak buahnya.


"Jangan menatapku seperti itu, Aku hanya takut tersandung." gerutu Evan karena pria di depannya memandangnya aneh.


Kelima orang itu kini berada di area paling belakang, dimana kelima anak buah Reno di sekap. nampak kelimanya tengah terduduk dengan kaki dan tangan terikat.


Evan melepas tangannya yang melingkar di lengan anak buahnya saat mendekati tempat itu, hanya di ruangan ini terdapat 2 lampu penerangan. Evan melihat wajah mereka satu persatu, kelimanya tengah memejamkan mata.


"Bisa-bisanya mereka tidur ngorok begitu." gumam Evan sembari mengeleng keras.


"Pastikan mereka hidup, beri makan setiap harinya. Aku yakin suatu saat kita membutuhkan mereka." perintah Evan.


"Siap laksanakan Bos."


"Perketat penjagaan jangan sampai mereka lepas, kalian bertiga berada disini saja dan Kamu antar Aku keluar dari rumah hantu ini."


Entah mengapa bulu kuduk Evan berdiri saat berada di ruangan itu.


"Besok cari tempat yang layak dan aman dari jangkauan musuh, Aku sudah mengirim uang ke rekeningmu."

__ADS_1


Kini Evan dan pria bertato itu sudah berada di luar rumah.


"Baik Bos." Bos dari para preman itu tersenyum senang mendapat kiriman uang dari majikannya.


Usai mengecek tawanannya, Evan segera meninggalkan tempat itu dan melajukan mobilnya menuju kediaman Samson karena badannya sudah sangat lelah.


"Kapan pria jadi-jadian itu bakal balik ngantor, capek Gue." keluh Evan sembari fokus menyetir.


*


*


Evan berjalan memasuki ruang tamu dengan langkah panjang, ia ingin segera sampai ke kamar pribadinya dan membaringkan tubuhnya di ranjang, saat ia melewati ruang keluarga Evan di suguhkan pemandangan yang membuatnya kesal. bagaimana tidak kesal saat melihat Samson tengah duduk santai menghadap layar televisi dengan segelas kopi di tangannya. di temani Bunga pula, sementara dirinya seharian mengurus kantor belum lagi mengurus tawanannya membuatnya pulang larut malam begini.


"Kak Evan baru pulang, mau di buatkan kopi?" tanya Bunga, matanya tak sengaja menatap Evan yang tengah berjalan mendekatinya.


"Boleh, jangan terlalu manis ya karena yang buat udah manis." goda Evan sembari mendudukkan dirinya di samping Samson. ia mengurungkan niatnya untuk beristirahat.


Bunga hanya tersenyum menanggapi godaan Evan lalu berjalan menuju dapur.


"Ngapain sih Lo ganggu aja." gerutu Samson kesal.


"Ya elah cuma numpang ngopi kali Sam."


Samson menatap Evan tajam, saat ia ingin membuka suara nampak Bunga datang membawah segelas kopi di tangannya.


"Terima kasih cantik." Evan tersenyum senang menerima kopi dari tangan Bunga.


"Sama-sama." Bunga menjawab dengan tersenyum pula lalu ikut bergabung bersama mereka.


Samson menatap keduanya tidak suka. lalu melirik Evan dengan sinis.


"Besok Gue berangkat sama Bunga ke acara Reno, Lo berangkat sama siapa?"


Evan menatap Bunga lekat, ia ingin memastikan jika ucapan Samson tidak benar. nyatanya ia harus kecewa saat mendapat anggukan dari wanita yang duduk di depannya.


"Yah, Kamu udah buat Aku sakit hati." Evan memegang dadanya dengan wajah senduh.


"Ngak usah lebay." gerutu Samson.


"Eeem sebenarnya temenku juga di undang sih Kak, kalau Kakak mau biar dia yang nemenin Kakak besok."


Bunga menawarkan Meta pada Evan, tentu saja Om dan Tantenya di undang oleh keluarga Admaja karena perusahaan Raharja juga menjalin kerjasama dengan perusahaan milik Reno.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2