Novel Pindah

Novel Pindah
Penghianat


__ADS_3

Waktu terus berputar, kini sore sudah berganti malam, belum ada tanda-tanda kedatangan Cartel, semua orang fokus berjaga di setiap sudut mansion dengan membawah senjata masing-masing, mereka baru saja selesai menyantap makan malam yang di sediakan oleh Tuan rumah, hingga sampai pukul 23.00 tak ada hal mencurigakan, tapi mereka tetap waspada.


Markas Cartel


Semuanya tengah bersiap dan sebentar lagi berangkat, Derward sangat yakin jika istrinya di sekap di mansion Damien.


"Dad bisa berangkat lebih dulu, kita bertemu di titik ini." Albert menunjuk peta sebuah bangunan besar yang tidak lain mansion milik Damien.


"Baiklah son, Dad tunggu disana." Damien melangkah menuju mobil di ikuti beberapa orang.


Albert masih sibuk memgumpulkan beberapa senjata, kali ini mereka membawah empat mobil, dua mobil sudah berangkat menuju lokasi sementara dua mobil lagi masih tertinggal.


"Pastikan tak ada yang tertinggal, ingat kalian harus berhati-hati karena kita langsung menyerang ke kandang lawan."


"Baik Al." ucap para rekan Cartel, ada pula yang hanya menganggukkan kepala.


Kini dua mobil yang di tumpangi Albert sudah berangkat menuju mansion Damien, di mobil Albert sempat berfikir begitu besar cinta Daddy nya pada wanita itu, padahal setauh Albert Calista wanita yang suka menuntut dan tidak pernah bersikap baik pada Daddynya.


****


Dua mobil yang di tumpangi Albert dan rekan-rekannya berjalan beriringan tanpa kendala tapi hanya sesaat, Albert yang sedang memeriksa senjatanya cukup terkejut saat mobil itu tiba-tiba berhenti mendadak, membuat mobil yang saling beriringan itu hampir saja tabrakan.


"Ada apa?" tanya Albert mengernyitkan dahi.


"Sepertinya ban depan bocor Al, kita harus menganti bannya dulu." ucap salah satu rekannya yang bertugas sebagai sopir kali ini.


"Shiiiit, apa kalian tadi tidak mengeceknya? kenapa bocor di saat situasi genting begini." nada Albert sedikit meninggi.


"Maaf Al."


"Sudah cepat turun, aku kasih kalian waktu 15menit untuk mengantinya." ucap Albert dingin.


Sementara rombongan Derward sudah berada di titik dimana Albert menyuruh mereka berhenti.


"Ck.. kenapa putra ku lama sekali." Derward berdecak tak sabar.


""Kita tunggu sebentar lagi Gent." ucap salah satu rekannya.


"Heeemm."


Sudah 10menit mereka menunggu tapi rombongan Albert tidak kunjung datang membuat Derward habis kesabaran.

__ADS_1


"Kita turun saja, aku sudah tidak sabar bertemu istriku."


"Tapi Gent.." rekan-rekannya mencoba menghentikan pria itu karena ini sangat berbahaya, tapi Derward tetaplah Derward pria keras kepala yang tidak bisa di bantah sedikit pun.


Akhirnya rombongan dari Derward juga ikut turun, mereka berpencar dan mengendap-endap mulai mendekati mansion, pergerakan mereka begitu rapi membuat musuh tidak menyadari kehadiran mereka.


"Lempar bola kecil ini ke arah mereka." ucap salah satu rekan Cartel kepada rekannya yang lain.


Tiga bola kecil berwarna-warni itu pun mengelinding, asap tebal mulai muncul dari bola-bola tersebut membuat pernafasan para penjaga terganggu hingga akhirnya satu persatu pingsan begitu saja.


Derward tersenyum menyeringai. "Tidak sesulit yang ku bayangkan untuk melawan mereka." ucapnya sombong.


Para rekan Cartel yang tadinya berpencar kini mulai menerobos masuk, mereka tidak tahu jika gerak mereka sudah terekam cctv yang berada di luar, kelompok Rick Devil sudah menunggu mereka di depan pagar mansion dengan cara bersembunyi di balik tanaman, karena keadaan sangat gelap begitu mendukung untuk mereka bersembunyi.


"Dor Dor.." peluru berhasil menembus jantung salah satu rekan Cartel saat beberapa orang mulai membuka gerbang, sementara yang lain lebih memilih memanjat begitu juga dengan Derward.


"Dum it, mereka menjebak kita." Derward mengertakan giginya saat mendengar suara rekannya menjerit.


"Dor..Dor.." bunyi tembakan kembali mengema membuat Derward dan tiga rekannya dengan cepat menyelinap mencari jalan menuju ruang bawah tanah.


Di ruangan cctv kelima pria sedang serius menatap satu monitor dengan seringai licik, mereka hanya fokus pada Derward, kelima pria ini percaya jika rekan-rekannya bisa menumbangkan orang-orang Cartel yang tidak seberapa itu.


"Lihatlah pria tua itu, dia percaya diri sekali." ucap Lard saat beberapa kali melihat Gent tersenyum menyeringai.


Akhirnya dengan gampangnya Derward dan ketiga rekannya masuk ke ruang bawah tanah, pria itu tidak curiga jika ini hanya jebakan untuknya, Derward mengernyitkan dahi heran, keadaan disana begitu gelap tanpa seorang pun, padahal di luar tadi banyak sekali yang berjaga, ia dan ketiga rekannya terus melangkah, hingga mereka di kejutkan dengan lampu yang tiba-tiba menyala, tepat di sudut kiri di samping sel tempat Calista di kurung.


Mata Derward membulat menatap wanita yang di cintainya nampak kacau dengan rambut acak-acakan, wajahnya nampak lebam dengan darah kering di sudut bibirnya, di samping wanita itu berdiri lima pria tampan yang menatap Derward dengan senyum sinis.


"Brengsek, lepaskan istriku." suara Derward pelan penuh penekanan.


"Hai Gent, bagaimana kabarmu selalu baik bukan?" Damien mengangkat sedikit sudut bibirnya.


"Jangan berbasa-basi, cepat lepaskan istriku bajingan."


'Krek' Derward menarik pistol dan menodongkannya pada Damien tapi gerakannya kalah cepat karena saat ini ia sedang di kepung empat orang di sekelilingnya,tentu saja mereka juga menodongkan senjata ke arahnya, sementara ketiga rekan yang bersama Derward tadi berhasil di bekuk.


"Shiit .. kemana Albert aku bisa mati disini." batinnya.


"Kau menginginkan dia?" Damien menjambak rambut Calista dengan keras membuat wanita itu mengerang meminta tolong pada suaminya.


"Argh sayang tolong a- aku."

__ADS_1


Melihat wanita yang di cintainya tidak berdaya seperti itu membuat Derward naik pitam, meskipun begitu ia tidak bisa apa-apa karena senjata yang ia bawah sudah di rampas oleh kelompok Rick Devil, pria tua ini hanya bisa mengetatkan rahang dan mengepalkan tangan saat sang istri kembali di jambak.


"Kalian boleh mengucapkan kata perpisahan, aku beri waktu 5menit." Damien mendorong tubuh Calista dengan keras hingga wanita itu jatuh tersungkur di depan Derward.


"Sayang, maafkan aku." Derward dengan tubuh bergetar membantu sang istri bangun dan langsung memeluk wanita itu kuat-kuat.


Calista membalas pelukan suaminya meskipun sentuhan itu membuat lukanya terasa perih, mata Calista menatap sekitar ia harus mencari celah untuk melarikan diri, tiba-tiba dari jauh mata wanita itu menatap seseorang memakai baju serba hitam tengah menodongkan pistol ke arahnya dan.


'Dor..dor..dor.' tiga peluru melesat tepat sasaran membuat semua orang yang berada disana terkejut terutama Damien dan keempat rekannya.


Tubuh yang semula berdiri tegap kini merosot. "Ke kenapa kau melakukan ini s-sayang." setelah mengucapkan hal itu mata Derward seketika menutup mata.


Ya Derward lah yang tertembak saat itu, ketika Calista sadar akan bahaya dengan sekuat tenaga wanita itu mengeser tubuh suaminya untuk di jadikan tameng.


"Brengsek siapa yang berani menembak mereka, cepat cari orang itu." teriak Damien mengema dengan nafas memburu, ini sudah di luar rencananya. semua rekan yang berada disana pun lekas berhambur keluar , tak lama terdengar suara tawa dari Calista mengema di ruangan itu.


'Hahahaha akhirnya kau mati juga tua bangka." ucap Calista pada mayat Derward.


Mata kelima personil Rick Devil memincing mendengar ucapan Calista, tak lama terdengar suara teriakan dari pintu membuat semua orang yang berada disana terkejut.


"DADDY..." Albert berlari ke arah Derward dan membawah kepala sang Daddy ke pangkuannya.


"Daddy bangun jangan tinggalkan aku." airmata seorang Albert menetes tanpa di minta, hal itu bisa terlihat jelas oleh Damien, pria itu tahu bagaimana rasanya di tinggalkan oleh sosok seorang ayah.


Melihat Albert datang, bibir Calista tersenyum menyeringai, ia pun ikut menghambur memeluk anak tirinya.


"Ini semua karena ulah mereka Al, mereka lah yang menembak Daddy mu." ucap Calista sembari menangis sesenggukkan untuk melancarkan aktingnya.


Albert mendongak menatap tajam hingga mata itu memerah, ia menatap penuh dendam ke arah Damien dan ke empat orang pria yang berdiri menyaksikan drama menyedihkan ini.


"Dasar penghianat." batin Damien menatap Calista dengan tajam.


"S-son.." suara Derward hampir tak terdengar.


"Dad, kau masih hidup? aku akan membawah mu ke rumah sakit." Albert mengangkat Daddynya ingin membawah pria itu pergi.


Melihat itu ke empat pria yang berdiri di samping Damien akan bertindak tapi di cegah oleh pemimpin Rick Devil.


"Biarkan." ucap Damien datar.


Sementara Calista wanita itu sudah memucat melihat sang suami masih hidup, tanpa berfikir lagi dengan cepat ia berjalan mengikuti Albert.

__ADS_1


Bantu share like vote yuk kak, komentar sebanyak-banyaknya Author biar lancar ngehalu


__ADS_2