
Biasakan Like Sebelum Membaca😘
Hari ini dimana hari para pekerja mengesampingkan tuntutan pekerjaan yang membuat hari mereka lelah, dimana hari libur selalu di manfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga membuat nafas dan fikiran yang setiap harinya harus berjibaku dengan pekerjaan sedikit merasa rileks. berbeda dengan gadis berparas tomboy yang tidak lain adalah Bunga, gadis sebatang kara itu mengisi hari liburnya untuk memata-matai seseorang yang membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. karena hari ini hari minggu Samson membebaskan gadis itu untuk sekedar beristirahat, tentu saja mendengar hal itu Bunga tidak menyia-nyiakan kesempatannya untuk mencari tahu siapa Damar.
"Semoga pengintaianku hari ini mendapatkan hasil." gumam Bunga.
Beruntung hari ini Bunga di ijinkan oleh Mama Rika untuk memakai salah satu mobil milik Papa Adi, gadis itu sangat bersyukur bisa mengenal wanita sebaik majikannya. dan tentunya wanita parubaya itu tidak beruntung karena memiliki putra yang menurutnya sangat menyebalkan.
Mobil Avanza berwarna hitam itupun meninggalkan pelataran rumah Samson, Bunga sangat antusias bahkan gadis itu dengan niatnya menyamar sebagai seorang pria memakai celana sobek, jaket oversize serta wik dan kumis palsu untuk memperlancar penyamarannya, tujuan pertamanya kali ini ialah rumah utama.
"Cck ..lama sekali." gerutu Bunga karena tidak sabar menunggu lampu hijau menyala saat dirinya berhenti tepat di lampu merah.
Tak lama lampu merah telah berganti dengan lampu hijau, mobil itu pun kembali melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. hingga akhirnya Bunga sampai di tempat tujuan. tatapan mata Bunga tertuju pada rumah megah nan mewah yang menjadi saksi kekejaman seseorang terhadap keluarganya, dadanya seketika sesak saat menginggat kehidupan masa kecilnya yang begitu membahagiakan. setetes airmata kesedihan pun meluncur tanpa meminta persetujuan dari si empunya ketika menginggat keharmonisan keluarganya yang di rampas paksa.
Cukup lama Bunga berada di dalam mobil dan tidak melihat pergerakan apapun dari rumah itu, hingga pandangannya tertuju pada sebuah mobil yang baru saja keluar. dengan buru-buru ia menginjak gas mengikuti kemana mobil itu pergi.
Di ujung resto khas makanan jepang Bunga berada saat ini, ia sengaja mencari meja yang tidak jauh dari keluarga yang terlihat harmonis itu, untung saja Bunga mempersiapkan diri untuk melancarkan aksinya dengan cara menyamar.
"Kapan kalian menikah?"
"Secepatnya Pa ya kan sayang?"
Bunga menatap lekat putra dari Damar lalu menatap wanita yang duduk di samping pria itu yang terus tersenyum.
"Mereka sepasang kekasih." batin Bunga.
Seketika mata Bunga membelalak saat menatap lekat wajah wanita itu.
"Bukannya itu kekasih Tuan Samson, ah biarkan saja itu bukan urusanku." gumam Bunga.
Tak lama kekasih dari putra Damar berdiri, sepertinya gadis itu ingin ke toilet. Bunga masih mencuri dengar percakapan mereka yang menurutnya tidaklah penting,
"Apa ku sudahi saja memata-matai mereka." batin Bunga kesal, sudah satu jam dia berada disana tapi tidak mendapat info apapun.
Akhirnya Bunga memilih pulang dari pada membuang-buang waktunya disana. saat ia berdiri dan ingin meninggalkan mejanya samar-samar Bunga mendengar ucapan yang membuatnya duduk kembali.
__ADS_1
"Apa Papa tau dimana putri Bram berada saat ini?" tanya Indah istri dari Damar.
"Entahlah Ma, orang-orang ku belum ada yang berhasil menemukan gadis itu, cukup sulit mencarinya menginggat usianya kini bertambah dewasa dan tentu saja kita semakin susah mengenalinya."
"Mama tidak ingin kehilangan semua kekayaan yang sudah berhasil kita rebut, Mama harap Papa bisa menemukan gadis itu lalu menghabisinya setelah mendapat yang kita inginkan." ucap wanita parubaya itu.
"Ternyata sikap kejam ku turunan dari Mama ya." canda putra Damar yang tidak lain adalah Reno.
Ketiganya pun tertawa membuat seseorang yang dari tadi mengupingnya mengepalkan tangan erat, tak lama terlihat kekasih Reno kembali dari toilet.
"Ren Papa ingin bertanya padamu?" tanya Damar.
"Tanya apa Pa?" pria itu sibuk memainkan jari kekasihnya.
"Kenapa Kamu selalu membuat masalah dengan Samson, lebih baik Kamu berdamai saja dengannya agar perusahaan Kita bertambah maju."
"Tidak bisa Pa dari dulu dia selalu merebut apa yang Aku sukai, Aku sangat membencinya." Reno terlihat mengepalkan tangan ia menginggat masa-masa sekolah yang selalu di nomor duakan.
Ya Reno dan Samson dulu pernah satu sekolah, keduanya sama-sama populer tapi Samson lebih populer dari dirinya karena kecerdasannya bukan hanya karena rupanya saja. rasa iri dengki yang sudah mendarah daging membuat dirinya ingin menghancurkan pria itu.
Bunga terus mendengarkan apa yang mereka bicarakan hingga tiba-tiba terlintas rencana licik di fikirannya. merasa cukup mendapat info walau tidak banyak, ia pun memilih pergi dari sana karena hari sudah semakin siang.
Sepulang dari resto Bunga memutar arah berencana berkunjung kerumah sahabatnya Meta, beberapa minggu ini dia lost contact dengan sahabatnya, Bunga hanya sesekali mengabari jika dia mendapat pekerjaan baru sebagai pengawal pribadi, Bunga tidak ingin membuat Meta dan kedua orang tua sahabatnya menghawatirkan dirinya.
Kini Bunga sudah berada di pelataran rumah Meta, sebelumnya ia sudah melepas semua benda yang berada di wajahnya saat melakukan penyamaran tadi, langkah kakinya mulai berjalan memasuki pintu utama, tepat di ruang tamu seorang asisten terlihat sedang bersih-bersih.
"Eh Non Bunga, Non Metanya ada di kamar." asisten sedikit terkejut dengan kedatangan Bunga yang tiba-tiba.
"Hehe ..iya Mbak, maaf ya membuat Mbak Sum kaget." Bunga terkekeh lalu berjalan masuk menapaki tangga menuju kamar sahabatnya.
'Tok tok tok..'
"Masuk aja mbak ngak di kunci." ucap seseorang dari dalam dengan suara lemah, Meta mengira Mbak Sum yang mengetuk pintu kamarnya.
'Ceklak.' suara pintu terbuka.
__ADS_1
"Astaga Meta." teriak Bunga membuat Meta yang masih bermalas-malasan di atas tempat tidur langsung beranjak duduk saat mendengar suara yang di rindukannya.
"Bunga ini beneran Lo, Gue ngak mimpi kan," Meta berlari ingin menghambur memeluk Bunga dengan erat.
"Lo bau iler jangan peluk-peluk Gue." Bunga menahan tubuh sahabatnya agar tidak mendekat.
Ucapan Bunga membuat gadis di depannya menekuk wajah dan memanyunkan bibirnya.
"Lo nyebelin banget, ngak tau apa orang lagi kangen." gerutu Meta sembari bersedekap.
"Hehe bercanda sini-sini Gue peluk."
Keduanya saling melepas rindu dengan bercerita hingga tanpa sadar waktu sudah berganti sore.
"Oh iya Om dan Tante kemana kok di bawah tadi sepi?" tanya Bunga.
"Mama sama Papa lagi berkunjung ke rumah saudara."
Bunga beranjak dari ranjang lalu berjalan menuju meja rias untuk merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Gue harus pulang Met, lain kali Gue main kesini lagi." ucap Bunga.
"Yah Lo nginep sini aja deh ya satu hari aja." pinta Meta dengan wajah memelas.
"Bisa-bisa di pecat Gue kalau ngak pulang, lain kali kita jalan deh kalau Gue ada waktu luang." Bunga keluar dari kamar sahabatnya di susul Meta di belakangnya.
"Janji ya, Oh ya Lo udah daftarin diri kan buat kuliah?" tanya Meta di selah langkahnya.
"Sepertinya Gue harus undur dulu deh, mungkin tahun depan Gue bisa lanjutin pendidikan Gue."
"Yah ngak seru dong kalau ngak ada Lo." wajah Meta terlihat lesu, entah mengapa ia merasa jika sahabatnya Bunga tengah menyembunyikan sesuatu.
"Cck ngak usah masang muka jelek, Lo udah jelek malah tambah jelek lagi."
"Issh sialan Lo, ya udah hati-hati kabari Gue kalau butuh bantuan."
__ADS_1
Bunga tersenyum, sebelum pergi keduanya kembali berpelukan. untuk saat ini Bunga belum bisa bercerita tentang masalahnya pada Meta, ia tidak ingin keluarga Meta celaka karena masalah ini.
Bersambung ...