Novel Pindah

Novel Pindah
Gagal


__ADS_3

Anak lagi sakit jadi telat up lagi😓


Untuk pembaca mohon bersabar ini ujian 🤭


Tangan Damien mengepal kuat, sorot matanya begitu tajam menusuk tepat ke uluh hati Arrabel membuat gadis itu sedikit bergetar, namun ia menutupi ketakutannya dengan berjalan menjauh dan kembali menduduki sofa.


" Bagaimana?" Arrabel mengangkat satu alisnya sembari tersenyum smirk.


"Jika aku tidak mau."


"Aku akan sebarkan foto kemesraan kita, Kak Dam tau kan apa yang akan terjadi jika foto ini sampai tersebar, apalagi kekasihmu itu sampai melihatnya." Arrabel duduk dengan santai, matanya tak lepas memandang Damien yang terlihat begitu murka.


"Kau...berani kau mengancam ku?" Damien menunjuk Arrabel, emosinya sudah berada di ubun-ubun, sekuat mungkin ia mengontrolnya agar tidak membuat keributan di perusahaan miliknya.


Arrabel tersenyum tipis. "Aku tidak mengancam, hanya memberimu pilihan yang mudah, pilih menikah dengan ku atau tetap menjalin hubungan dengan gadis kecil itu, aku tau orang tua gadis itu belum mengetahui hubungan kalian." Arrabel berdiri lalu berjalan menghampiri Damien kembali.


"Aku memberimu waktu sampai besok, Aku tunggu kabar baik darimu Kak." setelahnya Arrabel berjalan keluar dengan santai menuju pintu, ia melirik Robby sekilas dengan senyum mengejek lalu meninggalkan ruangan itu tanpa rasa takut.


"Robb.." panggil Damien ketika Arrabel sudah tidak berada disana.


"I- iya Tuan." ucap Robby dengan tubuh gemetar, karena wajah Damien terlihat lebih menakutkan dari yang di lihatnya tadi.


"Urus wanita itu sekarang." Damien sudah habis kesabaran, dia tidak akan memberi ampun pada siapa saja yang berani mencari masalah dengannya.


"Baik Tuan." Robby dengan gesit memerintahkan anak buahnya untuk memberi pelajaran pada wanita itu.


****


"Hahaha sebentar lagi Kau akan menjadi milik ku Kak." Arrabel tertawa jahat, ia sudah berada di luar perusahaan mengendarai mobilnya menuju mansion utama milik Derward.


Ya setelah Calista tau jika suaminya meninggal, wanita itu langsung mengambil alih semua harta milik Derward kecuali mansion yang berada di pulau kecil yang menjadi markas Cartel, Derward yang notabenya bukan seorang pengusaha jadi lebih banyak menanamkan kekayaannya di bidang properti, Calista juga memboyong putrinya kesana.


Tawa Arrabel terhenti saat menatap spion samping, bibirnya tersenyum smirk mengetahui dirinya tengah di ikuti oleh mobil lain.


"Oh Kau belum tau siapa aku Kak Dam." ucapnya menyeringai dan menambah kecepatan.


Orang suruhan Robby yang tengah mengikuti Arrabel juga ikut menambah kecepatannya, saat mereka melalui jalanan yang cukup sepi dengan mudahnya mereka menyalip dan berhasil menghentikan mobil milik Arrabel.


Beberapa orang bertubuh kekar turun dari mobil menghampiri mobil milik Arrabel.

__ADS_1


'Tok tok tok..'


"Hei keluar Kau."


Arrabel melepas seat beltnya lalu membuka pintu mobil dengan santai , ia bersandar di pintu mobil dengan pose menantang, sedangkan para pria yang berada di hadapannya menatap Arrabel seperti seekor singga yang siap memangsa buruannya.


"Wow sebaiknya kita bermain-main sebentar dengan gadis ini sebelum mengeksekusinya." ucap salah satu dari mereka menatap tubuh Arrabel dengan tatapan lapar.


"Ide bagus." ucap yang lainnya menyetujui.


Kini keenam pria itu tengah mengepung Arrabel, mereka tertawa, mengoda dan mengejek gadis di hadapannya, anak buah Robby begitu yakin jika wanita di hadapan mereka tidak akan bisa lolos, namun keenam pria itu melotot ketika Arrabel diam-diam mengambil sesuatu dan menodong mereka dengan senjata pistol berjenis Levorver, pistol yang paling mematikan di dunia, peluru yang di tembakkan bisa menembus dan meledakkan objeknya dengan kedipan mata membuat keenam anak buah Robby bergetar karena takut.


"Brengsek sebenarnya siapa kau?" salah satu dari keenam pria itu cukup berani menantang Arrabel yang saat itu bisa saja langsung menembakkan peluru ke arahnya.


"Aku?" Arrabel menunjuk dirinya dan tersenyum smirk.


"Kalian tidak perlu tau siapa aku, karena kalian berani menghalangi jalanku jangan harap nyawa kalian akan selamat, jadi bersiaplah untuk mati atau menyingkir dari hadapanku." ucap Arrabel penuh penekanan di akhir ucapannya.


"Jangan kira kami takut Nona, kami memilih mati dari pada harus menjadi seorang pecundang."


Dengan gesit keenam pria itu menyerang Arrabel, Arrabel yang mendapat serangan dari lawannya secara tiba-tiba akhirnya menyerang balik, gadis itu menyingkap dress yang ia pakai dan menyimpan pistol di saku ****** ********, untung saja Arrabel memakai dalaman yang cukup panjang, jadi ia bisa dengan mudah bertarung melawan mereka.


Tanpa sepengetahuan Arrabel salah satu dari mereka melarikan diri untuk melapor pada Robby.


'Dor..door..' dua orang tertembak dengan keadaan tubuh yang hancur, kepala dan badan terpisah dari tempat seharusnya, sementara ketiga lainnya terkapar pingsan.


"Cck menjijikkan." Arrabel berdecak saat tak sengaja melihat kepala penuh dengan darah mengelinding di hadapannya.


Tanpa menunggu lama gadis itu kembali memasuki mobil dan segera pergi dari sana.


Perusahaan Dam Company


Saat ini Robby berada di ruangan Ceo, pria tampan nan dingin itu sedang fokus dengan laptopnya, tiba-tiba terdengar ponsel miliknya berdering, Robby pun segera mengangkatnya saat tau itu telpon dari orang suruhannya.


"Ya bagaimana?"


(...............)


Mata Robby membola mendengar semua informasi yang cukup mengejutkan itu, ia melirik Damien sekilas lalu kembali berucap.

__ADS_1


"Oke.."


Panggilan terputus.


Damien diam-diam melirik Robby, melihat ekspresi dari tangan kanannya membuat alis tebalnya mengernyit.


"Ada apa Robb?" Damien berdiri dari kursinya.


Robby ragu ingin memberi kabar buruk yang baru di dapatnya tadi, pria itu hanya menunduk tanpa mengucapkan apapun.


"Apa kau tuli Robb?" bentak Damien yang sudah habis kesabaran, pria itu sangat takut jika Arrabel mengirim foto itu pada kekasihnya.


"Maaf Tuan, mereka gagal menjalankan tugas, kelima orang kita tewas di tempat, sementara satu lagi berhasil melarikan diri dan mengabari saya barusan."ucapnya menunduk.


'Braaaakkk...' semua barang yang berada di atas meja kerja milik Ceo Dam Company berpindah ke lantai saat mendengar laporan dari Robby jika anak buahnya terbunuh dan Arrabel berhasil kabur, sementara Robby hanya bisa menunduk takut.


Kedua tangan Damien bertumpu di atas meja, nafasnya memburu dengan tangan mengepal, ia berusaha menetralkan emosinya kemudian berucap.


"Kita ke lokasi Robb." Damien berjalan cepat keluar dari ruangannya, ia menduga ini semua ulah Cartel, sementara Robby hanya mengangguk kemudian mengikuti Bosnya yang terlihat tergesah.


Tak lama Damien dan Robby sudah berada di tempat kejadian, tempat itu sudah bersih hanya saja tersisa bekas darah yang sudah mengering di atas aspal, tentu saja sebelumnya Robby menugaskan anak buahnya untuk membersihkan jejak kekacauan itu sebelum tercium oleh aparat hukum.


"Tidak salah lagi pasti ini ulah Cartel." batin Damien sembari memperhatikan sekitar.


"Cepat katakan padaku Robb, apa ini semua ulah Cartel?" Damien berdiri dengan kedua tangan berada di saku celananya, ia menatap Robby dengan sorot mata yang begitu tajam.


"B-bukan Tuan." jawab Robby dengan gagap.


Damien mengernyitkan dahi. "Lalu?"


"I-ini semua ulah Nona Arrabel Tuan, dia yang membunuh kelima orang kita." jawab Robby.


Damien menatap Robby dengan tatapan tidak percaya. "Kau bercanda Robb?" mata elang itu seakan ingin melompat dari tempatnya membuat Robby bergidik.


"T-tidak Tuan, sa-saya serius bahkan Nona Arrabel membawah pistol berjenis Levorver, dua orang kita tewas dengan tubuh tak berbentuk." jawab Robby gagap karena ketakutan.


"Brengsek." Mata Damien merah padam, ternyata gadis yang dia anggap lemah nyatanya lebih dari yang dia bayangkan.


"Siapa sebenarnya gadis itu?" batin Damien.

__ADS_1


"


__ADS_2