
Biasakan like sebelum membaca😘
Di kamar pribadi milik Samson, pria itu menceritakan semuanya pada Viola agar kekasihnya tidak salah paham dengan dirinya.
"Oh jadi begitu, Tapi kenapa harus perawat perempuan baby? " tanya Viola sambil bersandar di bahu kekar milik Samson.
"Entahlah Mama yang memilihnya. "
Tak lama terdengar pintu kamar diketuk.
"Masuk."
Bunga langsung membuka pintu dan menutup pintu itu kembali.
" Kenapa kamu kembali ke sini, apa matamu ingin melihat yang lebih dari sekedar berciuman?" Samson tersenyum smirk ke arah bunga, sementara bunga menatap malas wajah tuannya yang menyebalkan itu.
" Dasar sama-sama tidak punya urat malu." batin Bunga.
"Maaf makan siangnya sudah siap Tuan." ucap Bunga menghiraukan ucapan Tuannya.
"Wah kebetulan sekali Aku sangat lapar Baby." ucap Viola dengan manja.
"Baiklah Kita makan sekarang." Samson mengacak rambut Viola dengan gemas.
"Cepat bantu Aku turun dari sini." perintah Samson pada Bunga dengan wajah dingin.
Viola menatap tidak suka pada Bunga yang saat itu tengah memeluk kekasihnya, saat Bunga ingin mendorong kursi roda itu keluar dengan cepat Viola mengeser tubuh Bunga cukup keras, membuat gadis itu hampir saja terjatuh.
"Minggir Kamu." Viola mulai mendorongnya keluar dari kamar.
"Calon istri idaman." ucap Samson ketika ia tau kekasihnya lah yang mendorong kursi rodanya.
Viola tersenyum senang sembari melirik Bunga dengan sinis karena wanita itu terus saja membuntutinya dan Samson, saat ketiganya sampai di depan lift Samson melarang Bunga masuk.
"Kamu pakai tangga saja." Samson mengusir Bunga sembari mengibas-kibaskan tangannya.
Tidak banyak protes Bunga langsung menjalankan perintah dari Samson.
"Rasakan wanita jadi-jadian." batin Viola menyeringai licik.
"Ayo Baby katanya lapar." ucap Samson mengejutkan Viola.
"Ah iya." Viola tersenyum sinis menatap Bunga yang berjalan menuju tangga, ia pun mendorong kursi roda memasuki lift.
"Baby Aku ngak suka jika Kamu berdekatan dengan wanita jadi-jadian itu, apalagi dia berani menyentuhmu." rengek Viola.
Mendengar renggekan kekasihnya membuat Samson menghela nafas panjang. "Mau bagaimana lagi Baby, ini kemauan Mama."
__ADS_1
"Tapi janji ya Kamu ngak bakal suka sama wanita itu."
Ucapan dari Viola membuat Samson tergelak keras. " Hahaha Astaga jangan bercanda Baby, Aku tidak mungkin menyukai gadis jadi-jadian itu." ucap Samson dengan yakin.
"Syukurlah kalau begitu."
'Ting..' pintu lift pun terbuka Viola dengan segera mendorong kursi rodanya menuju meja makan.
"Loh Bunga mana Sam, ah sial." Evan mendapat toyoran dari belakang.
"Panggil Aku Kak Sam, jangan kurang ajar Aku lebih tua darimu." ucap Samson dengan kesal.
"Ish Kita hanya beda satu hari." Evan tak kalah kesal menatap pria yang berada di atas kursi rodanya.
"Kamu ngapain tanya-tanya wanita jadi-jadian itu?"
"Bunga, namanya Bunga bukan wanita jadi-jadian." ucap Evan tidak terima.
"Kenapa Kamu yang marah." Samson menatap Evan sinis.
"Bunga." Evan tidak mengubris ucapan Samson, ia berdiri lalu menghampiri Bunga, gadis itu terlihat kelelahan nampak keringat bercucuran di keningnya.
"Kamu dari mana, kenapa sampai berkeringat seperti ini?" Evan mengambil sapu tangan di kantong celananya lalu berusaha mengelap keringat di kening wanita itu tapi Bunga dengan sopan menolaknya.
"Tidak perlu Tuan, Saya permisi dulu." pamit Bunga lalu meninggalkan Evan dengan tangan mengantung.
"Sudah kapan Kita makannya." gerutu Viola yang dari tadi diam mendengar pembicaraan Samson dan Evan yang tidak berfaedah menurutnya.
"Maaf Baby." Samson berhenti tertawa lalu menyodorkan piring kosong ke hadapan Viola.
"Kenapa?" tanya Viola tidak mengerti.
"Ambilkan." rengek Samson.
"Cck menjijikkan." gerutu Evan saat mendengar rengekkan sahabatnya.
Sementara itu di dapur kotor Bunga berada, gadis itu terus mengumpati Tuannya.
"Dasar pria sombong, tak tau malu." umpat Bunga.
"Kamu kenapa Bunga?" tanya Bibi baru datang dari arah pintu.
"Aku lapar Bi." rengek Bunga menutupi kekesalannya pada Samson.
Belum sehari mengenal Bibi Bunga sudah sangat nyaman dengan wanita parubaya itu, ia merasa melihat sosok mantan asisten rumah tangganya yang dulu ikut membesarkannya dari ia bayi. sementara Bibi tersenyum mendengar renggekan Bunga.
"Sini Bibi tadi masak terong balado, apa Kamu menyukainya?" Bibi mendudukkan Bunga di kursi meja makan khusus para IRT.
__ADS_1
"Tentu saja Aku suka Bi, Aku akan mencoba masakan Bibi pasti enak." Bunga dengan terburu-buru mengambil nasi dan menyendok terong balado yang berada di depannya karena dirinya sudah sangat lapar.
"Bibi tidak makan?" tanya Bunga dengan mulut penuh makanan.
"Bibi sudah makan." jawab Bibi mengeleng melihat gadis cantik seperti Bunga memakan masakannya dengan rakus.
"Bi Aku tidak melihat asisten lain selain Bibi disini?" Bunga bertanya di selah makannya.
"Disini ada lima asisten rumah tangga, satu sopir dan satu tukang kebun." jawab Bibi.
"Lalu kemana mereka?" tanya Bunga penasaran.
"Kedua asisten disini cuti, sementara kedua asisten lainnya sedang pergi berbelanja, satu sopir mengantar Nyonya besar pergi sedangkan tukang kebun sudah pulang kalau siang begini." jelas bibi panjang lebar.
"Bi rumah ini sangat besar dan mewah bukan, apa tidak ada pengawal yang menjaga rumah ini atau menyewa pengawal untuk menjaga majikan Kita pasti mereka memiliki banyak pesaing?"
"Ada, di depan rumah dua orang dan di belakang rumah dua orang, disini tidak perlu pengawal untuk menjaga para majikan karena sopir pribadi winata jago dalam segala hal begitu juga dengan Tuan Adi dan Tuan Evan." jelas Bibi.
"Bi Kau melupakan seseorang." Bunga menatap Bibi dengan intens.
"Siapa?"
"Tuan Samson, apakah Tuan Samson juga jago dalam segala hal?" tanya Bunga.
"Eem kalau itu -" Bibi berkata dengan ragu.
"Bunga." potong Evan yang baru datang dari pintu dapur.
"Ah selamat.." batin Bibi mengusap dadanya.
"Aku dari tadi mencarimu ternyata Kau disini." Evan langsung duduk di samping Bunga tanpa merasa jijik sedikit pun.
"Tuan ini tempat para IRT jangan duduk disini karena tempatnya kotor." Bunga berdiri dari duduknya merasa sungkan dengan majikan sebaik Evan.
"Kalau begitu Kita keluar dari sini." Evan mengandeng tangan Bunga keluar dari dapur kotor itu.
Bunga menatap Bibi dengan tatapan memelas sembari berkata tolong tanpa suara, sementara Bibi hanya bisa mengeleng menatap gadis di depannya yang tengah di bawah pergi.
"Kita mau kemana Tuan? apa Tuan tidak kembali ke kantor?" Bunga berjalan dengan sedikit tertatih karena Evan berjalan terlalu cepat.
"Iya sebentar lagi, Aku hanya ingin mengajakmu keluar dari dapur kotor itu." Evan terkekeh, dari jauh ia melihat Samson dan Viola tengah bermesraan di ruang keluarga, hal itu membuatnya geram.
"Kita kesana." Evan menunjuk ke arah Samson dan kekasihnya lalu menarik Bunga agar mengikutinya.
"Duduk disini." Evan menyuruh Bunga duduk di sampingnya, sedangkan Samson menatap Evan dengan tajam karena pria itu sudah menganggu kebersamaannya dengan Viola.
*Bersambung...
__ADS_1
Hiks masih sepi pembaca😭🤧*