
Hanya sebentar saja wajah Albert menampakkan keterkejutannya, setelahnya pria itu tersenyum smirk ke arah Damien, dengan sengaja ia mendekatkan tubuhnya ke arah Stella lalu berbisik di telinga gadis cantik itu.
"Benarkah dia kekasihmu?" bisik Albert, mata itu sengaja menatap Damien di sertai seringgai licik di bibirnya, hal itu membuat Damien emosi dan tidak bisa di kendalikan lagi, pria itu berlari dan memberi satu bogeman mentah ke wajah tampan Albert, sementara Stella menepuk jidatnya, ia berfikir kenapa masalahnya bisa menjadi runyam seperti ini.
Albert tidak diam saja, pria itu juga membalas pukulan Damien tepat mengenai pipi kirinya, keduanya sama-sama aduh jotos membuat Stella dengan terpaksa melerai kedua pria itu.
"STOP, aku bilang stop." teriak Stella dengan lantang sembari melerai keduanya dengan merentangkan tangan.
Keduanya berhenti, tangan mereka sama-sama berada di udara saat mendengar Stella berteriak, akhirnya pertarungan sengit itu terhentikan juga, alhasil wajah keduanya sama-sama bonyok, Stella dengan segera berjalan ke arah Damien dan menarik tangan pria itu, sebelum pergi ia berpamitan dan meminta maaf pada Albert.
"Kak aku minta maaf tidak bisa menemani mu makan malam." gadis itu menatap Albert jengah, tapi ada rasa kasihan saat melihat luka lebam di pipi dan matanya.
"Tidak apa-apa, tapi lain kali usahakan ya dan aku meminta kejelasan darimu, apa maksud pria ini menyebutmu kekasihnya." ucapnya dengan lembut sembari meringgis merasakan perih.
"Brengsek.." ucapan Albert membuat Damien semakin marah hingga membuat pria itu kembali ingin menyerang Albert, sebelum hal itu terjadi Stella dengan cepat menarik tangan Damien menuju mobilnya.
Albert tersenyum kecut karena tidak mendapat jawaban dari Stella, ia pun lebih memilih kembali ke markas dari pada melanjutkan makan malamnya yang gagal total.
Sementara Robby datang terlambat, pria itu baru tiba saat Stella mencoba menarik Damien ke dalam mobil.
__ADS_1
"Tuan maaf kami terlambat." Robby dan Vero menundukkan tubuhnya sebagai tanda permintaan maaf, melihat wajah Bosnya yang babak belur membuat keduanya merasa takut, Robby pun berfikir mungkin Bosnya sempat berkelahi dengan pria yang membawah Nona mudanya.
Damien berhenti dan menatap keduanya dengan tajam. "Kalian sangat tidak berguna, bagaimana bisa kalian berpacaran disaat aku membutuhkan bantuan hah." teriak Damien membuat orang-orang yang berada di sekitar mereka menatap aneh.
Robby dan Vero saling berpandangan, lalu sama-sama mengaruk tengkuk mereka yang tidak gatal.
"Kenapa jadi kami yang disalahkan, kenapa Tuan memberi izin jika ujung-ujungnya marah-marah, dan bodohnya lagi kenapa Tuan membuang waktu menyuruh Vero membuntuti Nona Stella, apa dia melupakan gps yang sudah terhubung di ponselnya." gerutu Robby, tentu saja hanya berani menggerutu dalam hatinya.
"Saya minta maaf Tuan." ucap Robby.
"Saya juga." sambung Vero kemudian.
"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan." ucap Stella pada keduanya sebelum memasuki mobil.
Robby dan Vero hanya bisa mengangguk, kini mobil milik Damien melesat pergi meninggalkan dua orang yang nampak canggung setelah mendengar ucapan Bos nya yang menggira mereka menjalin hubungan.
"Ekhem, sebaiknya kita pulang juga." ucap Robby memecah keheningan di antara keduanya.
"Baik Tuan."
__ADS_1
Keduanya pun memasuki mobil, Vero yang merasa penasaran kenapa Robby bisa tahu keberadaan Stella akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Tuan.." panggil Vero.
"Heem." masih sama sedingin es batu.
"Kenapa anda bisa tau jika Nona Stella berada di resto Laspage?" Vero menghadap kesamping menunggu jawaban dari Robby.
"Ponsel Nona Stella terhubung ke ponsel ku dan Tuan Dam." jawab Robby masih fokus menatap kedepan.
"Kalau ponsel Tuan Dam terhubung dengan ponsel Nona Stella, kenapa dia menyuruhku untuk membuntuti mereka?" ucapnya kesal.
Robby hanya mengangkat kedua bahunya, hal itu membuat Vero semakin kesal.
"Dasar pria menyebalkan." gerutu Vero dengan suara pelan.
"Kamu bilang apa?" tanya Robby yang mendengar Vero bergumam.
"Ah bukan apa-apa Tuan." ucap Vero sembari tersenyum, gadis itu kembali menghadap kedepan, ia pun memilih untuk memejamkan mata karena hari ini sangat melelahkan untuknya, bukan lelah fisik tapi telinganya terlalu lelah saat mendengar suara teriakan dari majikannya.
__ADS_1
Yuk bantu share yuk biar eps nya panjang, sepanjang cintaku pada readers🤭