Novel Pindah

Novel Pindah
Semakin Merenggang


__ADS_3

Tak terasa pagi pun tiba semua penghuni mansion masih bergumul dengan selimut masing-masing, bahkan keempat rekan Damien baru saja tidur pukul 05.00 pagi tadi, sementara Damien pria itu tertidur di ruang kerjanya, semalaman ia memikirkan nasip hubungannya dengan Stella kelak bagaimana, apa Ansel dan Bella merestui mereka atau kekasihnya yang masih sangat muda itu berpaling ke lain hati, membayangkannya saja membuat pria itu meneteskan air mata apalagi hal itu benar-benar terjadi.


Apa Stella menyukai pria itu?" batin Damien menerawang jauh.


Sementara dikamar bernuansa pink gadis cantik bermata sembab itu mulai mengerjapkan matanya, ya wanita yang selalu terlihat riang dan selalu ceria di hadapan orang lain kini nampak rapuh, semalam dirinya menangis hingga menjelang pagi, sikap dingin yang di tunjukkan Damien membuat hatinya sakit, hubungan yang selama ini baik-baik saja kini mulai di taburi garam, sempat terlintas di fikirannya mengenai kejadian tadi malam, ternyata dosen yang beberapa hari ini menemaninya di kampus seorang mafia, bahkan pria itu musuh dari Damien kekasihnya sendiri, terkuaknya identitas Albert kemarin membuatnya berfikir jika pria itu mendekatinya hanya untuk menjeratnya, menginggat dirinya putri dari seorang Ansel, tetapi saat melihat kejadian kemarin ia bisa menebak jika Albert sebenarnya laki-laki yang baik.


"Apa Om Dam cemburu pada Kak Albert, kalau memang iya, aku harus segera meminta maaf dan menjelaskan padanya." batin Stella.


Lamunannya terhenyak, ia pun beranjak dari ranjang, karena semalaman tidak tidur membuat kepala gadis itu sedikit pusing, ia memeilih merendam tubuhnya dengan air hangat agar pusing di kepalanya menghilang.


Rumah Sakit


Di depan ruangan operasi seorang pria berjalan mondar mandir sesekali ia juga meremas rambutnya hingga membuat penampilannya begitu acak-acakan, sungguh dirinya sangat menyesali kecerobohan rekannya tadi malam hingga membuat nyawa sang Daddy hampir melayang, tidak jauh darinya terlihat seorang pria yang usianya tidak jauh dari Daddynya sedang duduk bersendekap dada menatapnya dengan tajam.


"Duduklah Al kau membuatku bertambah pusing." ucap Dru melirik Albert tajam.


Sementara Albert tidak menghiraukan ucapan Dru, lelaki itu tetap mondar mandir seperti setrikaan, ia belum lega sebelum melihat keadaan Daddynya membaik.


Dru membuang nafas kasar melihat Albert yang sama sekali tidak mengubrisnya. sepulang menjalankan misinya, pria berwajah bule ini sangat terkejut saat mendapat kabar dari rekannya jika sahabatnya tertembak oleh anggota Rick Devil, lamunan pria itu terhempas menginggat istri dari sahabatnya tidak sama sekali terlihat disana.


"Al kemana Nyonya Calista?"


Pertanyaan dari Dru menghentikan langkah Albert, pria muda itu menatap sekeliling, ia baru tersadar semenjak keluar dari mansion Damien wanita itu tidak ada bersamanya.


"Entahlah Om aku tak peduli dengannya, sekarang yang ku pikirkan hanya keadaan Daddy." Albert mendudukan dirinya di samping Dru.


"Yang sabar, kita berdoa saja semoga operasinya berhasil." Dru menepuk bahu Albert yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri.


Sementara Albert hanya bisa mengangguk lemah, tak lama ruang operasi pun terbuka, seorang Dokter keluar dari sana yang langsung di hadang oleh Albert.


"Bagaimana keadaan Daddy saya Dok, apa operasinya berjalan lancar?" Albert sudah tidak sabar mendengar kabar Daddynya.


Sebelum menjawab pertanyaan Albert Dokter menghembuskan nafas beratnya.

__ADS_1


"Maaf Tuan kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi karena pasien banyak mengeluarkan darah membuatnya tidak bisa tertolong."


Bagai di hantam batu besar kabar itu membuat Albert begitu syok hingga pria bertubuh atletis itu tidak bisa lagi menahan airmatanya untuk terjatuh.


"Sekali lagi kami minta maaf dan turut berduka, permisi." Dokter pun meninggalkan pria yang masih mematung namun dengan airmata yang begitu deras.


Albert tersadar saat seseorang menepuk bahunya dari belakang.


"Sabar, ikhlaskan Daddy mu." Dru sangat terpukul mendengar kabar duka ini.


Tidak, Dokter tadi hanya bercanda kan Om." Dru tidak menjawab, ia melihat jenazah sahabatnya yang tertutup kain putih sedang di dorong keluar dari ruang operasi oleh para perawat, Albert yang melihatnya langsung berlari menghampiri.


"Daddy jangan pergi." Albert mengenggam tangan yang tampak pucat itu, ia begitu menyayangi Daddynya meskipun Derward hanya orang tua angkatnya tapi ia sudah menganggapnya seperti orang tua sendiri, karena dia sudah tidak memiliki siapa pun yang menyayanginya kecuali Derward.


"Sudahlah Al, Daddy mu akan sangat marah jika kau lemah begini, lebih baik kita urus pemakamannya." Dru membawah Albert sedikit menjauh, para perawat melanjutkan kembali langkahnya membawah raga yang sudah tak bernyawa itu.


******


"Mama keterlaluan, bagaimana kalau Kak Albert sampai tau jika aku yang menembak Daddynya." teriak Arrabel dengan lantang, gadis itu terlihat berantakan, terselip rasa takut dan gelisah di hatinya.


Calista yang mendengar bentakan Arrabel seketika berdiri dan 'Plak..' tamparan melayang begitu saja mendarat di pipi kiri putrinya.


Kepala Arrabel terhempas ke samping, pipinya terasa panas setelah mendapat tamparan keras dari Mamanya.


Ya terjadi pertengkaran antara keduanya, Calista menyalahkan Arrabel karena putrinya tidak becus melenyapkan nyawa suaminya, ia belum tau jika Derward sudah meninggal, sejak keluar dari mansion Damien wanita itu langsung menuju ke apartemen putrinya.


"Itu urusanmu, untuk apa aku menyuruhmu mengikuti kursus menembak jika membunuh Daddy mu saja kau tidak becus." Calista tidak perduli akan ucapan putrinya, wanita itu terus saja menyalahkan Arrabel.


"Bagaimana jika dia selamat, pasti pria tua itu mengusirku dan menceraikanku, tidak ini tidak boleh terjadi." gumam Calista selanjutnya sembari mondar mandir di hadapan Arrabel yang masih setia berdiri di tempatnya.


"Dengar, jika Derward berhasil selamat kau yang akan mengantikan nyawanya." ancam Calista setelah itu pergi meninggalkan apartemen putrinya begitu saja.


Arrabel mendengus kesal, apa yang di jalankannya selalu terlihat salah di mata sang Mama.

__ADS_1


"Aaaarrrghh, pasti Om Dam sangat membenci ku sekarang." Arrabel menjabak rambutnya frustasi, tak lama terlintas ide yang membuat gadis itu tersenyum menyeringgai.


"Kau akan menjadi milik ku Om." gumam Arrabel dengan senyum smirknya.


**


Beberapa bulan berlalu hubungan Damien dan Stella semakin merenggang, sejak kejadian pagi itu saat Stella berusaha meminta maaf pada Damien, keduanya sama-sama diam, Stella begitu sakit hati saat Damien menuduhnya berselingkuh, begitu juga dengan Damien pria itu merasa cemburu, lagi-lagi ia melihat kekasihnya membela pria yang dibencinya, mereka saling menjaga jarak dan hanya bicara seperlunya saja seperti saat ini.


"Lusa aku pulang, Azzura memintanya." Stella membuyarkan keheningan di meja makan.


Azzura meminta Kakaknya pulang untuk menghadiri acara turnamen yang di ikutinya.


Damien mengerutkan dahinya menatap Stella, sementara Robby lebih memilih menyantap makanan yang berada di depannya, ia tidak ingin terlibat urusan percintaan mereka.


"Berapa lama kau disana?" tanya Damien dengan wajah datarnya, ada perasaan tidak rela jika sang kekasih harus berjauhan dengannya, namun egonya yang begitu tinggi membuatnya menepikan perasaan itu.


"Entahlah." Stella sudah menghabiskan makanannya dan beranjak lebih dulu.


"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanyanya lagi.


"Aku ambil cuti untuk sementara Om." jawab Stella.


Damien hanya mengangguk, hal itu membuat Stella kesal.


"Aku duluan Om, Kak Rob." pamitnya.


Selepas Stella pergi, Damien membanting sendok dan pisau yang ada di tangannya hingga mengejutkan Robby yang duduk tidak jauh darinya, nafsu makannya menghilang entah sampai kapan hubungannya dengan Stella terus seperti ini.


"Kita pergi sekarang Robb."


"Baik Tuan." Robby terpaksa menyudahi sarapannya, keduanya pun beranjak meninggalkan meja makan menuju kantor.


Maaf baru bisa up, terima kasih yang masih setia membaca cerita ini🥰

__ADS_1


__ADS_2