
"Tuan Samson, senang sekali bisa berjumpa dengan anda disini." salah satu pria parubaya bersalaman dan memeluk Samson. namun Samson tidak menunjukkan rasa empatinya, pria itu sudah hafal mana orang yang benar-benar menghormatinya dan mana orang yang mencari muka.
"Waah pasangan baru ya Tuan, cantik sekali." pria paru baya itu memandang Bunga dari ujung kaki hingga kepala, hal itu membuat Samson tidak senang.
"Ya dia calon istriku." setelah mengucapkan kata ajaib itu, Samson kembali mengandeng tangan Bunga dan mengajaknya pergi.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Samson pada Bunga.
"Saya hanya bosan." jawab Bunga tanpa menatap Samson, gadis cantik itu lebih tertarik melihat sekeliling ruangan yang tidak banyak berubah.
'DEG'
Jantung Bunga berdetak cepat saat melihat satu foto kecil yang berada tak jauh darinya.
Samson yang juga memperhatikan foto itu langsung menarik pinggang Bunga agar lebih mendekat padanya.
"Jaga emosi mu, jangan membuat mereka curiga." bisik Samson tepat di telinga Bunga.
Bunga yang tadinya ingin menangis pun kembali tersenyum dan mengangguk, ia berjanji akan mencari tau tentang hal ini. tak lama terdengar suara seseorang yang mengejutkan keduanya.
"Hai, aku cari-cari kamu ternyata disini." Reno tersenyum senang, ia tidak memperhatikan sekeliling. Yang dia lihat hanya gadis cantik yang tengah berdiri menatapnya dengan tersenyum. Saat ia ingin mendekati Bunga, tubuh tegap Samson tiba-tiba berdiri menghadangnya.
"Bagaimana kabarmu kawan? Oh ya aku minta maaf tidak membawah kado untukmu, selamat hari lahir dan semoga usia mu panjang." Samson tersenyum smirk.
Setelah mengejek Reno, dengan sombongnya Samson menarik pinggang Bunga dan membawah gadis itu pergi dari hadapan rivalnya.
Sementara itu, di suatu ruangan yang cukup luas satu pria dan beberapa pengawalnya sedang menghadap 15 monitor yang menunjukkan situasi di bawah sana.
"Tidak ada yang mencurigakan dari para tamu bos, padahal foto itu sudah kita tempatkan di satu titik yang tepat." ucap salah satu pria berseragam hitam.
"Santai saja, ini baru permula'an." Damar duduk dengan tangan bersendekap dada, memperhatikan satu persatu monitor dengan teliti.
Tak lama terdengar suara istri Damar memanggil.
"Pa.. Sudah waktunya." peringatnya dari luar pintu.
Tanpa banyak kata Damar berdiri dan merapikan jas nya, sebelum melangkah bibirnya tersenyum penuh misteri.
Kedua pasutri ini berjalan bergandengan menuju acara yang sudah di mulai, dengan gagah Damar berjalan. Wajah tampan yang angkuh menunjukkan bahwa pria itu juga banyak di segani oleh para pengusaha. nampak begitu jelas sisi kesombongan yang sudah menjadi tabiatnya.
__ADS_1
Kini keluarga Admaja sudah berkumpul di tengah acara, terutama Reno satu-satunya putra Damar yang di klaim orang bakal menjadi ahli waris keluarga Admaja.
Suara riuh karena banyaknya tamu membuat acara semakin meriah, di tambah lagi suara istri para pejabat yang sedang bergosip tentang berita yang baru keluar tadi pagi, hingga lima menit kemudian terdengar suara pemilik acara, pemilik perusahan Admaja. Siapa lagi jika bukan Damar Admaja.
"Mohon perhatiannya sebentar."
Hening, begitulah situasi saat ini.
"Terima kasih, selamat malam untuk para kolega-kolega yang saya hormati. pasti di hati kalian bertanya-tanya bukan? Tentang kebenaran berita tadi pagi. Disini saya sebagai penerus bisnis milik adik saya Bram ingin mengumumkan sesuatu." Para tamu terlihat begitu serius mendengarkan.
"Hari ini dan di acara yang penting ini, saya akan membuka rahasia keluarga Admaja yang sudah lama kami rahasiakan."
'Plok..plok' terlihat Damar memberi kode pada seseorang entah siapa itu.
Dari ujung nampak pria berseragam hitam mendorong kursi roda. Di atasnya duduk seorang pria yang membuat semua orang terkejut.
"Astaga.. Bukankah itu Tuan Bram, ternyata foto yang tersebar tadi pagi bukan editan ya."
"Tuan Bram masih hidup."
"Kenapa harus di rahasiakan?"
Kini Bram sudah berada bersama keluarga Damar, dengan senyum ramah Damar mengembangkan kedua tangannya untuk memeluk sang adik.
"Baiklah, saya akan melanjutkan ceritanya."
"Ya.. sebenarnya adik saya masih hidup, kami merahasiakan hal ini semata-mata hanya ingin melindungi adik tercinta saya dari orang-orang jahat yang ingin menjatuhkannya, Benar kan Bram?" Damar terlihat begitu menyayangi adiknya, tanpa mereka semua tau jika Damar lah yang menghancurkan hidup Bram.
Pria muda yang sudah tidak terlihat gagah itu hanya diam di kursi roda tanpa bisa melakukan apa-apa.
"Dan yang terpenting dalam acara ini, saya selaku presiden direktur Admaja Grup meresmikan pengalihan jabatan saya kepada putra saya Reno Putra Admaja, pewaris seluruh harta keluarga Admaja."
Suara tepukan tangan mengema di seluruh ruangan. para kolega dan rekan-rekan bisnis lain memaklumi itu, karena keadaan Bram yang tidak memungkinkan untuk memimpin perusahaan.
Di suatu tempat yang tidak jauh dari sana, wanita cantik yang tengah berdiri bersama gerombolan tamu sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. airmata yang sudah di tahannya dari tadi luruh di kedua pipi mulusnya. Tangan lentik itu mengepal kuat. Mata cantiknya menatap tajam ke arah Damar bak pedang yang siap menghunus tubuh lawannya.
Satu langkah ke depan Bunga berjalan tapi dengan cepat di hadang oleh Samson.
"Jangan gegabah lebih baik kita pulang sekarang." Samson mengerti bagaimana perasaan Bunga, ia pun menarik Bunga keluar dan mengajaknya pulang.
__ADS_1
Saat keduanya sudah sampai pintu, tangan Samson di tarik paksa oleh seseorang.
"Baby.." ucap seseorang yang tidak lain ialah Viola.
"Lepas.." Samson mendorong Viola dengan keras, hingga wanita itu terhuyung ke belakang.
Kebetulan sekali saat itu Samson melihat Evan terlihat berjalan tergesa menghampirinya.
"Van urus dia jangan sampai menganggu ku lagi." perintah Samson, ia kembali mengandeng Bunga dan membawah wanita itu keluar.
"BABY.. BABY TUNGGU."
Evan berusaha menahan Viola saat wanita itu ingin menyusul Samson.
"Diem lo, lo denger sendiri kan tadi ucapan Sam."
"Brengsek, lepas." Viola berontak dengan sekuat tenaga namun apalah daya, tenaga wanita itu tidak sepadan dengan Evan.
'Bugh.' tubuh Viola terjatuh ketika Evan dengan sengaja melepasnya.
"Aaaaa, dasar pria sialan." umpat Viola.
"Hahaha.. Gue peringatin sekali lagi, jangan pernah ganggu Samson atau elu bakal gue." Evan menjulurkan lidahnya layaknya menjilat es krim, lalu pergi begitu saja meninggalkan Viola yang masih duduk di atas lantai.
Dengan reflek Viola bergidik saat melihat Evan menjulurkan lidahnya, meskipun dirinya wanita yang tidak baik tapi ia anti dengan pria casanova.
"Hiih awas lo ya." dengan bersusah paya Viola bangun dari lantai.
***
"Tuan kami menemukannya, dia bersama orang berpengaruh di dunia bisnis. Mereka akan pergi dari pesta." pria berseragam hitam memberi laporan pada Damar melalui HT.
Damar yang saat itu masih menyapa rekan bisnisnya, langsung pamit undur diri dan berlari menuju ruang atas.
*Bersambung ...
Come back Balas Dendam (Bunga)🎆🎆
Siapa yang kangen akoh?kayaknya ngak ada ya🙄😏*
__ADS_1