
Esoknya Ed, Ayah, juga Ibu nya tengah berbincang, ya rupanya ini masalah serius.
"Bagaimana kita memberitahunya sayang?" Nyonya Weni menatap dua lelaki didepannya dengan tatapan sedih.
"Entah lah, aku tak pernah berpikir akan menjadi seperti ini" suaminya tampak resah.
"dan kita tak bisa menyembunyikannya! bagaimana pun Jane berhak tahu" ucap Ed.
Dua lelaki yang juga bingung dengan situasi yang mereka hadapi. Lalu bagaimana pun mereka tak bisa menyembunyikan apapun lagi. Mereka harus memberitahu Jane bahwa Ibu nya telah ber-pulang.
Akhirnya mereka memutuskan berbicara dengan Jane memberi tahu nya bahwa Ibu nya telah meninggal dunia. Kemarin dia mengalami kecelakaan tunggal dengan mobil yang dikendarai sendiri. Keterlambatan informasi yang mereka dapat kan akibat tak diketahui siapa kerabat nyonya Sarah, kebetulan juga kontak yang terus dihubungi adalah nomor Jane. Sedangkan ponsel Jane masih berada di kediamannya yang tak dia bawa ke kediaman sekarang.
Saat mendengar informasi itu rasanya Jane tak mempercayai semuanya, rasanya itu kebohongan besar yang di tunjukan untuk dirinya. Tapi sampai dia melihat sendiri jenasah Ibu nya. Dia hanya bisa menetes kan air mata dengan tangis histeris.
Jika dia bisa memilih rasanya akan lebih baik jika Ibu nya sibuk bekerja untuk pasien-pasiennya dari pada tak bisa kembali bertemu lagi dengannya. Sekarang Jane menyesali sempat mengira Ibu nya tak mementingkan dirinya, nyatanya tuhan memiliki rencana lain.
.........
Jane menatap nisan Ibu nya dengan tatapan pilu, air matanya tak menetes lagi dia juga tak menangis dengan histeris lagi. Rasanya dia sudah tak bisa mengekspresikan emosinya.
__ADS_1
Ed di samping nya memegangi payung untuk nya, kebetulan hari ini hujan turun dengan rintik.
Orang-orang yang melayat mulai berpergian, dan Ayah juga Ibu mertuanya membiarkan mereka berdua di sana, mertuanya pulang lebih dulu.
Ed mendekap Jane dalam pelukannya, mengusap pelan pundak Jane yang terpukul. Ucapan tidak apa-apa tidak akan berguna di kondisi ini, maka dari itu Ed tak banyak berucap dia hanya menenangkan istrinya sebisa mungkin.
Kemudian Jane menyender pada dada Ed, tatapannya nanar dengan air mata yang kembali memenuhi pelupuk matanya, air matanya menetes lagi dengan pelan.
Ed menatap istrinya dengan rasa bersalah yang berkecamuk, segala hidup Jane mulai hancur setelah dia datang ditengah-tengah hidup nya. Rasanya dia sendiri tak bisa memaafkan dirinya.
Cukup lama Jane meratapi kepergian Ibu nya dengan memandangi nisan beliau. Sekarang Jane berada di rumah Ibu nya yang tampak sepi. Bayang-bayang Ibu nya yang cerewet di setiap sudut rumah terlintas di kepalanya. Dia menyesali setiap ke keras kepalanya dulu, jika dia tahu Ibu nya akan pergi lebih cepat dia akan lebih-, lebih memperhatikan sikapnya dan memperbaiki perangainya.
Ditengah kesedihannya, Ed berdiri di depan pintu menghalau sinar lampu yang masuk ke kamar Ibu nya yang gelap. Jane menatap pria tinggi itu yang kini telah menjadi suaminya, segala hal buruk yang sempat terjadi antar mereka dia kesampingkan. Dalam benaknya mungkin dia masih memiliki keluarga sekalipun cinta yang di berikan akan berbeda dengan cinta keluarga. Dan dia juga tengah mengandung, ada kehidupan lain di perutnya. Jadi tak ada gunanya terus berlarut dalam kesedihannya ini. Toh, Ayah dan Ibu nya telah berkumpul di surga, mereka tak akan senang melihat putrinya menangisi mereka seperti ini.
Jane menyeka wajahnya, mengusap air matanya dia berjalan mendekati Ed dengan memberikan senyum nya "Sekarang aku baik-baik saja. Jadi Mari kembali pulang" ajak Jane.
Untuk pertama kalinya Jane mengajaknya lebih dulu, mengulurkan tangannya ini berarti dia benar-benar telah berdamai.
Ed menyambutnya dengan senyumnya juga, kemudian dia mengulurkan tangannya sebagai pria akan lebih jantan dan lebih menghargai wanitanya jika dia lah yang memulai mengajaknya, Ed mengulurkan tangannya yang disambut oleh Jane. Mereka keluar dari rumah masa kecil Jane yang penuh kenangan suka duka, dan awal dari pertemuan mereka yang penuh problem matik. Jane kini berharap kehidupan nya sekarang akan jauh lebih baik. Setidaknya dia ingin menjadi sosok yang baik untuk anak nya kelak.
__ADS_1
Ketika mereka hendak pergi dari rumah itu. Di luar mereka bertemu dengan seorang wanita yang saling menatap dengan Jane cukup lama. Keterkejutan amat tampak di wajah wanita itu, dia Viola Shandra Chika teman dekat Jane selama menempuh pendidikan nya di kampus.
Keheningan yang cukup lama, kemudian Viola berkata "Jane kemana saja kau?" tanyanya mengejutkan Jane.
Padahal sekarang Jane belum siap bertemu dengan sahabatnya karena dia takut dihakimi dan di pandang buruk. Siapa sangka di kondisi ini dia malah berjumpa dengan Viola.
Viola beberapa kali mengunjungi kediaman Jane, namun selama itu pula tak ada siapapun yang dia jumpai. Lalu, setelah beberapa minggu dia kembali lagi kemari dan akhirnya dia bertemu dengan sahabatnya itu. Dia ingin memastikan alasan sebenarnya sahabatnya tiba-tiba cuti untuk menikah. Selama mereka bersama tak sekalipun Jane bercerita atau tampak memiliki ke kasih, dia hanya mengkhawatirkannya. Bahkan beberapa kali dia menelpon dan berkirim pesan tak ada satupun yang terbalas.
Ed yang melihat Jane jauh lebih gelisah, dia memperkenalkan diri pada sahabat Jane untuk memecahkan kecanggungan antar dua sahabat itu. Ed memperkenalkan bahwa dia suami dari Jane.
Sontak saja Viola menatap Jane penuh pertanyaan "benarkah Jane?" ucapnya.
Jane hanya memberi anggukan pelan.
"begitu kau bahkan tak memberitahuku?" sekarang Viola tampak membutuhkan penjelasan kenapa dia sebagai teman terdekatnya tapi sama sekali tak di percaya dalam kasus ini. Padahal mereka selalu berbagi cerita satu sama lain.
Jane bahkan tak berani menatap mata sahabatnya. Lalu Ed meminta agar Viola tak membahasnya saat ini cukup Jane tersiksa dengan kepergian Ibu nya tidak lagi tersiksa dengan pertanyaan-pertanyaannya untuk saat ini. Setelah mengetahui bahwa Ibu Jane baru berpulang dia setuju untuk tak marah atau kesal setidaknya hari ini, dia akan menunggu Jane memberitahunya sendiri tentunya dengan memiliki waktu berbincang berdua.
Sebelum pergi Viola turut menyampaikan duka citanya atas berpulang nya Ibu Jane yang tak disangka-sangka nya. Dia juga berucap selamat atas pernikahan mereka, meski dia sebenarnya sedikit marah karena merasa tak di beri kabar sebagai sahabatnya. Tapi, Viola orang yang tahu kondisi dan tak se-egois itu.
__ADS_1