
"Aku sungguh tak tau apa yang kau maksud. Dan pasti ada salah paham disini" elak Bella, jantungnya berdetak tak karuan dan ketakutan menyeruak memenuhinya.
"Pembelaan, Aku tak memerlukannya" Ed menekan pelatuk dan peluru nyaris mengenai Bella.
Bella terjatuh, terduduk di lantai. Dia bergidik dengan takut, dia mematung dengan menatap Ed penuh ketakutan.
Ed menyeringai "Ah, kau bisa takut rupanya" Ed melangkah mendekat, pistolnya ditodong tepat di dagu Bella.
"Kau paham sekarang, siapa yang kau ganggu!!"
Bella mengangguk "Sungguh, itu aku hanya. Ya, cemburu pada Jane" tukasnya terbata.
"Apa kau tau, kau hanya obsesi padaku!! itu bukan perasaan cinta atau apapun itu" Ed menatap Bella tajam.
Bella hanya mengangguk dengan air mata yang mulai berderai "sampai sejauh ini kau menolak ku" lirihnya.
"Kenapa sampai sejauh ini?! alasan yang tak masuk akal tiba-tiba saja kau sudah menikah dengan wanita yang bahkan tak pernah kau singgung padaku" teriak Bella.
"Penting untuk memberitahumu, penting untuk mengatakan siapa orang terdekat ku. Penting!! tidak Bella angan mu terlalu tinggi hingga kau berpikir aku menganggap dirimu lebih!!"
"Lalu bukan hanya Jane yang terluka tapi anak ku. Apa kau sadar telah membunuh anak ku!!" pekik lantang Ed.
Bella membelalak dia tak tahu rupanya Jane tengah mengandung, pantas saja Ed semarah ini karena secara tidak langsung dia membunuh penerus keluarga Butler. Bella sedikit tersenyum kecil, rupanya dia malah berhasil menghancurkan hal penting "anak? aku tak tahu, aku tidak menyangka bahwa istrimu tengah mengandung. Aku sungguh tak tahu--" ucapnya kian tertunduk tapi dia tak bisa menutup bibirnya yang menyeringai.
"Ah, bohong sekali bahwa kau merasa bersalah. Tak baik membunuh bukan, akan lebih baik kau hidup lama dipenjara. Tersiksa dari pada mati dengan cepat!!" senyum Ed amat menakutkan dia memiliki rencana lain.
"Tidak Ed. Tidak mungkin kau memenjarakan ku, hanya karena masalah itu!!" Bella mulai panik.
Ed tak menggubris nya, dia bangun dan segera keluar dari kamar Bella. Upaya Bella untuk menghentikan Ed tak membuahkan hasil, dia ditepis hingga tersungkur dengan kesedihan dan kecewa, Bella hanya bisa melihat punggung Ed yang mulai menjauh.
__ADS_1
Dalam benak Bella dia mengutuk Jane yang dengan berani membuat hubungan nya dengan Ed kian buruk. Bahkan Ed menjadi kejam dan tak segan dengannya.
"Urusi dia. Dia tak boleh lepas dari jerat penjara. Kau mengerti!!" suruh Ed pada Edward.
Edward seperti biasa selalu menurut tanpa menyela.
Hanya terdengar teriakan dari dalam kamar, dan penolakan Bella dan ketidak terimanya atas perlakuan yang dia terima. Terlebih dia harus mendekam dipenjara "Sialan kau Jane!!" pekikan itu terdengar jelas saat Ed melangkah kian menjauh dari kamar Bella.
Menurut Ed dibandingkan membunuh Bella memenjarakan nya seumur hidup jauh lebih baik. Ed memasukan pistol itu kembali ke sakunya, sembari berjalan keluar dengan amarah yang masih memuncak. Akibat mengabaikan hal kecil, hal besar malah terjadi.
.........
Jane mengernyit rupanya sudah pagi, bahkan perawat telah menganti infusnya dan dengan ramah memberikan senyuman, setelah selesai dia kembali pergi.
Setelah dua hari, Jane tak melihat Ed. Jane menggeleng tak ingin ambil pusing, dia hanya berharap semuanya akan selesai dengan baik-baik. Jane mulai memikirkan rencana setelah ini mungkin dia akan memilih melanjutkan studinya yang sempat tercekat karena saat itu dia tengah hamil dan banyak hal terjadi bersamaan.
Jane kemudian menatap kearah luar jendela, hatinya kembali terasa pedih. Awalnya dia menolak kenyataan saat mengetahui dia hamil, namun setelahnya dia senang dan sekarang bayinya meninggalkan dirinya setelah semua hal yang mulai dia terima. Mengapa dunia sebercanda ini?!.
"Heyy, bisakah kalian jangan berisik"
"Eh, iya iya"
"Sttt"
"Diam dulu"
"ih, kami ingin cepat bertemu"
Jane menoleh kearah pintu, terdengar sangat bising dengan ramai orang-orang.
__ADS_1
"Bibi bisakah bantu Aku untuk meminta agar orang-orang didepan kamar ini diam. Kepala ku terasa sakit mendengar bising yang cukup nyaring" pinta Jane.
Bibi bergegas mendekati pintu, dia membuka nya, saat hendak meminta mereka diam. Rupanya itu Viola yang kemudian memberikan giginya dengan senyuman lebar.
Saat melihat mereka, Jane terdiam. Dia cukup terkejut itu Viola dan teman-teman kampus nya. Kemudian mereka langsung masuk dengan tenang di genggaman mereka terdapat bucket bunga juga ada yang membawa bingkisan.
"Jane kami mendengar kamu terluka dan kami datang untuk menjenguk" kata Abel salah Satu dari mereka.
Sontak Jane terharu melihat kebaikan teman-teman nya "terimakasih sudah datang" gumam Jane. Harusnya dia tak menyembunyikan diri dari orang-orang semacam ini.
"Eh, Jane ceria kami kenapa menjadi murung. Ini sangat buruk" kata Noe.
"Hmm" Nira memberi anggukan setuju dengan Noe.
Jane menggeleng "Baiklah sini bucket kalian dan bingkisan apa itu" Jane mencoba menjadi lebih ceria dihadapan teman-teman nya.
"Buah. Ada Jeruk, anggur, dan roti. Kami pikir itu bagus untuk orang sakit" ucap Abel.
Mereka lantas memberikan bucket bunga itu pada Jane sampai-sampai memenuhi tangan Jane.
"Heyy, ini sangat cantik" puji Jane.
"Tentu saja kami kan tau apa yang kau sukai" jawab Viola, dia menjadi lega melihat sahabatnya tampak ceria.
Jane senang teman-temannya mengerti akan perasaanya dan tak menanyakan apapun. Meski disini dia mencoba sembunyi dan mencoba lagi-lagi menyelesaikan masalahnya. Nyatanya setiap masalah membutuhkan bantuan orang lain.
Kamar Jane penuh dengan gelak tawa. Hari ini pula Jane melupakan segala kesakitan kehilangan orang-orang kesayangannya.
Bibi Yuni yang melihat Jane lebih bersemangat ikut senang, Bibi Yuni duduk di kursi luar tak ingin ikut menganggu perbincangan seru mereka. Tak lupa Bibi Yuni mengabari Ed tentang perkembangan Jane terkini. Ah, Bibi Yuni juga mengabari Ibu tuannya. Karena pada dasarnya nyonya Weni lah yang meminta dirinya berada diantara kedua anaknya ini. Ed yang saat itu membutuhkan asisten rumah tangga dan nyonya Weni mempercayakan Bibi Yuni menjadi asisten rumah tangga mereka.
__ADS_1
Bibi Yuni juga mengerti Ed tengah sibuk menyelesaikan masalah ini. Terlebih dalangnya, dia bisa memakluminya. Tapi nyonya Jane. Jane yang terpukul akan sulit menerima Penjelasan dalam bentuk apapun jika dia sering di tinggal tanpa penjelasan. Dan lagi saat Bibi Yuni menghubungi nyonya Weni sudah jelas bahwa nyonya Weni akan murka saat mengetahui kondisi menantunya ini. Terlebih sebelum ketempat Ed dan Jane, Bibi Yuni selalu mendengar nyonya Weni sibuk memuji menantunya, bagaimana dia sangat menyayangi menantunya ini. Bahkan Bibi Yuni belum pernah mendengar nyonyanya ini memuji Ed melebihi menantunya.