
Cuaca hari ini secerah hati Jane, segala pikiran buruk dan hatinya yang sempat memburuk kini membaik, juga hubungannya dengan Ed yang lebih baik dari sebelumnya.
Lalu Bibi Yuni memberi tahu Jane bahwa ada seseorang yang tengah menunggu nya di ruang tamu. Karena pria itu mengatakan bahwa dia paman dari Jane maka Bibi Yuni menyambut dan mempersilahkan dia untuk menunggu di dalam.
Tapi raut wajah Jane tampak tidak senang saat mendengar pamannya datang. Meski begitu Jane tetap keluar untuk menemui pamannya.
Saat melihat Jane, senyum cerah keluar dari wajah seorang pria berbadan gemuk, berjenggot, namun berbadan cukup tinggi. Dia buru-buru menghampiri Jane. Namun Jane dengan tenang duduk di sofanya.
"Jane aku tak tau bahwa Ibu mu telah meninggal. Lalu aku juga terkejut kau sudah menikah. Terlebih rumah ini sangat besar, kau hebat berhasil memikat seorang pria kaya" katanya dengan penuh semangat.
"Hey Paman Surya, apa kau tak bersedih adikmu meninggal dunia? kau malah sibuk membicarakan kekayaan!!" ucap Jane menatap pamannya datar. Jane kembali melanjutkan "aku lebih terkejut kau terlihat baik-baik saja saat mendengar kepergian adikmu yang sangat mementingkan dirimu lebih dari pada dirinya"
"Oh, ayolah dia sudah pergi untuk apa bersedih lama. Toh, dia tak akan bangkit lagi dari kuburnya" jawab santai paman Surya.
Jane tampak kesal mendengar jawaban pamannya. Pamannya adalah kakak kandung dari mendiang Ibunya yang sukar sekali dihubungi saat Ibunya meninggal. Terlebih dia hanya akan datang saat dia membutuhkan uang. Mendiang Ibunya yang terlalu baik terhadap saudaranya ini selalu saja membantu memberikan uangnya, sekalipun pria ini bertindak kasar dan tidak sopan. Hanya saja mendiang Ibunya berhati malaikat sampai-sampai merelakan berpuluh-puluh juta untuk pria ini yang hanya digunakan untuk foya-foya tidak jelas.
"Jadi ada perlu apa paman kemari?" tanya Jane serius.
Senyum lebar merekah, paman mengamati seluruh barang-barang di rumah ini dengan wajah terpukau sekaligus puas. Dia kemudian mendekat dan sedikit berbisik "Berikan aku sejumlah uang. Tidak banyak 50 juta, kau tau Jane kemarin paman kalah berjudi dan ya hutang paman cukup banyak. Karena Ibumu telah tiada jelas semua kekayaannya jatuh padamu, terlebih kau juga memiliki suami kaya. Ku pikir 50 juta tak berarti besar bagimu!"
"Tidak"
Wajah senang pamannya langsung berubah kesal, dahinya mengernyit dan matanya menatap Jane tajam.
__ADS_1
"Aku bukan Ibu yang dengan hati akan memberikan uang ku. Meski kau paman ku sekalipun. Kau sudah berumur gunakan properti mu dengan bijak, bukan mengemis pada Ibuku atau aku"
"Apa yang kau katakan. Setelah menjadi kaya raya kau menjadi pelit nan sombong! kau sungguh berbeda dari ibumu yang begitu manis" paman Surya sedikit meninggikan nada bicaranya.
Jane menatap datar pamannya "Ya aku memang tak sama dengan Ibu. Aku mewarisi sifat Ayah, jadi pergilah dari sini karena aku tak akan mengubah kalimatku"
"Ibumu telah meninggal. kemana aku meminta uang? kau gila" tekan paman Surya, bahkan tangannya ikut bergerak-gerak saat bicara.
Jane tak habis pikir, pamannya kemari sungguh hanya untuk uang "Entahlah. Pikirkan sendiri. Harusnya saat Ibuku memberi uang yang lebih kau gunakan untuk bisnis. Saat seperti ini tidak ada lagi sosok malaikat seperti ibu ku yang akan membantu!"
"Kembali lah paman. Jika kau menangis pun aku tak akan peduli. Sama seperti mu yang abai terhadap Ibu dan aku. Kau hanya datang saat butuh" Setelah mengatakan itu Jane bangkit dari duduknya.
Tapi pamannya dengan cepat berdiri dihadapan Jane, menghalangi Jane pergi "Ayolah. Apa-apaan ini, hanya meminjamkan beberapa kau semarah ini"
"Tunggu. Kau harus memberikan ku sejumlah uang. Jika tidak aku tidak akan meninggalkan tempat ini" ancam pamannya.
"Ini kediaman ku bersama suami ku sekarang. Aku memiliki hak untuk mengusir mu. Selagi aku mengatakan dengan baik-baik paman"
"Ini dirimu yang sebenarnya. Bagaimana bisa ku sejahat ini pada paman mu"
"Bagaimana dengan mu yang hanya sibuk mementingkan uang dan uang. Bahkan tak mempedulikan keponakanmu. Saat kau tau ibuku meninggal kau bahkan dengan santai mengeluarkan kalimat meminta uang, bukan penghiburan atau penenangan untukku. Pantas kah kau menginjakan kaki ditempat ini setelah semuanya, menghilang dan muncul ketika kau butuh, dan pantas kah kau meminjam uang seperti itu!!" ucap lantang Jane dengan marah.
"Untuk apa penenangan untukmu. Kau kan kaya raya terlebih suamimu tampaknya sangat banyak uang, kau bisa berfoya-foya untuk menghilangkan kesedihan" ucap pamannya "Jadi berikan dulu padaku"
__ADS_1
Pamannya adalah pria yang tak memiliki nalar, empati, dan kesopanan. Dia bahkan tak mengerti kesedihan yang tak semudah itu untuk di lepas. Kehangatan keluarga adalah sesuatu yang dibutuhkan disaat-saat semacam itu. Ya, bagaimana mungkin pamannya akan mengerti. Di usia sekarang dia tak menikah, dia hanya bermain-main dengan banyak wanita, menghamburkan uang untuk kesenangan duniawi yang tak ada habisnya.
"Berbicara lebih lama dengan mu tak akan berguna" Jane kembali melangkah, tapi lagi-lagi di halangi pamannya.
"Jika kau tak memberi ku uang. Aku bisa saja bertindak arogan. Jadi cepat ambilkan uang mu dan aku akan segera pergi!!" pekik pamannya.
"Tidak, maka tetap tidak" jawab Jane santai.
Pamannya menatap Jane dengan amarahnya, tangannya melayang dan menampar tepat di pipi Jane. Di sana mereka berdua saling menatap tajam.
"Lihatlah sikap sembrono mu" ucap Jane dia tersenyum kecil "Kau pikir dengan mengancam seperti itu aku akan takut"
Pamannya benar-benar murka. Yang dia inginkan tak dia dapatkan. Tangannya hampir saja kembali memukul Jane tetapi, Bibi Yuni menghampiri membuat paman Surya menghentikan gerakannya. Bibi tampaknya sudah tak tahan dengan berisik yang di timbulkan oleh paman Jane yang dia kira orang baik.
"Maaf menyela" kata Bibi Yuni.
"Jika anda menganggu nyonya. Maka saya berhak mengusir anda. Jadi pergilah dari tempat ini" suruhnya.
"Katakan pada nyonya mu untuk memberiku uang. Jika tidak lihat saja seluruh properti disini akan hancur berantakan" pamannya balik mengancam.
"Dan jika kau berani seluruh tubuh mu akan hancur"
Semua pandangan tertuju pada sumber suara. Itu Ed yang tengah berdiri di anak tangga, menatap tajam pria yang tengah berniat melayangkan pukulan pada istrinya. Ed kemudian menuruni anak tangga. Ya dia baru saja menyelesaikan dokumennya. Dan terusik saat mendengar bising di bawah. Dia tak mengira bahwa seseorang berani menyentuh miliknya.
__ADS_1