
Situasi kemudian menjadi canggung. Jane mencuri pandang kearah Ed. Suaminya hanya tersenyum dengan lebar.
"nah-" kata Jane memecah keheningan. Dia mengembalikan ponsel pada pemiliknya. Dia berusaha tak menunjukan kepanikan atau salah tingkah dengan situasi tadi. Namun Ed, tak kunjung menerima ponsel dari genggaman Jane. Dia menatap Ed cukup lama, matanya berkedip beberapa kali dia baru sadar mungkin Ed juga ingin dipotret.
"Ah! biarkan aku mengambil foto untukmu!!" Kata Jane.
Jane lalu mengarahkan ponsel ke arah Ed. Dan benar saja Ed tersenyum berpose dengan gagahnya.
Mata Jane membulat tersadar bahwa pria di hadapan nya begitu tampan, pantas saja orang-orang sibuk memandang ke arah mereka.
"Kau, bisakah ambilkan foto kami berdua?" Ed memanggil seorang anak remaja yang berusia sekitar 14 tahun yang baru saja lewat berlarian di dekatnya.
Remaja itu terdiam menatap ke arah Ed sembari menunjuk dirinya. Dia memastikan bahwa Ed memang memanggil dirinya bukan orang lain.
Ed mengangguk pelan "benar kau" ucapnya menegaskan bahwa benar yang di panggilnya dia yang tengah menunjuk dirinya itu.
Remaja itu berlari mendekat, dia dengan senang hati menerima permintaan tolong Ed untuk memotretnya. Pandangan remaja itu tertuju ke arah Jane yang menyerahkan ponsel pada remaja itu. Kali ini Jane lebih peka dan tak banyak membuat drama keengganan.
"kak, apakah dia istrimu?" tanya remaja lelaki itu sedikit berbisik pada Ed.
Ed melirik ke arah Jane lalu dia menjawab "benar."
"kau tahu-" bisiknya lagi "para lelaki di bagian Sana-" tunjuk remaja itu ke arah perkumpulan pria-pria yang menatap ke arah mereka.
"Kenapa dengan mereka?" tanya Ed matanya mengamati orang-orang itu yang langsung membuang muka ketika matanya tak sengaja saling bertemu dengan Ed.
Remaja itu menggeleng tak percaya, dia bahkan memukul pelan kepala nya "kau membawa seorang wanita cantik nan manis, tahu mereka berkata apa tentangmu. Mereka bilang kau hanya kakak wanita yang bersama mu. "
Ed terkekeh "kami begitu mirip, sampai mereka menyebutkan kami bersaudara?! Ah, benar bukankah pasangan memang memiliki kemiripan" kemudian Ed tampak kesal, dia menatap lekat-lekat ke arah pria-pria yang kembali menatap ke arah Jane. Sontak pria-pria itu kembali mengalihkan pandangannya. Lalu Ed menarik remaja itu mendekat kearahnya, dia berkata penuh penekanan "Katakan pada mereka untuk segera menjaga mata yang sibuk mengagumi istri orang. Jika tidak aku tak tahu mungkin saja mata itu akan segera menghilang, agar tak jelalatan lagi" Ed menyeringai.
Itu membuat remaja sedikit takut, itu terlihat sangat jelas.
Ed lalu mengacak kasar rambut remaja itu "apa tampangku menakutkan?" tanya Ed memastikan, bagaimana tidak remaja itu tiba-tiba pucat pasi.
__ADS_1
Remaja itu mengangguk cepat, dia mengutarakan bahwa wajah Ed tampak galak, orang yang kaku, dan orang yang tak mudah disinggung. Itu terasa saat Ed mengucapkan kalimat nya yang penuh penekanan bagi remaja itu Ed seperti seseorang yang sudah terbiasa memerintah. Hanya saja remaja itu ragu dengan simpulan nya, dia melihat ketika pria itu berbicara dengan istrinya dia tampak begitu hangat.
Ed menghela napas, tak di sangka wajahnya tampak menakutkan. Ya, tidak heran tubuhnya yang tinggi, kekar, dan wajah kaku tak salah orang-orang mengasumsikan seperti itu
"Tapi jujur sejatinya kau sangat tampan" bisik Remaja itu lagi.
Ed tersenyum kecil "aku tahu aku ini memang tampan" ucapnya kemudian percaya diri.
"nah-, sekarang bagaimana jika kau ambil foto dengan cepat sebelum mentari tenggelam berubah gelap" Ed menyudahi percakapan mereka agar tak terus panjang dan tak jadi berfoto.
Remaja itu dengan sopan meraih ponsel yang di berikan Jane padanya.
"hey! apa yang kalian bicarakan tadi. Sibuk berbisik?" seru Jane yang mulai penasaran.
Remaja itu melirik Ed, mereka saling berkedip sembari tersenyum kecil.
"Rahasia!!" ucapnya bersamaan.
Kemudian Ed menarik bangkunya mendekati Jane, dia merangkul pundak Jane tatapan nya mengarah pada Jane yang tersentak kaget menatap ke arahnya.
Jpret!!!
Foto yang indah tampa sengaja berhasil di abadikan.
Remaja itu bergegas berlari meninggalkan Ed dan Jane usai selesai memotret beberapa kali, dia juga tampak senang karena mendapat tip dari Ed.
Jane menatap surya yang mulai tenggelam membuat lampu-lampu sekitar menampakan cahaya nya. Hari ini begitu menenangkan tak seperti hari-hari lalu. Juga dirinya yang mulai berdamai tak begitu takut saat Ed mulai menyentuhnya.
Ed mendehem pelan mengeluarkan kotak kecil yang dia bawa. Dia meletakkannya dimeja menggesernya pelan hingga menyentuh lengan Jane yang terlipat di meja.
Jane yang masih sibuk menikmati langit yang mulai tampak bintang bertebaran, menunduk melihat sesuatu yang menyentuh lengannya. Dia mendongak menatap Ed penuh tanya.
"Buka lah" suruh Ed mempersilahkan Jane membuka kotak itu.
__ADS_1
Jane mengernyit, menatap ragu kotak itu. Sekali lagi Jane melirik Ed. Ed kemudian memberinya anggukan pelan.
Jane membuka kotak itu dengan hati-hati, terdapat sepasang anting berlian, sebuah kalung, dan gelang yang cantik di dalamnya.
"ini-" bibir Jane kalut dia menatap Ed lekat-lekat. Pasalnya ini tampak sangat indah "ini untukku?" Jane lebih tak percaya dia kembali menutup kotak itu dia menyerahkan pada Ed.
Ed beranjak dari duduk nya, dia membuka kotak itu mengambil kalung. Dia berdiri di belakang Jane yang terduduk. Lalu Ed memasangkan kalung itu di leher cantik milik Jane.
"Kau ingat Jane, bahwa dulu kau selalu bilang ingin mengenakan sepasang aksesoris berlian. Dan akan sangat romantis nanti jika kau telah menikah dan suamimu memasangkannya di bawah taburan langit berbintang. Kau mengatakan itu dulu saat kau marah ketika orang-orang sempat memasangkan dan menjodohkan kita. Lalu kau berbicara dengan keras-keras menolak bahwa orang sepertiku tak akan romantis dan hanya bisa menganggu mu" Ed sibuk mengaitkan kalung itu, wajahnya tak berekspresi.
Ed sedikit menunduk mendekat ke leher Jane, dia dengan lembut mengecup leher Jane.
"Aku tidak tau kau akan menyukainya atau tidak jika itu pemberian dari ku yang sangat kau benci ini" lirih Ed berbicara di belakang daun telinga Jane.
Jane menaiki bahunya yang terasa geli, kemudian perasaannya menjadi tak enak "aku tak menyangka kau masih mengingatnya.Terimakasih-" ujarnya dengan wajah datar.
Jane menoleh ke belakang menatap suaminya, bagaimana pria itu masih mengingat hal-hal yang Jane sukai bahkan sekalipun itu kata makian untuknya.
"Aku bertanya-tanya Ed, sebenarnya hatimu terbuat dari apa? sekalipun aku bersikap menyebalkan dengan perangai ku. Kenapa rasanya kau selalu menerima nya, kau marah hanya sekejap. Kemudian kembali memelukku, sekalipun kau tak salah tapi kau dululah yang meminta maaf" Jane berdiri tepat di hadapan Ed sembari menggerakkan tangannya meminta agar Ed sedikit menunduk.
Ed sedikit menunduk mengikuti arahan Jane "Karena kau berharga aku tidak bisa melihatmu lebih sakit, aku lah yang membuat mu berada di posisi ini akan sangat biadab jika aku pula menyakitimu" tukasnya.
Jane memiringkan wajahnya, sadar atau tidak Ed sangat pandai berbicara manis. Membuat pendengar tersipu malu dengan ucapan nya itu.
Jane menyentuh kalung yang melingkar indah di lehernya.
Lalu Ed menyentuh belakang kepala Jane pelan mendorong mendekatkan ke wajahnya. Dahinya dan dahi Jane menempel "Maka dari itu izinkan aku menjaga mu bak berlian dari sentuhan tangan nakal" Ed tersenyum dengan manisnya.
Angin similar dengan rembulan yang terang membuat suasana menjadi lebih indah. Jantung Jane berdetak dengan hebat nya, senyum Ed begitu tulus berhasil menggetarkan hati Jane yang hampir mati.
Pelupuk mata Jane di penuhi dengan air matanya, dia mendekap suaminya lembut. Mungkin di luaran Sana banyak orang yang memiliki kisah seperti dirinya namun tak ayal seberuntung dirinya. Selalu saja Ed bersikap baik di saat Jane ragu akan hadirnya dia di hidup nya, selalu saja dia menepati janji yang terucap.
Ed membalas dekapan lembut Jane, dia mencium kening Jane.Tanpa sadar dia lagi-lagi jatuh terlalu dalam pada wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.
__ADS_1