
Terdengar suara ketukan pintu. Mereka berdua bersamaan menoleh kearah pintu. Ed lantas bergegas keluar. Ed dan seseorang yang datang terdengar berbincang sekejap, setelahnya Ed kembali masuk. Dan dia membawa seikat bunga mawar merah yang cantik.
"ini untukmu" Ed memberikannya pada Jane, tapi yang menjadi perhatian Jane sikap malu-malu suaminya ini. Dia memberikan bunga sembari membuang wajahnya dan tangan kirinya sibuk menyibak rambutnya.
"kenapa kau memberikannya tanpa menatapku?"
"Menghindari jika kau memilih menolaknya" jawab Ed.
"Aku akan menolak jika kau menatap kearah lain"
Lalu Ed menatap Jane lekat-lekat, Jane tersenyum kemudian dia menerima bunga itu dengan senang hati.
Jane mencium bunganya "Wangi, aku menyukainya"
Setelahnya, Ed mengajak Jane berkeliling memperlihatkan kemegahan Hotelnya. Sembari mencoba lebih mendekat kan diri. Hotel Bintang 5 ini, merupakan kelas hotel termewah. Hotel ini juga memiliki restoran, bar, kolam renang, tempat rekreasi dan staf yang multi profesional.
Namun, saat berjalan-jalan disekitaran kolam renang dia bertemu dengan Bella yang rupanya menginap di hotel ini. Dia mendekati mereka dengan antusias.
"Wah, aku tak menyangka bertemu kalian" kata Bella.
Jane tersenyum.
"Ed, ampun. Hotel yang kau buat ini begitu indah. Ya, karena kau melarang ku menginap di kediaman mu. Akhirnya aku menginap disini, tidak masalah setidaknya aku berjumpa dirimu disini" Bella menatap Ed berbinar, tampaknya dia juga tak menyangka bertemu pemiliknya disini.
Jane melirik Ed, marah. Tidak salah jika Bella menginap di hotel ini, tapi apa sungguh kebetulan semacam ini?. Jane kemudian melangkah, berjalan dengan tidak peduli dengan mereka.
"Kau selalu mengacau" Ed menatap tajam Bella, kemudian bergegas mengejar Jane. Namun, tangannya dipegang erat Bella.
"tunggu" katanya.
__ADS_1
Ed meliriknya, dengan marah yang memuncak dan menepis tangannya kuat.
"dengar dulu ada hal penting yang ingin ku bicarakan" Bella berusaha keras menahan Ed.
Ed mengepalkan jemarinya "Dengar Bella kau hanya obsesi padaku. Jadi berhentilah mengacau" ketusnya. Ed bergegas mengejar Jane.
"Kau benar aku sangat terobsesi dengan pria tampan dan kaya" kata Bella, menatap Ed yang menjauh.
Ed tak menyangka bertemu Bella di hotelnya. Niat awalnya dia membawa Jane kemari agar memperbaiki suasana hatinya, malah membuat suasana hatinya kian memburuk.
"Jane, tunggu" Ed menarik lengan Jane.
"Kau akan menjelaskannya, silahkan aku akan mendengar" jawab ketus Jane.
"Ini kebetulan. Jangan berpikiran aku sengaja"
Jane menghela napas, dia kemudian mengelus perutnya, sampai anaknya lahir nanti dia akan memikirkan kebaikan untuk mereka berdua kedepannya. Sekarang dia lebih baik tenang dan tak menunjukan amarah menggebunya.
"Ah, sudahlah mari lanjutkan"
Lalu mereka kembali berjalan-jalan disekitaran hotel. Tapi, mereka berdua menjadi lebih berjarak. Terlebih Jane yang lebih banyak diam.
Setelahnya, Jane berniat kembali lebih dulu ke kamar kebetulan Ed bertemu dengan seseorang penting di bawah. Ya, Jane seperti biasa tak banyak tanya.
Namun, Jane akhirnya memilih melihat-lihat lantai lainnya lebih dulu. Dia berniat menenangkan dirinya. Sekarang dia berada di lantai dua. Dan saat dia melihat kearah luar kaca besar dia melihat Bella yang berlarian menghampiri Ed. Jane menjadi lebih kesal. Jane lantas berdiri melihat lebih jelas dari balkon yang ada dilantai dua, Ed terlihat acuh tak acuh. Jane mengernyit kemudian dia menyadari dirinya "Ayolah Jane ini bukan dirimu" benaknya.
Saat Jane hendak kembali ke kamarnya, seseorang tiba-tiba saja masuk ke balkon mengejutkannya. Dia menggunakan topi, dan masker wajah yang menutupi identitasnya. Tapi, Jane berpikiran orang itu mungkin saja berniat melihat pemandangan dari balkon umum ini. Jane tanpa menaruh curiga, melewati pria itu. Namun, pria itu dengan cepat menarik lengannya dan dengan cepat mendorong Jane dari lantai dua.
Jane membelalak tak percaya mengalami hal semacam ini, dia samar-samar melihat pria itu berbalik setelah berhasil membuatnya jatuh dan dengan cepat dia merasa tubuhnya menghantam lantai dengan keras dan setelahnya dia hanya melihat kegelapan.
__ADS_1
Suara ramai orang-orang dan banyaknya yang berkerumun di satu titik. Membuat perhatian Ed, Bella juga seseorang yang tengah berbincang dengannya teralihkan kesana. Mereka lantas mendekati kerumunan.
"Apa yang terjadi?" Ed bertanya pada orang-orang sekitar.
"Seseorang terjatuh dari lantai atas" jawabnya.
"Hubungi nomor darurat, kenapa kalian malah berdiam" suruh Ed pada stafnya yang juga ikut berkumpul karena penasaran.
Staf itu mengangguk dan dengan cepat menghubungi nomor darurat.
Ed kemudian mendesak masuk ke kerumunan orang-orang, untuk memastikan hal yang terjadi. Ed membelalak saat melihat orang yang terjatuh adalah istrinya. Jane yang terjatuh dengan darah segar yang memenuhinya. Ed berlarian, mendekati Jane.
"Jane, Jane. Kau dengar aku--" Ed berusaha memastikan kesadaran Jane lebih dulu. Ed sungguh berusaha tetap tenang. Meski tidak ada respon, beruntung Jane masih bernapas.
Pas sekali Ambulance datang dengan cepat dan mereka langsung mengevakuasi Jane. Rasanya dunia berhenti berputar, ketakutan yang memenuhi dirinya. Kesalahan besar membiarkan Jane pergi sendirian.
Saat sampai di rumah sakit, Jane bergegas ditangani dan Ed menunggu diluar dengan cemas. Sembari menyalahkan dirinya yang melakukan keteledoran, jika sampai Jane dan anaknya terjadi apa-apa dia tak akan mampu memaafkan dirinya sendiri.
Setelah cukup lama, dokter yang menangani Jane keluar menghampiri Ed.
"Hal darurat berhasil dilalui istri anda. Tapi mengenai janinnya, maafkan kami. Kami tidak bisa membantu" katanya dengan ekspresi sedihnya. Kemudian dokter dan perawat tersebut meninggal nya.
Rasanya petir tengah menyambar nya. Ed mengepal kuat jemarinya, matanya memerah dia mengigit bibinya kuat "Sial. Sialan!!" pekiknya dalam benak. Dia mengepal kuat jemarinya dan dengan kasar memukul kuat tembok disebelahnya. Sampai jemarinya meneteskan darah. Bahkan rasa sakit itu tak berarti apa-apa untuk nya, dibandingkan dengan kondisi Jane sekarang ini.
Ed terduduk di kursi luar, bagaimana dia memiliki wajah untuk bertemu dengan Jane. Segala kepedihan Jane dapatkan setelah bertemu dengannya. Ed tertunduk dengan rasa bersalah, bagaimana nanti jika Jane mengetahui bahwa anaknya telah tiada. Ed mengacak kasar rambutnya dia benar-benar terlihat kacau dan berantakan.
Lalu ditengah keputusasaan Ed menghubungi Lily juga Viola meminta mereka datang dan membantu dalam menenangkan Jane ketika dia benar-benar tersadar. Untuk saat ini rasanya dia tak akan mampu menenangkan istrinya dan takutnya kian membuat situasi memburuk.
Dengan kegundahan yang memuncak Ed hanya termenung dengan perasaan bersalah yang luar biasa. Tetesan darah dari jemarinya semakin banyak di lantai. Tapi Ed seperti orang yang kehilangan semangat.
__ADS_1