
Pagi harinya Jane tak mendapati suaminya. Rupanya Ed telah pergi ke Bali dan bahkan dia tak membangunkannya untuk sekedar memberi tahu bahwa dia pergi. Jane benar-benar marah dengan tindakan Ed yang pergi tanpa pamit.
Saat sarapan, Jane bahkan tak berselera makan dia lebih banyak termenung dengan memikirkan apa yang akan Ed lakukan dengan wanita itu. Memang benar dia tak berniat ingin tahu tapi sekarang rasanya dia penasaran.
Bibi Yuni yang melihat Jane tampak resah, dia menghampirinya "ada apa gerangan nyonya tampak lesu?"
Jane kemudian menoleh "Bibi bagaimana menurut mu jika suami pergi ke kota lain hari ini tanpa membangunkan sang istri?!"
"Itu tindakan yang buruk. Tapi jika sebelumnya ada pembicaraan diantara pasangan maka itu bukan masalah" Jawab Bibi Yuni lembut, sedetik kemudian dia melanjutkan "Jika nyonya merasa tuan pergi tanpa pamit anda salah besar. Saat tuan ingin pergi beliau melihat anda yang tertidur lelap. Tuan bilang bahwa anda baru bisa tertidur dini hari. Maka dari itu tuan tak berniat membangunkan anda dan tetap membuat anda merasa nyaman dalam tidur, dan tuan juga tak meminta saya untuk membangunkan anda yang artinya anda sudah tau bahwa tuan akan pergi hari ini!" Bibi Yuni menjelaskan dengan detail bagai tau keresahan Jane dan berharap dengan mendengar pembelaan tentang tuan, nyonya akan jauh lebih tenang.
"Itu benar" jawab Jane murung.
Setelah nya, Jane melalui hari ini dengan kesepian tanpa ada Ed yang berisik, dia hanya di temani oleh Bibi Yuni. Baru lah Jane sadar rupanya Ed sudah menjadi bagian penting dalam kesehariannya, namun Jane mengelak keyakinannya itu.
Dengan kebosanan Jane mencoba mengisi harinya dengan jalan-jalan sore. Lalu dia baru tahu bahwa tetangganya, nyonya-nyonya di sebelah tidak ada di kediamannya termasuk putri-putri mereka. Bahwa mereka tengah berlibur, ya mungkin karena dirinya jarang menampakan diri dengan para tetangga dia bahkan tak tahu tetangganya liburan sudah sepekan. Pantas saja akhir-akhir ini hidup nya terasa damai tanpa mereka orang-orang yang berniat merecoki hidup nya.
Setelah jalan-jalan sore Jane cukup bosan, dia mengajak Bibi untuk kembali. Mungkin karena perasaan Jane yang tengah kacau dan memikirkan Ed dia tak bisa tenang di satu tempat. Ketika duduk, dia dengan cepat bangkit dan mondar-mandir dengan pikiran kacau.
__ADS_1
Lalu ketika malam tiba Jane terbaring telentang di tempat tidur, nyaris tercekik oleh kesepian dan pikirannya yang kalut akan Ed. Satu tangannya memegang ponselnya, dan bahkan di ponsel itu dia tak memiliki kontak suaminya sendiri. Dia ingin menertawakan dirinya sendiri, terlihat khawatir tapi terlihat acuh tak acuh.
Bibi Yuni ada di kamar bawah dan jika Jane merasa butuh bantuan apapun Bibi Yuni akan siap membantu dan kapan saja dia di panggil dia akan sigap. Ya, meski cukup berumur tapi dia terlihat sangat sehat dan bersemangat.
Setelah kepergian Ibu nya hanya keluarga Butler yang Jane punya. Dan yang terdekat adalah Ed, suaminya. Andai kata posisi nya tergeser dengan wanita itu apa yang akan Jane lakukan. Jelas dia pasti nya tidak akan diam, terlebih untuk hak anak nya kelak. Jane yang tengah bergelut dengan pikirannya di kejutkan dengan ponselnya yang berdering. Jane mengangkat lemas ponselnya, menatap layar namun tak terdapat nama di sana.
Jane mengangkat dengan malas dan saat terdengar suara Ed, entah mengapa Jane menjadi bersemangat.
Dari balik telephone Ed menanyakan kabar Jane dan pastinya buah hatinya. Lalu dia juga mengabarkan bahwa besok dia tak bisa langsung pulang, dia meminta izin waktu sehari lagi di sana dan berharap Jane memberi kannya izin.
Jane ingin mengatakan tidak, tapi rasanya dia akan egois jika memang benar-benar Ed tengah mengurusi pekerjaannya di sana dengan serius.
Sebelum memutuskan sambungan telepon Ed juga mengatakan orang tua nya menitipkan Salam untuk Jane menantu kesayangan mereka. Dan Jane cukup senang saat mendengar itu dan kembali menitipkan Salam bahwa dia merindukan mertuanya.
Suasana kembali sepi setelah sambungan dimatikan, rasanya hari dengan lambat bergerak. Jane menghela napas, dan pikiran buruk nya akan Ed sedikit berkurang karena di sana ada mertuanya.
.........
__ADS_1
Hari ini kembali dengan perasaan kosong, Jane benar-benar kesepian. Tapi kemudian ditengah perasaan gusarnya Leona datang berkunjung dengan membawa bingkisan hadiah dia yang baru saja datang dari berlibur.
Jane menyambut Leona dengan hangat mempersilahkannya masuk dan tentunya ber terimakasih karena telah mengingat dirinya. Lalu karena Leona berkunjung dia bisa menghempaskan rasa bosan nya. Jane dan Leona tampak akrab terlebih Leona yang terus mencari-cari topik pembicaraan terutama makanan dan travel yang disenanginya dan tak jarang menanyakan hal yang Jane sukai seperti makanan dan tempat-tempat yang ingin dia kunjungi.
Rupanya Leona baru saja pulang berlibur di kota Bali dan baru saja sampai siang ini dan dia langsung mengunjungi dirinya. Tentu saja Jane merasa tersentuh dengan Leona yang begitu menghargai dan mengingat dirinya. Sangat jarang menemukan orang seperti Leona.
Lalu Jane meminta Bibi Yuni untuk menyiapkan suguhan untuk Leona dan dengan cepat Bibi Yuni membawakannya, setelah nya Bibi Yuni kembali dan tak berniat menganggu perbincangan seru nyonya dan temannya.
Setelah selesai dengan pembicaraan itu. Leona tampak serius dengan menyentuh lembut tangan Jane "Sebenarnya ada hal yang cukup menganggu ku Jane" Leona memulai.
"Ya, katakan jika memang aku bisa membantu mu" jawab Jane dengan raut wajah kebingungan tapi tetap mencoba menjadi tempat jika diperlukan.
Leona menggeleng "ini bukan tentang aku tapi kau" ujarnya.
Hal itu semakin menimbulkan pertanyaan besar dalam benak Jane. Dia mengangguk dan mempersilahkan Leona untuk mengatakan hal yang menganggu itu.
"Ku harap kau tak akan marah mendengar nya dan aku tak mengada-gada dalam setiap kalimat yang ku ucapkan, demi Tuhan!-" Leona bersungguh dan dengan kalimat itu dia menegaskan betapa dia jujur dengan kalimat yang akan dia ucapkan. Lalu dia melanjutkan
__ADS_1
"Hari terakhir berlibur di Bali aku mengunjungi Living World Denpasar (Mall terbesar di Bali), aku cukup terkejut saat melihat suamimu di sana dengan seorang wanita. Awalnya ku pikir wanita itu adalah kau dan aku berniat menyapa kalian, aku bahkan sempat berlari hanya ingin menyapa. Tapi saat sadar bahwa wanita itu bukan kau, aku menghentikan langkahku seketika. Wanita itu berbeda lebih tinggi, berisi, dan rambutnya yang berwarna pirang. Yang aku tau rambut mu hitam pekat, tubuh yang cukup tinggi cenderung ramping, dengan rambut panjang sepunggung. Jadi aku bertanya-tanya kenapa suamimu bersama wanita lain dan bukan kau?! apa hubungan mu buruk dengan suamimu?!"
Jane terdiam tanpa kata, bagaimana dia memberikan jawaban. Sedangkan dia cukup terguncang saat mendengar itu, hal yang berusaha dia yakini bahwa Ed tak akan bertingkah seperti pria bajingan.