Oh, Love?

Oh, Love?
apa yang kau lakukan padaku?


__ADS_3

"Kau tahu" kata Andre.


Perhatian Ed kemudian tertuju kearahnya.


Andre berdiri, dia menyentuh pundak Ed "Kau jangan takut, karena Jane sama sekali tak memiliki perasaan apapun pada ku. Dan aku pula sudah berjanji tak akan menganggu hidupnya" jelas Andre.


"Dengan begitu aku menyimpulkan kau memperlakukan Jane dengan baik. Ku harap memang benar, jadi jagalah Jane. Jika tidak mungkin aku akan mengambil nya dari mu" Andre menyeringai.


"Jika kau berani maka jangan salahkan aku jika hanya tertinggal namamu untuk dikenang" tekan Ed.


Dari awal Ed kemari memang hanya untuk memperingatkan Andre agar tak seenaknya terus menganggu Jane. Tapi setelah mendengar pengakuan itu Ed lega.


.........


Jane membuka matanya pelan, cahaya mentari memenuhi ruangan. Kepalanya terasa cukup sakit, selain tubuhnya terasa hangat hidungnya juga meler. Saat Jane mengangkat selimutnya dia menyadari dia tak menggenakan pakaian nya. Jane tersentak dan langsung terbangun.


"Mm, nyonya"


Jane menoleh mendapati Bibi Yuni yang rupanya dari tadi sudah di kamarnya, wajah Bibi tampak menahan senyum. Buru-buru Jane menyelimuti tubuhnya dengan selimut, dia malu. Lagi pula kenapa tiba-tiba dia tak menggenakan pakaiannya. Jane hanya mengingat dia di kamar sendirian sepanjang malam karena cekcok. Ed yang marah semalam lalu tidak lagi masuk ke kamarnya. Dia hanya ingat Ed dalam mimpinya yang menggosok punggungnya dengan kain. Tiba-tiba wajah Jane merah padam "jangan katakan bahwa itu sungguhan, bukan mimpi. Ed sungguh menggosok tubuhnya?!" benak Jane rasanya dia ingin berteriak, dia tidak bisa membayangkannya.


"Ah, Bibi bukan seperti yang kau pikirkan" kata Jane berusaha mengelak bahwa tak terjadi apapun antara mereka berdua.


Bibi tersenyum "tidak perlu malu nyonya. Bagi pasangan yang sudah menikah itu wajar"


"Tidak. Bukan begitu" Jane frustasi, apapun penjelasannya kondisi yang tak menggunakan pakaian di pagi membuat orang yang melihatnya salah paham.


"Ed! apa yang kau lakukan pada ku semalam!" pekik Jane dalam benak dia malu sekaligus marah wajahnya terus merona.

__ADS_1


Kemudian Jane bergegas menggenakan pakaiannya. Lalu seorang dokter datang dan memeriksa Jane, dan setelah serangkai pemeriksaan dokter tersebut memberikan obat yang dibutuhkan.


"Dimana Ed?" tanya Jane.


"Dia sedang Ada kepentingan. Lalu dia juga yang meminta saya untuk memanggil dokter karena katanya anda sedang tidak enak badan" ucap Bibi Yuni sembari menatap Jane penuh arti.


Jane mengerti arti tatapan Bibi, Jane yang menanyakan keberadaan suaminya. Bibi pasti mengira bahwa dirinya tengah merindukan suaminya, "Sudah ku katakan tidak seperti yang kau pikirkan Bibi!"


Bibi hanya mengangguk, dia tahu tingkah nyonyanya yang malu-malu. Tapi dia senang jika hubungan tuan dan nyonyanya tampak membaik. Ya, meski persepsi Bibi Yuni sepenuhnya salah.


Bibi Yuni membawakan sarapan untuk Jane. Bubur di pagi hari, agar Jane cepat pulih.


Lalu terdengar suara langkah kaki. Jane berpikir itu pasti Ed yang baru saja pulang. Tapi tampaknya Ed melewati kamarnya dan masuk keruangan kerjanya.


"Apa kau tidak tau kemana Ed pergi tadi?!" tanya Jane.


"Saya tidak tahu nyonya. Tuan hanya berkata dia memiliki urusan dengan seseorang" Jawab Bibi.


Jane menjadi bertanya-tanya siapa yang Ed temui di pagi buta dan kenapa dia tak menggenakan pakaiannya di pagi hari. Lalu urusan semalam juga belum selesai antar mereka berdua. Banyak hal yang ingin Jane tanyakan. Tapi dia engan menemui Ed lebih dulu, terlebih semalam Ed yang tampak marah padanya.


Jane termenung. Dia merasa bahwa dirinya lebih aneh, menjadi lebih penasaran dan ingin tau apa yang di lakukan suaminya. Jane mengelus perutnya, dia hanya berpikir itu karena dia mengandung. Baginya mungkin itu keinginan anaknya.


Jane berusaha mengabaikan pikiran dan keinginan nya untuk menemui Ed. Karena meminum obat sakit kepalanya membaik.


Jane merasa resah, kemudian dia bangun dari kasurnya dia juga merasa bosan. Dia melangkah keluar kamar, langkah demi langkah tanpa sadar dia berjalan sampai didepan ruang kerja Ed.


"Baiklah kenapa aku berhenti disini?!" Jane terkekeh, dia memukul pelan dahinya yang plin-plan. Hati dan pikirannya tak sinkron.

__ADS_1


Bibi Yuni cukup terkejut melihat nyonyanya didepan ruang kerja tuannya. Bibi Yuni tersenyum jail "ah, nyonya bisakah anda memberikan teh ini pada tuan. Saya harus bergegas mematikan kompor" kata Bibi sembari memberikan napan berisi teh dan makanan ringan.


Bahkan Jane belum menjawab, Bibi sudah bergegas menuruni anak tangga.


 Jane menatap pintu ruangan kerja Ed. Dia menarik napas pelan, lalu dengan hati-hati mengetuk pintu. Tapi tak ada respon.


Cukup lama menunggu dan tak ada respon, Jane memberanikan diri masuk. Saat pintu terbuka tampak Ed sibuk dengan tumpukan dokumen di mejanya, jemari dengan pena bertinta hitam sibuk di torehkan pada kertas-kertas yang terus berganti. Jane bisa melihat keseriusan Ed saat bekerja, dia begitu tenang.


"Aku tak meminta kau kemari Bibi. Kalau begitu tolong ambilkan kotak obat Ku saja di laci" suruh Ed tanpa mengalihkan pandangannya.


Jane lalu melangkah mendekat, dia meletakan nampan itu dimeja. Dia juga mengambil kotak obat di laci seperti yang Ed suruh. Sejauh ini Ed tak menyadari bahwa dia bukan Bibi. Tampaknya pikiran Ed yang ruwet mempengaruhi kepekaan nya terhadap sekitar. Lalu Jane menatap wajah serius Ed yang tengah sibuk dengan dokumennya.


Jane sadar wajah Ed luka, lebam, dan bahkan terdapat darah segar di bibirnya. Jane menuangkan alkohol pada kapas berniat membersihkan luka itu.


"aku bisa membersihkan sendiri, Kau keluar saja Bibi" suruh Ed dan masih sibuk dengan dokumennya.


"ah, lalu bagaimana keadaan istriku?" tanya Ed dan lagi-lagi bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari tumpukan dokumennya.


Jane menyentuh wajah Ed, memaksanya mendongak "lain kali lihat wajah orang yang kau ajak berbicara" Jane lalu membersihkan luka bibir dan pipi Ed tanpa menatap mata Ed.


Ed terkejut bahwa itu Jane. Dia pikir itu Bibi Yuni. Ed menatap wajah Jane lekat-lekat lalu teringat bahwa Jane tengah sakit.


"Apa kau sudah membaik?" tanyanya.


"Ya, ini berkat perhatian mu" jawab Jane.


Lalu Jane menatap mata suaminya "Jadi beritahu aku kenapa kau bisa terluka seperti ini?!" tanyanya.

__ADS_1


"Pertengkaran kecil. Lalu jangan pedulikan aku kau sungguh sudah sehat?" Ed menggenggam kedua tangan Jane meminta penjelasan, Ed bahkan menyentuh dahi Jane memeriksa apa suhu panasnya benar-benar sudah normal.


Jane mengernyit, dia kemudian mendekatkan wajah nya dia sedikit berbisik "Baiklah jika kau tak berniat memberi tahuku. Tapi beritahu aku mengenai kenapa saat bangun aku tak mengenakan piyama ku, tak mengenakan sehelai pakaian atau kain. Apa kau melakukan sesuatu saat aku tertidur?!"


__ADS_2