
"Kau tampak murung" ucap Ed sembari mengacak kasar rambut Jane. Dia baru saja pulang dari urusannya, dan mendapati Jane yang tampak murung duduk di kasurnya.
Jane menoleh, menatap Ed dalam. Kemudian dia menghempaskan segala keraguan tentang hidupnya ke depan.
"Hari ini sepertinya pekerjaan mu lebih menumpuk. Kau sering pulang larut!" kata Jane mengalihkan kegelisahan pikirannya, selagi Ed memperlakukan nya cukup baik, dia pun akan begitu.
Ed heran sekaligus senang, senyum tersimpul tipis di bibirnya. Kapan Jane menanyakan tentang dirinya? hal-hal kecil seperti ini sudah cukup membuatnya puas.
"Ya, akhir-akhir ini memang sedikit padat. Terlebih penginapan nya baru saja beroperasi" Jelas Ed, dia duduk disebelah Jane dengan jemarinya yang melonggarkan kancing kerah bajunya.
"Jadi apa itu berhasil? beroperasi dengan baik?"
Ed mengangguk "Jika kau ingin, aku bisa membawamu kesana untuk melihat penginapan itu"
"mungkin nanti" kata Jane ragu, dia tidak ingin lebih terlibat lebih dalam dengan urusan Ed sekarang ini.
"Ya, kapan pun kau mau karena apapun milikku itu milikmu juga" ucap Ed.
Lagi-lagi Ed berbicara seperti itu, membuat Jane berprasangka mungkin Ed memiliki perasaan padanya. Huh! Jane menggeleng dia tak menyangka memiliki pemikiran semacam itu terlebih dengan Ed. Siapa yang menyangka orang yang dulunya amat dia benci sekarang duduk di dekat nya dengan status suami, meski pernikahan semacam ini tak direncanakan. Tapi, ini cukup disebut dengan ketenangan.
Jane kesal melihat Ed yang tak selesai-selesai melepaskan kancing bajunya. Jane tanpa diminta membantu Ed melepaskan kancing bajunya.
Ed membiarkan Jane melakukanya. Dia agak mendongak dengan tetap menatap Jane yang tengah fokus melepas kancing bajunya.
"Jangan menatapku seperti itu!" kata Jane tanpa mengalihkan perhatiannya dan tetap fokus melepaskan kancing baju Ed.
Ed tak bergeming dia hanya membuang muka. Setelahnya, Jane mendongak menatap lekat suaminya. Ed pun menatap Jane, dalam benaknya penuh pertanyaan kenapa Jane menatapnya begitu dalam dan lama.
Tapi Ed tak berniat menanyakan apapun, dia mendekatkan wajahnya pada Jane "apa kau baru menyadari bahwa suamimu ini begitu tampan nan rupawan!!" dia malah menyentuh dagu Jane mendekatkan bibir mereka, dia sungguh tengah menggoda istrinya.
"Ya, kau memang tampan" jawab Jane tanpa berniat berbelit, dia jujur akan apa yang dia lihat sekarang. Sekalipun dia berbohong itu akan terlihat jelas. Pasalnya wajah di depannya ini jelas-jelas tampan.
__ADS_1
Mata Ed membulat, siapa sangka Jane dengan luwes menjawab jujur. Lalu tanpa aba-aba Ed mengecup bibir Jane.
Setelahnya situasi menjadi hening dengan jantung mereka yang berdegup kencang. Saling membuang muka. Meski hal ini sempat terjadi hari lalu tetap saja mereka belum terbiasa, terlebih Jane.
"Tidak sopan" kata Jane.
Ed langsung menoleh, dia merasa mungkin Jane sebenarnya tak menyukai ciumannya "katakan jika kau ingin menolak, maka aku tak akan melakukannya" Ed mengepal kuat jemarinya, merasa dia terlalu terburu-buru dengan wanita yang pernah merasakan trauma yang dia buat sendiri.
"Setidaknya beritahu aku dulu" Jane tampak merajuk.
Ed bingung, baginya itu akan freak. Lalu dia menjawab tegas "Itu akan membuat suasana canggung"
"Tidak, kau harus izin lebih dulu" Jane tetap pada pendirian nya.
"Ed bolehkah kucium pipimu? " ucap Jane berniat mencontohkan, namun dia tak kuasa menahan tawanya, dia tertawa setelah mendengar kan kalimatnya sendiri.
Ed ikut geli mendengar Jane mengatakan itu. Tapi ini kesempatan yang bagus "Baiklah" Ed berniat mengikuti arus yang Jane buat, dia menyentuh pipi Jane lembut "Istriku maukah kau, ku cium di bagian bibir atau pipi juga boleh"
"Atau istriku dimana aku boleh menciummu?" lanjut Ed.
"Oh, istriku tolong jawab. Jangan biarkan aku menunggu lebih lama" Ed kemudian mencium punggung tangan Jane.
Jane menatap lekat mata suaminya yang terlihat tak bisa menahan tawa sama seperti dirinya. Sedetik kemudian mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal, mendengarkan kalimat yang sungguh aneh di telinga.
"ku pikir Ed kedepannya untuk tidak meminta izin lebih dulu. Itu sungguh menggelikan" Jane tidak bisa menahan tawanya dia memukul paha Ed dengan tangannya, seperti halnya wanita tidak pernah diam ketika tertawa.
"Hey, kau sendiri yang meminta. Jadi istriku jawablah dulu, apakah kau mengizinkan ku menciummu"
"Tidak suamiku, akun tidak memberi izin" jawab Jane dengan tawa yang kian pecah.
Ed kemudian tampak murung, lalu Jane kemudian menyentuh wajah Ed dengan kedua tangannya "Izinkan aku memberi jawab. Tidak boleh, kau sudah menciumiku tadi, itu lebih dari cukup" Jane kembali tertawa.
__ADS_1
Setelah sadar, dirinya kelewatan dengan tawa yang membuncah Jane terdiam, merenungkan tindakan apa yang baru saja dia lakukan terhadap Ed.
"Jadi istriku, kenapa kau diam? Apa kau merasa dirimu aneh? izinkan aku untuk mengetahuinya" ledek Ed.
"ih!" Jane kesal dia duduk membelakangi Ed, sekarang Ed akan terus menganggu nya dengan kalimat izin itu.
"Izinkan aku tahu istriku" ledek nya lagi.
"Tidak!! tidak lagi ada kata izin!!" Jane sedikit berteriak, dia yang memulai agar Ed izin lebih dulu tapi dia juga yang muak mendengarnya.
Ed mendekat dia memeluk Jane "Jadi seperti ini tanpa izin? "
"Ya, ku pikir seperti ini saja" jawab Jane malu.
"Baiklah" Ed memeluk lembut Jane menyender pada pundaknya, lalu tangannya mengelus lembut perut Jane.
Hal itu membuat Jane tak bisa menolak Ed yang menyender dan mengelus perutnya. Jane mengingat bahwa akan sangat baik hubungan suami istri yang harmonis dan janinnya juga bisa berkembang dengan lebih baik karena Ibunya tak bersedih lagi seperti saat itu. Juga hubungan selayaknya suami istri yang penuh cinta.
"Lalu beberapa hari ini Bibi Yuni bekerja, apa kau merasa cocok dengan nya Jane?" tanya Ed dengan posisinya yang masih menyender.
Jane mengangguk "Aku cukup menyukainya, meski Bibi lebih banyak melarang ku membantunya"
"Ya aku mendukung Bibi. Aku membayarnya agar pekerjaan rumah dikerjakannya, jadi kau tidak perlu tak enak hati. Mengerti!!" tegas Ed.
"Kau tau Ed. Ini sudah larut dan kau belum mandi. Bangunlah dan cepatlah mandi" suruh Jane dia sedikit mengangkat bahunya, meminta agar Ed segera bangun.
"Apa aku bauk?!" tanyanya sembari mengendus-endus disekitarnya.
"Ya, sangat"
Ed menggeleng "Sebentar saja, biarkan aku memelukmu seperti ini. Ku pikir anak kita yang memintanya. Ya, suami juga bisa mengidam seperti ini misalnya"
__ADS_1
Jane heran, sejak kapan suami ikut mengidam terlebih mengidam hal aneh seperti pelukan? Lalu dengan tidak percaya Jane berkata "sungguh, aku baru mendengar ini. Suami mengidam pelukan ketika istri hamil? aku tidak percaya!"
"Mm, benar aku tidak berbohong" elak Ed.