Oh, Love?

Oh, Love?
Kencan


__ADS_3

Lagi dan lagi Ed memilih mengalah dalam masalah ego. Mood Jane benar-benar buruk hari ini. Ed berusaha membuatnya lebih baik dia menemani Jane sepanjang waktu dan memintanya makan buah lebih banyak. Jane menurut kemudian persoalan kemarin terlupakan dengan mudah. Sebenarnya Jane juga tak paham mengenai suasana hatinya yang akhir-akhir ini mudah berubah.


Kemudian sore harinya, Ed mengajak Jane untuk pergi ikut bersamanya. Ed tak mengatakan apapun tentang akan kemana mereka, Jane mengikutinya dengan tenang di dalam mobil.


Ed mencengkeram setir, melaju kanya dengan pelan. Lalu Ed merogoh ponsel nya di dalam saku celananya, dia menekan sebuah kontak nomor.


"Halo tuan Ed, apa yang bisa saya bantu?" jawab seorang pria dari balik telepon, rasanya mereka sudah kenal cukup dekat.


"Aku ingin kau siapkan meja VIP untuk pasangan dan tolong siapkan menunya. Makanannya harus sesuai dengan Ibu hamil tak terlalu pedas, juga tak terlalu manis. Aku tahu kau mengerti akan ucapan ku. Saat aku sampai semua nya telah siap" tegas Ed.


"Saya mengerti" terdengar bising dari balik telepon, sepertinya mereka sangat sibuk melayani pembeli lainnya.


Ed menekan tombol merah, sambungan telpon terputus.


Ed kembali fokus menyetir, dia melirik Jane yang menatap kearahnya dengan bingung. Tapi Jane bahkan tak berniat untuk menanyakan nya.


Tak lama Ed menyetir, dia menghentikan mobilnya di parkiran mobil Pedestrian Hose.


Ed dan Jane saling menatap, lalu Ed turun dari mobil setelahnya bergegas membuka kan pintu mobil untuk Jane. Dia lebih perhatian dan peka, semuanya untuk kebaikan istrinya karena dia mengerti Jane yang tengah merasakan hal-hal yang tak mengenakan selama hamil. Seperti yang dokter anjurkan agar suami membantu istri agar tidak stres berlebihan karena istri yang tenang menunjukan suami yang tak mengekangnya dan itu akan membuat buah hatinya tumbuh dengan baik.


Jane turun dengan hati-hati "aku bisa sendiri" ucapnya.

__ADS_1


"Tapi aku tak masalah melakukan ini!!" tegas Ed.


Mereka masuk kedalam. Nuansa minimalis nan modern melekat pada bangunan tiga lantai. Ruko satu pintu tersebut hadir bak pilihan baru, bersantai menikmati senja di kota ini. Meski Jane lama di kota ini dia sama sekali belum pernah kesini.


Tampak kursi-kursi yang di penuhi oleh orang-orang. Baik bersama dengan keluarga, kekasih, teman, dan bahkan orang-orang yang baru berkenalan saling bercengkerama.


Sebentar lagi langit akan memerah indah. Menikmati senja menjadi salah satu momen yang sering ditunggu oleh para pengagumnya. Menantikan langit menjadi jingga kemerahan dengan pemandangan matahari perlahan tenggelam di ufuk timur. Ini salah satu tempat makan yang menjadi spot terbaik sembari menikmati matahari meninggalkan peraduannya.


Ed menggenggam tangan Jane tak melepas nya sepanjang turun dari mobil, dia membiarkan Jane berjalan di depannya lebih dulu sembari Ed menjaganya dari belakang. Ramai orang-orang lalu lalang bisa saja tak sengaja menyenggol Jane dan membuatnya terjatuh, itu akan sangat fatal.


Seseorang menyapa Ed lembut dengan seragam kerja yang melekat "Selamat datang tuan Ed dan nyonya, meja anda di sebelah sana ikuti Saya" ucapnya sopan sembari menuntun mereka berdua menuju mejanya, tak hentinya memberikan senyuman terbaik nya.


Meja nomor 3 yang letaknya sedikit jauh dari orang-orang kebanyakan. Di meja di penuhi dengan berbagai santapan tentunya itu akan aman untuk Jane.


"Aku tak mengerti dalam rangka apa kau melakukan ini?!" tanya Jane yang sedari tadi sibuk berargumen dengan pikirannya mencari tahu gelagat Ed yang tiba-tiba saja mengajaknya keluar rumah apalagi bersantai menikmati senja seperti ini. Kesannya seperti kencan romantis.


"Makanlah, kau pasti lapar" Ed menggeser piring yang berisi makanan tepat di hadapan Jane. Dia tak menggubris pertanyaan yang di lontarkan barusan oleh Jane.


Kruk!!


Perut Jane terdengar bergaduh, sibuk minta tuk di isi. Jane tertunduk malu sembari mengelus perutnya lembut, di saat kondisi seperti ini dia berbunyi sungguh tak tepat.

__ADS_1


Jane melirik Ed yang sibuk melahap makanannya bagai pura-pura tak mendengar suara berisik perut Jane yang lapar. Jane tersenyum malu, terkadang sikap Ed yang seperti ini membuatnya salah tingkah sendiri. Jane menggeleng cepat menepis pikirannya, dia tak ingin memikirkan sesuatu yang mengusik. Kemudian Jane dengan pelan menyantap makanannya.


"Wah-" Jane terkesima memandangi fana merah jambu di langit, sangat menakjubkan rasanya tengah berada di dunia fantasi saking indahnya.


Jane yang menikmati santapan nya sembari menikmati tenggelamnya matahari tak sadar Ed tengah sibuk mengambil fotonya yang tersenyum dengan indahnya.


"Saat kau berkata langit lebih indah kau tak menyadari kau lebih menarik, sampai mataku tak mampu ku alihkan. Aku terkesima dikala kau tersenyum dengan manis. Tanpa ku sadari hatiku kembali jatuh pada pesona indah mu!" gumam Ed sibuk menikmati keindahan sang istri yang jarang tersenyum menampakan wajah gembiranya seperti itu dan ya mood nya jauh terlihat lebih baik dan itu membuat nya puas. Sedetik kemudian Ed menyadari kalimat puitis nya yang spontan dia ucapkan, itu membuat nya malu sendiri.


"Hey, Ed bisakah ambil fotoku. Langit sedang indahnya" pinta Jane dia benar-benar tak sabaran, dia juga mulai berpose. Wanita pada dasarnya tidak bisa jika melihat sesuatu yang menakjubkan, mereka akan dengan cepat ingin mengabadikan nya


Tentu saja Ed dengan senang hati memotretnya, bahkan sebelum dia minta Ed sudah mengambil gambarnya beberapa kali.


"apakah hasilnya bagus?!" tanya Jane beranjak dari duduknya mendekati Ed hanya untuk melihat hasil gambarnya.


Ed memberikan ponsel nya pada Jane, mempersilahkannya untuk melihat-lihat. Jane sibuk menatap fotonya mengamatinya beberapa kali. Sampai dia tak sadar tengah diperhatikan oleh Ed lekat-lekat.


Ede menyentuh dagu lancip Jane, menariknya kearahnya mereka saling menatap dan Jane hanya berkedip bingung. Sedetik kemudian Ed menarik wajah Jane semakin dekat dengannya, Ed kemudian mencumbu bibir Jane dengan lembut.


Jane membelalak, mematung terkejut bukan main. Setelahnya wajahnya berubah merah padam dan Ed melepaskan Jane karena beberapa pandangan tertuju kearah mereka yang menurut Ed bisa saja membuat Jane merasa tidak nyaman.


Keheningan terjadi diantara mereka. Jane bergegas kembali duduk di kursi nya, jemarinya menyentuh bibirnya. Dia benar-benar tak percaya Ed melakukan itu ditempat umum. Dan mengabaikan segala pandangan orang-orang.

__ADS_1


Bukan hanya Jane yang malu, Ed juga. Setelah sadar main nyosor bibir Jane wajahnya begitu merah. Oh, dia benar-benar tidak tahan melihat Jane yang begitu menarik hati. Dan Ed puas Jane tak menolaknya.


__ADS_2