Oh, Love?

Oh, Love?
Menyender sebentar saja


__ADS_3

Dan ditengah perbincangan Seru, seseorang masuk kedalam. Seluruh pandangan tertuju pada orang yang baru saja masuk. Bagi teman-teman Jane yang baru melihat Ed mereka cukup terkejut.


"Suamimu?" bisik Abel.


Jane yang masih menatap dalam suaminya, kemudian menoleh kearah Abel sembari memberi anggukan.


Jane sempat melupakan kesakitannya sekejap, tertawa bersama teman-teman. Tapi ketika kembali melihat Ed, Jane seketika kembali ke kenyataan yang memilukan. Terutama saat mengingat anaknya yang telah tiada. Air mata Jane tak terasa memenuhi pelupuk matanya, dia sampai mengeratkan gigi kuat agar air matanya tak menetes. Dia tak menyalahkan Ed sama sekali. Dia menyalahkan dirinya yang saat itu tak kembali ke kamarnya. Dan malah sibuk keluyuran karena sedikit kecemburuan yang pada akhirnya berakibat fatal. Dia orang yang pantas disalahkan atas kepergian anaknya yang berharga.


Teman-teman Jane sibuk terkesima, dan terkejut dengan ketampanan suami Jane yang melebihi ekspetasi mereka terlihat saat ini wajah Ed terlihat dingin. Itu semakin membuat teman-teman Jane kegirangan, merasa ini seperti pria dalam dunia novel. Bahkan mereka tak sadar bahwa Jane hendak menangis.


Jane menghela napas, mengatur suaranya agar tak terdengar bergetar akibat menahan tangis "teman-teman bisakah kalian keluar dulu, aku perlu berbincang dengan suamiku sebentar" pinta Jane.


Viola menatap Jane, dia cemas tapi anggukan dari Jane membuat Viola bergegas membawa teman-temannya segera keluar. Terlebih ekspetasi dan ekspresi mereka yang berlebih. Maklum saja mereka para wanita pencinta pria fantasi dalam novel, jika melihat pria real yang mirip dengan gambar fantasi, mereka tak mampu memalingkan wajah.


Bahkan Ed tak tertarik menatap teman-teman Jane yang baru saja keluar. Pandangannya hanya tertuju pada Jane dengan pikiran kalut.


Ed menarik kursi dan duduk disebelah Jane, dia menatap Jane dalam. Suasana menjadi hening tanpa ada sepatah kata yang terucap.


Ed menarik selembar tisu, lalu mengusap lembut air mata Jane yang memenuhi pelupuk matanya. Dan karena ulah Ed ini air mata Jane luruh dengan deras. Jane membuang muka dengan menarik tisu kasar, dia mengusap nya sendiri.


Setelah mulai tenang Jane mengulurkan tangannya. Disini mereka saling menatap dengan Ed yang bingung.


Jane mengayunkan tangannya meminta sesuatu. Ed memberikan tangannya pada Jane ini membuat Jane kesal. Setelah lama menghilang dia muncul dengan kepribadian yang jauh tak peka dan jauh lebih mengesalkan.


"Kau perlu apa?" tanya lembut Ed berniat mengambilkannya buah.

__ADS_1


Jane menggeleng, lantas menepis tangan Ed "surat cerai" jawabnya.


Dahi Ed mengernyit, namun dia tak marah atau mengamuk tak jelas, dia hanya menatap istrinya lekat "tidak ada hal semacam itu"


Ed meraih buah jeruk diatas meja, dia mengupasnya dan memberikannya pada Jane. Tapi Jane menolak. Ed memilih memakan jeruk itu. Akhir-akhir ini dia cukup sibuk mengurusi para tikus pengganggu, tapi ketika mendengar istrinya meminta surat cerai dia terkejut awalnya. Tapi dia berusaha keras tak menunjukan sikap yang akan membuat Jane kian takut.


"Bukankah kau pergi lama untuk mengurusi surat cerai?"


"Tidak" Ed masih sibuk menikmati jeruk nya "kau sungguh tak mau?" Ed lagi-lagi menawarkan jeruk pada Jane.


"Serius sedikit Ed" suara Jane meninggi "di hari kemarin kau kemana? tak mengabari ku dan menghilang. Tiba-tiba bertingkah lembut seakan tak pernah terjadi apapun. Sekarang aku tak lagi mengandung anakmu, jadi terimakasih kebaikan yang telah kau tunjukan selama ini. Sekarang aku tak lagi mengandung dan kau mulai menunjukan sikap acuh mu. Aku tau dari awal bahwa kau bersikap lembut hanya karena aku mengandung anakmu!! Aku juga sedih anak kita pergi, aku tau kau marah dan kecewa!!" air mata Jane mulai menetes, dia telah mengeluarkan hal-hal yang mengganjal dalam benaknya, dia sempat sedikit berharap. Tapi, sikap Ed setelah mereka kehilangan anak, membuat Jane yakin bahwa perlakuan hangat Ed selama ini karena dia mengandung. Harusnya dari awal dia tak pernah berharap, tak pernah merasa lebih, dan dia membenci dirinya yang perlahan mengakui jika hatinya perlahan terpaut pada Ed. Dia sangat membenci mengakui perasaan semacam ini.


"Aku juga tak ingin kehilangan anak ku" gumam Jane tampak frustasi. Meski Ed memperlakukannya baik atau buruk sekarang atau dulu dia tak akan peduli, tapi bisakah anaknya kembali? bisakah dia bertahan tanpa anaknya sekarang? terlebih hidup bersama Ed tanpa rencana dan tujuan. Tujuan awalnya hanya demi anaknya, dan sekarang dia tak ada lagi. Tak ada alasan bagi mereka untuk melanjutkan hubungan ini lagi, terlebih dengan hangat dan penuh cinta.


Jane terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ed. Jane mengepal kuat jemarinya dan sekarang dia benar-benar siap untuk kembali ke kehidupan nya yang dulu. Sendiri, ah! dia masih memiliki teman-temannya. Tidak, nyatanya dia masih tak terima dengan kenyataan kehilangan anaknya. Jane kembali terisak perih. Semuanya terjadi bersamaan dan dia perlahan kehilangan segala yang dia sayangi.


"Itu mengerikan untuk didengar Jane. Pikiran mu sangat menakutkan dan amat berbahaya" Ed menyender di paha Jane dengan tangannya yang melingkar di tubuh Jane.


Ed lantas mendongak, tanpa sepatah kata. Entah mengapa Jane tak bisa mengusir atau mendorong Ed. Terlebih ketika Ed perlahan terlelap. Sikap ini semakin membuat Jane kebingungan. Meski ragu Jane mengelus pelan rambut suaminya dengan perasaan yang dia sendiri tak mengerti. Lalu Jane tertunduk dan kembali air matanya tak terbendung dia menetes lebih deras. Jane tau bukan dia saja yang terpukul tapi Ed juga.


"itu romantis" bisik Nira.


Lalu diberikan anggukan oleh Noe.


"Oh, ini sangat indah" timpal Abel dan lagi-lagi Noe memberi anggukan.

__ADS_1


Mereka bertiga sibuk mengintip dari balik pintu kaca, mereka penasaran dengan suami Jane. Dan saat melihat scene romantis mereka menjadi gembira. Benar, mereka yang sebenarnya tak tau apa-apa mengenai cerita Jane. Dan datang kemari hanya tau bahwa Jane yang terjatuh. Sebagai sahabat, Viola cukup untuk memegang rahasia Jane yang menikah karena hamil. Meski sempat dibocorkan pada Andre dan Yoga.


"Buu!!"


Sontak mereka terkejut, rupanya itu Yoga yang dengan sengaja mengejutkan mereka.


Yoga baru saja datang dia membawa bingkisan untuk Jane.


"Aish, hampir jantung copot" ucap Abel marah.


Yoga hanya tertawa puas dengan gigi yang tampak jelas.


"Minggir aku mau menemui Jane" ucap Yoga.


Ya, Karena Yoga juga teman sekelas Jane dan hubungannya cukup baik, maka Viola juga memberi tahu nya.


"Sst" Viola meminta agar mereka mengecilkan volumenya.


Lantas mereka menunjukan dari kaca pintu bahwa di sana Jane dan suaminya sedang bercengkerama dan melarang siapapun masuk. Dan saat melihat ada suami Jane di sana Yoga terlihat takut. Bagaimana tidak terakhir kali bertemu dengannya dia melihat dengan jelas bagaimana dia yang tegas dan emosional. Terlebih jika suami Jane tau bahwa disini dia lah yang mengirimkan surat pada Jane untuk menemui Andre, bisa saja dia terkena masalah serius.


Yoga terlihat pucat pasi.


"Seperti nya kau butuh diperiksa" kata Noe.


Dengan cepat Yoga menggeleng dia duduk disebelah bibi Yuni, meski dia takut tapi dia ingin menemui Jane dan meminta maaf atas kejadian sebelumnya dan ada hal yang harus dia sampaikan tentang Andre untuk yang terakhir.

__ADS_1


__ADS_2