Oh, Love?

Oh, Love?
Harapan


__ADS_3

Hal itu membuat derai air mata Jane kian menetes. Sikap Ed yang tak disangka-sangka dan kehangatan menenangkan ini. Sungguh dia tersentuh.


Ed menyeka air mata Jane "Sudah kukatakan jangan menangis" Ed menatap Jane sendu. Dia terus berharap air mata itu bukan karena dia membenci dirinya.


Jane mengangguk, tapi tak membuat air matanya berhenti menetes dia malah semakin deras.


"dan-, lagi kau yang membuatku menangis" tukas Jane dengan suara seraknya, dia lalu melanjutkan "Tapi kali ini berbeda. Kau tau perasaan butterfly" lirihnya.


Perasaan Jane menunjukan kecemasan dan rasa gugup. Perasaan yang gugup di hadapan Ed membuatnya seakan-akan merasa ada kupu-kupu terbang di perutnya.


Ed menatap dalam istrinya. Lalu terus menenangkan istrinya dan menyakinkan nya kedepannya dia akan kian membuat Jane tersenyum seperti ini. Melupakan bersama segala kesedihannya. Ini benar-benar membuat Ed berterimakasih karena Jane tak bersikap menolaknya atau membencinya dengan kasar.


Malam yang kian larut membuat angin dingin mulai menusuk. Ed meminta tolong pada seorang pelayan untuk mengambil jaket didalam mobilnya. Dan pelayanan itu bergegas melaksanakannya. Jelas sekali Ed benar-benar percaya dengan pelayan disini. Kemudian setelahnya pelayan itu kembali dengan membawa jaket milik Ed, dan meninggalkan pasangan yang tengah menikmati malam romantis dengan disaksikan langit bertabur bintang.


Ed memasangkan jaket itu pada Jane, lalu dia mendekap nya semakin erat. Jane tak mengelak dia dengan nyaman menyender di dada Ed. Mereka tengah menikmati langit sembari berdiri. Orang-orang mulai pergi dan hanya menyisakan mereka.


"Kau tampak begitu menikmati langit, bulan, juga bintangnya" Ed memecah keheningan.

__ADS_1


Jane tersenyum, sembari menjawab "Siapa yang mampu menolak indahnya langit!"


"Mungkin jika aku diberi pilihan kau atau langit. Aku memilih menolak langit!!"


Jane tersenyum geli dengan ungkapan Ed yang berlebihan "Kenapa tiba-tiba aku berada di pilihan itu, langit dan aku tidak bisa disamakan. Langit begitu luas, dan mampu membuat seluruh dunia terpana dengannya. Aku tidak begitu, aku kecil dan tak seindah itu. Aku tidak membantu orang-orang tersenyum hanya karena menatapku"


"Kau sungguh berpikir begitu?! Tapi aku terpana dengan mu, lalu simpulan senyum yang terukir di bibirku tanpa sadar saat melihatmu." Jawab Ed dengan tersenyum manis.


Jane tersenyum samar, sungguh malu mendengar Ed mengungkapkan dirinya sama dengan langit. Mungkin saja setiap orang memiliki artian berbeda dengan apa yang dia lihat. Jane hanya memukul pelan dada Ed dengan wajah bersemu merah, dia menyeka wajahnya semakin malu. Dan Jane menolak keras bawa dia mulai tertarik dengan suaminya.


"Hey, bintang jatuh!" Jane menunjuk kearah langit dimana bintang tengah bergerak, ya seperti akan terjatuh. Dia antusias dan kembali memukul dada Ed meminta agar Ed melihat kearah yang Jane tunjuk.


"Minta lah sesuatu. Permohonan! katanya akan terkabul!!" Ucap Jane kian antusias, dia terlihat menggebu-gebu senang, benar-benar terlihat kekanakan.


Jane berdiri tegap kedua tangannya disatukan, matanya tertutup dia dengan tulus mengungkapkan harapannya dalam benak. Ed tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah istrinya itu. Meski Ed tidak percaya dengan hal-hal semacam ini. Tapi untuk menyenangkan hati istrinya dia memilih mempercayai nya. Lalu, dia berdiri dibelakang Jane ikut menyatukan tangannya di tangan Jane yang tengah tergenggam. Jane menoleh saat merasakan ada sentuhan tangan dari Ed. Suaminya mengangguk, dan Jane kembali menatap lurus dan menutup matanya. Ed pun sama menutup matanya sembari menggenggam erat tangan Jane. Dia mengutarakan harapannya meski tak tau akan benar-benar tersampaikan pada Tuhan yang kemudian akan mengabulkan harapan mereka.


Mereka berdua selesai dengan harapan masing-masing, Ed kemudian menyender pada bahu Jane "jadi apa yang kau minta?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


Jane mengernyit, dia menjawab "Mana boleh memberi tahu. Itu hanya akan membuat harapan kita tidak terkabul"


"Oh, begitu" kata Ed mengerti, dia kemudian memeluk Jane dari depan nya dan tangannya mengelus lembut perut istrinya dengan penuh kehangatan.


Cukup lama mereka berdua menyaksikan langit dan mereka memutuskan untuk kembali pulang. Terlebih dingin malam yang terasa menusuk rasanya tak sehat untuk Jane. Istrinya pun terlihat mulai kelelahan.


Sebelum itu, Ed memberikan tip yang besar pada pelayan-pelayan di sana yang benar-benar melakukan tugasnya dengan baik. Ed merasa puas dan senang dengan kinerja mereka. Tentu saja pelayan-pelayan di sana bergembira dan berharap Ed dan istrinya berkenan akan kembali lagi kesana tentunya. Tak lupa mereka semua mendoakan agar rumah tangga mereka langgeng dan selalu indah hari-harinya.


Karena cukup lelah Jane tertidur di dalam mobil. Ed menyetir mobilnya dengan hati-hati. Kemudian tak perlu waktu lama mereka sampai di kediamannya. Ed dengan hangat mengendong Jane menuju rumah. Selama berjalan dia terus menerus menatap wajah cantik istrinya. Dalam benaknya dia berjanji akan selalu menjaga istrinya, sebisa mungkin untuk terus memperhatikan kenyamanannya.


Ed dengan pelan meletakan Jane ke kasur, dia tak beranjak atau meninggalkannya. Dia duduk sejenak disebelah Jane dengan mencium punggung tangan istrinya. Keputusannya untuk mengajak Jane memperbaiki moodnya berhasil malah hubungan mereka tampak mulai membaik dan ini sungguh menggembirakan. Ed lalu menarik selimut menutupi tubuh Jane agar tak kedinginan. Setelahnya Ed masuk ke kamar mandi, dia butuh waktu untuk membersihkan diri.


Suasana menjadi hening Jane yang terlelap dan Ed yang berusaha tak menimbulkan suara agar tak membangunkan Jane. Lalu sesekali terdengar keran dengan air terjatuh, suara bising yang menggosok tubuhnya dengan sabun terdengar begitu hati-hati. Jelas Ed sungguh-sungguh tak ingin menganggu tidur Jane.


Kemudian setelah selesai dia mandi. Ed membawa baskom berisi air, dia kemudian membasahi tisu dan mengelap wajah Jane. Hal ini biasa Ed lihat saat Jane berpergian dan akan tidur Jane biasanya akan membersihkan wajahnya. Ed berpikir, itu seperti perawatan. Dan Ed dengan senang hati membantu Jane.


Setelah selesai dia membereskan alat-alat yang dia gunakan. Kemudian bergabung dalam selimut Jane, memberikan pelukan hangat pada istrinya dan ikut terlelap disamping nya.

__ADS_1


__ADS_2