Oh, Love?

Oh, Love?
Macaron?


__ADS_3

Jane terbangun dari tidurnya, matanya menger-nyap mengamati sekitar, tampak hari mulai gelap, sepertinya dia tertidur cukup lama dan tak ada satupun yang membangunkannya-dia seperti merasakan kehadiran Ed di sepanjang tidurnya. Jane mengikat rambut panjangnya yang terurai. Oh, dia terkejut melihat sepiring makaroni diatas meja. Dia pikir mungkin itu tante yang meletakan makanan di mejanya, Jane tanpa ragu memakannya, setelahnya melangkah keluar kamar. 


Dibawah tante Weni dan Lily tampak asik berbincang-bincang, rasanya Jane tak enak hati karena tidur terlalu lama dan tak menyadari kepulangan tante Weni. Jane ingin berbalik ke kamarnya, tapi itu lebih tidak sopan. Dia ingat disini dia hanya menumpang dia sudah cukup merepotkan dengan sikap labilnya. 


Mata Jane dan tante Weni tak sengaja bertemu, tante memanggilnya agar segera turun, Jane pun menuruti. Tapi tidak dengan Lily yang jelas tak menyukai kehadirannya. Kemudian tante anti senang karena dirinya dan Lily cukup akrab, ya itu kata dari Lily yang menceritakan banyak hal berlebihan terutama pertemanan mereka yang cukup baik, walau baru saja bertemu beberapa saat tadi. Tapi Jane tak ingin memusingkan apapun. 


Kemudian tante Weni berkata "Jane apa Ed telah memberitahumu?" 


Jane berpikir sejenak, tapi Ed tak mengatakan apapun padanya. Ah, dia baru ingat mungkinkah tadi Ed ingin mengatakan sesuatu padanya namun dia malah memilih tidur dan menghindarinya. Jane menggeleng. 


Tante Weni melirik Lily yang tampaknya penasaran dengan pembicaraan, lalu tante Weni meminta tolong agar Lily mengambilkan minuman di kulkas dapur untuk mereka. Mau tak mau Lily menurut karena imagenya di depan tante Weni memang sebagai gadis penurut. Dia sungguh penasaran dengan isi pembicaraan itu sebenarnya. 


Setelah Lily pergi barulah tante Weni melanjutkannya "Oh, ku pikir kalian sudah membicarakan nya. Saat aku datang tadi aku melihat Ed keluar dari kamarmu-" Tante Weni tampak berpikir "ah, lupakan saja. Biar aku katakan sekarang, dua hari lagi pernikahan mu akan dilangsungkan agak dipercepat memang, seperti kita ketahui kau sedang berbadan dua. Jika ditunda lagi perutmu akan mulai membesar itu akan menyulitkanmu bergerak"


Jane mengangguk namun tak berkomentar apapun, menolak pun tidak bisa dia lakukan lalu anaknya juga membutuhkan status, pengakuan, dan cinta keluarga. Masalah Ed yang keluar dari kamarnya dia tak tahu apapun, mungkin karena itu dia merasakan kehadirannya tadi. 


"Tante-" Jane menyela setelah lama terdiam. 

__ADS_1


Agak ragu, tapi dia memberanikan diri "Apakah sebelum menikah aku boleh mengunjungi mama. Setidaknya aku ingin dia tahu bahwa putrinya akan menikah" Walaupun dia tau tak akan diberi maaf oleh Ibunya namun tak pantas rasanya dia menikah tanpa mengabari ibunya, keluarga yang dia miliki satu-satunya. Jikapun penolakan yang dia dapatkan dia tak akan ambil hati, hanya saja dia benar-benar ingin bertemu dengan Ibunya walaupun diberi waktu hanya sedetik. 


Tante Weni tampak berpikir, wajahnya muram "Aku juga menginginkan itu memiliki hubungan harmonis dengan ibumu. Tapi, selama kami mengunjungi kediaman ibumu dia tak pernah ada di rumah bahkan kontaknya yang kudapatkan dari kenalan ibumu tak tersambung-"


Jadi alasan beberapa hari belakangan ini paman dan tante sibuk berpergian rupanya mengunjungi kediamannya dan berusaha menemui ibunya. Jane tersentuh dengan kebaikan paman dan tantenya "terimakasih, tante begitu sulit karena ku"


"Jangan- jangan sekalipun kau mengatakan itu. Aku sama sekali tak merasa terbebani. Kaulah yang kesulitan" tante Weni mengelus lembut tangan Jane. 


"Suamiku tengah berusaha mendapatkan informasi lokasi terkini ibumu. Terakhir yang dia dapatkan ibumu berada di rumah sakit charitas, namun kemudian informasi lain mengatakan dia telah lama tak menunjukan diri di rumah sakit itu. Kau tenang saja, paman mu akan berusaha agar kau bisa menjumpai ibumu. Hari pernikahan adalah hari spesial, aku pun berharap orang-orang tersayang mu bisa hadir di sana"


Tante Weni kembali melanjutkan "study mu diurus juga dan kau tertera mengambil cuti karena akan menikah"


Lily meletakan minuman dimeja sedikit kasar, mengejutkan Jane yang termenung. Ya, dia rasanya kesal karena tidak bisa ikut mendengar isi pembicaraan. Jane mengatakan terimakasih karena dia berbaik hati mengambilkan minuman untuknya. Lalu, lily hanya membuang muka tak membalas ucapan terimakasih Jane. Tapi ketika Lily berhadapan dengan tante Weni dia berbanding terbalik, sangat ramah. 


"Tante ku dengar dari Ed bahwa dia akan menikah dengan- ya Jane-" Lily melirik sekejap kearah Jane, tampaknya dia masih ingin memastikan mengenai kebenaran informasi itu. 


Tante Weni mengiyakan pertanyaan Lily "dua hari lagi pernikahan mereka" tukasnya. 

__ADS_1


"Sungguh? Mendadak sekali!" Lily benar-benar terkejut, bisa-bisanya dua hari lagi pernikahan mereka bahkan dia baru tau tadi. Sungguh dia merasa tak dianggap karena tak tau apapun tentang rencana pernikahan itu. 


Jane menikmati minuman yang dibawakan Lily, dia hanya mengamati keterkejutan wanita yang terus menerus menatapnya tajam. 


Lalu lily berusaha menunjukan senyumnya "tante kenapa Ed menikah begitu buru-buru? apakah ada indikator lain sehingga dia menikah mendadak?!"


"Uhuk!!" Minuman Jane sedikit muncrat, ya dia tersentak saat mendengar pertanyaan Lily yang memang benar. 


Dan karena itu Lily menatap Jane dengan sinis nya. 


"Ah, tidak juga. Itu karena memang berjodoh, lalu apa kau tahu ku pikir Ed memang mencintai Jane ku. Seumur-umur aku tak pernah melihat putraku memperlakukan wanita dengan sebegitu hati-hati. Kalaupun karena indikator lain, jika Ed tidak mencintainya maka dia tak mungkin se-berusaha ini untuk menyenangkan hati wanitanya" Tante Weni menatap Jane dengan senyuman penuh arti. 


Deg!! 


Mendengar itu rasanya Jane malu, dia merona karena menurutnya tante Weni terlalu melebihkan kenyataan soal perasaan putranya. Jane berusaha menenangkan dirinya dan tak termakan ucapan manis tantenya, dia kemudian menyakini bahwa itu hanya kalimat yang diucapkan agar menenangkan hatinya. Kecelakaan tetap lah kecelakaan dan sikap bajingan tetaplah bajingan, tanpa ada embel-embel pembelaan karena perasaan cinta dikemudian. 


Lalu Jane ingat macaron di atas mejanya, dia berucap terimakasih pada tantenya karena telah memperhatikan dirinya dengan ingat membelikan makanan manis yang memang macaron kesukaannya dan repot-repot menaruhnya diatas meja. 

__ADS_1


Tapi respon tante Weni membingungkan, dia berkata tak membelikan apapun atau dia tak meletakan macaron diatas mejanya. Dia tak masuk ke kamar Jane tadi, dia hanya mengintip dari celah kamar dan melihat Jane terlelap, dia tak berniat menganggu tidur siang Jane tadi. 


Lantas siapa yang meninggalkan macaron di kamarnya?


__ADS_2