
Tiba-tiba saja Ed tampak malu, dia bahkan membuang muka. Hal itu semakin menimbulkan pertanyaan dalam benak Jane.
"Jadi benar Kaulah yang sembarang membuka piyama ku! kenapa kau melakukan itu?" Jane malu juga marah.
Ed mendehem, dan masih membuang muka "ya, aku sudah meminta izin pada mu"
"aku tidak mengingatnya"
Jane menyentuh kedua pipi Ed memaksanya untuk menatap matanya "jadi tolong katakan. apa karena kau menginginkannya?"
Ed membelalak, lalu menggeleng "kau pikir hanya karena ingin. Aku menjadi liar dan sembarang?! oh, biar ku jelaskan kau demam tinggi dan aku hanya membantu meminimalisir nya sehingga pagi ini kau tampak lebih sehat"
Mereka berdua kemudian saling menatap, setelah nya kedua nya membuang muka dengan wajah merona, mengingat kembali kejadian semalam yang agak ambigu. Mereka memang sudah menikah dan bahkan akan segera memiliki anak. Namun, tetap saja mereka belum terbiasa dengan hal-hal semacam itu.
"Ya, ku rasa kau benar semalam aku merasa tak enak badan dan pagi ini rasanya lebih membaik" lirih Jane.
Suasana menjadi hening, sejenak kemudian Ed berkata "Baiklah lupakan itu. Selesaikan pengobatan mu padaku" suruhnya.
Jane tak menolak, ya anggap saja ini pembayaran dari tuduhannya pada Ed. Jane kembali membantu mengoleskan obat salep pada luka suaminya. Ed bahkan tak merintih pedih, padahal itu luka baru.
"tidak sakit?" tanya Jane.
Ed menggeleng. Lagipula untuk apa Ed menunjukkan lemahnya, toh ini hanya luka kecil baginya. Terlebih didepan Jane pantang baginya merintih sakit.
Setelah selesai Jane meletakan kotak obat itu kembali ke tempatnya. Wajah Jane menjadi masam, dia mengingat masalah semalam yang belum selesai tentang wanita itu. Dia menolak melupakan permasalahan semalam. Meski begitu Jane memilih diam tak berbicara sebelum suaminya menceritakannya lebih dulu.
Tapi Ed merasa peka terhadap perubahan suasana hati istrinya "Kau marah. Baiklah maafkan aku yang tak sopan, lain kali aku tak akan sembarang membuka bajumu"
__ADS_1
Jane tak merespon, dia hendak keluar tapi lengannya ditarik oleh Ed.
Jane semakin kesal, dia berontak memaksa melepaskan pegangan tangan Ed. Lalu dia berkata dengan ketus "Kau pikir aku kesal karena itu. Tidak!"
Ed memiringkan wajah nya, dia tertawa rasanya dia bisa menebak "Soal Bella?!"
Jane membelalak kesal, Ed menyebut nama itu dengan akrab. Dengan begitu tebakan Ed benar, rupanya istrinya merajuk karena ingin tau kepastian mengenai wanita itu.
"Dengar aku dan Bella hanya teman--"
Jane menyela, dia berbicara lebih ketus "Teman? bohong sekali, mana ada teman yang mengirim pesan rindu dan berkata hatinya patah terhadap teman lawan jenis saat dia tahu teman prianya sudah menikah"
"Kau benar. Bella memiliki perasaan padaku" jawab Ed.
Hal itu langsung membuat Jane marah. Dia bergegas hendak keluar, hatinya terasa pedih. Dan rasanya dia tak akan sanggup mendengar fakta yang mungkin akan menyakitinya.
Jane berusaha tampak tenang, dia memilih untuk mendengarkannya.
Kemudian Ed menjelaskan "Bella, dia temanku di sana. Bertemu saat aku pindah, dia seorang influencer sekarang. Dia memang beberapa kali menyatakan perasaanya padaku. Dan aku selalu menolaknya karena aku tak memiliki perasaan apapun pada nya"
Meski Ed berkata Bella seorang influencer tapi Jane tak merasa Bella cukup terkenal, mengingat dia tak mengenalnya. Lalu Penjelasan itu tak cukup membuat Jane percaya.
"Cih, bertemu di mall setelah dia mengirimkan pesan rindu?"
"Itu murni tak sengaja. Lagi pula aku ke mall itu karena memiliki kepentingan" Ed melepas pelukannya pada Jane. Dia bergegas meraih sebuah bag dan memberikannya pada Jane "aku kesana untuk ini"
Jane menatap Ed penuh curiga, tapi karena penasaran dia bergegas membuka isi tas itu dan terdapat dress berwarna merah yang cantik lengkap dengan high hill nya.
__ADS_1
"Ku pikir kau akan menyukainya" kata Ed. Rasanya dia menunggu Jane mengungkapkan pendapatnya mengenai dress itu.
"Bella yang memilih kan nya?!"
"Tidak. Aku yang memilihkannya untuk mu. Kenapa kau berpikir Aku meminta Bella untuk memilihkannya? Aku tak pernah sekalipun berbelanja sesuatu terlebih bersama wanita. Soal di mall yang seseorang ceritakan padamu, Aku dan Bella di sana kami hanya berbicara singkat!" jelas Ed, rasanya dia juga kesal karen Jane terus tak mempercayai dirinya.
Namun bagi Jane. Hadiah itu hanya alibi agar dirinya tak terus-menerus menduga dan marah. Sial, sekarang dirinya menunjukan terang-terangan perasaan nya. Jane berpikir Ed pasti mengira dirinya tengah cemburu. Itu akan membuat nya besar kepala. Jane sungguh menolak fakta bahwa dia memang tengah cemburu.
Jane mengembalikan bag itu pada Ed. Hal semacam ini dan rayuan akan barang tak mampu membuat nya percaya.
"Aku tidak peduli. Apapun itu, bagi orang yang memiliki wanita lain akan terus berusaha menyembunyikannya"
"Begitu ya. Kau tidak mudah mempercayaiku sebagai mana Aku mempercayai dirimu" Ed manarik kuat lengan Jane, dia serius dan bersungguh.
Ed melangkah maju, membuat Jane terpojok di pintu. Ed kemudian berkata dengan menatapnya lekat-lekat "Bagaimana dengan mu? Andre yang mengatakan bahwa dia sangat mencintai dirimu. Kau pergi bersama dengan nya, lalu berdua di tengah hujan sembari meneteskan air mata. Apa kalian saling melepas rindu! jelaskan padaku Jane" sebenarnya Ed tidak ingin mengungkit hal ini, namun karena Jane menyudutkannya dan bahkan tak memiliki sedikit kepercayaan pada nya membuatnya bertanya-tanya apakah kepercayaan nya selama ini benar atau karena dia terlalu mudah percaya dengan Jane, dia tak ingin dibohongi lagi.
Jantung Jane berdetak kencang, terkadang dia melupakan bahwa Ed pria yang keras dan pemaksa hanya karena dia memperlakukannya akhir-akhir ini dengan baik.
"kau tak ingin menjelaskannya?" Ed memainkan rambut panjang Jane dengan jemarinya sembari menunggu Jane menjawab. Dan dia masih menggenggam erat lengan Jane.
Jane dengan ketakutannya, mencoba menjelaskan "Benar kami bertemu hari itu. Untuk memperjelas semuanya, tentang perasaanya yang tulus padaku. Dan Aku yang tak mampu membalasnya karena sedikit pun Aku tak memiliki perasaan pada nya. Sangat disayangkan pria sepertinya jatuh hati padaku. Dan karena Aku sudah menikah dengan mu dan aku mungkin sedikit berharap--" Jane menghentikan ucapannya, sembari tertunduk.
Ed melepas cengkeramannya pada Jane tat kala melihat Jane meneteskan air mata sembari merintih kesakitan akibat cengkeramannya yang cukup kuat. Ed kemudian melepas pegangan nya pada Jane.
Jane menyentuh pergelangan tangan nya yang memerah, dan bergegas membuka pintu dan berlarian keluar.
Ed hanya terdiam menyadari tindakan kasarnya pada Jane. Kemudian dengan kekesalan pada dirinya Ed memukul dinding dengan kuat "Kau bodoh Ed, kenapa bertindak kasar pada wanitamu!" Ed mencela dirinya sendiri.
__ADS_1