Oh, Love?

Oh, Love?
Membuka luka


__ADS_3

Saat Jane tengah gelisah, sebuah mobil terhenti didekat gerbang rumahnya. Jane bergegas keluar, dia berpikir itu pasti sahabatnya. Dan benar saja itu Viola yang turun dari mobilnya tampak mencari-carinya.


Kemudian mereka bertemu saling menyapa dan memberi pelukan hangat.


"Aku benar-benar kesal dengan mu. Menghilang tanpa kabar dan tiba-tiba menikah. Seluruh kelas, dosen, dan orang-orang memborbardir ku dengan beribu pertanyaan. Dimana temanmu? biasanya kau bersama dia? apakah dia sakit? atau bagaimana?. Huh, teman mu cuti? kenapa kau tak tahu kau kan sahabatnya?! " celoteh Viola panjang dengan kekesalan jelas bahkan bibirnya maju-maju saat menjelaskannya.


"Aku benar-benar kesulitan dengan semua pertanyaan. Dan orang-orang yang kehilangan dirimu bukan hanya aku, semuanya. Teman-teman kita merindukan sosok mu" jelasnya lagi dengan tatapan rindu "Oh, Jane aku merindukan dirimu yang berteriak dikelas, meledek, memarahiku dan kita yang terus membicarakan pria random tampan disepanjang hari" Viola agak mengguncang Jane tak sabaran ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Jane hanya tersenyum kecut, bagaimana dia menanggapi semua pertanyaan itu. Jane mengajak sahabatnya lebih dulu masuk kedalam rumah, setidaknya dia harus menjamunya dan memberikan tempat yang hangat sebelum dia menceritakan segalanya.


Situasi ini dan reaksi Jane yang lebih tak bersemangat membuat Viola menyadari sesuatu. Benar-benar ada hal yang tak beres dengan Jane. Selama bersamanya kapan Jane murung seperti ini, itu hanya saat mendiang Ibu Jane sibuk dengan pekerjaannya dulu.


Viola hanya mengamati tanpa bertanya sampai sahabatnya itu berkenan menceritakannya lebih dulu.


Jane menjamunya, mengeluarkan beberapa makanan manis. Sejauh ini Viola hanya mengikuti arus yang dibuat sahabatnya. Rasanya Viola merasakan sahabatnya tengah memantapkan hatinya.


"Ini enak" pujinya.


"Ya karena kau memang pencandu makanan manis" Jawab Jane.


"Benar sekali. Oh, dimana suamimu itu? aku tak melihatnya." Viola memperhatikan sekitar yang tak merasakan kehadiran suami Jane, bahkan rumah yang besar terasa amat sepi tanpa kehadiran orang lain selain mereka.


"Dia memiliki urusan lain tampaknya sangat penting" Jawab Jane sembari meletakan minuman diatas meja, dia juga duduk didekat Viola.


"Kau tak mengetahui mengenai urusan apa itu?"

__ADS_1


"Aku tak menanyainya"


Viola tak menanyakan tentang kemana pergi suami Jane lagi, tapi bagaimana Jane bisa mengenal Ed dan akhirnya menikah.


Jane menjawab "Dia tetanggaku dulu yang pernah ku ceritakan, anak yang sangat nakal dan suka menggangguku sepanjang hari"


Viola mengerti, dia menyimpulkan pernikahan mereka bak kisah serial televisi yang sering dia lihat dengan tema benci jadi cinta.


"Ah, itu bukan seperti yang kau pikirkan" Jane membuat lamunan dan khayalan sahabat nya buyar, bagai tau anga-angan dan skenario manis yang tengah dibuat antar Jane dan suaminya didalam pikiran Viola.


"Harusnya seperti yang ku pikirkan. Jika bukan lantas mengapa kau mau menikah dengannya?!"


Jane menghela napas "Itulah hal yang ingin ku ceritakan padamu"


Dia menambahkan "Jika benar begitu aku benar-benar senang. Kau akhirnya menemukan pria yang kau idam-idamkan sekarang. Pangeran berkuda putih. Ya, saat terakhir aku melihat suamimu dia tampan dan cocok denganmu. Dia seperti seleramu-" Viola meledek Jane dengan senyum yang terus merekah.


"Lalu kenapa juga kau tak mengundang ku huh!!" Viola sedikit meninggikan suaranya menatap sahabatnya marah.


Jane tersenyum miris, bagaimana temannya begitu memiliki pemikiran yang positif, bahkan tak ada di benaknya hal-hal negatif.


"kau tau tak ada hal-hal manis dalam pertemuan kami"


"Oh, atau kau kecelakaan atau kecopetan dan teman masa kecilmu menyelamatkan mu. Pasti begitu?!" tebaknya lagi lebih semangat.


Benar Viola memang se-positif itu, sampai-sampai dia kesulitan menangani pikiran Viola yang tak memiliki celah negatif.

__ADS_1


"huh? Viola semua salah tidak ada kasih manis, pertemuan penuh cinta, tidak ada hal-hal semacam itu yang kau bayangkan. Hanya ada sesuatu yang menyakitkan, mengenai hal berharga yang diregutnya"


Viola menjadi serius menatap sahabatnya lekat, dia mencondongkan dirinya "Bukan pria baik, pria yang bejat?!" lirihnya.


Jane menjawab "Benar tapi tidak juga"


"Sebelum itu maukah kau berjanji untuk tak menceritakan pada teman lainnya" Pinta Jane.


Viola menatap sahabatnya bingung, kemudian dia mengangguk cepat, menyakinkan akan menjaga rahasianya dengan baik.


"Sebentar apakah ini memiliki unsur pemaksaan yang tak kau hendaki?" tanyanya yang tepat.


Melihat Jane yang terdiam dengan tertunduk, Viola bisa langsung menyakini pernikahan ini benar-benar bukan atas keinginan sahabatnya.


Dia cukup terkejut dengan apa yang menimpa sahabatnya, dia memeluk lembut sahabatnya. Dia tau banyak diamnya Jane mempertegas dia benar-benar belum siap "apa kau benar-benar siap untuk menceritakan nya? Jika kau masih belum berani tidak apa-apa pelan-pelan saja. Lagi pula aku ada disini dan kapanpun akan mendengarkan mu"


Emosi Jane tak tampak, dia tak menangis emosinya stabil rasanya dia benar-benar menahan kuat masalahnya.


"Aku baik-baik saja rasanya jauh lebih baik ketika ada seseorang yang mendengar masalahku"


Jane lantas menceritakan masalahnya, bermula dari dia yang pulang dari kampus malam itu ditengah hujan lebat, memberikan bantuan pada Ed, dan akhir yang dia terima dari dirinya yang bodoh. Dirinya yang dijaga baik-baik kemudian kesuciannya yang direnggut dengan paksa. Jane juga menjelaskan bahwa Ed juga tak bermaksud, bahwa Ed tengah dijebak oleh beberapa orang yang waktu itu mencekoki nya dengan minuman keras. Meski begitu Jane menceritakan bagaimana Ed menyesali tindakannya, berkali-kali meminta maaf, dan berupaya membantunya bangkit. Walaupun pernikahan mereka terjadi karena sesuatu yang tak dikehendaki tapi dia bahkan tak mampu melarikan diri karena tengah mengandung. Saat itu dia juga tak menyangka di penghujung dia yang menjadi mahasiswa berakhir mengalami hal yang sama sekali di luar perkiraan, harus menghilang dari kehidupan nyatanya, malu menemui teman-teman, segala kekhawatiran dan ketakutan memenuhinya saat itu. Kemudian kesedihannya terus berlanjut saat Ibunya, orang satu-satunya yang dia miliki pergi selamanya. Memang keluarga Butler menerimanya dengan penuh ketulusan tapi di lubuk hatinya masih sangat sulit. Selama ini dia berpura-pura baik-baik saja, abai dengan perasaannya, karena dia sudah lelah.


"Lalu aku harus kemana? aku hanya memilih disini bertahan dengan anakku!" Jane dan Ed yang telah lama tak bertemu, tak tau pasti seperti apa kehidupan mereka masing-masing. Lalu apakah mereka memiliki orang yang dicintai. Terkadang Jane dengan kekhawatirannya, takut jika anaknya tak memiliki sosok Ayah jika sampai Ed memilih orang lain yang dicintainya anaknya akan mendapat hinaan disekelilingnya ketika beranjak dewasa. Jujur saja dia berada diposisi yang mudah saja terbalik dan hancur.


Air mata Jane mulai menetes perlahan.

__ADS_1


__ADS_2