
Khayalannya begitu jauh tak sesuai dengan perkiraannya. Keterkejutan Viola yang sangat menyakitkan sekaligus dahsyat, yang hanya disamarkan oleh ketidakpercayaannya terhadap hal yang baru dia dengar. Dia menatap pada Jane, diam terpaku, tak sanggup melontarkan pertanyaan.
Jane menyeka matanya. Meskipun raut wajahnya sempat berubah dengan derai air mata. Jane anehnya sanggup terlihat baik-baik saja dengan mantap dan sama sekali tidak dilanda keinginan untuk berteriak histeris atau jatuh pingsan.
"kau pasti terkejut" Jane melanjutkan "karena kau tidak akan pernah menduganya, karena aku pun begitu" Jane mengigit bibirnya kuat.
Selama beberapa saat, Viola pun terdiam. Dia mencoba mencerna apa yang baru didengarnya, sampai-sampai tak sanggup berkata-kata, tapi akhirnya dia memaksa diri untuk bicara dengan hati-hati. Dia berbicara dengan ketenangan yang menutupi ke kagetan dan kecemasan "Aku turut prihatin dengan yang kau alami. Sungguh tak menduganya, hal yang sama sekali tak pernah kita bayangkan. Kesialan yang tak diharapkan"
"Dan kau tetap memilih menikah dengannya karena kau tengah mengandung?"
"Ya"
Meskipun Viola sudah merasa terkejut, dia tetap lebih terkejut lagi.
"Jane aku tak ingin ikut campur sebenarnya. Tapi seberapa besar kekuatanmu sampai mampu menahan ini, bahkan kau tetap nekat menikah dengannya yang mana adalah pelaku dengan alasan kau mengandung. Apa kau sungguh waras?!"
"Kurasa" jawab Jane, yang semangatnya semakin pupus seiring dengan emosinya yang terus membubung.
Viola tampak tak mengerti dengan pola pikir Jane. Bagaimana bisa dia tetap memilih terkungkung didalam penjara yang menyesakan ini dengan tetap mempertahankan lukanya "Aku tau kau menghawatirkan status anakmu kelak. Tapi jika pria itu bukan orang baik, itu semakin membuat mu terpuruk nantinya. Kau pasti akan bertemu dengan seorang pria baik yang akan menerimamu dan anakmu dengan tulus, tak harus bersama pelaku itu terlebih kau tak mencintai dia, bagaimana dengannya apa dia mencintaimu?"
__ADS_1
Jane menyentuh tangan Viola, dia tak tahu mengenai perasaannya sendiri. Dia bahkan tak pernah mencoba berpacaran atau mencoba mencintai seorang pria dalam waktu lama dalam hatinya, dia yang tak pernah menyematkan nama seseorang dengan kokoh di sana. Dia hanya pernah mengagumi seseorang lalu dengan cepat kekaguman itu beralih ke pria baru yang dia temui hari lain. Lalu mengenai hati Ed yang dia tak ketahui, apa Jane pernah merasa resah? dia cukup resah saat memikirkannya. Tapi disini dia tak mengharap cinta dari suaminya tapi status dan hak untuk anaknya kelak "Kau tau dia memperlakukanku cukup baik. Memang aku sangat membencinya awalnya. Namun, ketika aku melihatnya berusaha lebih baik sekalipun bukan untukku tapi untuk anaknya, aku cukup tersentuh. Mertuaku juga menghargai keputusanku, jika menurutnya aku terlalu egois mereka dengan hati-hati membenahi ku"
Sekalipun Jane berkata seperti itu, perlakuan suami Jane tidaklah terlalu menjamin, tapi Viola lega mendengar sekecil apapun pujian terhadap pria itu. Viola cukup tau bahwa Jane orang yang sukar mempercayai orang lain.
"Aku hanya bisa mendukung mu. Tapi seandainya kau membutuhkanku, jangan ragu datang. Ku harap pria itu tak akan memperlakukanmu dengan kasar terlepas dari kejadian yang menimpa kalian" Viola sungguh berharap.
"Tapi kalian yang telah lama tidak bertemu, kemudian menikah karena kejadian menyakitkan itu. Apakah kau yakin dia tidak memiliki, seseorang yang dicintai. Aku tak bermaksud membuatmu bersedih, hanya saja kau juga perlu mengetahuinya agar tak menyakitimu di kemudian hari" Viola masih ingin memastikan, karena dia juga ikut resah dengan kehidupan sahabat nya itu.
Jane tersenyum "Entahlah. Menimbang-nimbang seperti apa masa depan itu terasa aneh. Prioritas utama ku adalah memenuhi cinta untuk anakku, dan hidupku didedikasikan hanya untuk anakku. Tidak ada alasan bagiku bersedih dikemudian hari jika masa depan tak sesuai dengan harapan. Karena setelah menikah aku telah setuju dengan konsekuensi keputusanku. Itu sudah menjadi alasan yang cukup untuk tidak menyesalinya"
Viola menatap sahabatnya sedih "maaf" katanya, "dan yakinlah bahwa aku tak bermaksud menyinggung mu ketika mengungkapkan perasaan ku dengan menentang keputusanmu. Yakinlah bahwa aku menghawatirkan mu lebih dari yang ku ungkapkan. Dan yakinlah bahwa aku benar-benar mengharapkan kebahagiaan mu. Namun, kau tidak boleh putus asa saat dunia tak mendukungmu. Ada saat-saat kehidupan berada di titik rendah, terlihat kabur, dan menyesakkan. Jika suamimu belum mencintaimu ku harap segera, jikapun tidak kuharap dia menghargai mu lebih dari dia menghargai dirinya"
Viola kemudian memeluk sahabatnya yang malang dengan gundah. Jane tampak lebih tegar dan mulai menunjukan sikap dewasanya. Dia tidak bertingkah kekanakan dengan terus menghawatirkan masa depan. Sekarang, baginya pengendalian diri itu sangat perlu, dan dia sungguh-sungguh melawan tekanan perasaannya yang hendak mencelus nyaris tak sanggup menerima kenyataan.
Lalu Viola bahkan berusaha agar tak terguncang mengetahui kejadian tak terduga ini, matanya penuh dengan air mata karena Viola orang yang perasa. Setelah dia cukup tenang, Viola sedikit menunduk menatap lekat-lekat perut Jane.
"Baiklah aku akan menjadi tante" serunya girang. Viola juga berniat mengalihkan suasana menyedihkan ini menjadi lebih hangat.
Tangannya mulai mengusap perut Jane, dia menempelkan telinganya di perut sahabatnya yang masih datar "Kau berharap anak perempuan atau anak laki-laki?!"
__ADS_1
"Apapun itu yang terpenting dia sehat" Jawabnya. Jane benar-benar tak peduli mengenai jenis kelamin, dia hanya ingin anaknya terlahir dengan sehat di dunia.
"Mm, biar ku tebak dia perempuan" Viola masih sibuk mengamati kandungan Jane.
"Baiklah, apapun itu"
"Hey, Jane jika benar perempuan berikan dia nama Ciara" pintanya.
"akan ku pertimbangkan"
"itu memiliki nama terang" Viola memaksa degan nada bercanda.
"Lalu berapa bulan kandungan mu?" tanyanya penasaran.
Jane tersenyum sembari ikut mengelus perutnya "menuju 3 bulan"
"huh! masih lama lagi, tapi aku sudah tak sabar. Dia pasti akan mirip dengan mu versi mungil. Oh, aku tak bisa membayangkan Jane versi mungil" Viola lebih bersemangat menebak-nebak.
Jane tersenyum lega setelah menceritakan semuanya. Alih-alih memberitahu sahabatnya dia malah sibuk memikirkan perasaan gelisah dan ketakutan-ketakutannya saat itu, padahal ada sahabatnya yang senantiasa mendengar cerita nya dan bahkan dengan solusi-solusi. Tak ada penghakiman untuknya, Viola menerimanya dengan tulus, tak menyalahkannya, atau menduganya berbohong.
__ADS_1
Dan hari mereka dihabiskan untuk saling bercengkerama, sesekali melempar jenaka, walaupun dibenak masing-masing kacau memikirkan hal lain. Mereka berdua pandai menyembunyikan mimik sedih, sekalipun mereka sahabat, nyatanya tak sepenuhnya saling memahami situasi hati. Meski begitu faktanya persahabatan mereka sangat erat, melebihi ikatan saudara.