Oh, Love?

Oh, Love?
kepulangannya


__ADS_3

Ditengah bising nyonya-nyonya dan putrinya dalam mobil, Jane tenggelam dalam lamunan. Terlebih saat Jane akan pergi Andre masih memperlihatkan betapa berlapang dadanya dirinya. Dia memberikan jaket miliknya yang kering untuk Jane kenakan agar dia tak terlalu merasa kedinginan. Bahkan Jane tidak bisa menolak kebaikan itu.


Nyonya-nyonya mulai mengunjungi Jane yang dengan sengaja menemui seorang pria, terlebih mereka terlihat romantis di tengah-tengah hujan tadi. Mereka dengan sinis berkata bahwa Jane rupanya wanita tak bisa ditinggalkan sebentar oleh suaminya dan dengan cepat berpindah hati. Jane berusaha tak menanggapi bahkan tak berniat menjelaskan. Tapi nyonya-nyonya itu terus memancing dan menyerang dirinya. Bahkan mereka tak memperhatikan mata sembab Jane yang memiliki artian suasana hatinya tengah buruk.


"Oh, apa ini! suami nya tampan bahkan kaya raya tapi istrinya bahkan tidak bisa tahan ditinggal sekejap. Dia bahkan kelayapan" sindir nyonya Amber.


"Jika aku menjadi suaminya, betapa sialnya aku memiliki istri semacam itu di sampingku. Sebelum terlambat alangkah baik nya jika aku meninggal kannya dan mencari wanita lain yang sungguh lebih tulus--" timpal nyonya Rose.


"Dan, beruntung sekali suamiku tidak seperti anda yang langsung menilai tanpa berniat mencari tau kebenaran" Jawab Jane yang kesal dengan segala cercaan mereka. Memang situasi tadi mudah untuk disalahpahami.


"Lihat, bahkan istrinya ini mencoba membela diri disaat dia sudah ketahuan. Wajahnya benar-benar tebal" nyinyir nyonya Rose.


Nyonya Rose dan nyonya Amber yang duduk di bangku belakang begitu gaduh dengan kalimat-kalimat menusuknya. Sekalipun Jane tak memberi respon mereka dengan sengaja memancing terus menerus emosi Jane.


"Ah, pastinya itu simpanannya" bisik nyonya Amber yang terdengar sangat jelas.


"Itu sudah jelas. Jika suaminya tau, aku penasaran seperti apa reaksinya" mereka tertawa dengan puas, bahkan tidak peduli dengan perasaan Jane.


"Hey, Ayolah berisik sekali. Kalau pun benar itu simpanannya, ya sudah zaman sekarang memang banyak seperti itu. Lagi pula, kalau pun kau tak menyukai suamimu itu, ku rasa dia akan mudah mendapat kan yang baru Dan tidak ada yang menjamin bahwa dia bersih sama seperti istri menemui pria lain begitu pula sebaliknya. Bukankah pasangan cerminan dari diri?!" timpal Ines sinis yang berbicara tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponselnya.

__ADS_1


Jane membiarkan mereka semua menerka-nerka dan berbicara semaunya. Dia lelah untuk mulai menjelaskan yang pasti jawabannya itu tak akan membuat nyonya-nyonya itu puas, karena memang membuat situasi lebih memanas adalah kesukaan mereka.


Leona yang tengah menyetir di samping Jane juga mengisyaratkan untuk tidak menangapi kesenangan mereka yang memang tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, dan Leona cukup malu dengan tingkah mereka yang suka sekali mencampuri urusan orang lain.


Sembari mengabaikan segala sindiran dari nyonya-nyonya, Jane sibuk menatap keluar jendela dengan perasaan dan pikirannya yang kalut. Benar yang Ines katakan untuk Ed sangat mudah mendapatkan wanita disisinya. Ed sangat berkharisma, siapapun akan mudah terpincut dengannya, dan kapan pun jika dia mau dia bisa dengan mudah membawa seseorang dalam kehidupan mereka. Lantas, Jane tersenyum miris sekarang dia merasa tidak mudah menjalani harinya dan tidak mudah memantapkan diri, terlebih di setiap kesempatan dan mulai berlalu nya hari, satu demi satu hal diantara mereka akan terkuak. Jane menghela napas. Dia akan berusaha lebih yakin dengan dirinya.


"Aku ragu--" kata Bibi Yuni membuat suasana tenang dan perhatian tertuju padanya yang duduk di bangku paling belakang bersama dengan Ines.


"Mengenai kelaziman! masalah memiliki simpanan! Tidak bisa semua disama ratakan terlebih tuanku, dia bukan pria semacam itu!" jelasnya. Bibi Yuni bagai tak terima nama tuan nya diseret-seret dengan buruk.


Mata Jane dan Bibi Yuni bertemu, tapi Bibi Yuni dengan cepat mengalihkan pandangannya kearah lain. Di Situasi ini sangat wajar jika Bibi Yuni berpikir bahwa Jane memiliki hubungan di belakang dengan pria lain. Terlebih, Bibi Yuni terlihat orang yang sangat setia dengan majikannya. Jane tidak tahu Bibi Yuni mungkin saja sudah bekerja lama dengan Ed. Jika tidak kenapa Bibi Yuni di percayakan ada disisi nya. Bibi Yuni yang tidak seperti kebanyakan asisten rumah tangga pada umumnya. Bibi Yuni cenderung tegas dengan sorot Mata yang selalu mengamati sekitar.


Setelah serangkaian hal Dan kebisingan yang di tunjukan pada Jane. Akhirnya mereka sampai. Jane dan Bibi Yuni turun dari mobil, lalu Leona meminta maaf atas ketidaknyamanan yang Jane dapatkan selama di perjalanan. Dan seperti yang Jane duga Leona sama sekali tak menyingung atau menanyakan siapa pria tadi. Dia seperti paham ada batas-batas yang tidak bisa sembarang ditembus terlebih dengan orang yang baru saling kenal.


"Bibi" kata Jane memecah keheningan "apa kau tidak percaya bahwa aku bukan wanita seperti itu?!" tanyanya.


Bibi Yuni menoleh "Pendapat ku tidak lah penting nyonya, tetapi saya yakin wanita yang dipilih oleh tuanku sebagai istrinya adalah wanita baik-baik" ucapnya dengan sedikit menunduk, menunjukan kehormatan dan mengerti tentang posisi nya.


Kemudian mereka masuk ke dalam rumah, Jane cukup terkejut di sana Ed tengah menunggu dirinya. Jane tak mengira bahwa dia pulang hari ini, Jane berpikir mungkin dia akan kembali besok.

__ADS_1


Lalu melihat tuan nya yang sudah datang, Bibi Yuni pamit untuk pulang ke kediamannya mengingat hari juga mulai malam.


Ed dan Jane saling menatap. Wajah Ed cukup kesal, dia mendekat dan dengan cepat menarik jaket yang di kenakan Jane dan melemparkannya kasar. Jane cukup terkejut sekarang.


Lalu Ed melepaskan jasnya dan memasangkannya pada Jane.


"Masuk!! bersihkan dirimu dan segera hangatkan tubuhmu ini!!" suruh Ed nada nya terdengar tegas.


Jane termangu menatap Ed lekat-lekat, dia bingung sekaligus cukup terkesima melihat Ed yang ada di hadapan nya sekarang.


"Kau tidak mendengar ku? atau kau berharap Aku yang memandikan mu?!" bisiknya didekat telinga Jane.


Seketika Jane tersadar dari lamunannya dan bergegas naik kelantai atas dan dia baru merasakan hawa tubuhnya yang kian terasa dingin. Setelahnya Jane membersihkan dirinya kemudian menggenakan piyama yang terasa hangat.


Di kamar Ed duduk di kasur dengan kedua tangan yang terlipat di dada, kaki menyilang, dan tatapan yang penuh pertanyaan kearah Jane.


"Pria itu berkaca mata dengan rambut ikal, berbaik hati meminjamkan jaketnya. Ya siapa dia sayangku?" ucap Ed yang begitu menekan, nadanya terdengar keras.


 "Jadi kenapa tidak memberi ku jawaban?" Ed menunggu jawaban dari Jane yang tak kunjung dia dapatkan.

__ADS_1


"Ciri-ciri itu ku pikir kau tau siapa dia-" jawab Jane.


"Ah, kaka tingkat mu itu! Andre!" decak Ed yang terlihat marah.


__ADS_2