
Bahkan pembicaraan antara Jane dan sahabatnya tak terhenti. Beberapa bulan tak bertemu membuat mereka berdua lebih banyak berbincang. Mereka berdua berbincang seru, sesekali tertawa mengingat-ingat kekonyolan mereka, sesekali lagi menyesali kebodohan diri di masa lalu, dan mensyukuri pertemuan mereka dari awal maba sampai saat ini sebagai sahabat karib. Saking serunya perbincangan mereka yang sibuk menggunjing diri di masa polos dan bodoh, membuat mereka melupakan segala kesedihan untuk sesaat. Sampai di titik pembicaraan yang rupanya ditunggu-tunggu oleh sahabat nya, dia berkata "Jane, ku pikir ada seseorang yang sangat mempedulikan mu selain aku-"
Jane menoleh dengan kebingungan yang sangat jelas, namun dia tak menanyakan apapun sampai sahabat nya itu menyelesaikan kalimatnya.
"Teman-teman kita tak ada yang mengetahui bahwa kau sudah menikah, mereka hanya mengetahui kau sedang cuti. Tapi bukan itu intinya"
"Kau ingat dengan Yoga?" tanyanya.
Jane mengangguk. Yoga Pratama teman sekelas mereka tentu saja Jane mengenalnya. Pria yang lucu itu. Jane juga cukup menyukai Yoga yang memiliki sikap terbuka dan jujur padanya.
"Yoga mengatakan keresahannya padaku mengenai dirimu, katanya kontak mu tak bisa di hubungi belakangan ini. Dia cukup menghawatirkan mu. Beberapa hari lalu dia menitipkan pesan padaku, jika aku bertemu denganmu dia ingin aku menyampaikan bahwa dia berharap kau cepat kembali ke kampus"
Jane menyela "tapi aku tak ingat memiliki urusan atau hutang apapun dengan Yoga"
Viola mendesis "Dengarkan dulu!"
Jane mengangguk menurut.
"Nah, aku tak mengetahui pasti mengenai niatnya tapi dia menitipkan ini" Viola memberikan sebuah surat dengan amplop berwarna coklat khas kertas lama yang terlihat estetis.
"Aku tak mengetahui isinya, aku pun tak mencoba membukanya karena aku tahu hal itu privasi dan hanya kau yang boleh membacanya. Karena memang surat itu ditunjukan padamu. Nah, Jane jika kau sudah selesai membacanya nanti sampaikan padaku mengenai tanggapan mu karena Yoga meminta hal itu juga padaku. Dia berpesan dengan agak memaksa 'Jika dia sudah membaca suratku segera beritahu' ya dia berbicara seperti itu dengan wajah tegang" dia menambahkan, "Tapi dia meminta juga agar kau membacanya ketika sendirian"
Jane menatap surat itu dengan kebingungan lebih.
__ADS_1
"Mengenai kau yang sudah menikah, jika beberapa teman masih menanyakan dirimu apa aku harus memberi jawaban jujur bahwa kau sudah menikah? . Tentu aku tak akan menceritakan mengenai kenapa kau menikah terburu-buru!" tanyanya lagi.
Jane mengangguk, dia tidak mungkin bisa terus menerus menyembunyikan fakta bahwa dia sudah menikah. Bagaimanapun suatu saat dia harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu dengan jujur.
Di tengah-tengah perbincangan mereka Ed kebetulan datang. Perhatian mereka teralih pada Ed sejenak kemudian mereka melupakan pembicaraan mengenai surat dari Yoga. Sepertinya Ed telah selesai dengan urusan pekerjaannya. Dia agak terkejut melihat sahabat Jane, kemudian setelahnya dia tampak biasa dan menyapanya.
Viola dengan senang menerima sapaan dari Ed. Lalu dia berkata "Kau pria yang keren. Ku harap perilaku mu juga begitu"
Seketika Ed melirik Jane yang hanya memberikan senyum kecil. Namun, dia menyadari Jane telah menceritakan masalahnya dengan Viola "terimakasih, aku tersanjung" Ed tahu itu celaan untuknya yang dilontarkan dengan halus.
"Memang sekarang ini, banyak pria yang melakukan hal-hal diluar kehendak" kata Viola lagi.
"Aku tahu kau tengah mencari cela untuk menghinaku setelah mendengar bagaimana aku berakhir menikahi sahabatmu" Ed melanjutkan "Aku tidak ingin menjelaskan atau membela diriku. Sejujurnya aku tidak peduli dengan pandangan orang-orang terhadapku, terlebih jika dia orang yang tak memiliki hubungan dengan ku dan selagi aku tak merugikannya"
"Oh, kau paham rupanya. Ku pikir kau tak akan peduli dan memilih abai dengan situasi ini" celetuk Viola ketus.
"Hey, ada apa dengan situasi ini. Ed, Viola hanya berniat membelaku bukankah sangat wajar seorang teman akan membela teman lain!" Jane sedikit tak tahan dengan pembicaraan mereka.
"Mungkin kurasa" Ed kemudian menaiki tangga, tak ingin berada lebih lama dengan pembicaraan itu. Ed rasanya tak terlalu menyukai sahabat Jane.
"Oh, Jane" seru Viola.
"Perilakunya itu tak mencerminkan pria yang baik, dia terkesan keras dengan nada yang meninggi. Kau berkata dia cukup baik, tapi bagiku dia sangat buruk"
__ADS_1
Jane menarik napas panjang, entahlah dia juga tak mengerti kenapa tiba-tiba Ed bersikap kurang baik dihadapan Viola. Padahal sejauh ini dengannya dia begitu tenang dan mengontrol diri.
Kemudian Viola menyampaikan kekecewaannya mengetahui suami sahabatnya yang katanya memiliki perangai yang baik. Jane hanya bisa mendengar keluh sahabatnya itu terhadap suaminya.
Viola tak habis pikir bagaimana sahabatnya akan betah dengan pria seperti itu, dia terlihat tak romantis, bahkan sikapnya sangat jauh dari sikap hangat, dia adalah pelaku. Pelaku tetaplah pelaku yang melakukan sesuatu hal tanpa berperasaan.
Cukup lama komplain mengenai suami Jane yang ditemuinya dua kali dengan pembicaraan singkat tadi, berhasil membuat ketidaksukaan Viola semakin kuat. Namun, tak terasa hari mulai petang dia cukup lama disini, dia memutuskan untuk kembali pulang dan berharap Jane akan baik-baik saja selama menjalani biduk rumah tangga dengan model suami seperti itu.
Bahkan ketika Jane menjelaskan Ed tak seburuk itu tak membuat sahabatnya mengindahkan perilaku Ed dan bicaranya yang tajam padanya tadi.
...…...
Setelah Viola pergi. Barulah terlihat Jane yang tampak lelah, dia masuk kedalam kamar. Tapi dia tak menemukan keberadaan Ed di sana, dia menyimpulkan Ed berada di ruangan kerjanya diujung. Jane meletakan surat itu diatas meja, dia berniat membacanya nanti.
Karena Jane memutuskan menyegarkan diri lebih dulu dengan berendam di bathtub untuk menghilangkan rasa gerah dan penatnya. Jane menyender, dengan rambutnya yang di biarkan terurai, dia menatap langit-langit kamar mandi rasanya kepalanya terasa sakit. Pembicaraan tadi dengan sahabatnya membuatnya kembali overthinking. Di tambah dia memikirkan surat yang dikirimkan oleh Yoga padanya, apa mungkin ada hal yang mendesak sampai-sampai dia mengirim surat seperti itu padanya.
Tapi kemudian Jane tak ingin merusak dirinya dengan pikirannya. Dia termangu dengan mencoba tanpa memikirkan apapun dan itu cukup berhasil.
Cek lek!!
Pintu kamar mandi terbuka. Jane menoleh mendapati Ed yang mematung di sana menatap kearahnya tak berkedip.
Jane ingat dia belum mengunci pintu kamar mandi. Dia membelalak lantas agak menelungkup menutupi dirinya.
__ADS_1
"ah, kupikir kau kemana aku tak melihatmu dikamar. Aku hanya memeriksa" Ed bergegas menutup pintu dengan cepat.
Jane bahkan tak bisa berkata-kata saking terkejutnya. Dia menjadi malu dengan situasi ambigu ini.