
"Viola aku tak pernah membayangkan konsekuensi kehilangan anak ku!" lirih Jane.
"Hal semacam ini tak pernah terbayangkan!! aku lagi-lagi gagal menjadi putri dan Ibu untuk anakku!! apa ini semacam karma karena dulu bersikap buruk pada Ibu? atau?!--" Jane kian terisak, terdengar menyakitkan.
"Kau bukan putri yang buruk bagi Ibumu Jane. Siapa yang tau hal-hal yang tak dikehendaki terjadi?" ucap lembut Viola.
Hal yang bisa Viola dan Lily lakukan hanya menenangkan Jane. Menjadikan diri mereka sandaran yang memang dibutuhkan. Mereka mencoba menghibur Jane Dan mereka pula tak mampu menahan air mata mereka. Rasanya mereka ikut bersedih untuk Jane.
Lalu Jane menyadari Ed tak menunjukan dirinya. Jane tampak tengelam dalam kebimbangan.
Dan tak terasa waktu cepat berlalu. Malam tiba begitu cepat, dua orang terpaksa harus pergi. Viola harus menemui dosen bimbingannya juga Lily yang masih sibuk dengan studinya. Meski begitu mereka meninggalkan Jane ketika dia sudah tenang dan terlelap. Kemudian mereka dengan hati-hati keluar dari ruangan itu. Dan di sana mereka masih melihat Ed yang masih tampak cemas, tapi bahkan tak berniat menemui Jane.
"Ada apa dengannya? kenapa tak masuk dari tadi?" bisik Viola pada Lily.
Lily menggeleng sembari mengangkat bahunya. Dia juga tak tahu mengapa Ed bertingkah demikian, yang dia tahu bahwa pria itu tampak sangat mencintai Jane hari lalu. Dan bahkan rasanya dia sulit untuk berpisah.
Meski Ed tak menemui Jane. Namun, Ed yang dari tadi berada diluar bahkan tak beranjak pergi mereka berdua menyimpulkan ada sesuatu hal yang mengusik Ed.
"Kami harus pergi, kami titip Jane padamu. dan ku harap kau berhenti bersikap menjengkelkan semacam ini. Ku harap kau pria yang bertanggung jawab sampai akhir, maka bersikaplah demikian!!" ucap Viola kemudian berlalu, Lily hanya melihat Ed sekejap kemudian menyusul Viola.
Ed berdiri lalu masuk ke ruangan Jane. Di Sana dia melihat Jane yang tampak lelah juga terlihat kesakitan. Ed duduk di kursi samping Jane tertunduk dengan rasa bersalah. Tapi kemudian, dia mendongak. Cukup sudah dia bersikap seperti orang yang lemah dengan rasa bersalah. Semuanya telah terjadi dia hanya perlu membuat Jane merasa aman dengannya, dan tak lagi melakukan keteledoran yang mungkin akan membuat dia kehilangan Jane. Dia cukup beruntung karena Jane tak sampai kehilangan nyawanya dari insiden ini.
"kau disini?" lirih Jane mengejutkan Ed.
Ed mengangguk pelan, sembari mengusap wajah Jane lembut.
"Ku pikir kau tak akan menunjukan dirimu. Sedari tadi aku tak melihat mu. Yeah, aku tau bahwa kau kecewa karena aku tak mampu menjaga anak kita" ucap Jane pelan, sembari menatap langit-langit kamar. Dia ingat bahwa seseorang yang mendorongnya, tapi Jane tak memiliki tenaga untuk menyalahkan orang lain.
__ADS_1
"kenapa berkata demikian. kau tak bersalah, itu sebuah kecelakan yang di lakukan orang lain terhadapmu! aku yang tak mampu menjaga mu!"
"kau tahu bahwa aku jatuh karena bukan ke hendak ku?"
"Ya, lagi pula untuk apa kau menjatuhkan diri. Aku tau bahwa kau bukan orang yang berpikiran sempit" jawab Ed.
Jane mengepal jemarinya, dia memberanikan diri berbicara sesuatu hal yang mengganjalnya "Aku sudah berpikir Ed. Tak ada lagi yang mengikat kita, tak ada lagi keharusan mu menerimaku. Jadi bisakah kita bercerai?"
Ekspresi Ed berubah serius menatap lekat-lekat istrinya yang dengan gamblang meminta cerai "Tidak" hanya jawaban itu yang Ed lontarkan.
"kenapa?"
Ed bahkan tak memberi jawaban, dia mengalihkan pembicaraan "Apa ada bagian yang terasa sakit?"
Jane menggeleng, dia menoleh menatap Ed kesal "Jangan mengalihkannya Ed. Jawab saja pertanyaan ku!!" teriak Jane.
Jane membuang muka "tolong kabulkan Satu permintaanku itu"
Ed menyentuh wajah Jane dengan kedua tangannya "kau ingin tau alasannya. Aku mencintai mu, sangat. Dari dulu, dan sampai detik ini" jelas Ed dengan cepat, bahkan dia sampai terengah, didalam nya berisi emosi yang menyelimuti nya.
Jane menatap mata Ed yang tampak tulus dia juga terkejut mendengar jawaban Ed, tapi hal itu tak membuat nya senang. Dia merasa hampa dan kosong. Mungkin jika dulu, saat dia bertanya alasan Ed memperlakukannya dengan baik, dan mengatakan bahwa dia mencintainya mungkin saat itu dia akan percaya.
Jane menepis tangan Ed. Dia menatap kearah lain "Itu tak membuat ku tersentuh sama sekali. Jika memang benar harusnya dari dulu kau mengatakannya. Dan kalimatmu tak mengubah apapun!" tegas Jane.
Pintu terbuka, Bibi Yuni baru saja masuk dengan membawa bingkisan berisi makanan lembut untuk nyonyanya. Tapi, Bibi Yuni merasa dia masuk di waktu yang salah.
"Ah, aku akan meninggalkan ini tuan dan kalian bisa kembali melanjutkannya!" Bibi Yuni hendak pergi.
__ADS_1
"Tunggu Bibi. Tolong temani aku" pinta Jane.
Kebetulan telepon Ed bergetar, saat tertera OU di layar Ed bergegas mengangkatnya. Dia menatap Jane lekat-lekat kemudian pergi keluar tanpa mengucap sepatah kata.
"Nyonya saya membawa sup dan ada pula bubur. Buah pisang, juga apel" Bibi Yuni sibuk mengeluarkan bawaannya.
Tapi, air mata nyonyanya menetes dia tertunduk dengan isakan tangis yang terdengar memilukan. Nyonyanya menyeka air matanya yang tak bisa dia kontrol dan menetes begitu saja.
"Ah, abaikan yang baru saja kau lihat Bibi" ucap Jane dia tersenyum dengan manis.
Bibi Yuni mendekat, dia menarik Jane dalam pelukannya "Maaf jika saya lancang. Anda bisa menangis lagi, sampai benar-benar merasa lega"
Jane kembali terisak dalam diam, dia memeluk Bibi Yuni erat "Bibi aku kehilangan anak ku. Dia-, dia pergi karena kecerobohanku!!"
Bibi Yuni mengerti permasalahan yang terjadi. Pukulan keras bagi seorang wanita yang akan menjadi Ibu. Hal yang membahagiakan perlahan terenggut dan menjadi kesedihan yang menyakitkan.
Bibi Yuni mengelus punggung Jane "Saya tak bisa mengatakan agar anda tenang. Karena dalam kasus ini pasti anda sangat terguncang. Tapi rencana yang diatas Saya yakin akan ada kebahagian setelahnya" jelas Bibi Yuni. Dia bagai seorang Ibu yang memeluk putrinya yang sedang kacau.
Ed selesai berbincang dengan seseorang dia kembali masuk. Dan lagi-lagi dia melihat Jane menangis, itu membuat Ed terlihat kian marah atas segala yang terjadi dengan istrinya.
Menyadari Ed kembali masuk Jane melepas pelukannya pada Bibi. Jane menyeka air matanya, wajahnya menjadi datar. Dia terlihat muak atas segala yang terjadi pada nya.
"Aku sedikit memiliki urusan. Bibi tolong jaga Jane, aku akan segera menyelesaikan urusan ku" katanya sembari menatap Jane.
Jane bahkan membuang muka, tak berniat menatap Ed.
Ed lantas pergi, setidaknya dia sudah memberi tahu Jane bahwa dia memiliki urusan lain.
__ADS_1