Oh, Love?

Oh, Love?
Bella..


__ADS_3

Ed yang melihat pipi Jane memerah, wajahnya marah dan dengan cepat menarik pria itu keluar dari rumahnya.


"Beraninya tangan mu menyentuh istriku!!" Ed langsung melempar pria itu dengan kasar ke luar.


"tunggu! aku paman dari Jane" ucapnya buru-buru memberitahu.


"Paman atau apapun itu jika kau sudah berani menyentuhnya kasar. Kau sama saja mencari masalah dengan ku!!" Ed menatap tajam pria yang katanya paman Jane, kemudian mencengkeram kuat tangannya "Tangan ini berani sekali menyentuh pipi istriku!!" tegas Ed dengan lantang.


Paman Surya meringis kesakitan. Ed tak main-main dia benar-benar meremas tangan paman Surya tanpa ampun. Paman Surya berusaha melepaskan cengkeraman kuat itu, tapi dia bahkan tak berhasil melonggarkan secuil dari genggaman kuat Ed.


"Aku, hanya ingin meminjam uang. Kita sekarang keluarga. Kau-, kau tahu keluarga tak bersikap kasar seperti ini" ucap paman Surya tergesa-gesa dia tampak kesakitan.


Ed mengernyit kesal, dia mengeratkan giginya "Kau tak bercermin. Tindakan mu yang kasar itu!!" tekan Ed.


Paman Surya tertawa cengengesan "Tidak. Itu bentuk sapaan ku pada ponakan tersayang" elak paman Surya.


Duak!!


Pukulan tepat melayang di wajah paman Surya. Ed menyeringai, penuh ledekan "Itu juga disebut sapaan" Ed menaikan satu alisnya. Sembari setelahnya membenahi kancing baju lengannya.


Paman Surya kesakitan. Dia kesal juga marah, tangannya sibuk mengusap wajahnya yang baru saja di tonjok dan mengeluarkan darah. Tapi dia harus terlihat ramah di depan pria ini karena dia butuh uangnya untuk foya-foya. Jika Jane tidak bisa memberikannya maka dia harus terlihat bagus di depan Ed.


Paman Surya mengangguk-angguk "Kau benar. Itu sapaan" katanya.


Senyum Ed dengan cepat berubah datar "Ck, kau lucu juga" katanya terheran.


"Aku tau kau pasti sangat menyayangi istrimu. Keponakanku memang cantik dan ya biasanya Ibunya memberikanku sejumlah uang. Tapi karena ibunya meninggal jadi, itu beralih padamu. Kau mengerti maksudku-"

__ADS_1


Ed mendekap mulut paman Surya dengan kuat, dia berbicara berbisik dengan penuh tekanan "Kau sungguh berani. Apa kau berpikir aku orang yang lembut. Satu nyawa seperti dirimu sama sekali tak berharga"


Lengang!! angin bertiup di sela-sela kesunyian menambah kesan serius. Barulah Paman Surya sadar, pria ini bukan orang sembarangan. Tatapan penuh kemarahan dan tidak segan pada lawan yang menganggu nya.


Paman Surya menelan ludah, ketakutan menyeruak terlebih saat tangan Ed mencengkeram lehernya.


Tapi paman Surya berusaha tampak biasa saja, tentunya ini agar dia mendapat apa yang dia inginkan "Mm, ayolah kau menantuku juga. Jane juga sudah ku anggap sebagai anak ku. Hanya beberapa tidak mungkin kau tak mampu memberikannya padaku"


"Leher tersayat, atau tembakan? Kau bisa memilih" Ed tersenyum manis, dia mengabaikan kalimat yang di lontarkan paman Jane.


Paman Surya berdiri kaku, dia menyentuh tangan Ed yang masih mencengkeram lehernya kuat "Tidak, tidak mungkin kau melakukan tindakan jahat itu pada paman istrimu-"


"Aku hanya perlu tak memperlihatkan nya. Aku pandai menyembunyikan mayat. Apalagi orang tua seperti mu!!" sorot mata Ed yang tajam benar-benar menakutkan.


Itu berhasil membuat paman Surya kian bergidik. Dia buru-buru melepaskan dirinya dan berlari terbirit-birit dari kediaman keponakannya.


Ed menatap punggung paman Surya dengan tajam. Dengan begitu Ed yakin dia tak akan menganggu Jane lagi. Maka, dia memilih membiarkannya. Tapi, jika dia lagi-lagi berani mengancam dan menganggu Jane saat itu Ed tidak akan menimbang-nimbang, sekalipun dia berkata keluarga Jane.


"Apa ini sakit?" tanya Ed menyentuh lembut pipi Jane.


Jane menggeleng "tidak lebih sakit dari orang yang berkata keluarga tapi tak bersikap layaknya keluarga"


"Huh, kau benar" Ed menatap istrinya yang tampak murung. Meski Jane terlihat baik-baik saja tapi tidak dengan hatinya.


"Yah, untuk sekarang paman mu yang sialan itu tak akan berani macam-macam" ucap lugas Ed


Jane tahu bahwa Ed pasti mengancam pamannya. Jika tidak mana mungkin pria seenaknya seperti pamannya pergi lebih dulu sebelum mendapatkan hal yang dia inginkan.

__ADS_1


"Ed!!" pekik seseorang dengan nada nyaring, nyaris membuat gendang telinga pecah.


Di dekat pintu terdapat seorang wanita dengan rok mini juga atasan terbuka, sangat seksi berdiri sembari membawa kopernya yang cukup besar. Senyum manis terukur dari bibirnya. Dia bahkan mengabaikan kopernya dan berlarian mendekati Ed.


"Oh, apa kabar. Kau bahkan tak pernah membalas pesanku saat kau kembali dari Bali kemarin. Aku khusus datang kemari untuk menemui mu lagi" ucapnya panjang dan menggebu-gebu, dia juga dengan berani menarik lengan Ed kedalam pelukannya.


"Apa ini. Kau tak sopan" ucap Ed ketus sembari melepas pelukan tangan wanita itu.


"Huh, apa-apaan sikap kasar itu. Harusnya kau senang aku datang mengunjungi mu. Nah, nah aku akan menginap disini. Bolehkan?" ucapnya dengan enteng.


Jane terheran dengan situasi di hadapannya. Lalu dia juga bertanya-tanya siapa wanita yang ramah dan dengan berani menyentuh Ed seperti itu?. Dia kesal dan benci kedekatan Ed dengan wanita lain.


"Sejak kapan aku membolehkan wanita lain menginap di rumah ku? Pergilah!" Ed menatap marah wanita itu, dia juga memperlihatkan sikap dinginnya.


"Aku sangat suka sikap dingin yang sulit ditaklukan ini" ucap wanita itu kian semangat.


Jane rasanya ingin muntah saat mendengar kalimat menggelikan wanita itu. Terlebih terhadap suami orang.


Ed menatap Jane yang tampak tenang, meski sebenarnya hati Jane tengah kacau.


"Jangan pedulikan dia" ucap Ed.


"Eh, apa ini Jane istrimu?" kata wanita itu dengan nada yang pura-pura terkejut. Lalu dia memiringkan wajahnya menatap Jane lekat-lekat sembari tersenyum.


"Halo, aku Bella teman Ed" ucapnya sembari mengulurkan tangannya pada Jane.


Mendengar nama itu. Jane sangat terkejut. Dia mengamati wanita itu lekat-lekat. Tubuhnya seperti gitar spanyol benar-benar montok. Di tambah baju seksi yang dia kenakan, dia benar-benar hot. Jane menjadi ragu sungguh kah Ed tak tertarik dengan wanita semacam ini? Pria mana yang akan menolak wanita semacam Bella yang dengan senang hati memberikannya dan terus menerus menggoda Ed. Jane ragu, tapi pada akhirnya dia menyambut uluran tangan wanita itu "Jane" jawabnya.

__ADS_1


"Oh, kau istrinya Ed ya?" ucapnya "Biasa saja, tidak cantik" gumamnya yang sangat terdengar jelas.


"Ck, kau saja biasa saja untuk wajah. Kau hanya bagus di bodi" benak Jane yang kesal dengan gumamam Bella yang terdengar jelas mengatakan bahwa dirinya ini biasa saja dan tak menarik.


__ADS_2