
Esoknya mertuanya harus kembali ke kota Bali, benar mereka disini untuk menyelesaikan urusan yang ditimbulkan oleh putranya. Putranya yang awalnya mengurusi bisnis baru penginapan disini malah berakhir membawa menantu untuk mereka. Sebenarnya mereka senang putranya yang sama sekali tak pernah membawa wanita ataupun berkencan tiba-tiba menikahi wanita. Hanya saja mereka menyesali tindakan putranya yang tak mencerminkan kesopanan membawa paksa wanita dengan cara yang sedikit berbeda dari pasangan bahagia umumnya. Tapi mereka tetap berharap pernikahan anak nya dengan wanita nya tetap harmonis.
Sebelum pergi Ibu mertua Jane berkata "Jane kuharap kau akan betah disini bersama suamimu. Jika seandainya suamimu itu jarang pulang, melakukan hal aneh, atau apapun yang menyakitimu, kau boleh memarahinya dan jangan ragu memberitahu ku. Jika dia tak mendengar mu biarkan aku yang menamparnya!!"
Jane tersenyum mendengar kekhawatiran Ibu mertua yang di tunjukan padanya, dia menjawab "tentu saja Ibu"
"Ibu aku tak akan melakukan itu" ucap Ed membela diri.
"Pernikahan diawal kadang terlihat manis tapi jika cukup lama akan mulai terasa berbeda. Aku akan melihat kesungguhan ucapanmu itu" tekan Ibu nya.
"Aku tahu tapi tidak bijak rasanya hanya karena waktu dan perasaan hambar harus meninggalkan satu sama lain. Semuanya bisa di perbaiki jika keduanya berkenan, bukankah begitu?!" Ed berucap sembari melirik Jane yang tak memberi responnya.
"Sekarang kau berkata seperti itu, karena belum melewati fase-fase terberat pernikahan. Tapi Ibu tetap berharap kalian mampu dalam suka maupun duka, ku harap kalian memilih menyelesaikannya bersama" dia memeluk menantunya dengan rasa sedih karena harus berpisah.
Setelah nya dia menatap putranya, memberikannya pelukan hangat "Baiklah Aku percaya, jadi ku harap kalian selalu baik-baik"
"Aku memiliki harapan yang sama seperti Ibu kalian" ucap Ayah mertua dengan nada wibawanya.
Jika Jane tak mengenal lebih Ayah mertuanya mungkin dia akan merasa aneh dengan kalimat itu, hanya saja memang Ayah mertuanya cukup kaku dan tegas. Nyatanya dia pria yang cukup manja dihadapan istrinya.
__ADS_1
Ibu mertua Jane sebenarnya engan meninggalkan mereka, terlebih Jane baru kehilangan Ibu nya. Tapi urusan lain tengah menunggu di sana dengan berat hati dia akhirnya meninggalkan menantu dan putranya itu.
.........
Sekarang baru terasa sepi, setelah Ayah dan Ibu mertuanya pergi. Selama ada mereka disini dia bahkan tak berkesempatan memikirkan kesedihan atas berpulangnya Ibunya. Jane tersenyum dengan cepat tak ingin meratapi kesedihan seperti orang-orang disini yang mengharapkan kebahagiaannya.
Jane tengah menonton televisi di ruang tamu, Ed menghampirinya. Tapi Jane tak mengerti untuk apa dia mendatanginya jika dia hanya berdiam diri atau dia hanya berniat untuk ikut menonton?.
Ed menyadari Jane yang terus mencuri pandang kearahnya, dia mulai memecah keheningan menjawab pertanyaan yang ada di benak Jane "Ibu bercerita kemarin kau berbincang dengan para tetangga dan mereka cukup menyingung mu"
Jane menjadi kesal saat Ed menyingung masalah kemarin "Ya, mereka cukup membuat ku marah. Dia berkata banyak hal, memujimu berlebih, kau tampan, dan apalah itu. Mereka juga ingin mengenalkan mu pada putri-putri cantik mereka, oh kau pasti senang sekarang!" ucap Jane sedikit sewot.
Tapi bahkan tak ada tanggapan, kemudian dia sadar dia seperti wanita yang tengah cemburu disini.
"Jangan berpikir macam-macam Aku tak cemburu atau apapun itu Aku hanya mempertahankan Milik ku yang memang harus ku lakukan saat ini" tegas Jane berusaha agar Ed tak berpikiran bahwa dia memiliki rasa semacam itu.
Tapi Ed tampak cukup marah, tawanya memudar, dengan menggenggam tangan Jane sedikit kuat. Wajahnya sangat dekat dengan Jane, dia menatapnya lekat-lekat "saat ini apa maksudmu? kau berniat meninggalkan ku!!"
Dering ponsel Ed berdering membuat perhatiannya teralih, dia menghela napas melepaskan tangan Jane dan memberikannya tatapan bagai ingin mengatakan bahwa 'urusan kita belum selesai'. Jane tampak acuh tak acuh dan dia kembali menikmati tontonan nya.
__ADS_1
Jane berada di kondisi yang cukup ramai. Televisi menyala dengan bisingnya dan Ed yang berada diluar dengan teleponnya. Yang bahkan tak membuat Jane penasaran siapa orang yang menelepon suaminya. Seorang perempuan atau pria, yang pasti di tengah-tengah itu semua, Jane merasa hampa dan kosong.
Sepertinya Ed memiliki urusan yang sangat penting sampai-sampai menelepon cukup lama.
Setelahnya Ed kembali, lalu dia duduk di dekat Jane "ku pikir aku harus pergi sekarang. Ada hal yang perlu ku urus" ucapnya.
"Aku mengerti" kata Jane "Mm, jika aku mengundang sahabatku kemari apa kau akan merasa keberatan?"
"Tidak. Tentu kau boleh membawa teman-temanmu kemari selama itu wanita" ujarnya.
"Ya, Viola memang wanita" Jane sedikit bingung kenapa Ed menyinggung masalah gender. Jelas sahabatnya itu perempuan.
"Ah, hanya Viola tentu boleh. Bersenang-senang lah bersamanya" setelah mengatakan itu Ed bergegas keluar, rasanya urusan kerjanya kali ini sangat mendesak.
Sejauh ini Jane sudah merasa cukup membaik dan sekarang saatnya dia menjelaskan pada sahabatnya mengenai dirinya yang menghilang selama ini. Jane berusaha menenangkan diri, jantungnya berdetak cukup kuat. Dia mengirim pesan pada sahabatnya itu "Viola datanglah kemari, aku ingin menceritakan segalanya padamu. Terimakasih sudah menunggu, aku menghargai dirimu yang peduli padaku." Sembari Jane mengirimkan lokasi kediamannya.
Jane tiba-tiba saja hendak menangis, dia tak tahu seperti apa respon sahabatnya itu. Dan ketakutan-ketakutan yang dulu sempat tenang sekarang kembali menghantuinya. Sepanjang menunggu balasan Sahabatnya dia amat gelisah.
Beberapa menit, kemudian dia mendapat balasan "Aku kesana. Bolehkan jika aku membawa seorang teman?!"
__ADS_1
Jane tidak bisa, jika Sahabatnya membawa orang lain. Baik itu teman sekelasnya atau mungkin teman lainnya. Dia tak akan bisa menceritakan apapun, dia belum siap ceritanya diketahui khalayak. Terutama orang-orang yang mengenalnya. Lalu Jane kembali mengirim pesan agar sahabatnya itu datang sendirian karena masalahnya bukan untuk didengarkan banyak orang yang nantinya akan merembet kemana-mana. Dengan sangat memohon pengertian sahabat nya itu, Jane berharap dia mengerti akan kondisinya. Beruntung Sahabatnya mengiyakan bahwa dia akan datang sendiri, jika bena-benar masalah itu tidak boleh didengar telinga orang lain.
Sepanjang menunggu sahabatnya datang, Jane mondar-mandir sembari mengintip dari jendela dekat pintu. Dia resah, kacau, semua emosinya menyatu. Tubuhnya juga memanas dengan kegelisahan yang tak bisa dijelaskan, bahkan kepalanya mulai berdenyut. Dia akan memulai dari mana, dari malam itu saat mereka berpisah di kampus atau langsung saja intinya. Oh, Jane benar-benar panik dan terus menerus bergulat dengan pikirannya sepanjang menunggu.