
Bella dengan hati-hati duduk disebelah Ed. Tampak Ed yang masih termenung dengan pikirannya.
"Ed--"
Sebelum sempat Bella melayangkan kalimat nya. Lily langsung menggeser Bella dengan dia yang duduk di tengah-tengah mereka.
"Kau apa-apaan!!" tekan Bella marah.
"geser" kata Lily.
Bella menatap Lily sinis "Bisakah kau masuk saja dan temani Jane!!"
"Ye, suka-suka" jawab Lily.
"Kau suka mengacau ku rupanya!!" bisik Bella penuh penekanan.
"Ye, yang ada kau suka mengacau rumah tangga orang" balas Lily.
Bella melotot dan Lily pula membalas menatap Bella tajam, dia benar-benar ingin menantang wanita di depannya ini. Dia memang sedari awal membenci wanita ini.
Ed berdecak, dia menatap kearah Bella dan Lily tajam mereka sangat berisik membuat kepala Ed terasa hendak pecah "Menyingkir dariku!!" Ed lantas berdiri sembari menatap kearah pintu dengan ragu. Dia berniat masuk kedalam tapi dia urungkan.
Bella hendak mendekati Ed lagi. Tapi Lily menahannya kuat "Kau tak tahu apa kau buta. Ed pandangan hanya untuk Jane begitu pula cintanya. Kau tak memiliki tempat. Jika memiliki otak sebaiknya digunakan dengan bijak!!"
Bella acuh tak acuh dengan kalimat Lily "Berisik. Aku tak peduli, hati manusia cepat berubah. Lepaskan aku sebelum aku mencakar mu"
"Oh, kau--"
Bella dan Lily sibuk beradu argumen bahkan mereka mulai saling menjambak.
Di tengah kekhawatiran Ed, dua orang sibuk bertingkah dengan kebisingan yang mengusik. Ed menjadi geram, dia meminta satpam yang lewat untuk membawa keduanya.
"Mereka orang gila, bawa saja" suruh Ed.
"Eh, siapa yang gila. Aku?" Bella tampak kebingungan, sembari menunjuk dirinya.
"memang siapa lagi disini?!" jawab dingin Ed "Berisik dan hanya menganggu" tekannya dengan sorot tajam.
__ADS_1
Bella terkejut, meski Ed selalu terang-terangan menolaknya dengan dingin. Tapi dia tak pernah menunjukan tatapan mengerikan semacam itu.
Lily tertawa puas, kepercayaan diri Bella yang dipatahkan oleh Ed.
"Aku bersikap cukup baik padamu karena kau wanita. Jangan membuatku memperlihatkan kekasaran ku. Ku harap kau paham dan berhenti menganggu ku, dengan terus menempel!!" tegas Ed.
"Ikut dengan tenang nona-nona" ucap satpam itu.
"Aku juga?" Lily menunjuk dirinya terkejut, kemudian cerocos panjang keluar dari mulutnya "Aku bukan. Dia saja, mana ada aku seperti orang gila. Aku orang normal memiliki nalar yang bekerja dengan baik. Tak seperti dia" Lily dengan cepat membenahi rambutnya yang berantakan.
Kemudian Lily melanjutkan "Kak Ed, aku hanya membantu kakak agar tak diganggu wanita jadi-jadian ini" kata Lily membela diri.
"Apa kau bilang, beraninya mengatai ku!!" teriak Bella marah.
"Lihat pak satpam dia orang gilanya. Tolong bawa dia" suruh Lily.
"Mana boleh. Apa kau pernah melihat wanita cantik seperti ku seperti orang gila?" nada nya kian meninggi. Bella tak Terima dianggap sebagai orang gila.
Satpam itu mengangguk "kau terlihat demikian" jawabnya.
Ed kemudian meminta agar satpam itu cepat bertindak. Kebisingan yang dibuat Bella kian menjadi-jadi.
Pada akhirnya satpam hanya membawa Bella. Bella memberontak sampai-sampai satpam menyangka dia memang orang gila yang nyasar dan selama dia dibawa dia sibuk meneriaki nama Ed yang bahkan Ed tak menggubrisnya.
Setelah Bella pergi, suasana menjadi tenang. Tak ada lagi gangguan tak jelas darinya.
Lalu Ed melirik Lily "Jika kau berisik lagi!!" tekan Ed.
Lily menggeleng "tidak akan" jawabnya cepat sembari memberikan jempolnya, sebagai bentuk perjanjiannya.
Lily yang melihat Ed tampak resah dan hanya berdiri di depan pintu, dia mulai berbicara dengan nada yang mengomeli "kenapa tak masuk saja, dari pada resah seperti ini. Lagipula Jane pastinya akan senang jika melihatmu. Biasanya juga kau selalu menenangkannya lebih dulu, kenapa sekarang kau seakan takut?!"
"Apa kau menikahinya hanya untuk anak. Jika seperti itu aku akan ikut membencimu kak" Lily berbicara serius.
Ed hanya diam, dia bahkan tak tertarik untuk menjelaskan apapun.
"Baiklah, baiklah silahkan sibukkan diri dengan pikiran dan ketakutan mu. Yang jelas jika benar kau menikahinya hanya untuk anak, dan setelah kejadian semacam ini kau meninggalkannya. Lihat saja!!" Lily menatap Ed yang juga menatapnya tajam. Sebenarnya Lily ketakutan, dia buru-buru ngacir masuk kedalam dan menghindari Ed. Ya, dia spontan mengatakan itu karena hanya ingin membantu Jane yang sudah dianggap temannya.
__ADS_1
.........
Jane tampak kebingungan. Disini dia dengan rok putih berdiri ditengah lapang rumput yang luas. Semilir angin menerpanya membuat rambut tak beraturan. Di kejauhan dia melihat dua orang yang tengah berjalan sembari mengendong seorang bayi. Hanya saja bayinya tak terlihat jelas karena terselimuti oleh kain yang terlihat terang, tampaknya kain itu selembut sutra.
Jane lantas mengejarnya "tunggu, tunggu sebentar--" pinta Jane. Dia hanya berniat bertanya, tempat apa ini dan bisakah dia pergi dari tempat aneh ini.
Dua orang itu berhenti dan menoleh. Jane mematung saat melihat jelas wajah mereka. Itu Ayah dan Ibunya, menatap kearahnya sembari memberikan senyuman cerah.
Kemudian mereka kian menjauh dan tak bisa Jane jangkau. Jane memanggil mereka, tapi mereka bagai tak mendengar teriakan kencangnya. Perlahan tempat itu tampak menyusut dan Jane terperosok kebawah.
.........
Jane mendesis dengan air mata yang menetes disela-sela pelupuk matanya. Viola yang melihat Jane mulai tersadar merasa lega. Juga Lily yang baru saja masuk antusias saat melihat Jane mulai tersadar.
Jane tampak terkejut saat melihat Viola dan Lily disini. Ah, dia baru ingat dia sempat terjatuh dari lantai atas akibat seseorang yang mendorongnya. Jane mengusap air matanya yang sempat menetes disela-sela matanya.
"syukurlah" Viola menghela napas "Kau merasa sakit di bagian mana, katakan aku akan memanggil dokter"
"Benar! Kau butuh sesuatu?" timpal Lily.
Jane menggeleng "Aku baik-baik saja, hanya sedikit terasa nyeri di bagian kepala juga lengan" jawabnya.
Jane tampak tenggelam dalam lamunan. Dia masih mengingat jelas mimpi itu. Sekian lama dia tak pernah melihat Ayahnya, baru sekarang dia melihat Ayahnya yang bersanding dengan Ibunya tampak baik-baik saja, dan lebih bahagia. Jane kemudian tersenyum kecil, melihat keluarganya yang berkumpul di sana.
Jane tersentak "Lantas bayi itu?" benaknya bertanya-tanya. Jane mengelus perutnya, dia merasa ada yang berbeda.
Jane mendongak menatap Viola dan Lily dia berpikir mungkin mereka mengetahui sesuatu.
Viola dan Lily membuang muka, sedetik kemudian mereka menunduk dengan pilu.
"Baiklah dengan sikap itu aku tak mengerti. Apa dokter mengatakan sesuatu tentang anakku?" tanya Jane matanya mulai berkaca-kaca.
Viola menatap Jane, dia mengangguk. Lalu dia berbicara dengan hati-hati "tidak apa-apa Jane mungkin memang dia belum saatnya terlahir di dunia ini"
Jane membelalak, mematung saat mendengar nya, kemudian dia tertunduk. Kedua tangannya mengepal kuat selimut, dengan air mata menetes deras "Bahkan dia juga meninggalkan ku. Maafkan mama" benak Jane terisak dalam diam.
Lily dan Viola tak bisa menahan air matanya, mereka ikut menangis. Melihat Jane terpukul seperti ini, mereka hanya bisa memberikan pelukan pada Jane.
__ADS_1