Oh, Love?

Oh, Love?
Tamu


__ADS_3

Kemudian di tengah keheningan bel berdering, menandakan kedatangan tamu. Ed dengan cepat bangkit dari duduknya, dia keluar lebih dulu memeriksa siapa yang berkunjung di malam ini. Jane ingin menyelesaikan menyisir rambutnya setelah itu dia akan ikut memeriksa siapa tamu yang datang.


Jane baru ingat surat dari Yoga belum dia baca, posisinya berpindah tapi dengan stempel yang belum terbuka. Jane mengira Ed mungkin berniat membacanya.


Jane kemudian memasukan surat itu didalam laci membacanya nanti jika dia sudah selesai melihat tamu yang datang, dia juga butuh waktu tenang dan sendiri untuk memahami isi dari surat itu nantinya.


Saat Jane menuruni tangga, suara bising yang terdengar menggelegar tidak asing. Pembicaraan yang terasa hangat dan seru. Di Sana nyonya Amber dan nyonya Rose tengah antusias berbicara dengan Ed tanpa mereka sadari suara mereka yang ikut melengking dengan tawanya. Lalu di sana ada dua orang wanita yang duduk di tengah-tengah mereka, wajahnya asing tapi Jane bisa menebak mereka putri dari nyonya-nyonya itu.


Ketika Jane bergabung dengan mereka antusias nyonya-nyonya itu mendadak berkurang dengan suara yang lebih pelan.


"oh!" seru Jane, dia duduk disebelah Ed kemudian melanjutkan "ada gerangan apa nyonya-nyonya sampai datang kemari dimalam ini! mungkinkah ada hal mendesak?!" Jane menatap nyonya-nyonya itu dan sesekali menatap dua wanita yang tampak lebih tua darinya. Entahlah Jane merasa terusik dengan kedatangan mereka. Jane tidak ingin berpikiran buruk dengan prasangka-prasangka, namun pembicaraan mereka beberapa hari lalu membuatnya yakin dia memiliki niatan terselubung.


Nyonya-nyonya itu tertawa mengalihkan kecurigaan Jane. Nyonya Amber berkata "Bukankah wajar kita sebagai tamu saling berkunjung"


Jane tersenyum "Tepat sekali. Maksudku tidak mungkin kalian hanya berkunjung saja setidaknya kalian kemari membawa informasi atau hal lain yang ingin dikenalkan kepada kami?!" Jane menatap kedua wanita yang masih terdiam.


Nyonya Amber mengerti kemudian dia mengenalkan dua wanita itu. Wanita berambut pirang sebahu Ines Pricilia Amber adalah putri dari nyonya Amber, dia mirip sekali dengan Ibunya. Dia berisi namun dia tampak biasa dan tidak terlalu menarik. Kemudian Leona De Rose putri dari nyonya Rose dia jauh terlihat lebih menarik dibandingkan Ines matanya terlihat tajam.


Lalu kedua wanita itu tersenyum kearah Jane.

__ADS_1


"Ibu banyak menceritakan tentangmu. Salam kenal aku senang akhirnya bertemu denganmu sesuai dengan yang ibuku katakan kau memang cantik" kata Leona, rasanya dia ingin lebih akrab dengan Jane dari nada bicaranya.


"Aku tersanjung" kata Jane, dia melanjutkan "kau pun menarik"


"Ah, mungkin kita bisa lebih akrab" ajak Leona.


Jane menyimpulkan selain Leona cukup menarik dia juga mudah akrab dan pandai mencari topik agar pembicaraan tak terasa kosong. Berbeda dengan Ines yang lebih banyak diam sesekali menanggapi dengan anggukan atau gelengan saja.


Jane juga menyadari Leona perhatiannya tertuju padanya tapi tidak dengan Ines yang memandang Ed dengan tatapan tertarik. Ines bahkan tak tertarik berbincang lebih jauh bersama mereka.


Jane sibuk berbincang dengan dua wanita ini dan Ed sibuk menanggapi beribu pertanyaan yang dilontarkan nyonya-nyonya itu. Mereka tampaknya benar-benar tertarik dengan Ed, pertanyaan mereka sedikit di luar batas privasi. Pekerjaanmu apa? berapa aset yang kau miliki? apakah masih memiliki rumah lain selain ini? lalu apakah Ed berniat setidaknya menambah satu lagi istri-.


Leona yang mendengar pertanyaan itu terkejut dia menyentil ibunya dengan marah "Maafkan Ibu saya. Karena sudah tua dia menjadi melantur, bicaranya sembarang dan seenak jidat" Leona tampak tak enak hati dengan pertanyaan ibunya yang menurutnya juga tan pantas ditanyakan karena itu akan menyinggung pihak terkait.


"Kau kenapa sih? mereka saja tampak biasa saja" jawab Ibunya yang kesal dengan putrinya.


"Sebenarnya" kata Ed membuat semua pandangan tertuju padanya. Jane menjadi penasaran dengan jawaban apa yang akan Ed berikan mengenai poin terakhir.


Ed melanjutkan "aku tak mengerti maksud kedatangan kalian dengan pertanyaan yang menurut ku tak pantas kalian utarakan. Lagipula istriku yang cantik ini tak ada yang menandinginya dari segi apapun" Ed menarik Jane di dekatnya, mempertegas pada orang-orang untuk tak menanyakan hal yang tak berguna yang malah memperlihatkan betapa mereka bodoh dan tak memiliki nalar yang bijak.

__ADS_1


Jane cukup terkejut dengan pujian yang baru dia dengar dari suaminya.


Suasana menjadi hening.


Berbeda dari mereka Jane merasa Leona jauh lebih memiliki rasa malu yang tinggi. Dia banyak menunduk dengan rasa bersalah dan tak enak terlebih dengan Jane.


Kemudian nyonya-nyonya itu tertawa mengalihkan pembicaraan dan mereka sama sekali tak malu atau merasa bersalah dengan pertanyaan itu dan karena merekalah penyebab dari suasana menjadi tak bersahabat.


"Sungguh? atau hanya kalian baru menikah perasaan hangat dan cinta menggebu masih besar didalamnya. Ku beritahu itu hanya perasan diawal lambat laut pasti memiliki kebosanan" Kata Ines yang tiba-tiba berbicara


Setelah diam dengan keheningan nya.


Ines berbicara seperti orang yang berpengalaman padahal dia wanita yang belum pernah menikah tapi bicaranya tajam sekali.


"Kebosanan, hilang rasa, egois, dan hal semacam itu tentu saja akan dialami setiap pasangan terlebih jika sudah menikah. Tapi bukankah itu kembali lagi pada komitmen mereka bagaimana menjalani hari lebih baik tanpa memasukan embel-embel rasa bosan dengan mencari orang lain" Leona menambahkan dia tak setuju dengan Ines.


Kemudian disini merekalah tampak bersitegang. Jane lebih merasa bingung dengan situasi aneh dan bagaimana bisa dia memiliki tetangga seperti mereka.


Lalu Ed mempertegas agar tak ada yang menyinggung hal semacam itu. Dengan tatapan tajam Ed menjelaskan segalanya dia tak menyukai mereka, berhasil membuat orang-orang terdiam. Dengan begitu malam aneh dengan pembicaraan yang lebih aneh berlalu dengan kemarahan di hati nyonya-nyonya.

__ADS_1


Lalu Leona seperti yang Jane duga dia seorang diri sebelum pergi meminta maaf dengan sungguh-sungguh atas kelakuan mereka semua yang menyinggung. Dia juga bercerita ibunya mengajak nya kemari karena hanya ingin menyapa tetangga baru. Dia tak menyangka mulut pedas ibunya sulit terkontrol. Leona juga mengatakan agar tak usah terlalu dekat-dekat dengan orang-orang itu sekalipun itu ibu dan juga tetangga akrabnya. Karena menurut Leona orang-orang itu selalu membuat banyak orang atau hubungan orang menjadi renggang dengan kalimat-kalimat pertanyaan yang membuat tak nyaman. Lalu mulut-mulut orang seperti itu jika didengarkan akan rawan membuat perpecahan antar keluarga baru yang baru menikah karena mereka memang berniat begitu, orang-orang itu sangat menikmati kehancuran rumah tangga orang lain. Jadi Leona memperingati Jane agar tak termakan omongan mereka dan tetap mempercayai satu sama lain sebagai pasangan.


__ADS_2