
"Kau senang melalui hari bersamanya!" Ed tersenyum sinis, jemarinya menyibak rambutnya, "Di tengah hujan berdua? situasi yang cukup romantis. Aku kasihan pada buah hatiku ku pikir dia pasti kedinginan!" Ed mengelus perut Jane, sedetik kemudian dia mendongak menatap Jane yang masih berdiri di depannya menatapnya dengan tajam "Jadi kau kembali padanya si pria yang memiliki perasaan padamu, Andre si pria tipe idealmu?!"
"Kau berpikir begitu?" tanyanya, "awalnya ku kira kau akan lebih santai menanyakan nya" ucap Jane yang heran dengan Ed yang tampak emosional.
Bahkan Jane bisa mendengar gertakan gigi Ed yang mengeras, dia begitu keras menahan emosinya. Tapi disisi lain Jane juga marah pada Ed mengingat kabar yang dia dengar dari Leona, bahwa di sana Ed bersama wanita lain. Kenapa hanya dia saja yang marah, dia juga bisa.
"Harusnya Aku tidak mengabaikan masalah tentang ini begitu saja. Hanya karena melihat dirimu yang tampak lemah aku memberi mu pemakluman, dan kau menemuinya lagi!" nada Ed mulai meninggi tapi tak ada respon dari Jane, dia hanya menatap Ed dengan datar.
"Beri aku jawaban!!" tekannya, tangannya menyentuh kedua lengan Jane tapi tetap tak berniat mencengkeramnya.
"Bisakah kau lebih tenang. Apa karena baru bertemu dengan seorang wanita di sana kau menjadi lebih galak disini" ucap Jane tanpa menunjukan ekspresinya, sungguh dia lelah harus melalui banyak hal hari ini. Lalu dia yang tadinya cukup senang melihat kedatangan Ed menjadi kesal dengan segudang ke salah paham pria itu, lalu dia juga kesal mengingat bahwa Ed juga menemui wanita di sana. Jane merasa malas melanjutkan, rasanya tak ingin tahu, dia juga tak ingin menjelaskan lebih lanjut mengenai pembicaraannya dengan kak Andre di sana. Jika Ed lebih dulu memberi tahu dirinya mengenai wanita itu dia juga akan menceritakan alasan dia bertemu dengan Andre di sana. Anggap saja itu seperti barter, namun lebih ke informasi.
Jane juga sangat yakin, bahwa Bibi Yuni lah yang memberi tahu semuanya pada Ed. Tanpa Ada hal yang ditutupi, sudah jelas bahwa Bibi Yuni memang ditugaskan dalam hal semacam ini. Pantas saja dia terkesan mengamati sekeliling dengan seksama termasuk perilakunya, ya Jane tidak perlu heran sebab keluarga ini Butler dia mungkin harus mulai terbiasa dengan banyak kondisi semacam ini.
"Apa maksudmu itu? wanita, apa-apaan kau menuduhku, kau berusaha mengalihkan masalah mu dan malah menyalahkan ku"
"Entah lah, pikirkan sendiri karena yang lebih tau dirimu" Jane berjalan menuju kasurnya karena pegangan Ed yang melonggar dia tidak perlu menggunakan tenaga agar Ed melepaskan nya. Jane merebahkan tubuhnya, di ujung kasur sembari menarik selimut.
__ADS_1
"aku belum selesai" kata Ed.
"Wanita, siapa dan--" Ed merasa bahwa dia tak melakukan hal semacam itu.
"aku lelah" jawab Jane.
"Kau sengaja mengalihkan pembicaraan kita. Agar kau melindungi pria mu!!"
"Bisakah kau berhenti!! karena aku membenci kepura-puraan!!" pekik Jane.
Ed terkekeh, "Kau lah yang penuh dengan kepura-puraan Jane. Kau berbicara tinggi seakan kau tidak bersalah"
Ed menoleh kearah Jane yang membelakanginya "Lalu Bagaimana dengan ku yang kau tuduh memiliki wanita lain huh!"
Suasana hening, Jane tak berniat berbalik untuk melihat ekspresi Ed atau memberi jawaban. Dia memilih menutup matanya dengan perasaan gusar. Lalu terdengar langkah kaki keluar, kemudian terdengar pintu yang ditutup kencang.
Jane mencengkeram kuat selimutnya, dia menghela napas pelan. Hatinya berdenyut sakit. Lalu karena lelah membuat Jane lebih cepat tertidur.
__ADS_1
Ed marah dan memilih menjauh mencoba mendinginkan kepala nya dan memikirkan kenapa Jane menyebut-nyebut dirinya menemui wanita lain. Lalu sikap Jane tetap tidak bisa Ed maafkan lagi. Sekali dia memakluminya namun tidak lagi untuk berikutnya. Tapi, sangat sulit karena di hadapan Jane dia kesulitan untuk memarahinya lebih.
Agar kepalanya tak terus berdenyut Ed menyibukkan diri dengan berkas-berkasnya bahkan Ed tak menganti jasnya yang dia kenakan dari Bali tadi. Namun, tetap saja dia tidak bisa emosinya tadi dan langsung meninggalkan Jane tanpa sepatah kata membuatnya tidak tenang.
Sekarang pukul tiga pagi, kekesalan menyelimuti diri Ed. Dia mengusap wajahnya kasar menyender pada kursinya dan menatap langit-langit ruangan kerjanya.
"Sial. Perasaan apa ini" kata Ed yang semakin tak mengerti dengan detak jantungnya dengan perasaan memanas yang menggebu.
"Jane, sungguh aku membenci jika kau memilih memainkan ku!" gumam Ed, dia sungguh resah.
Ed lalu beranjak dari duduknya. Dia masuk ke dalam kamar dan mendapati Jane tengah tertidur. Tapi tampaknya Jane tak tenang, Ed menghampiri nya dan saat dia menyentuh tangan Jane dia terkejut, suhu tubuh Jane sangat panas.
Amarah Ed berubah menjadi kepanikan, dia bergegas membasahi kain dengan air hangat lalu menempelkan kain tersebut di area dahi, kemudian leher dan dada. Sejujurnya Ed engan menempelkan kain hangat tersebut di bagian leher dan juga dada Jane, mengingat itu tindakan tanpa izin. Terlebih di bagian dada terpaksa Ed membuka piyama itu, lalu Ed memilih untuk menatap kearah lain sembari tangannya yang sibuk menempelkan kain itu.
Jane dengan kesadaran lemah, mendapati Ed di sana. Tubuh dan napasnya terasa hangat, kepalanya terasa sangat sakit. Melihat Ed dihadapannya dia pikir itu hanya khayalan mengingat tadi Ed keluar kamar dengan marah. Dia menarik lengan baju Ed, sembari menatap nya lekat "Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Andre. Hari ini sungguh perpisahan kami, Aku menolak nya karena tidak mencintainya, perasaan ku bukan untuknya--" lirih Jane, matanya sayup karena berusaha menahan hawa panas yang menyelimuti dirinya.
Jane duduk di kasurnya, meski tubuhnya rasanya lemah tapi hatinya yang mengganjal harus dia ungkapkan sekarang, dia menarik kerah suaminya dan mendekatkan wajahnya, dia berkata "Mengenai wanita, ya seseorang memberitahu ku kau menemui wanita di sana. Di ponselmu hari itu Aku membaca pesan masuk dan itu Bella mengirimkan pesan rindu padamu. Bagaimana Aku sebagai istrimu Ed tentu saja marah saat mengetahui pesan itu, terlebih esoknya kau pergi. Istri mana yang tak berpikir kau menemui dia di sana katakan pada ku Ed!"
__ADS_1
Jane memukul dada Ed pelan, setelah nya dia menyender "Aku membenci diriku yang tampak lemah dengan perasaan terlebih didepan pria. Aku selalu mandiri dan pura-pura tidak apa-apa, bahwa Aku kuat. Lalu sekarang tiba-tiba Aku merasa lemah dan gusar saat mengetahui mungkin saja hal yang menyenangkan akhir-akhir ini akan segera lenyap saat mengetahui fakta kau memiliki wanita lain" Jane mendongak menatap Ed, lalu tangannya menyentuh wajah suaminya lembut.
Ed yang tampak terkejut dengan mata yang membulat, dan wajahnya terlihat malu-malu. Sekarang Jane bertingkah begitu menggodanya. Terlebih mata sayup yang penuh dengan ekspresi yang penuh kekhawatiran di wajah Jane.