Oh, Love?

Oh, Love?
Mood Swing


__ADS_3

Meski Jane berkata begitu tapi tidak dengan teman-teman mereka. Mereka beranggapan Jane tengah mendapat penekanan dari Ed sehingga dia menurutinya. Terlebih Viola merasa aneh, bagaimana Jane bisa begitu polos menganggap pria yang sempat melecehkannya sebagai pria yang tidak jahat. Oh, Viola sungguh-sungguh tak habis pikir dengan sahabatnya itu.


Lalu pandangan Kak Andre dan Yoga tertuju pada Viola. Sepertinya dia membutuhkan penjelasan pasti mengenai kejadian barusan, dan mereka sangat yakin Viola mengetahui sesuatu. Setidaknya mereka hanya berniat membantu teman yang mungkin saja terkekang dan membutuhkan bantuan mereka.


...…...


Di sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan bahkan sampai mereka kembali ke rumah. Ed berjalan lebih dulu kali ini dia tak menunggu atau mempersilahkan Jane masuk ke rumah lebih dulu. Hal itu menegaskan betapa Ed kecewa dengan perilaku istrinya yang menemui pria lain tanpa izin darinya. Dan Ed rasanya ingin memukul pria sok itu, tapi karena ada Jane dan takut Jane semakin syok dan membencinya dia sangat berusaha menahan dirinya agar tak kelewatan dan itu hanya untuk menjaga perasaan istrinya.


Jane menyadari Ed yang memasang jarak dengannya, kemarin dia dan Ed baik-baik saja. Tapi sekarang terasa renggang. Harusnya Jane tidak perlu terlalu mempedulikannya, tapi dia merasa dia perlu menjelaskan kembali pada Ed. Jane inisiatif mengejar Ed, dia menarik lengan baju Ed.


Ed berhenti, dia menoleh menatap Jane yang menahannya.


"kau marah?" tanyanya.


Jelas Ed semakin kesal dengan pertanyaan yang dia sendiri sudah tahu jawabannya "apa wajahku kurang jelas dalam menunjukannya?"


"Berarti kau sungguh marah?!" tanya Jane lagi.


Ed menyibak rambutnya berusaha sabar dengan pertanyaan yang Jane lontarkan, Ed mendekatkan wajahnya pada istrinya dengan wajah nya yang marah "masih kurang jelas?!"


Jane tersenyum "mm, jelas" katanya.


"Jadi dengarkan Ed, aku tidak memiliki perasan apapun padanya. Aku cukup tau diri aku telah bersuami, aku hanya memberi penolakan secara baik-baik agar tak ada masalah dikemudian hari" jelas Jane.

__ADS_1


"Dan kau memintaku untuk percaya. Tidak, kali ini aku sulit mempercayai mu" Ed membuang muka hendak kembali melangkah, tapi lagi-lagi Jane menahannya.


"Seperti dirimu yang mencoba memperlihatkan versi terbaik dan mempertanggung jawabkan tindakan dan perkataan mu aku pun begitu. Kita akan mencoba perlahan menghidupkan pernikahan ini demi buah hati kita, bukankah begitu" Jane tersenyum dengan hangat.


Perkataan hangat itu, tak lagi membuat Ed tersentuh. Tidak, dia tak ingin terlihat mudah untuk di bujuk dengan kata manis lagi. Ed perlu menunjukan wibawanya agar istrinya paham tindakannya ini salah, sekalipun dia mencoba menjelaskannya. Dan agar dia bisa merenungi tindakannya ini, karena setiap masalah yang dibuat selalu ada konsekuensi nya.


Ed menarik lengannya, kemudian dia masuk kedalam rumah tanpa sepatah kata. Sikap Ed seperti ini membuat Jane cukup terkejut, tak biasanya Ed pergi begitu saja. Ini cukup menganggu Jane.


Lalu sepanjang hari Ed benar-benar tak berbicara dengan Jane atau bersikap manis. Jane merasa ada yang hilang, biasanya dia yang bersikap acuh seperti ini. Rupanya tingkah seperti ini sangat menyebalkan.


Tapi Jane tak menggubrisnya dan saling diam, terus berlanjut tanpa ada yang mau mengalah. Ya, sikap Jane sedikit mengesalkan kali ini.


Kemudian hari-hari mulai berlalu dengan masih diamnya mereka, melakukan aktivasi tanpa saling menatap atau jika perlu hanya mengangguk dan menggeleng saja. Sebenarnya mereka tidak tahan tapi rupanya dua orang yang memiliki kesamaan, mereka sama-sama gengsi untuk memulai percakapan kembali. Toh, Jane telah menjelaskan segalanya hari itu. Tapi Ed yang malah sok merajuk, jadi menurut Jane harusnya Ed dululah yang mengajaknya berbicara lebih dulu.


"Benar, hukum mereka dengan berat"


"Aku mengerti tuan-"


Jane mendengar Ed tengah berbicara dengan seseorang didalam ruangan kerjanya. Baru kali ini Ed sepertinya membawa seseorang ke kediaman mereka selain keluarga Butler, dan Lily. Jane cukup penasaran sepertinya mereka membahas permasalahan serius.


Jane yang berdiri di depan pintu kerja Ed terkejut saat pintu terbuka, pria tinggi tampak berumur keluar dari ruangan Ed dengan terkejut melihat Jane. Lalu orang itu memberi salam kemudian pergi. Jane memperhatikan orang itu, dia membawa semacam tas dan berkas-berkas Jane mengasumsikan orang itu orang kepercayaan Ed.


"Kenapa kau diam mematung disini?" Kata Ed yang tiba-tiba berdiri di depan Jane.

__ADS_1


"Hey, kau berbicara" kata Jane sembari tertawa, karena disini Ed dululah memulai berbicara.


Ed menyentuh dahinya, rasanya berdenyut dia pikir sikap Jane agak manja, dia bahkan lebih kekanakan dan tidak peka. Tapi Ed berpikir itu dipengaruhi oleh perubahan hormon.


"Baiklah aku mengalah, sejujurnya aku tidak tahan dengan diam" kata Ed sembari membuang muka.


"Aku pun" Jawab Jane.


"Bisa kau beritahu, kau dan orang tadi tengah membahas apa?!"


"Apa kau tak masalah mendengarnya? ini menyangkut malam yang mungkin mengingatkan trauma mu"


Jane mengangguk, tidak masalah karena dia benar-benar ingin mengetahuinya.


Setelah Jane terlihat percaya diri dan tenang, Ed kemudian melanjutkan "Orang-orang yang menjebak ku telah tertangkap. Mereka berkata benar-benar salah menargetkan orang. Katanya kliennya meminta untuk menyerang pria tinggi yang akan lewat disekitaran itu kebetulan saat itu aku yang lewat dan mereka berpikir akulah targetnya. Tapi ternyata mereka salah. Meski begitu tindakan mereka membahayakan dan mereka tetap harus dihukum dengan seberat-beratnya. Harusnya orang-orang ku bisa menemukan mereka dengan cepat, tapi tak kusangka mereka memiliki backingan yang tak kalah kuat. Tapi tetap saja orang-orang ku berhasil menemukan dan meringkus mereka" Jelas Ed wajahnya serius.


"syukurlah" Jane berusaha tenang meski dia kembali mengingat malam menegangkan itu. Jane juga tak bisa membayangkan jika saat itu dia lewat dan berpapasan dengan orang itu.


Lalu Jane dengan cepat menghalau kenangan dimasa itu. Dia tak ingin cemas berlebih dan membuat masalah dalam perkembangan janinnya.


"Ed, aku sadar kau wajar marah lama dan mendiami ku. Aku cukup merenung, dan aku minta maaf" ucap Jane dia tak menatap Ed, dia hanya mengelus lengannya dengan sedih.


Ed sadar, Jane tengah mengalami mood swing. Karena suasana hati ibu hamil akan mudah berubah. Misalnya bahagia, sedih, marah atau menangis tanpa sebab yang jelas dalam waktu yang singkat. Meskipun ini merupakan sebuah hal yang wajar terjadi, perubahan mood ibu hamil secara cepat ini dapat menganggu aktivitas.

__ADS_1


Harusnya Ed tidak egois, membuat Jane merenung. Di kala suasana hati istrinya yang sedang tidak menentu, harusnya dia mendengarkan Jane karena salah satu cara terbaik untuk mengembalikan mood ibu hamil adalah mengajaknya mengobrol bukan malah mendiami nya. Sekarang siapa yang kekanakan disini?. Dan dia malah mengeluarkan kata-kata yang bersifat mengkritik, itu pasti membuat Jane merasa tidak dimengerti.


Ed menatap Jane dengan rasa bersalah, lalu dia memeluknya dengan lembut "maaf" katanya.


__ADS_2