
"Baiklah. Senang berjumpa dengan mu Jane, ku pikir kita akan mudah akrab" ucap Bella sembari mengamati sekeliling.
Jane berusaha terlihat ramah, tapi tidak dengan hatinya yang kesal "Akrab konon? kau bahkan terlihat lebih tertarik dengan suamiku" benak Jane.
"Wah, rumah ini besar. Sangat megah aku terkejut saat tau kau memilih tinggal disini Ed. Terlebih saat kau menikah kau tak mengabari ku, dan aku sangat kecewa. Sekarang juga kau lebih memilih tinggal disini" ucapnya lagi.
Jane seketika melihat Bella sinis "memang harus memberi tahu mu. Kau hanya sebatas teman" gerutu Jane dalam benak.
Lalu Bella menarik kopernya "Jadi dimana kamarku?"
"Huh?" Jane terheran, tapi dengan cepat dia mengatur ekspresi kagetnya. Rumah ini bukan miliknya. Ed yang lebih berhak melarang atau membiarkan wanita ini tinggal. Jane membuang muka, dia hendak pergi tapi dia urungkan, dia masih ingin tahu apa Ed akan dengan baik hati membiarkan wanita ini tinggal bersama. Dan tingkah wanita ini menunjukan bahwa dia sudah terbiasa dan sangat akrab dengan Ed. Itu membuat kepercayaan yang sempat Jane tanam perlahan dia mulai goyah. Yang katanya Ed tak pernah berkencan, sekalipun Ibu mertuanya juga mengatakan Ed tak pernah memiliki wanita disisinya. Sekarang ini memang siapa yang akan percaya. Sangat jarang lelaki yang tak memiliki wanita disisinya, baik hanya untuk kesenangan maupun untuk mengusir kesepian.
"Tidak ada menginap atau apapun itu" kata Ed.
"Heh?" Bella tampak kesal, sekaligus marah.
"Tidak bisa. Aku lelah dan aku tidak mau angkat kaki dari sini" ucapnya sembari duduk di sofa merajuk.
"Bukankah kau tau, bahwa aku paling benci dengan orang yang membangkang!!" tekannya.
Bella menghentak kakinya ke lantai keras, sembari tertunduk "Aku hanya menginap sebentar. Sebagai teman, tidak masalah menampung ku untuk semalam"
__ADS_1
"Penginapan diluar sangat banyak, kau bisa menginap di sana" jawabnya ketus.
Lalu Ed memanggil bibi Yuni. Dia meminta agar Bibi Yuni mengurus Bella keluar dari kediaman mereka.
Bibi Yuni dengan sopan meminta Bella untuk keluar. Bella benar-benar tampak murka. Dia tetap kekeh tak ingin beranjak dari duduknya, kedua tangannya bahkan terlipat di dada "dengan begini kau memutuskan tali silahturahmi pertemanan kita Ed!!"
"Dih, ancaman klasik" benak Jane semakin kesal melihat tingkah konyol Bella. Dia juga merasa Bella begitu sangat ingin tinggal disini. Apapun itu di lubuk hati Jane dia tak menyukai wanita seperti ular ini.
"Demi hati istriku. Aku memilih kau membenci ku atau bahkan memutus pertemanan. Aku tidak peduli!! lagi pula kita tak benar-benar berteman, kau hanya menganggu dan terus menempel padaku!!"
Mata Jane membulat menatap suaminya lekat. Ed benar-benar menjaga perasaanya. Dia tak tertarik atau berusaha beralasan bahwa Bella temannya yang datang jauh, sehingga perlu menampung nya. Rupanya Ed juga memikirkan akibat jika menampung seorang teman wanita.
Ed lalu merangkul Jane dan mengabaikan Bella. Jane cukup terkejut, Ed lebih memilih dirinya dibandingkan dengan Bella yang katanya temannya itu. Tapi, entah kenapa hatinya terasa tergelitik.
"Aku tak pernah menerimanya" jawab Ed.
"Kau serius dia sangat menggoda?" Jane ingin lebih tau lagi reaksi Ed.
"Tidak untukku" wajah Ed terlihat datar, Jane sulit melihat adanya kebohongan dari ucapan Ed.
Mendengar pengakuan Ed yang rupanya merasa terganggu dengan hadirnya membuat Bella kian mendidih.
__ADS_1
Lalu Jane sembari melangkah dalam rangkulan Ed dia melirik Bella, sembari tersenyum penuh menang. Jane pula menyender pada Ed dengan manja. Yang malah disambut hangat oleh Ed, malah membuatnya merona.
Bella menatap Jane penuh kebencian. Dia merasa posisi itu harusnya miliknya. Siapa Jane yang seenaknya dan tiba-tiba saja mengambil posisi yang telah lama dia targetkan. Dan bagaimana pula Ed dengan mudahnya menerima wanita itu dan menikahinya. Sedangkan dirinya butuh effort besar dan apapun yang dia lakukan untuk Ed tak pernah berhasil menarik perhatiannya. Godaannya bahkan tak mampu mengalahkan hati Ed. Itu menimbulkan pertanyaan yang amat besar dibenak Bella. Apa yang membuat Ed tampak mencintai wanita itu?.
Bella mengigit bibirnya. Ed tampannya dan aset kekayaannya. Rasanya dia tak rela pria seperti Ed jatuh ke wanita biasa-biasa seperti itu. Menurut Bella, Jane bahkan tak menarik. Tubuhnya tak sepertinya yang berlekuk. Di mata Bella Jane sangat biasa, tak cantik, tak menarik, dan tak seksi atau menggoda sekalipun.
"nona, sepantasnya anda keluar sekarang!!" Bibi Yuni menatap datar Bella, dia tampak tak menyukai wanita dihadapannya ini.
Seketika Bella menoleh dengan marah, dia masih kesal dan pembantu ini begitu bising.
"kau hanya pembantu. Jangan sok mengatur" tekan Bella. Meski Ed berkata mengusirnya, tapi Bella memilih tak mendengarkan nya. Dia hendak menaiki anak tangga, dia sangat senang bersikap sembrono. Karena hanya dengan cara semacam itu Ed akan memperhatikan dirinya. Sial, entah kenapa senyum penuh kemenangan Jane tadi membuatnya emosi. Wanita yang berani mengusiknya dengan terlihat puas memiliki Ed.
Tentu saja Bibi Yuni dengan sigap menarik lengan Bella "Mohon untuk mendengarkan tuan rumah. Mereka tak menyambut anda, ku harap nona tak berkecil hati" Bibi Yuni menarik paksa Bella keluar.
Bella menatap tajam Bibi Yuni, dia merasa pembantu ini sok dihadapannya "Hey, pembantu jangan lagi kau menganggu ku. Atau kau akan tau akibatnya!!" tunjuk nya di wajah Bibi Yuni.
Bibi Yuni menatap Bella datar, disini tuanya adalah Ed dia tak peduli dengan ancaman wanita itu. Meski begitu Bella cukup tercengang, bagaimana mungkin wanita tua itu jauh lebih kuat darinya.
Setelah mengeluarkan wanita itu. Bibi Yuni mengunci pintu dan dengan tenang kembali berjalan ke dapur menyelesaikan pekerjaan lainnya yang sempat tertunda.
Bella semakin tercengang. Dirinya diusir semacam ini, pria mana yang bisa menolak pesonanya. Lalu sedetik kemudian Bella terkekeh. Itulah sebabnya, dia menyukai Ed dia berbeda dari pria kebanyakan. Apapun yang bela lakukan, terlihat seksi pun tak pernah cukup agar Ed menoleh kearahnya "Ah, Ed kau sungguh membuatku kian ingin memiliki mu" gumamnya.
__ADS_1
Bella pergi dari rumah itu, meski terpaksa. Dia jauh-jauh dari kota lain kemari hanya untuk menemui Ed. Dia pula terheran-heran bagaimana mungkin Ed tidak peka, bahwa dia amat sangat mencintai dirinya. Tapi itu tak akan lama, kedepannya dia akan berusaha lagi. Sedikit terlambat dan mengambil miliknya kembali bukan suatu kesalahan dimata Bella. Bella kemudian berjalan menuju mobilnya diluar pagar, dia sibuk berjalan sembari mengibaskan rambut dan tentunya dengan rencana dipikirannya.
Lagipula menurut Bella tak ada benar-benar seorang pria yang hanya setia kepada istrinya. Di luaran sana banyak sekali pria beristri yang diam-diam mengencani wanita lain. Bella hanya merasa tinggal menunggu waktu, dimana gilirannya dipilih.