Oh, Love?

Oh, Love?
Bathtub


__ADS_3

Lagi dan lagi dia berada situasi yang memberatkan. Ed duduk di kursinya dengan wajah memerah. Dia mendongak, kemudian mengusap kasar wajahnya. Sejak kapan? perasaannya menjadi sulit dia hadapi.


Cukup lama Ed sibuk memikirkan jantungnya yang berdegup terus menerus, wajah yang terus memerah membayangkan Jane yang tengah berendam di bathtub rasanya dia menjadi pria mesum dengan pikiran kotor. Bagaimana tidak, Jane dengan tubuh yang membuatnya tak berdaya dia begitu menggoda, rambut yang terurai dengan sedikit basah lalu Ed masih mengingat jelas bagian yang telat ditutupi Jane. Salahkah dia memikirkan hal ini, Jane adalah istrinya tapi kenapa dia seperti orang jahat yang tengah memikirkan hal keji.


Ed mendesis kesal dengan pikirannya. Dia mencoba menghalau pikirannya yang terus mengingat-ingat Jane yang tengah berendam di bathtub.


Kemudian perhatiannya dengan cepat teralih pada surat di meja. Ed mengernyit itu bukan miliknya, lalu jika bukan miliknya pasti itu milik Jane. Ed bertanya-tanya siapa yang mengirimkan Jane surat? di zaman ini sangat jarang ditemui orang pribadi mengirimkan surat seperti ini, saat ini lebih banyak orang-orang mengirim pesan lewat media sosial.


Ed cukup penasaran dia menyentuh surat yang terlihat estetis jelas orang yang mengirimkannya sangat berhati-hati terlihat dari amplopnya yang dikemas begitu penuh keteladanan. Ed mencoba mencari nama pengirim tapi disekitaran amplop tak dia temui nama pengirimnya.


Meski Ed penasaran dia tak membukanya, itu milik Jane dia tidak bisa asal membacanya tanpa izin dari pemilik. Dia memang bukan pria baik tapi dalam hal ini dia bisa dipercaya.


Ed sibuk mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya. Sembari menunggu Jane selesai mandi dia akan menanyakan mengenai surat itu. Namun, sepertinya Jane juga belum membacanya karena amplopnya masih tersegel.


Sedangkan Jane masih sibuk di bathtub nya dia lebih banyak termenung, bahkan tanpa sadar air matanya menetes yang dia sendiri tak mengerti alasan dia menangis. Kamar mandi adalah tempat terbaik untuk meluapkan segala emosi di saat tak ingin terlihat oleh orang lain. Bahkan dia tak menyadari dia terlalu lama berendam.


Jane juga tampak tak tenang, rasanya dia malu untuk keluar setelah apa yang terjadi barusan dengan Ed. Memang tubuhnya sempat dilihat sebelum ini namun tetap saja Jane tidak nyaman, karena dalam hal ini dia benar-benar belum siap.


Jane yang sangat lama, benar-benar tak seperti biasanya menganggu Ed. Pikiran Ed menjadi aneh, takut hal yang tak diinginkan terjadi pada Jane. Ed bergegas bangkit dari duduknya, menghampiri pintu kamar mandi.


Ed hendak mengetuk pintu kamar mandi, tapi sebelum dia mulai mengetuk pintu, terlebih dulu pintu terbuka dengan Jane yang berdiri dengan handuk bathrobe (mantel mandi). Keterkejutan antar keduanya.


Lalu Jane memecah keheningan "Oh, kau ingin ke kamar mandi juga. Aku sudah selesai" dia berjalan keluar dari kamar mandi. Jane berpikir Ed benar-benar tak tahan ingin buru-buru ke kamar mandi sampai menunggu di depan pintu. Dia bahkan tak menyinggung atau memikirkan tentang Ed yang asal masuk tadi.

__ADS_1


Jane mengusap kakinya dengan lap lantai, namun karena licin dia terpeleset dan kehilangan keseimbangan. Jane membelalak terkejut, beruntung Ed dengan sigap menangkapnya.


Jantung Jane berdegup tak karuan tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dia benar-benar terjatuh itu akan menjadi masalah besar untuk kandungannya.


Mereka masih berada diposisi tangan Ed yang melingkar di bagian perut atas Jane. Posisi Jane membelakangi Ed. Ed dengan cepat membenahi posisi Jane dengan menariknya kedalam pelukannya.


Ed tampak lega, napasnya begitu cepat jelas Ed juga panik. Jane yang wajahnya menempel dengan dada Ed bahkan bisa mendengar detak jantung Ed yang berkecamuk.


Mereka berada diposisi itu cukup lama karena keduanya berada di tingkat keterkejutan yang dahsyat. Bahkan tangan Ed mengelus-elus kepala Jane rasanya kekhawatiran ada didalam gerakan tangan Ed.


"aku baik-baik saja sekarang dan terimakasih telah sigap membantuku" tukas Jane dia berniat melepas kan pelukan dari Ed.


Ed tampak lebih tenang, dia menunduk menatap Jane yang masih dalam pelukannya. Jane pun mendongak.


Mata Jane membulat, apakah matanya masih terlihat memerah? Jane menggeleng cepat.


"Bohong, kau jelas habis menangis!" Ed tak berniat mempercayai apapun elakkan dari Jane.


Jane terus menggeleng tapi tak mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya yang membungkam.


Ed menatap istrinya dengan pilu "Jika kau menangis seperti ini aku merasa gagal. Bisakah kau menceritakan sekecil apapun masalahmu? aku telah berjanji akan membuatmu nyaman"


Kalimat itu cukup menghibur Jane, matanya dia alihkan tapi Ed melarangnya menatap kearah lain selain matanya. Ed sungguh-sungguh ingin Jane jujur.

__ADS_1


"Dia mengalir begitu saja tanpa ku minta" jawab Jane dengan memperlihatkan ketenangan.


Ya rupanya dia tetap tak berniat jujur padanya. Ed tak bisa terus memaksa Jane. Ed menebak-nebak bahwa Jane masih terguncang dengan segala yang menimpanya. Lagipula tidak mudah berada diposisi istrinya.


Lalu saat Ed menatap Jane matanya tak sengaja melirik bagian dada Jane yang terlihat cukup jelas. Ed bergegas melepas Jane dan memintanya segera menganti dengan baju yang lebih hangat.


Tentu saja Jane bergegas menuruti, dia juga mulai menyadari dia yang hanya menggunakan mantel mandi.


Setelah selesai menganti mantel ke piyama tidur Jane berkata "Ed kenapa kau kasar pada Viola tadi?!" hal itu cukup menganggu Jane.


"oh, aku tak menyukainya" jawabnya.


"Kenapa kau bisa mengatakannya? kau bahkan hanya berbincang singkat tadi dengannya. Viola orang yang ku percaya dan ku pikir kau juga bisa mempercayainya" jelas Jane yang berharap nanti ketika Ed bertemu lagi dengan Viola dia bisa lebih ramah lagi.


"Setiap orang pastinya memiliki ketidak cocokkan dengan orang yang dia temui. Itu pasti dan tidak mungkin tidak, sekalipun kau merasa dekat apa kau sungguh-sungguh cocok dengannya? Bukankah tidak, ada di suatu kejadian kalian berbeda pendapat"


"Tapi aku sungguh tidak menyukai aura sahabat mu itu. Ku pikir dia orang yang manipulatif" tambahnya.


Memang tidak salah pasti di suatu waktu memiliki ketidak cocokan tapi ketika Ed meragukan sahabatnya itu Jane merasa tidak setuju. Sahabatnya yang begitu tulus dengannya dengan mudahnya dia ragukan.


"apa karena kau tersinggung dengan perkataanya tadi?"


Ed menoleh menatap Jane yang tengah sibuk menyisir rambutnya "Tidak, aku tak peduli jika ada yang menyinggung ku. Tapi dia berbicara seperti orang yang sok tau padahal dia sama sekali tak mengetahui apapun hanya sedikit kilas cerita dari mu berhasil membuatnya menghakimi orang"

__ADS_1


Jane termenung dia menjadi bingung, keluhan siapa yang harus dia percaya suaminya atau sahabatnya yang juga sama-sama memiliki kepekaan yang tajam.


__ADS_2