
Jane malah menjadi menghawatirkan Leona bagaimana dia kuat berada di lingkaran orang-orang seperti itu dan hanya dia yang waras di kelompok itu. Jane juga berterimakasih dengan saran Leona mengenai tidak perlu ambil pusing ucapan orang-orang yang memang sengaja ingin menghancurkan.
Rupanya menghadapi tetangga seperti itu jauh melelahkan dari pada melakukan aktivasi berat sekalipun. Jane ingin rehat di kamarnya, tapi saat dia hendak pergi tangannya di tahan oleh Ed.
"Kau, apa kau berpikir mengenai kebosanan? maksudku kau tak berniat pergi dengan alasan itu!" Ed menatap Jane lekat, rupanya dia masih memikirkan kalimat dari Ines tadi.
"Harusnya aku yang mempertanyakan hal itu!" kata Jane.
"Apa kau meragukan ku? aku lebih merasa kau lah yang ingin cepat lepas dari genggaman ku?"
"Menurutmu seberapa penting aku? kau seolah-olah bahwa di dunia ini hanya aku yang kau tatap. Sikap peduli mu-, sungguh atau hanya kepura-puraan?" nada suara Jane sedikit meninggi.
Tapi Ed yang tak menjawab membuat Jane tersenyum kecut. Ah, harusnya dia tak mengatakan hal semacam itu. Sekarang Ed pasti tengah memikirkan bahwa dirinya tengah berharap lebih.
Jane menarik lengannya kemudian meninggalkan Ed yang masih terdiam di sana. Sikapnya itu menyakinkan Jane bahwa semua perilakunya sungguh hanya kebaikan belaka yang dia anggap sebagai hutang yang harus dia penuhi atas kejadian saat itu.
Ed menatap Jane yang mulai menjauh, lantas bergegas dia mengikuti Jane. Ed bahkan tak berusaha memberikan jawaban untuk melegakan hati Jane.
Meski Jane tampak tak peduli dengan reaksi Ed, tapi sangat terlihat jelas kekesalan di ekspresinya. Saat Jane masuk ke dalam kamar dia langsung merebahkan tubuh ke kasur, membelakangi Ed, sembari menarik selimut.
Jane menyadari Ed juga naik keatas kasur disebelahnya, hal itu karena terasa kasur yang bergoyang. Lalu Jane terkejut, tiba-tiba Ed mendekatkan wajahnya kearahnya, menatapnya lekat-lekat dengan posisi Ed yang duduk dan Jane yang telentang. Kedua tangan Ed berada tepat didekat kepala Jane, sehingga Jane berada ditengah-tengahnya.
__ADS_1
"kau tahu" kata Ed "memang benar aku bukan pria romantis"
Ed melanjutkan sembari tetap menatap lekat-lekat mata Jane "Aku kesulitan mengekspresikan diri dan kesulitan mengungkapkan frasa romantis. Aku lebih cenderung terlihat kasar atau mungkin seakan tidak peduli. Tapi-"
Tatapan Ed tampak lebih dalam menatap Jane, dia kembali melanjutkan setelah jeda tadi "Sebenarnya aku lebih kesulitan memahami hatiku sendiri, terlebih ketika aku dekat denganmu. Aku kebingungan karena jantungku berdetak begitu kencangnya, menginginkanmu lebih dari sebelumnya! hanya satu yang ingin ku tegaskan kau sungguh indah dan selalu tampak bercahaya"
Jane berkedip beberapa kali, dia kebingungan sekaligus merona dengan yang Ed katakan. Haruskah dia senang dengan ungkapan itu? tapi kemudian Jane tampak berhasil menenangkan diri. Agar tak mudah bergembira dengan ungkapan semacam ini "aku tersanjung" katanya.
Jane tak ingin mengartikan lebih ucapan Ed. Dia berkata dia tak pandai dengan frasa manis tapi yang dia lakukan baru saja seperti orang yang sudah terlatih. Jane merasa itu perilaku atau tindakan yang diberikannya berupa perhatian dan kasih sayang yang disengaja dengan tujuan membuat nya lebih menurut dengan kata manis. Meski Ed terkesan mau berkorban dan berusaha demi pasangan, rasanya Jane perlu mewaspadai karena hal tersebut berisiko menyebabkan hubungan menjadi manipulatif dan tidak sehat.
"Lantas bagaimana dengan mu. Pernah kah kau setidaknya sekali merasa kan jantung yang berdebar ketika di dekatku?" Ed tampak serius ingin tahu jawaban Jane.
"Ku pikir setidaknya pernah! kau tau aku pun kebingungan apakah berdebar karena perasaan tertarik atau perasaan membenci. Rasanya aku tak bisa membedakan mereka bercampur begitu saja" jawab Jane.
Kemudian suasana menjadi hening, sedetik kemudian Ed kembali memecah keheningan "bolehkan aku mengelus perut mu?!"
"tentu" jawab Jane.
Mereka berdua benar-benar tidak mengerti dengan hati mereka. Padahal mereka telah memiliki ketertarikan satu sama lain yang tak disadari atau berpura-pura tak menyadarinya. Semua karena kejadian yang tak mengenakan diantara mereka yang kemudian menjadi pembatas untuk menyakini fakta keaslian perasaan mereka.
Hanya mengetahui bahwa sedikit ketertarikan dari mereka, membuat mereka lebih merasa nyaman dibandingkan mengetahui lebih karena jika begitu salah satu atau keduanya akan lebih egois ingin memiliki.
__ADS_1
Ed mengelus perut Jane dengan lembut, Jane pun tampak menikmati nya. Seperti Ibu mertuanya katakan sang Ayah memang perlu mengelus perut semasa tengah mengandung ini akan membuat nyaman sang bayi.
"Apa kau memiliki keluhan akhir-akhir ini?" tanya Ed.
"tidak" jawabnya.
"Besok kupikir kita harus memeriksakan kandungan mu!"
"Besok, kau sungguh tak sibuk?" tanya Jane.
"Ah, aku memang selalu sibuk. Tapi cuti sekali tak berarti apa-apa bagiku, toh aku pemiliknya" Jawab Ed.
Jawaban Ed menurut Jane terkesan sombong. Dia memang orang yang sibuk tapi karena dia boss sekaligus pemilik dia bebas kapan hendak datang. Huh, apa daya Jane yang hanya mendekam didalam rumah. Dia cukup iri dengan kebebasan suaminya yang tak dia miliki.
Lalu, Jane mengangguk mengikuti saran suaminya. Dia juga penasaran dengan perkembangan kandungannya.
Lalu Ed masih mengelus perut Jane, dengan ketenangan yang tercipta Jane pun terlelap.
"Kau rupanya memiliki keraguan besar padaku" Ed menatap Jane lekat, dia tahu bahwa Jane benar-benar belum bisa menerimanya sungguh-sungguh. Tapi hal itu tak membuatnya marah atau malah memaksa. Bagaimanapun rasanya akan bijak jika perasaan mereka akan mengalir begitu saja.
Jane yang terlelap membuat Ed sibuk berbincang dengan calon buah hatinya. Bercerita bagaimana kerasnya perjalanan hidup ibunya, dan juga hati ibunya yang keras.Kekerasan hati yang timbul karena kesalahan dia sebagai suami juga Ayah-nya. Lalu, dia juga bercerita mengenai betapa senangnya dia dengan kehadirannya di tengah-tengah mereka yang penuh dengan kebimbangan dengan berharap membantu meluruskan kebimbangan dan ketidak percayaan masing-masing. Ed berharap nanti ketika anaknya lahir, Jane-nya akan sedikit melunak. Tanpa timbul keraguan diantara mereka lagi.
__ADS_1
Ed tertawa, sejak kapan dia bisa berbicara banyak. Ah, dia tak tahan dengan tingkahnya yang sibuk berbicara dengan calon buah hatinya. Huh? belum saja lahir buah hatinya dia sudah berbicara banyak tentang peliknya hidup, pasti buah hatinya merasa lelah mendengar aduannya. Tapi Ed cukup puas.
Setelah banyak berbincang dengan buah hatinya, Ed kemudian terlelap disebelah Jane dengan tangannya yang masih mengelus perut Jane. Malam yang tenang dengan mereka yang tak tahu pasti hati satu sama lain, salah satu bertahan karena sang buah hati. Satunya memang memiliki ketertarikan sejak lama.