
Kemudian didalam mobil yang dilajukan Ed, dia berkata "mungkinkah model pria seperti itu yang kau idamkan sebagai pasangan?!" tanyanya.
Jane tampak berpikir, lalu menjawab "Mungkin. Dia cukup baik selama di Universitas dan peka, sosoknya dikagumi, ketenangannya, juga sifat jenakanya. Tapi, mengenai tipe seperti sekarang tidak akan berguna karena sekarang kau suamiku"
Ed tampak muram mendengar jawaban dari Jane. Dia sebenarnya cemburu hanya saja gengsi mengutarakan nya. Dia malah berakhir membuat suasana buruk diantara keduanya.
"oh, jadi aku bukan tipe ideal mu?!"
Jane menatap Ed datar, dia berbicara menekan dengan perasaannya sebenarnya "Jelas. Kau serampangan, jail, suka menggangguku dulu dan bahkan sampai saat ini. Lucu sekali kau menjahili ku sampai tahap menikahi ku. Kau memiliki dendam denganku?"
Ed terdiam dengan mencengkeram kuat setirnya. Dia berusaha mengontrol emosinya "Mengenai hal itu. Jane dengarkan, aku tak memiliki dendam apapun denganmu. Aku tak berniat sama sekali, bahkan tak terbesit menghancurkan mu seperti yang kau pikirkan selama ini. Itu murni diluar kendali ku"
Jane tersenyum miris "Ya, ya serah. Katakan terus pembelaan mu itu, lagi pula kau pasti menyesali saat itu tidak mampu mengendalikan diri dan berakhir menikahi ku"
Berapa kali Ed berusaha menyakinkan Jane, selalu saja Jane memilih memandangnya dengan opininya sendiri.
"Bisakah kau tidak berpikiran buruk tentangku?"
Jane mengalihkan pandangannya, menatap keluar jendela "Sulit tapi akan ku usahakan. Lalu, topik itu bisa kita hentikan membicarakan nya. Itu membuatku mengingat betapa kejinya kau malam itu"
Jane mengepal jemarinya kuat, terlihat dia sekuat tenaga menenangkan diri. Lalu dia harus memenuhi janjinya pada Ibunya yang meminta agar tak menggunakan alasan itu untuk bertengkar dikemudian hari.
Beberapa menit perjalanan dengan kemacetan yang cukup membosankan mereka sampai dikediamannya.
Diluar rupanya dia tengah ditunggu oleh Ibu mertuanya dengan wajah yang resah. Dia berlari menyambut Jane.
"Ah, ku pikir ada hal buruk yang terjadi. Kalian terlalu lama"
Jane tersenyum "semuanya baik-baik saja ibu"
__ADS_1
Jane cukup senang dengan perlakuan baik Ibu mertuanya, dari awal beliau tak memperlihatkan keburukan sebagai Ibu mertua. Untuk saat ini dia cukup beruntung, jarang sekali ada sosok mertua yang menerima dengan tulus seperti ini.
"Apa Ed mengajakmu makan atau dia malah abai mengenai hal itu?" tanya Ibu mertuanya dengan menyelidik Ed.
Jane menjelaskan bahwa mereka baru saja makan, setelah mendengar itu Ibu mertuanya tersenyum dengan manis "nah, kalau begitu mari masuk" ajaknya.
Mereka masuk lebih dulu dan meninggalkan Ed diluar sendiri. Ya, Ed tak mempermasalahkan itu. Keakraban yang ditunjukan Ibunya dengan Jane, jauh membuatnya lega.
"Ya, begitu lah wanita. Kita hanya perlu bersabar" Ayahnya tiba-tiba menyentuh pundaknya, mengejutkannya.
Ed tertawa kecil, mengerti maksud dari kalimat Ayahnya.
"Menikah dan memiliki istri. Pria harus lebih bersabar. Sabar dalam moodnya yang berubah, kemauannya yang sangat diluar perkiraan, dan sifat kekanakan nya yang tiba-tiba muncul" ujar Ayahnya.
"Ayah kesulitan menghadapi Ibu?"
Ayahnya tertawa dengan kencang "Ah, tidak sama sekali. Aku menyukai semua keluhannya. Ketika dia menyulitkan ku, mengomel panjang, berkata membenciku karena melakukan secuil kesalahan yang menurutnya kesalahan fatal, namun ada kalanya ibumu bermanja. Wanita, wajar seperti itu. Jadi kau hanya perlu mendengarnya dan membuatnya nyaman berada di dekatmu. Jika wanitamu melakukan kesalahan sampaikan dengan lembut, bukan membentak. " jelas Ayahnya.
"dan aku cukup bangga padaku nak. Kau mempertanggung jawabkan tindakanmu dan memperlakukan istri mu dengan baik. Ya, walaupun aku sempat merasa gagal karena kau me-rudal paksa anak orang" Ayahnya menatap nya dengan serius. Dia tahu bahwa itu terjadi karena kecelakaan, tapi dia sangat menyayangkan putranya tidak bisa mengontrol hal itu dan berakhir dengan tindakannya yang tak terpuji.
"Aku tahu aku salah" lirih Ed.
"Ku harap kau menjadi hati-hati setelah ini!!" Ayahnya mencengkram erat pundaknya. Kemudian mereka bersama masuk kedalam rumah.
Diruang tamu Ibunya dan Jane tengah berbincang, tampak seru dan hangat. Jane tampaknya baru selesai mandi. Ed mengerti maksud dari Ibunya ingin membuat Jane melupakan segala kenangan buruk yang terjadi belakangan ini. Jane juga tampak menikmati percakapan dengan Ibunya.
Ed dan Ayahnya naik keatas, membiarkan mereka berdua menghabiskan waktu lebih banyak.
Ibu mertuanya lebih banyak bercerita tentang tren fashion, dan alat kecantikan. Dia bahkan mengajak Jane untuk pergi berbelanja ke mall atau mencoba treatment bersama. Dia begitu eksaited, walaupun dia sudah berumur tapi semangatnya masih berapi-api. Ibu mertuanya juga tak menekannya atau mengatur-ngatur sesuatu tentang kehamilannya.
__ADS_1
"Jane ku memang sudah cantik dari awal. Hanya kau tampak sangat pucat dan letih, kau harus banyak memanjakan diri" suruh Ibu mertuanya.
Ibu mertuanya terlalu memujinya. Kemudian setelah selesai berbincang hangat dengan Ibu mertuanya Jane naik keatas untuk beristirahat.
Saat Jane membuka pintunya, dia terkejut dan menutup matanya cepat dengan jemarinya yang sedikit terbuka, dia agak mengintip. Situasi ini mirip saat itu.
Ed tengah bertelanjang dada dengan bawahan yang hanya tertutup dengan handuk kecil. Rambutnya yang basah meneteskan air kelantai, dia baru saja keluar dari kamar mandi.
Ed membelalak mendapati Jane yang masuk ke kamarnya, bergegas dia menggenakan kaos dan celana tentu untuk meminimalisir kepanikan dan ketakutan Jane, karena situasi ini agak aneh.
Ed tidak berpikir Jane akan masuk ke kamarnya secepat ini. Tidak, Ed bahkan berpikir setelah malam pernikahan itu Jane akan kembali ke kamarnya. Ed menatap Jane dengan ke kagetan yang terlihat jelas, bagaimana jika tadi dia melepas handuk. Itu akan sangat memalukan, Ed bersemu merah tak bisa membayangkan hal memalukan itu.
"kenapa kau terlihat begitu kaget? bukankah sekarang ini juga kamarku atau kau ingin aku kembali menempati kamar yang ku tempati saat awal kemari?!" tanya Jane dia berusaha tampak biasa saja, walaupun jantungnya berdetak begitu hebat.
Kemudian Ed menggeleng cepat, dengan begitu Jane kembali melangkah masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya.
Ed lalu duduk di kasur dengan mengusap-usap rambutnya dengan handuk.
Karena hal tadi suasana menjadi canggung, sebenarnya jika dia berbalik dan berlari ke kamar satunya saat itu rasanya mungkin akan lebih baik. Lalu kenapa juga dia berkata seperti itu tadi. Jane menggerutu dalam benak.
"Mm, apa yang kau bahas dengan Ibu tadi?" Ed bermaksud memecah kecanggungan.
"Ya, mengenai keperluan wanita. Perawatan diri dan fashion" Jawabnya tanpa menoleh.
Kemudian kembali hening, keduanya tiba-tiba tak tahu harus membicarakan apa di kondisi ini.
Sejenak kemudian Jane kembali berkata "kau tidak berkerja?"
Ed menoleh menatap Jane "Apa itu pengusiran secara halus untukku?!"
__ADS_1
"Kau berpikir begitu?"
"Ya, rasanya kau seperti mengusir ku dengan pertanyaan itu" Ed menatap Jane yang rupanya juga menatapnya, mereka saling menatap.