Oh, Love?

Oh, Love?
Titik terang


__ADS_3

Lalu hari ini sesuai kesepakatan semalam, Jane dan Ed mengunjungi rumah sakit kandungan untuk melakukan pemeriksaan.


Saat di sana Jane melakukan serangkaian pemeriksaan, seperti pemeriksaan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, pemerintah laboratorium, dan juga pemindaian USG untuk mengetahui lebih lanjut mengenai usia kandungan, mendeteksi gangguan yang mungkin dialami ibu hamil, mendeteksi kelainan pada janin, dan juga mendengar detak jantung janin. Rupanya kandungan Jane sudah memasuki usia 10 minggu, hampir tiga bulan.


Dan Dokter mengatakan bahwa janin nya berkembang dengan baik. Hanya saja dokternya juga menyarankan agar Jane tidak terlalu stres dan suami berperan penting mengenai masalah psikologi istri, agar tak memicu tekanan darah dan sebisa mungkin menjaga istri agar tak menangis karena stres berlebih karena hal itu menyebabkan sirkulasi oksigen ke janin menjadi berkurang, sehingga menghambat perkembangannya.


Setelah pemeriksaan, mereka kembali menuju rumah. Di dalam mobil, Ed berkata "Kau dengar, jangan menangis karena itu akan menganggu pertumbuhan anak kita"


Jane tersenyum "Kau dengar juga, suami harus lebih memperhatikan istri agar tidak menangis. Jadi siapa yang membuat istri menangis selama ini?!" ucapnya dengan nada menekan.


Ed menjawab tegas "Ya itu aku!"


Jane terkekeh, pasalnya Ed langsung mengakui dirinya penyebab dari kesedihan Jane yang berlarut. Jane menoleh mengamati Ed yang tengah menyetir, sekarang Ed menjadi suaminya. Selama ini Ed memperlakukan nya dengan baik. Kapan dirinya dimarahi atau kapan Ed tidak ada saat di butuhkan? di setiap kesempatan dia memperlihatkan betapa dia mempertanggung jawabkan segala ucapan, tindakannya, sikap, dan bicaranya. Sekalipun Ed terlihat tegas dan galak tapi dia melakukan itu untuk kebaikan. Ed yang dulu pengganggunya sekarang menjadi pria yang tegas dengan tindakan yang lebih hati-hati. Disini dirinyalah yang tampak egois, merasa diri sendiri yang paling tersakiti, meratapi nasib, merasa menjadi korban, dan yang paling bersedih. Lalu bagaimana dengan Ed? dia yang juga katanya korban. Apa dia baik-baik saja dengan segala penolakan mendiang Ibunya pada awalnya dan amarah dari paman Joni Ayahnya. Jane tau bahwa saat Paman Joni mengetahui Ed melakukan itu- dia sadar bahwa Ed mendapat beberapa pukulan di pipinya. Waktu itu Jane melihatnya tapi dia memilih membungkam, tak menanyakan apapun, karena dia juga membenci Ed masa itu. Itu hal yang menyebabkan ketidak kepeduliannya jika Ed terkena masalah apapun. Sekarang dia menyesalinya karena pria ini tetap menghargai setiap perangai kerasnya.


"Hey, Ed-" kata Jane.


"Ya" jawab Ed sembari tetap menyetir.


"Ku pikir aku terlalu egois, jadi-" Jane menghela napas "maaf, kau pasti kesulitan menghadapi ku"


Ed menoleh sekejap kemudian kembali fokus menyetir "Aku tak merasa terbebani"


Jane mengepal kuat jemarinya, dia kesal dengan kebaikan ini dan semakin merasa dia yang paling egois "kau terlalu baik, bahkan aku tak pernah berekspektasi kau akan benar-benar menghargai ku" suara Jane terdengar bergetar.

__ADS_1


"Aku sudah menduganya. Tapi aku tak berharap kau malah merasa kesal dengan perilaku ku"


Bahkan di situasi ini Ed dengan kalimatnya mencoba menghiburnya bahwa dia tidak bersalah sama sekali.


Ed kemudian menepi, dia berhenti.


"Kau menangis dan itu tidak boleh" Ed mencondongkan dirinya kemudian menyeka air mata Jane yang hendak menetes.


Jane mengangguk, dia menatap lekat suaminya "Lupakan aku sejenak atau tentang kesedihanku, bagaimana dengan mu? apa selama ini kau baik-baik saja? Kemana kau mengadu selama menghadapi masalah ini?"


Ed bahkan tak memperlihatkan wajah yang muram, dia tersenyum dengan hangat "Pria di keluargaku tak pernah didik menjadi lemah. Setiap persoalan selalu diselesaikan dengan penuh pertimbangan. Mengenai itu aku terbiasa menghadapinya-"


Jane heran, Ed dengan enteng mengatakannya. Keluarga Butler memang tampak tenang dan terlihat begitu manis di suatu waktu. Tapi untuk kedisiplinan, ketegasan, dan kecakapan itu hal dasar yang harus dimiliki penerus mereka.


Meski Ed bingung dengan Jane yang tiba-tiba memeluknya, dia terdiam dalam pelukan istrinya. Ed tak bersedih, ekspresi nya biasa saja. Dia tak terlalu mementingkan pertanyaan Jane mengenai perasaannya tentang apa dia baik-baik saja selama ini dengan masalah yang terjadi belakangan. Sebagai pria dia sudah cukup terbiasa menahan segala rasa sakit. Tapi Ed malah lebih kacau memikirkan jantungnya yang berdetak lebih keras dari biasanya. Oh, kenapa Jane tiba-tiba bersikap hangat kepadanya ini membuatnya malu.


Jane yang mengira Ed tak memiliki tempat sandaran mempersilahkan dirinya untuk menjadi tempat berkeluh. Jane berpikir Ed memiliki kesedihan mendalam yang disembunyikan agar tak tampak lemah. Tapi nyatanya semua pemikiran Jane tidak benar. Ed baik-baik saja. Meski Ed didik keras oleh keluarganya tapi itu seimbang dengan ajaran cinta dan perasaan kasih dari Ayah dan Ibunya. Sehingga Ed menjadi pribadi yang cukup tenang saat menyelesaikan problem yang mengguncang hidupnya.


Tapi Ed menyukai kekhawatiran Jane terhadapnya. Ini berati jarak diantara mereka berangsur-angsur pudar.


Cukup lama Jane memeluk suaminya bermaksud memberikannya tempat untuk mengeluh. Tapi tak terdengar Ed berkata apapun, dia tak bersedih, dia biasa-biasa saja. Jane menarik Ed menjauh darinya, lalu mengamati wajah Ed yang tak berekspresi.


"kau tak menangis?" tanya Jane.

__ADS_1


"huh! untuk apa?" Ed bingung.


Jane mengernyit, dia merasa aneh dengan Ed. Jika dia diposisi Ed yang diberi pelukan, mungkin dia akan berderai air mata. Karena Jane lemah dengan penenangan seperti ini.


Jane melanjutkan "Maksudku, biasanya jika aku mungkin akan menangis" lirihnya.


Ed hanya menatap bingung istrinya, menangis? dia tak merasa perlu. Ah, dia tahu Jane mungkin berpikir dengan bantuannya seperti ini bisa mengangkat bebannya.


Ed kembali memeluk Jane, wajahnya berada di bahu Istrinya.


"Hey, kenapa tiba-tiba" Jane lebih bingung.


"Kau ingin aku menangis. Jadi kita ulang aku akan menangis" katanya.


Jane kesal, dia mendorong Ed jauh "huh! tidak seperti itu" Jane melipat kedua tangannya kesal.


"Jadi?!" Ed kembali menyender di bahu Jane, dia menggodanya.


Jane mendorong wajah Ed yang menyender padanya "Menjauh lah" Jane terus mendorong Jauh Ed, namun lagi-lagi Ed kembali menyender, bahkan dengan wajah yang girang, puas melihat Jane yang semakin kesal.


"ih, menjauh!!" Jane sedikit memekik semakin kesal dibuatnya.


Ed bahkan tak mendengarkannya, dia semakin membuat Jane kesal dengan tingkahnya karena kekesalan diraut wajah Jane semakin membuat Ed ingin lebih meledek nya. Ini jauh lebih baik dibanding Jane menangis, walau Jane terlihat kesal tapi terlihat samar senyuman manis dibibir cantik istrinya.

__ADS_1


__ADS_2