Oh, Love?

Oh, Love?
menyudahi


__ADS_3

Jane sekarang berada diluar rumah, dia menyeka air matanya. Dia tak mau berdiam di kamarnya karena di sana dia pasti akan bertemu dengan Ed. Orang yang ingin dia hindari sekarang.


Jane kemudian memutuskan berjalan-jalan diarea taman rumah. Dia bahkan tak menikmati, dia termenung sembari terus melangkah.


Hal itu dilihat oleh Bibi Yuni saat Jane berlarian keluar dari lantai atas. Bibi Yuni mendekati Jane dengan payung yang dia bawa, dia terlihat cukup khawatir "hari ini cuacanya sangat terik. Alangkah baiknya anda masuk kedalam nyonya''


Jane tak merespon.


Bibi Yuni tak bertanya lagi, dia hanya mengikuti kemana nyonyanya melangkah dengan terus memegangi payung.


Jane hanya melihat-lihat bunga-bunga disekitaran, dia mencoba untuk tak memikirkan masalah nya dengan Ed. Dia berusaha menghalau kesedihannya. Namun, kali ini sulit dia lakukan.


"Bibi bisakah tinggalkan aku sendiri?!" pinta Jane, dia benar-benar membutuhkan waktu sendiri dengan mengelola emosi dan pikiran nya.


Bibi Yuni menatap nyonyanya, kemudian dia memberikan payung itu pada nya dan setelahnya dia kembali masuk meninggalkan Jane sendirian sesuai dengan keinginan nyonyanya.


"Berharap? itu gila bagaimana mungkin aku sempat ingin mengatakan itu!" gumam Jane yang menyesali kalimat yang hampir spontan keluar dari mulutnya.


Jane lalu menatap lengannya yang memerah, terasa cukup sakit "dia semarah itu karena menyinggung Bella" pikir Jane.


Angin berhembus kencang dihari yang begitu terik. Cukup menyengat kulit tipis Jane. Tapi hal itu tak mengurungkan niat Jane untuk tetap diluar. Karena dia benar-benar ingin menghindari Ed dan segala pertikaian.


Jane tertunduk, dia memikirkan kalimat Ed mengenai Bella yang katanya terus mengungkapkan perasaannya pada Ed. Apakah mungkin Ed sungguh menolaknya dan tak memiliki perasaan padanya? Ed sendiri bilang bahwa Bella seorang influencer jelas dia pandai bergaya dan fashion nya pasti mengikuti jaman. Tidak seperti dirinya yang tak mengerti trend.


Lalu Jane menyibak rambutnya tertawa heran pada dirinya. Bagaimana dia malah membandingkan dirinya dengan wanita lain. Itu bukanlah tindakan baik. Orang-orang memiliki keindahan dan mengagumkan dengan porsinya sendiri. Meski berpikir seperti itu tetap saja dia bimbang.


Bibi Yuni lalu menemui tuannya yang tampak masih sibuk berkutat dengan dokumennya. Tampak wajah tuannya yang lelah karena mengurusi banyak hal.


"ada apa bibi?" tanya Ed dia menatap Bibi, ya dia mengingat perkataan Jane agar menatap lawan bicaranya.


"Tidakkah anda resah tuan mengenai nyonya?" tanya Bibi.

__ADS_1


Perhatian Ed kembali tertuju pada dokumennya "Ya, tapi ku pikir dia membutuhkan waktu sendiri lebih dulu"


Bibi lalu menyibak gorden, dia memperlihatkan nyonyanya yang tengah berdiri di taman sendiri ditengah cuaca terik.


"Kenapa dia tidak di kamarnya?!" Ed cukup kaget, dia pikir Jane hanya akan berdiam dikamar. Setelah Jane tenang barulah Ed akan mengunjunginya dan meminta maaf atas tingkah kasarnya tadi.


"Entahlah tuan, ku pikir anda yang lebih tau karena nyonya seperti itu setelah keluar dari ruangan anda. Aku tidak tau masalah kalian. Tapi, tidak baik untuk kesehatan mereka berdua" jelas Bibi Yuni tentu dengan kesopanan.


Ed langsung beranjak, dia bergegas turun untuk menghampiri Jane. Ed tak habis pikir bagaimana bisa dia berlarian keluar dan malah berdiri diluar ditengah teriknya mentari.


Ed melangkah tegap, wajah nya serius dan dia berjalan mendekati Jane.


"Jane Aku tau kau marah. Tapi kau yang tak pikir panjang bukan hanya menyakiti dirimu saja" kata Ed.


Jane bahkan tak menoleh, dia menjawab "Benar. Tapi Aku hanya jalan-jalan dan ini tak membahayakan Aku atau anakku. Lagi pula jalan kaki selama hamil adalah olah raga paling aman. Yang terpenting Ibu merasa senang dan nyaman saat melakukannya"


"Jadi kau jangan menggangguku dulu. Karena yang mengusik pikiran dan membuat ku tak tenang adalah kau!"


Ed kian mendekat, lalu dia meraih tangan Jane lembut "Mengenai pergelangan tanganmu. Aku sungguh tak bermaksud kasar " jelas Ed yang terus menatap pergelangan tangan Jane yang memerah.


"Jadi luka yang kau dapatkan karena bertengkar dengan Andre?"


Ed mengangguk "Ya, itu tak penting lagi. Semuanya telah usai dan baik-baik saja. Hanya sedikit salah paham dan ancaman" ucap Ed dengan nada rendah.


"Kau mengancamnya?"


"Sedikit"


"Dia mendapatkan luka sepertimu?"


"Mm, lebih parah kurasa"

__ADS_1


"Kau harus minta maaf memukulnya sembarang seperti itu!"


Ed hanya mengangguk. Meski tak akan pernah mengucapkan kata maaf pada Andre. Karena menurut Ed dia dulu yang memancing emosinya.


"Baiklah mengenai Bella, kau bisa memeriksa ponselku. Pesan nya yang masuk selama ini tak pernah ku respon. Jika kau mau Aku akan memberikan akses ponselku padamu jika kau masih tak mempercayaiku" ucap Ed sembari menyerahkan ponselnya pada Jane.


Jane engan menerima ponsel itu. Tapi untuk menghalau pikiran negative dan penasarannya dia menerima ponsel Ed dan memeriksa pesan yang dikirimkan oleh Bella dan benar saja tak ada satupun balasan dari Ed. Suaminya benar-benar mengabaikan pesan dari Bella. Banyak sekali pesan rindu dan bahkan foto dirinya yang dikirimkan pada Ed. Terlebih foto-foto seksi.


"Kau menyimpan kontaknya dan bahkan mengabaikan seluruh pesan nya?"


"Aku hanya akan menjawab jika pesan itu darurat atau penting untuk ku. Sekali, dua kali ku pikir dia akan berhenti mengirimkan pesan yang menganggu seperti itu tapi sampai sekarang dia masih mengirimkan pesan itu. Sebenarnya itu cukup menganggu!" jawab Ed.


"kenapa kau tidak memblokirnya saja?" tanya Jane.


"Ya, sebenarnya Aku tidak peduli dengan pesannya. Tapi itu hanya bentuk kesopanan pada teman untuk menyimpan kontaknya. Tapi jika kau merasa tak percaya pada ucapanku, silahkan saja kau blokir dia. Kau berhak melakukannya jika memang merasa tak nyaman"


"Kau tak masalah"


"ya"


"Jadi bisakah kita menyudahi pertengkaran mengenai Andre maupun Bella diantara kita?! dan Aku cukup lelah menghadapi salah paham diantara kita. Akan lebih baik jika hubungan kita manis dan harmonis" Ed memegangi payung Jane, "Aku lelah. Bisakah kita masuk, berbicara didalam dan cuaca diluar sangat terik untuk mu" ajak Ed.


"Hey--" ucap Jane.


Ed menoleh.


"Aku sungguh kekanakan bukan?"


Ed menarik Jane dalam pelukannya, sembari berjalan menuju ke dalam rumah "Aku senang saat kau merepotkan diriku. Dan melibatkan ku di segala kesedihan, cemburu, bahkan benci mu"


"Kau gombal" Jane mencubit pelan perut Ed.

__ADS_1


Ed sedikit merintih lalu tertawa. Dan mereka berdua saling menatap dengan tawa lebih lega.


Ya, Jane lega rupanya Ed jujur. Mungkin sekarang tak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Jane juga lelah terus menghadapi salah paham yang menguras energi.


__ADS_2