
Lantas ketika putrinya sudah menutup pintu kamarnya, Rani lalu berjalan turun menuju ke dapur dengan nafas memburu menahan amarah yang luar biasa.
Mengekspresikan kemarahannya dengan cara membanting gelas yang berada di atas meja makan saat itu.
Pprrryyyaaang!
“Agh! Beraninya Olivia berbicara seperti itu kepadaku! Dasar anak kurang ajar!” ucapnya sendiri dengan nafas menyambar.
“Apa kah selama ini memang aku tak pantas menjadi ibu yang baik untuk dia?! Padahal aku sudah bersusah payah membesarkan dia sendirian! Tapi dia sama sekali tak menghargaiku sebagai ibunya! Anak macam apa dia itu?! Apakah ini balasan yang dia berikan untukku?! Agh! Bikin mood ku jadi berantakan saja!” lanjutnya.
Sejak Olivia mulai berani mengutarakan kekesalannya itu, Rani malah tak kunjung sadar dengan sikapnya. Ia masih saja sama dengan yang kemarin, tak ada perubahan sama sekali di dirinya, yang ada di otaknya hanyalah kesenangan.
Sore itu, Olivia turun dari kamar dengan mengenakan pakaian yang begitu seksi dan berdandan menor seperti bukan dirinya sendiri. Olivia sengaja berpenampilan seperti itu, sebab tujuan utama dia hanyalah ingin memikat para lelaki yang akan ditemuinya nanti. Dia berjalan menyusuri anak tangga dan bertemu dengan Rani.
“Mau ke mana kamu?” Tanya Rani heran melihat penampilan anaknya.
Olivia hanya membisu, ia enggan mengatakan apapun sampai dirinya berpalis muka dengan Rani.
“Heh! Mommy tanya! Kamu tuli ya?!” Seru Rani yang mulai kesal.
Olivia anak yang keras kepala, hingga membuat kekesalan Rani kembali menyala.
“Olivia, berhenti! Bisa nggak sih kamu tuh sopan sedikit sama orang tua?!”
Olivia lalu berhenti, dia balikkan tubuhnya dan menatap wajah Rani dengan menyilangkan kedua tangannya.
“Mau kemana kamu? Kenapa kamu berpenampilan seperti ini?!” tanya Rani sengak.
“Bukan urusan Mommy!” Jawab Olivia mencondongkan mulutnya.
“Olivia! Sikap kamu ini semakin tidak sopan aja ya sama Mommy!”
“Udah ah, berisik! Mana kunci mobilnya!” ucap Olivia dengan posisi telapak tangan meminta.
“Nggak, Mommy nggak akan kasih izin kamu pakai mobil mana pun?!”
“Owh, gitu? Baiklah, lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti!”
“Apa maksud kamu?! Kamu berani mengancam Mommy?”
__ADS_1
“Ya kita lihat aja nanti! Mommy masih ingat kan dengan perkataan ku tadi? Mulai sekarang aku akan cari cara apapun itu untuk menyenangkan diriku sendiri.”
“Apa kamu bilang!”
“Yea, Mommy belum tuli kan?”
“Apa..!” bentak Rani yang sedikit lagi akan menampar wajah anaknya, namun Olivia berhasil menahan tangan ibunya.
“Mom, mulai sekarang aku akan berubah, aku bukanlah Olivia yang dulu lagi!”
Karena tak ingin terlalu banyak berargumentasi dengan Rani, Olivia akhirnya memilih pergi dengan menggunakan taksi online.
“Brengas*k! Anak itu semakin kurang ajar aja ya sama aku?! Apa sih yang dia mau?! Nggak, nggak, pokoknya aku harus buntuti dia kemana dia pergi. Lihat saja, penampilannya tadi seperti orang mau jual diri aja!” Gumamnya dari dalam hati.
Tak lama, ia pun langsung mengambil kunci mobil dan juga tas jinjingnya yang dimana isi tas itu surat-surat penting miliknya. Dia ikuti sebuah mobil taksi yang baru saja di tumpangi oleh putrinya.
Taksi itu berhenti di sebuah hotel yang pernah Olivia datangi. Olivia lalu turun, dan berjalan masuk ke dalam hotel tersebut.
Setengah terheran dan setengah terkejut ketika taksi Olivia berhenti di sebuah hotel. Pikiran negatifnya pun mendadak hadir memenuhi pikirannya.
“Kenapa Olivia berhenti di sini? Dia check-in dengan siapa di hotel ini? Awas aja ya kalau dia sampai macam-macam! Aku akan buntuti dia sekarang!” batin Rani seraya memarkirkan kendaraannya.
Tak berhenti sampai disitu saja, Rani terus mengikuti putrinya, dengan mengenakan kaca mata hitam, tas jinjing dan sandal wedges dari kejauhan.
“Awas aja kalau sampai anak itu mau macam-macam! Akan aku usir kamu dari rumah!” Batinya yang begitu sangat jengkel.
Sebelum masuk ke dalam kamar Olivia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan kondisi sekitar aman. Rani dengan gesit segera bersembunyi di balik ujung sudut tembok karena tak ingin putrinya tahu kalau ia sedang mengikutinya.
Setelah Olivia masuk, Rani berjalan mengendap-endap mendekati nomor kamar itu.
“Sama siapa dia ada di sini? Dan apa yang akan dia lakukan di kamar hotel ini? Aku akan terus pantau dia dari kejauhan, agar aku bisa tau, dengan siapa dia check-in di hotel ini!” gumamnya dari dalam hati.
Tiga puluh menit berlalu, Rani masih teguh menunggu teman sekamar putrinya itu. Setiap menit ia terus melihat ke jam tangannya untuk memastikan beberapa lama lagi dia harus berdiri di sana menunggu teman sekamar Olivia datang.
“Udah setengah jam aku berdiri di sini, tapi aku lihat, nggak ada satu orang pun yang masuk ke kamar itu? Ah, sudahlah nggak penting juga aku berlama-lama di sini, yang ada aku hanya buang-buang waktu saja! Sebaiknya aku pulang sekarang.” Ucap Rani dari dalam hati.
Ia kenakan lagi kaca mata hitam miliknya dan kemudian Rani membalikan badannya. Akan tetapi sesuatu tak terduga terjadi ketika dirinya mau meninggalkan tempat itu.
“Awh!” Seru Rani yang mendadak terjatuh gara-gara tak sengaja bertabrakan dengan seorang laki-laki.
Laki-laki bertubuh kekar dengan dada tegak dan berwajah ganteng setengah bule itu berdiri sambil menyodorkan tangannya untuk membantu Rani berdiri.
__ADS_1
Rani tak berkutik sama sekali setelah melepas kaca mata hitam miliknya. Ia justru terpesona menatap ketampanan yang pria itu miliki.
“Astaga ganteng bener ini orang. Baru kali ini aku melihat laki-laki setampan dia.” Batinnya dari dalam hati.
Berdasarkan penalarannya, ini adalah sebuah momen yang bagus untuk dirinya. Ia tak ingin melewatkan kesempatan ini begitu saja.
“Apa yang sedang anda lakukan di sini?!” Tanya pria itu dengan tegas.
“Sa—saya,”
“Mari, aku akan membantumu berdiri.” Ucap pria setengah bule tersebut seraya mengulurkan tangannya.
Seketika Rani langsung menerima bantuannya dan berdiri perlahan-lahan.
Sembari meluruskan rok jeans pendeknya, ia mengucapkan terima kasih kepada laki-laki itu.
“Terima kasih ya, karena kamu sudah mau membantuku untuk berdiri.”
Pria itu hanya melebarkan senyumnya dengan berat.
“Sedang apa kamu di sini? Kami pantau dari CCTV, gelagat kamu sangat mencurigakan?” Tanya pria tersebut.
Rani tak sadar bahwasannya sedari tadi dia dipantau oleh CCTV yang berada di sudut atas tempat dia bersembunyi.
“Astaga, jadi dari tadi aktivitasku di pantau dari CCTV itu ya?” ucap Rani sambil menuding keatas.
“Yea, benar!” ucap pria tersebut dengan tegas.
“Ma—maaf, jika keberadaan ku di sini membuat cemas oleh pihak hotel.”
“Lalu kenapa anda berdiri di sini sejak tadi?” Tanya pria itu penuh tekanan.
“Sebenarnya aku sedang memantau putriku yang baru saja Check-in. Aku takut kalau dia berbuat macam-macam dengan orang lain disini. Itu saja,” ujar Rani menerangkan apa adanya.
Bersambung….
Siap ya Pria itu ya, jadi penasaran? 🤔
__ADS_1