
Karena rasa penasaran yang masih menghantui di dirinya, gadis muda itu bertanya, “Eh, Arka, aku mau tanya, kok bisa sih om Steve ada di sana dan ikut meeting kita?” tanya Olivia.
“Ya, iya lah dia kan investor kita, makannya dia ada di sana untuk ikut meeting bersama kita. Kenapa emangnya?”
Olivia pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, “Nggak apa-apa sih,”
“Jadi awalnya sih, aku juga nggak tau kalau ternyata om Steve adalah salah satu investor kita.”
“Kok kamu bisa nggak tau gitu? Kamu kan sering banget ketemu dan ikut rapat sama orang-orang penting seperti tadi.” Tanya Olivia.
“Ya karena om Steve juga baru kali ini ikut meeting seperti tadi, biasanya sih dia hanya mengutus asisten pribadinya untuk datang.”
“Owh, gitu. Tapi kamu memang udah tau dia, lha terus waktu kita mau makan siang itu?”
“Ya itu, aku mulai kenal dia juga waktu kita mau makan siang. Aku memang sudah tau lama siapa nama pemilik perusahaan Alexa, tapi aku belum pernah ketemu om Steve sama sekali sebelumnya. Ya, baru kemarin sama tadi ini ketemu dia. Tadi sih aku juga agak terkejut saat melihat dia ada di sana.”
“Emm, gitu ya. Aku kira kamu emang udah lama kenal dia, makannya tadi aku tanya sama kamu,”
“Eh iya Liv, kenapa sih kemarin kamu pura-pura menganggap aku pacar kamu waktu ketemu om Steve di tempat makan itu?”
Sambil melebarkan senyum Olivia menjawab,” He… he… he… nggak apa-apa sih.”
“Beneran?”
“Iya, udah ah gak usah dibahas. Kamu fokus aja sama jalannya. Ingat ada peri di dalam mobil kamu.” gurau Olivia.
“Bisa aja kamu Liv,” mereka pun tertawa bersama.
***
Beberapa hari kemudian.
Saat Olivia pulang kantor, gadis muda itu merasa repot karena harus membawa beberapa tumpukan kertas. Dan sesampainya dia di depan pintu gedung kantornya. Namun beberapa saat kemudian, ada seseorang yang tidak sengaja menabrak dirinya hingga membuat kertas-kertas itu tercecer di lantai.
“Maaf mbak, maaf.” Ucap orang tersebut yang kemudian pergi begitu saja tanpa membantu Olivia memunguti kertas-kertas yang berserakan itu.
Olivia pun segera memunguti kertas itu satu persatu dari lantai. Namun di beberapa kertas terakhir, tiba-tiba ada sosok pria tinggi berkemeja membantunya mengambil kertas-kertas tersebut. Netranya menelisik ke arah pria itu dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Olivia sedikit tertegun, sebab pria yang tengah membantunya itu tak lain iyalah Steve.
__ADS_1
“Om Steve,” sapa Olivia dengan netranya yang sedikit membesar, tapi dia pun berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
Dia pun kembali memunguti kertas-kertas itu lagi dengan dibantu oleh Steve.
“Mari aku bantu,” Steve memberikan tawaran.
Tapi gadis muda tersebut lagi-lagi membisu, ia bahkan juga enggan berbicara dengan Steve.
Setelah dirasa sudah tak ada lagi kertas yang tercecer di lantai, Steve pun kemudian menyerahkannya, “Ini kertasnya, lain kali kalau jalan hati-hati,” ucap Steve seraya menyodorkan kertas-kertas itu yang tengah di genggamnya.
Dengan wajah canggung, Olivia pun menerimanya. “Makasih ya om.” Kata Olivia memalingkan pandangannya yang kemudian berjalan pergi begitu saja.
Akan tetapi, Steve mendadak menghentikan langkah kakinya.
“Olivia tunggu,” seru Steve.
Gadis muda itu pun seketika berhenti, dan dengan segera Steve berjalan cepat untuk berdiri di hadapan Olivia.
“Kamu kenapa nggak mau lihat aku?” tanya pria itu.
Tapi gadis muda itu terus terdiam.
Sementara gadis muda itu hanya bisa menundukan kepalanya.
“Apa kita bisa bicara baik-baik Olivia?” ucap Steve lagi.
Olivia lalu meminta Steve untuk berbicara di luar dari gedung tempat dia bekerja.
“Kalau mau bicara dengan ku, sebaiknya kita bicara di luar aja. Di sini banyak rekan-rekan kerja, dan nggak enak kalau mereka melihat kita.” Ucap Olivia.
“Baiklah,” Steve pun mengikuti keinginan gadis muda itu.
Hingga pada akhirnya mereka pun berjalan bersamaan keluar dari gedung tersebut dan mencari tempat yang pas untuk bercengkrama.
Tepat di sebelah gedung itu, terdapat sebuah taman kecil yang di mana ada beberapa kursi yang sudah disediakan untuk para pengunjung. Olivia lalu duduk, sambil memeluk tumpukan kertas itu. Begitu pula dengan Steve, yang juga duduk dengan posisi kaki terbuka di sebelah gadis muda tersebut.
“Sekarang katakan, apa yang mau om Steve bicarakan pada ku?” Tanya Olivia dengan wajah asam.
__ADS_1
Tanpa basa basi, Steve berkata, “Aku minta maaf kalau memang sudah membuat kamu kecewa,”
“Hanya itu?” tanya Olivia melirik.
Sambil menunduk Steve pun lanjut mengatakan, “Ternyata aku baru sadar kalau kamu memang yang aku butuhkan.”
Mendadak Olivia menoleh menatap pria yang ada di sebelahnya, “Maksud om apa?” cetus Olivia.
“Om merasa kesepian,” jawab Steve singkat.
“Terus maksud om apa? Om datang ke sini mencariku semata-mata agar om punya teman, dan selepas om sudah merasa tak kesepian lagi om akan mencampakkan aku begitu saja!”
Olivia seketika beranjak dari duduknya dengan hati yang penuh amarah.
“Dulu aku berpikir hal terburuk dalam hidup adalah berakhir sendirian. Tapi ternyata bukan. Hal terburuk dalam hidup ku adalah berakhir dengan orang-orang yang membuat ku merasa sendirian. Dan dari kamu lah aku mulai menyadari, bahwa ternyata kamu adalah orang yang bisa mengisi kekosongan ku Olivia.”
“Tapi maaf om, nggak semudah itu om bisa meluluhkan hatiku yang sudah terlanjur kecewa.”
“Olivia, aku mohon, mari kita perbaiki hubungan yang dulu pernah surut. Sejujurnya aku hanya tidak percaya dengan diri aku sendiri karena perbedaan umur yang begitu sangat jauh di antara kita berdua.”
“Itu bukan sebuah alasan!”
“Tapi Olivia, ucapan ku ini bukanlah hanya sekedar rayuan maut. Aku mengatakan ini karena aku sudah menyadari betapa pentingnya kamu untukku.”
“Sudah lah om, aku capek. Aku mau pulang, dan nggak mudah buat aku untuk menghilangkan rasa kekecewaan itu.” ucap Olivia yang lantas pergi begitu saja meninggalkan Steve.
Setelah langkah kakinya berhenti tepat di pinggir jalan, dengan segera, Olivia menghentikan sebuah taksi yang tengah lewat di hadapannya waktu itu. dengan cepat dia pun masuk kedalam kendaraan umum tersebut. tangisnya kembali pecah mengingat ucapan Steve yang selalu bisa meluluhkan hatinya lagi.
“Apa sih yang dia mau! Kenapa dia datang dan memberikan aku harapan lagi! Aku hanya ingin hidup bahagia Tuhan, aku nggak mau lagi merasakan kekecewaan yang selalu datang menyiksa batinku! Hisk… hisk… hisk…” batin Olivia yang terus menangis di sepanjang jalan.
Sesampainya di apartemennya, dengan segera dia melepas semua yang dia kenakan, mulai dari sepatu heelsnya, blazernya, dan sebuah mini bag yang dia lemparkan begitu saja di atas sofa ruang tamu itu. Dengan segera dia jatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Aku benci ini, aku benci semua ini! Selama ini aku terus berusaha gimana caranya untuk menghilangkan rasa ini kepadanya! Tapi kenyataannya, dia selalu hadir dan hadir tanpa diduga!” batin Olivia yang terus meluapkan kekesalannya.
Memang sungguh ironis sekali nasib gadis muda satu ini. Renata sahabat yang selama ini menjadi saksi kehidupannya pun kini sudah kembali pulang ke tempat asalnya. Bahkan mereka pun sudah jarang sekali berkomunikasi karena mereka sudah memiliki kesibukan masing-masing.
Walau Arka selama ini sudah sangat dekat dengannya, tapi Olivia masih belum juga bisa membagi kisah kehidupannya dengan orang yang belum terlalu dia percaya. Dan dia pun lebih memilih untuk menyimpan nya rapat-rapat dari siapapun kecuali orang yang sudah dia percayai.
__ADS_1
Bersambung….