
Tak mau menyerah sampai disitu saja, Zack terus membuntutinya sambil meminta maaf berkali-kali.
“Olivia, please. Maafkan aku. Aku nggak tau kalau ternyata Dini juga ada di tempat itu kemarin.” Teriak Zack.
Namun sayang, Olivia sama sekali tidak menggubrisnya, ia justru terus berjalan mengikuti Steve hingga langkah kakinya sampai ke kijang besi milik pria tersebut.
Dengan segera Steve membuka pintu mobilnya, ia lalu meminta Olivia untuk masuk ke dalam mobilnya.
“Olivia, cepat masuk.”
Tanpa berpikir panjang, Olivia pun mengikuti perintah Steve. Selepas dia masuk, pria tersebut dengan segera menutup pintunya. Dia kemudian berjalan cepat menuju ke pintu mobil satunya. Namun, sebelum dia masuk, dia memberikan peringatan pada Zack.
“Hey anak muda! Kamu tau bahasa manusia kan, dan kamu pasti juga mengerti maksud dari ucapanku tadi? Sekarang, aku minta kamu jangan pernah lagi berani temui Olivia! Paham!” gertak Steve yang mulai merasa kesal dengan pemuda itu.
“Tapi om,” rengek Zack.
Dengan berkacak pinggang Steve kembali berkata, “Hust! Diam! Aku nggak mau mendengar apapun alasannya! Mengerti! Sekarang pergilah!” tegas Steve.
Selepas itu Steve lalu masuk dan duduk di sebelah Olivia. Rudi, supir pribadinya diminta untuk segera berjalan.
“Jalan Rud,”
“Baik Tuan,”
Dalam perjalanan, senyuman mengembang nampak terpancar dari wajah Olivia. Pagi itu dia benar-benar seperti kehadiran seorang malaikat yang senantiasa membantu membela dirinya.
“Kamu kenapa, aku perhatikan dari tadi cengar cengir sendiri?” tanya Steve heran.
Wanita itu jadi salah tingkah dengan pipi yang memerah jambu.
“Nggak apa-apa kok, pagi ini aku merasa senang aja om,”
“Kenapa?”
“Karena om,”
“Kok Om? Alasannya apa?”
“Ya, aku merasa ada yang ngelindungin aku gitu, sih om.” terang Olivia dengan senyuman kecilnya.
Sambil menatap Olivia, pria itu hanya mesem.
“Sekali lagi makasih ya om,”
“Sudahlah kamu tuh jangan terlalu berlebihan membuat om jadi besar kepala Olivia,”
“Tapi tadi om kan emang sudah menolongku, udah membela ku, udang ngelindungin aku dari Zack, udah…”
“Hust… Diam, nggak usah kamu lanjutin.” Telunjuk pria tersebut dia tempelkan di bibir wanita itu. Jari-jari tangannya menyibakkan lembaran-lembaran rambut yang menutupi kening dan juga matanya.
Pelan, “Om nggak suka kamu terus-terusan memuji om,” kritik Steve dengan nada hangat.
Kemudian dengan erat ia membenamkan wajah Olivia di tubuhnya hingga sampai terdengar suara degupan jantungnya yang berdetak.
__ADS_1
“Om tau kamu anak baik, om nggak mau lihat kamu terus-terusan menangis. Kamu mengertikan,” desisnya.
Olivia hanya manggut-manggut dengan bibir bergetar. Ia merasa kalau pagi ini keberuntungan mungkin sedang berpihak kepadanya. Sebab menurutnya, ini adalah hal pertama kali bagi dia bisa merasakan perasaan yang dalam dari seseorang yang tulus mengatakan hal seperti tadi.
Steve lalu melepaskan pelukkan dan kembali duduk dengan posisi semula.
“Habis mengantarkan kamu ke kampus, om akan langsung berangkat ke kantor.”
“Iya om,”
“Om mau pesan aja sama kamu, selesaikan kuliahmu, dan tetaplah terus menjadi anak yang baik ya,”
Olivia kembali memberikan senyuman manisnya pada pria itu.
Tiga puluh dua menit, sampailah kijang besi itu di sebuah gedung yang menjulang tinggi.
“Om, makasih banyak ya. Olivia akan turun sekarang,”
“Iya, turun dan masuklah ke kampus, ini sudah siang, om akan langsung berangkat ke kantor,”
“Hati-hati ya om,”
Rudi dengan segera membuka pintu mobil dan mempersilahkan Olivia turun.
“Silahkan Nona,”
“Baik pak, makasih.”
Dan tak lama dia pun segera menghampiri.
“Heh! Kamu kenapa sih, kayaknya bahagia banget pagi ini,”
Dengan gembira Olivia memeluk tubuh sahabatnya yang tengah berdiri di sebelahnya.
“Re, aku emang lagi seneng banget pagi ini.”
“Iya tau, kenapa emangnya?”
“Aku habis di anterin sama Om Steve.”
“Om-om itu lagi,”
Mendadak Olivia melepaskan pelukannya.
“Ih, kamu kok gitu sih,”
“Habisnya nih ya, aku tuh heran sama kamu. Kamu tuh masih muda, tapi kok sukanya sama om-om yang umurnya mirip sama mommy kamu.”
Olivia mencebikkan bibirnya, “Aa, kamu nggak asik ah,”
“Iya, iya, maaf. Gimana, gimana? Apa yang kamu membuat kamu bahagia setelah bertemu dengan om-om itu,”
“Sekali lagi kamu bilang gitu, aku getok ya kepalamu,”
__ADS_1
Renata tersenyum seraya menudingkan dua jarinya membentuk V, “Maaf, sekarang cerita deh,”
“Aku tadi di anter sama Om Steve, Re. Dia tadi datang jemput aku, terus ngebelain aku.”
“Ngebelain, emang kamu lagi berantem sama siapa?”
“Sebenarnya aku tuh nggak lagi berantem sama siapa-siapa sih,”
Sambil cerita, mereka berdua pun berjalan menapakkan kakinya masuk ke dalam gedung.
“Jadi semalem itu kan, papi, istrinya sama anaknya tuh dateng ke apartemen. Mereka marah-marah nggak jelas, karena adikku tiri tuh udah ngadu yang bukan-bukan ke papi.”
“Dini, yang marah-marah nggak jelas di kedai kemarin,”
“Iya, kan aku udah bilang sama kamu kalau dia tuh adik tiri ku,”
“Terus, terus gimana?”
“Ya mereka bertiga memojokkan aku, mereka ingin aku minta maaf sama Dini.”
“Terus kamu mau?”
“Ya ogah lah,”
“Bagus, lagian kan kita nggak salah kok, ngapain minta maaf.”
“Makannya itu, aku juga mikir gitu.”
“Terus, terus,”
“Ya terus kamu tau sendirikan gimana sifat papi ku itu. Dia kan sukan banget nyalahin aku, bahkan dia juga nggak mau dengerin penjelasan aku. Pokoknya tadi malam, aku terus-terusan disalahkan dan aku di paksa harus minta maaf gitu lah. Nah setelah mereka semua pergi dari apartemen, aku kan jadi sedih, dan nangis lah aku waktu itu. Eh, tiba-tiba om Steve telepon. Karena nggak bisa nahan perasaan yang lagi kalang kabut, akhirnya om Steve tau kalau aku lagi nangis waktu itu. Dan malam itu juga dia langsung datang ke apartemen, dia khawatir banget sama keadaanku, dia takut kalau aku berbuat nekat seperti kemarin waktu di rumah Mommy.”
“Ya ampun segitunya ya om Steve, padahal dia bukan siapa-siapa kamu loh, tapi dia peduli banget. Eh, yang orang tuanya malah kayak orang lain buat kamu, Liv, Liv.”
“Huft, entahlah Re, aku juga bingung liat sikap orang tuaku sendiri.”
“Tapi aku salut sama om Steve, beneran deh dia baik banget.”
“Makannya itu, aku tuh seneng banget Sama sikapnya yang begitu peduli sama aku, Re.”
“Emangnya setampan apa sih dia? Jadi penasaran aku sama Om Steve, kok bisa-bisanya dia berhasil meluluhkan hati sahabat ku ini yang bekunya setengah mati, terhadap semua para jantan yang ada di dunia.” Canda Renata.
“Besok deh, aku akan kenalin kamu sama dia.”
“Bener ya,”
“Iya, tenang aja. Nih, ya aku kasih tau sama kamu Re, umur mungkin boleh tua, tapi tampang belum tentu harus tua juga kan.”
“Iya juga sih,”
Bersambung….
__ADS_1