
Beberapa minggu kemudian, perusahaan tempat Olivia bekerja mengadakan sebuah pesta untuk seluruh para karyawan dan beberapa tamu undangan penting lainnya. Tak terkecuali dengan Steve.
Pria paruh baya itu mendapat sebuah undangan dari perusahaan tempat Olivia bekerja. Steve merasa senang karena hal ini adalah sebuah kesempatan yang bagus agar dirinya bisa bertemu dengan gadis muda itu. Acara tersebut akan di mulai dari sore hari hingga acara selesai.
Di sudut dinding ruang kerjanya dia berdiri di sebuah jendela cermin lebar, seraya menatap pandangannya di luar sana, “Undangan pesta, baiklah, aku akan hadiri acara ini. Karena menurutku ini kesempatan yang bagus agar aku bisa bertemu dengan Olivia.” Batinnya dari dalam hati.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu.
Tok, tok, tok,
“Masuk,” pekik Steve tanpa memperhatikan pintunya.
Seusai pintu terbuka, seorang wanita dengan pakaian serba ketat datang dengan wajah sumringah.
“Hay sayang,”
Mendengar suara sapaan dari wanita tersebut, Steve pun membulatkan kedua matanya.
“Rani,”
“Hay, kamu kok terkejut gitu sih liat aku datang?”
“Owh, nggak apa-apa. Aku kira tadi asisten ku yang datang tapi ternyata kamu. Ada apa kamu ke sini?”
“Aku kesini karena aku tuh kangen banget sama kamu Steve.”
Wanita tersebut pun berjalan mendekati kekasihnya.
“Ada undangan? Punya siapa Steve? Temen kamu?” tanya Rani penasaran.
“Owh, ini undangan dari rekan bisnisku.”
“Undangan pernikahan?”
“Bukan, ini hanya undangan pesta ulang tahun perusahaannya.”
“Wah, pasti meriah itu,”
“Nggak tau juga.”
“Terus, ngomong-ngomong kamu mau datang ke sana sama siapa?”
“Mungkin besok aku ke sana sama asisten ku.”
“Aku ikut ya Steve,”
“Ikut?”
Rani pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tapi ini kan….”
Belum selesai Steve berbicara, mendadak Rani pun merengek memohon ingin ikut menghadiri pesta tersebut. Padahal sesungguhnya Rani berniat ingin memperkenalkan dirinya ke rekan-rekan bisnis kekasihnya itu, kalau dirinya adalah calon istri dari pria tersebut.”
“Aaa.. Steve, please.”
__ADS_1
“Nggak bisa Ran, aku nggak enak sama rekan-rekan bisnisku yang lain.”
“Kenapa nggak enak? Kamu malu ya, ngenalin aku ke rekan-rekan bisnis kamu itu?”
“Ya bukannya gitu. Tapi ini kan juga acara kantor yang hanya akan dihadiri oleh rekan-rekan bisnis saja.”
“Tapi itu kan cuman acara milat perusahaan bisnis kamu kan. Jadi aku rasa nggak masalah kalau aku besok ikut. Lagian, aku di rumah selalu kesepian Steve,” rengek Rani.
“Kok kamu jadi maksa gitu sih?! Sudah aku bilang kalau aku akan pergi dengan asisten ku aja!” ujar Steve dengan suara cetus.
“Ya udah, ya udah, iya, iya aku nggak ikut! Cuman kayak gitu aja bikin ribut! Ngeselin deh!”
Steve pun diam, ia kemudian berjalan pergi ke toilet setelah meletakkan undangan itu di atas meja kerjanya, dan dengan segera Rani diam-diam mengambil undangan pesta tersebut lalu membaca isinya.
“Owh, jadi acaranya di perusahaan xxx, jam lima sore. Terus temanya black tie event. Baiklah. Pokoknya aku harus ikut ke acara pesta ini. Masa iya, dia mau senang-senang sendiri tanpa aku. Enak aja.” gumam Rani.
Tak lama kemudian, terdengar bunyi handle pintu terbuka, Rani pun cepat-cepat meletakkan kembali undangan itu di atas meja kerja kekasihnya.
“Udah selesai buang air kecilnya Steve?”
“Udah,”
“Owh, iya. Habis pulang kerja kamu mau ke mana?”
“Aku mau langsung pulang.”
“Nggak main dulu?”
“Main ke mana?”
“Ya, kemana gitu kek. Jalan yuk,”
“Atau enggak kita nonton film kesukaan kita, gimana?”
Steve pun diam, ia seakan tak bersemangat ketika dirinya harus pergi berdua bersama Rani.
“Ayo lah Steve, udah satu minggu loh kita nggak jalan.”
“Tapi,”
“Steve, kenapa sih selalu aku terus yang ajak kamu jalan selama ini? Itu pun juga aku yang harus mendesak! Sebenarnya kamu tuh suka nggak sih sama aku?!” Seru Rani yang mulai nampak jengkel.
Steve yang berdiri menyandar pun menjelaskan, “Ran, aku tuh heran sama kamu. Mau sampai kapan sih kamu terus mencari kesenangan mu seperti ini? Ingat umur Ran, karena kita ini sudah bukan ABG lagi.”
“Loh, memangnya salah kalau kita mencari kesenangan? Selagi kesenangan itu nggak berujung ke hal-hal negative sih aku rasa itu nggak masalah! Please deh Steve, kamu tuh jangan jadi orang yang kolot! Sekarang jaman udah modern, jadi kita harus mengikuti jaman.”
“Iya, aku paham. Tapi sesekali dua kali bolehlah kita pergi jalan mencari kesenangan. Tapi jangan setiap hari atau setiap kita mau jalan.”
“Emangnya siapa sih yang setiap hari pergi nonton terus clubbing? Kita aja jalan berdua juga jarang, kok bisa-bisanya kamu bilang setiap hari! Owh, aku paham, atau jangan-jangan kamu punya cewek lain selain aku?”
“Kamu ini bilang apa sih?!”
“Steve aku tanya, siapa cewek yang ada di hati kamu sekarang?”
“Pertanyaan apa sih ini?”
__ADS_1
“Udah jawab aja! Siapa?! Apa itu aku?!”
Steve diam, sambil menundukkan kepalanya. Entah kenapa, dirinya tidak pernah bahagia setiap kali pergi jalan bersama kekasihnya itu. dia pun juga sama sekali tidak memiliki rasa gairah setiap kali bertemu dengan Rani. Sebab ada seseorang yang sudah mengusik isi hati dan pikirannya saat itu.
Dan tak tau kenapa, setiap kali Rani bersikap romantis, Steve malah merasa risih dengan sikap kekasihnya itu. Tak Ada sedikitpun rasa nyaman yang dia rasakan ketika tengah bersama wanita tersebut.
Bahkan mereka berdua sering sekali cekcok dan beradu mulut ketika bertemu. Rasa rindu pada Rani pun sama sekali tak di milikinya.
“Steve jawab. Kenapa kamu diam. Hubungan kita ini sudah jalan hampir satu tahun, tapi kenapa aku belum juga bisa mendapatkan tempat di hati kamu?! Apakah sesulit itu kamu nggak bisa mengubur dalam-dalam rasa sakit hatimu itu? hisk… hisk… hisk…” seru Rani yang kemudian menangis karena tak kuasa menahan perasaannya.
Karena merasa iba, Steve pun perlahan menarik tangannya dan memeluk tubuh wanita yang tengah menangis di hadapannya.
“Maafkan aku Rani. Selama ini aku masih berusaha. Aku hanya berharap semoga kamu bisa lebih sabar lagi menghadapiku. Aku minta maaf,” ujar Steve yang merendah, karena merasa kasihan dengannya.
Namun di pikirannya hanyalah terbayang-bayang nama Olivia, “Jujur dari dalam hati, entah kenapa, selama ini aku belum bisa menyukai mu Ran. Nggak ada sedikitpun di otakku ingin memilikimu. Yang ada hanyalah nama Olivia yang terus mengiang-ngiang di otakku. Entah kenapa, setiap kali aku melihat Olivia, aku merasa nyaman, aku merasa senang, dan kebahagiaan ku seakan kembali datang. Tapi, kembali lagi, ingin rasanya aku mengungkapkan perasaan ini ke dia, namun sayangnya cinta ku terhambat dengan umur.” Batin Steve yang masih mendekapi tubuh Rani.
Setelah beberapa saat kemudian, Steve pun menuruti kemauan Rani.
“Sudah, jangan menangis ya. Aku minta maaf, sekarang aku akan turuti keinginanmu.” Tutur Steve yang perlahan melepaskan pelukannya.
Sambil mengusap air matanya Rani pun berkata, “Serius? Kamu mau pergi jalan sama aku?”
“Iya, kamu mau nonton kan? Sebaiknya kita pergi sekarang.”
“Tapi apa pekerjaanmu sudah selesai?”
“Tidak perlu dipikirkan, biar aku mengutus bawahan ku untuk menyelesaikannya.”
“Baiklah kalau gitu, aku mau ke toilet sebentar.”
“Silahkan,”
Rani kemudian berjalan menuju ke toilet untuk mencuci wajahnya bekas dia menangis, dan setelah itu mereka berdua pun pergi bersama ke sebuah bioskop untuk mencari hiburan.
Beberapa menit kemudian, sampailah mereka berdua di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Gedung bioskop yang biasanya Steve dan Olivia kunjungi. Bersamaan mereka berdua masuk ke dalam lalu memesan sebuah tiket dan juga makanan kecil seperti popcorn untuk teman nonton.
“Kamu mau popcorn rasa apa Steve?” tanya Rani.
“Emm, aku mau popcorn rasa caramel aja, soalnya itu rasa favorit Olivia.” Celetuk Steve.
Mendengar itu seketika Rani pun menoleh menatap kekasihnya dengan tatapan heran.
“Apa? Olivia? Bagaimana kamu bisa tau kesukaan dia?” tanya Rani heran.
Spontan Steve pun kemudian membulatkan kedua matanya, karena ia baru sadar kalau dirinya baru saja kelepasan mengatakan rasa kesukaan Olivia.
“Hem, em, ya aku… aku tau karena Olivia pernah cerita ke aku, kalau dia suka sekali makan popcorn rasa karamel, dan kebetulan rasa favoritnya sama seperti aku. Jadi aku masih mengingatnya.” Alibi Steve dengan nada gugup.
Mendengar penjelasan dari kekasihnya yang masih masuk akal itu tadi, Rani pun tak mempermasalahkan soal tersebut. Dia lalu kembali memesan popcorn rasa lain yang akan dibelinya.
Namun dalam hati Steve bergumam, “Huft, kenapa aku jadi keceplosan gini sih? Untung aja, Rani percaya dengan alasan yang aku berikan. Kalau enggak dia pasti akan marah-marah lagi!” Batin Steve yang tengah berdiri di sebelah Rani.
Bersambung…
__ADS_1